
Sejak tinggal di rumah ini lagi papa Emil melakukan renovasi besar-besaran, membuat rumah jadi baru. Papa mengubah taman dan teras di bagian depan menjadi garasi untuk dua mobil, membuat pagar antara sehingga akses masuk ke rumah dan ke bangunan kost terpisah sekarang. Papa juga membuat bagian belakang jadi dua lantai sehingga ada tambahan dua kamar dan area cuci jemur. Demi menyenangkan mama, semua furniture pun diganti dengan yang baru, sepertinya papa total sekarang melakukan banyak hal untuk membayar dosanya.
Ternyata memang papa tidak memberi keleluasaan soal uang pada Dianita, itu salah satu alasan yang memicu ketegangan demi ketegangan dengan papa, dia lelah bekerja dan membiayai urusan keperluan rumah, dan papa tidak memberi dia uang selain modal awal usahanya. Padahal papa punya sumber keuangan lain di samping pembagian harta dari opa.
Hobby bertani diturunkan opa yang merupakan petani kaya yang sukses di kampung, membuat papa di awal menikah dengan mama membeli beberapa hektar tanah kebun dan hingga sekarang papa masih mengelolah itu dengan hasil tetap tiap panen. Dan ternyata semua income di luar gaji disimpan papa dan ketika rujuk semua diserahkan pada sang istri.
Fou mulai bisa memahami, ketika papa melakukan kesalahan papa tidak serta-merta berpaling dari sang mama, sejak lama ingin kembali hanya langkah kembali tertahan oleh penolakan Fou.
Ini akhir pekan dan mereka akan pulang ke kampung papa. Sudah lama sekali Fou tidak berkunjung ke sana. Rasa marah pada sang papa membuat tali silaturahmi sempat terputus dengan keluarga papa, rasa kangen pada oma dan opa sekarang hadir lagi.
“Nonie, kita berangkat sekarang ya?” Papa melongok ke kamar Fou dengan senyum kalemnya.
“Iya…” Fou menjawab pendek lalu mengedarkan pandangan memastikan bahwa kamarnya aman untuk ditinggalkan dua hari ini.
Fou terpaku sesaat pada jendelanya lalu mengecek apa sudah terkunci dengan benar. Fou tersenyum, Jerol gemar menyelinap lagi masuk ke kamarnya. Antara rasa takut dan rasa rindu mengingat hal itu, takut kelakuan Jerol kepergok warga, tapi gak bisa melenyapkan rasa rindu yang kini selalu bertahta indah di hati. Meski nurani selalu berteriak kencang di awal Jerol masuk kamar, tapi kemudian rindu yang tersampaikan membuat dia lupa soal nilai seharusnya.
Fou membuang napas sedih sekarang, seperti inilah rasanya selingkuh, ya dengan statusnya dan Jerol sekarang dia merasakan tuduhan hatinya sendiri, rasa bersalah dengan cepat mengalir seperti membanjiri relung hatinya. Fou menutup pintu kamarnya dengan resah.
“Mama kuat? Ini kira-kira dua jam perjalanannya loh?” Fou bertanya pada sang mama dengan nada khawatir.
“Boleh… boleh. Mama udah semakin sehat, jangan terlalu khawatir,” mama senyum menenangkan anak perempuannya.
“Kakak jadi bawa mobil? Aku mau dengan kakak aja,” Nando memotong pembicaraan.
“Gak ah, kakak belum pernah nyetir jauh…” Fou menjawab adiknya dan langsung disambut dengan muka cemberut.
“Kamu pernah nyetir sampai ke kampung Nonie, lupa ya?” Papa menimpali.
“Kapan?” Fou coba mengingat.
“Waktu papa ajarin kamu nyetir, biar semakin lancar kamu yang bawa mobil pulang-pergi,” papa Emil mengingatkan. Fou senyum kecil, dia pernah mengubur semua ingatan tentang papanya, jadi dia lupa tentang papa yang mengajarkannya menyetir mobil.
“Aku gak mau duduk deret belakang, aku suka pusing, kakak bawa mobil aja, biar aku duduk di depan.” Nando menggoyang-goyang tangan Fou dengan tampang memelas membujuk sang kakak.
“Ihh… manjanya kumat, norak.” Suara ketus tapi tangan Fou meraih kunci mobil sang mama.
“Yeyy… asyikkk, berarti ada tempat Pa untuk sepedaku, aku jadi bawa sepeda ya?”
Nando gak menunggu persetujuan segera melakukan keinginannya. Dan akhirnya seisi rumah berangkat bersama tiga mbak satu orang sopir, jadi seperti sebuah liburan kecil untuk mereka.
Ternyata mereka langsung menuju kebun milik papa.
“Kita menginap di sini?” Fou bertanya ketika pak Wawan sang sopir dan para mbak mulai menurunkan barang-barang.
“Iya Nonie… rumahnya nyaman kok…” Papa berkata dengan senyum lalu tangannya mampir sejenak di kepala putri tertuanya. Fou merasa sebuah sensasi baru, usapan ini sangat dirindukannya.
Fou secara gak sadar, mungkin instingnya yang butuh sosok papa segera membuat tubuhnya mendekat tanpa jarak pada papa yang masih berdiri di sampingnya. Papa melirik lalu senyum lagi, kali ini dengan tangan yang merangkul putrinya. Ternyata untuk mendapatkan lagi hati putri tertua ini adalah dengan menunjukkan kesungguhan hati mencintai istrinya. Perasaan damai yang membahagiakan segera melingkupi hati papa dan putrinya.
“Shirley dan Eileen juga akan datang… udah lama kita gak berkumpul, kali ini papa bahagia karena ada cucu-cucu papa juga. Oma opa nanti dijemput Wawan.” Si papa berkata lembut sambil meraih tangan putrinya dari belakang membuat mereka saling berangkulan.
“Mereka nginap juga?” Fou bertanya lirih, membiarkan bahagia yang meresapi relung hati menggantikan semua rasa marah yang pernah ada, tak tersisa sekarang.
“Iya… papa yang minta, rumah ini udah selesai renov, sudah sangat baik untuk kita gunakan."
Fou memperhatikan rumah panggung ciri khas daerah ini, sebuah rumah berukuran besar dengan bagian bawah tampaknya baru dibangun permanen model minimalis. Rumah terlihat adem karena dikelilingi beberapa pohon mangga dan alpukad.
Keduanya diam hanya menikmati kehangatan yang melimpah ruah di hati. Mama Silvia sudah masuk ke dalam rumah, dari jendela dia tersenyum dengan mata mengembun, ini pemandangan yang melegakan saat dalam hubungan gak ada lagi ganjalan. Berharap kebahagian keluarganya tidak lagi terganggu, ternyata menjaga pengharapan tetap ada di hati di tengah luka dan sedih selama bertahun-tahun ini, tidak sia-sia.
Nando sudah menjelajah entah sampai mana kebun yang kata papa seluas hampir sepuluh hektar, isinya ada ribuan pohon kelapa yang sudah diremajakan papanya, sekarang adalah masa panen. Ada juga banyak tanaman lain.
“Papa sering ke sini?“ Fou memecah keheningan lagi.
Papanya sedang memandang ke arah kelapa-kelapa.
“Iya… setiap akhir pekan kalau gak ada kegiatan lain papa ke sini, terutama saat rumah direhab, papa sering datang. Papa ingin ini jadi rumah tempat liburan yang nyaman untuk kita, rumah penjaga kebun pindah di sebelah sana…” Papa menunjuk sebuah rumah permanen berjarak cukup jauh.
Dalam hati Fou merasa bersalah, karena pernah berprasangka papa hanya beralasan ketika pamit mau pulang kampung melihat kebunnya, dia pikir masih bertemu Dianita.
“Hasil dari sini lumayan, Non… kelapa tiap tiga bulan bisa mencapai dua puluh juta bahkan lebih hasil bersih, pohon pisangnya udah ada lima ribuan, setiap hari pasti panen dan hasil setiap minggu bisa sampai lima sampai sepuluh juta bersih. Papa juga lima tahun ini menanam durian montong ada seratus pohon, sudah beberapa kali panen dan lumayan pernah sekali panen delapan puluh juta, dan masih banyak tanaman lain…” Jelas papa papa panjang lebar dengan hati yang begitu senang, usahanya puluhan tahun memberi perhatian di tengah kesibukan kerjanya sekarang benar-benar bisa dinikmati.
“Wow... jadi papa mendapatkan banyak uang dari sini?”
“Kenapa, kamu pikir papa korupsi? Papa anak petani, sekalipun sekarang punya karir tapi darah petani itu kental di hati papa… kamu gak lupa kan dulu waktu kalian kecil-kecil hampir setiap libur panjang kita meninap di rumah kebun?” Papa berkata lagi.
Fou tersenyum saja karena pernah berpikir seperti itu, dan Fou ingat masa itu.
Di rumah, Nando datang hendak minum… keringat sudah memenuhi wajahnya, dia sudah mengelilingi sebagian kebun ini dan ini seperti bertualang saja.
“Mama… di sini banyak sekali buah, ada rambutan di sebelah sana, wahhh pohonnya banyak sekali dan sedang berbuah, aku mau bawah kantong kresek, aku mau panen…”
“Ehh, jangan naik pohon kamu, entar jatuh…” seru mama Anet karena Nando sudah mau pergi lagi dengan sepedanya.
“Pohonnya gak terlalu tinggi, aku laki-laki, aku bisa memanjat…” Nando menjawab sambil berteriak, dia bebas di sini, serasa menemukan sesuatu yang luar biasa.
“Nando… sini sebentar,” mama Anet teringat sesuatu.
“Kenapa?” Nando berbalik menggayuh sepedanya dengan pelan.
“Sini, tolong sharelock tempat kita, dokter Petra mau ke sini, kakakmu gak menjawab panggilan telpon.”
Nando terdiam dan ragu menerima hp sang mama tiri tapi lebih baik dari mama kandungnya, dia tahu kakaknya tidak menyukai dokter Petra.
“Mama bilang ke kakak aja… aku takut disalahin, kakak gak suka sama dokter itu, kakak sukanya sama kak Jerol.” Sesudah menjawab Nando menutup mulutnya saat bertatapan dengan sang mama, merasa telah keceplosan.
“Lakukan Nando, kakakmu gak boleh berhubungan dengan Jerol, itu selingkuh namanya, itu gak benar…” Mama Silvia menatap tajam.
“Seperti mamaku kan?” Nando berkata sedih, lalu melakukan permintaan mama Silvia.
Mama melihat raut wajah anaknya, dia tahu ini telah jadi cacat pada diri Nando ketika bisa mengerti statusnya sebagai anak hasil selingkuhan.
Nando hanya mengerling, dia merasakan kasih sayang itu, tapi itu tidak akan mengubah statusnya.
“Ini ma… udah, aku pergi ya…”
“Do… jangan naik pohon, mama takut kamu jatuh… minta orangnya papamu aja…”
“Aku pengen melakukannya sendiri!” Nando berteriak, dia sudah melesat jauh.
“Mil… Nando mau memanjat pohon rambutan, aku takut dia jatuh, tolong kamu lihat dia…” Mama mendekati papa dan Fou yang masih bercakap soal kebun ini.
“Biarkan aja Yang… dia harus tahu banyak hal juga, dia ingin menjadi petani katanya,” sang papa gantian memeluk istrinya dari belakang.
Fou tersipu memandang iri, kapan dia leluasa bermesraan dengan Jerol, dia wanita ternyata butuh hal itu. Fou menggeleng mengibaskan pikirannya, rasa bersalah kembali muncul, terutama jika dikaitkan dengan kesehatan mama, dia hanya bisa pasrah dengan cintanya yang sulit. Dulu dia begitu menolak Jerol, sekarang dia begitu menginginkan Jerol, sebuah perjalanan cinta yang kontradiktif.
Saat bersitatap dengan papa yang sedang sumringah oleh cinta Fou membuang pandang, jengah serasa menjadi nyamuk yang nakal saja untuk sejoli setengah baya ini.
“Ah, tapi dia ingin jadi dosen matematika katanya,” mama menimpali sambil memegang dua tangan suami yang mengunci di dadanya.
Fou diam-diam pergi ke arah rumah. Sayup dia mendengar suara manja mamanya meminta kelapa muda. Fou tertawa, apa mama sedang ngidam? Hahah.
Di dalam rumah Fou segera masuk ke kamar untuk dirinya dan Nando. Ada enam kamar di ruang atas dan bawah. Rumah di tengah kebun ini dilengkapi dengan fasilitas modern dengan desain interior yang bagus, dia akui papanya membangun rumah ini dengan sangat baik, seperti datang ke villa saja karena suasananya seperti itu.
Setelah membuka sebuah jendela besar dengan pemandangan ratusan pohon singkong Fou kemudian berselonjor di sebuah sofa panjang yang tersedia di kamarnya, melepas penat karena menyetir jauh. Udara segar segera memenuhi kamar itu. Fou meraih tasnya lalu mengeluarkan hp, tadi sebelum berangkat sempat berkirim chat dengan Jerol, dan Jerol mengirim video, belum sempat dilihatnya.
Saat melihat video mengenai Elsie dengan suara Jerol yang menjelaskan di mana mereka sekarang…
Onty, Sisie ada di rumah baru, belum selesai semuanya, tapi Sisie pindah ke sini aja… nanti Onty datang ke rumah Sisie ya… Ini akan jadi rumah onty juga. Boleh Sisie panggil Onty mama sekarang?
Fou tersenyum mendengarkan suara itu, ahh Jerol... Jadi kangen.
Lalu Fou membaca chat Jerol…
Ra, aku terpaksa pindah biar lancar mengurus perceraianku, papa menekanku, aku gak mau lagi diatur papaku… semoga kita bisa secepatnya bersama ya… jangan berubah ya Ra… aku sayang kamu. Nanti aku bawa Sisie ketemu kamu. Kangen kamu… muaccch.
Jantung Fou seketika mengetat dan terasa berat, Jerol sudah berani melawan papanya. Bukan ini yang dia inginkan, ini juga yang tante Anet pernah sampaikan saat bertemu. Dengan perasaan gelisah yang bertambah Fou berbaring di sofa.
“Rara…” Mama masuk dan menutup pintu, mama ikutan berbaring di tempat tidur. Fou hanya mengamati.
“Petra akan ke sini, kamu gak menjawab pangilan darinya, kenapa?”
Fou gak menjawab. Resah dan gelisah bertumpuk jadinya karena Petra disebutkan sang mama.
“Rara… Anet menelpon mama semalam. Jerol meninggalkan rumah karena bertengkar dengan Herry. Herry minta kamu jangan menanggapi Jerol, salah satu sebab Jerol pergi karena Herry gak setuju dia berhubungan denganmu…”
Gak tahu harus menjawab apa, sejujurnya dia gak ingin hal ini membebani mamanya, tapi mama terlanjur tahu.
“Rara… mama minta jauhi masalah dengan Jerol ya, kamu tahu mama paling trauma dengan perselingkuhan, paling marah dengan Dianita… kamu jangan jadi seperti Dianita. Jerol dan Vinzy resmi menikah Rara, jangan masuk ke dalam hubungan mereka. Mama minta ya Rara, mama lelah menghadapi persoalan seperti ini bertahun-tahun… mama ingin tenang sekarang."
Mama berhenti bicara, entah kenapa setiap membicarakan sesuatu yang sensitif mama akan menyebutnya Rara. Di sudut mata Fou berkumpul cairan bening, dia sangat tahu penderitaan mama saat papa selingkuh.
"Jangan bermasalah dengan Anet dan Herry ya, hubungan kita dengan mereka baik sejak lama. Mereka tidak mengijinkan Jerol bercerai… kalau kamu memaksa, kamu tidak akan mendapat restu…”
Ungkapan mama dengan suara lembut tapi tepat menusuk di hati Fou. Matanya semakin panas mengingat perasaannya untuk Jerol.
“Pilih Petra aja… dia masih pria single dan terutama dia pacar kamu…”
Tak ada sanggahan atau bantahan, reaksi Fou hanya menutup mata sambil menahan tangis.
.
Siang hari, suasana menjadi ramai dengan kedatangan Sherly dan Eileen serta keluarga masing-masing, menyusul kedatangan opa dan oma, semua saling melepas kangen, maklum selama ini hanya papa seorang yang berkunjung. Saat Petra datang, suasana jadi berubah. Ini sudah seperti mengenalkan calon suami saja, karena semua membahas tentang hal itu.
Dokter Petra didaulat untuk buka praktek gratis di sini, melakukan pemeriksaan kesehatan pada semua orang termasuk pada beberapa mandor kebun. Selama beberapa waktu saat sebelum dan sesudah makan siang Fou gak mau mendekati atau bicara dengan Petra, hatinya sedang gamang plus hatinya sedang rumit. Sehingga Petra kemudian hanya berbincang dengan papa dan dua iparnya mengenai banyak topik di sebuah gazebo di bagian depan rumah.
Menjelang sore saat semua orang menghilang karena menjelajah kebun, hanya Fou, mama dan tiga mbak di dalam rumah. Fou duduk santai di depan meja makan sambil menikmati beberapa jenis buah hasil kebun. Dia gak tahu Petra ada di mana, dia malas mencari atau sekedar bertanya. malah lebih bagus jika cowok itu sudah kembali ke kota.
Tapi...
“Ra….” Suara rendah khas milik Petra terdengar dekat.
“Hei? Eh Hah?” Fou kaget.
Petra muncul lalu duduk di sampingnya, meraih rambutan lalu mulai menikmati.
“Kamu dari mana?” Fou penasaran, Petra gak melewati pintu masuk tadi.
“Dari atas, aku istirahat di kamar atas… semalam dinas jadi tadi ngantuk sekali…” Petra menjawab sangat santai dan bernada akrab seolah gak ada jarak antara mereka sebelum ini.
Fou mengamati Petra, sudah berganti baju dengan outfit rumahannya yang meresahkan hati, lagi-lagi celana setengah pahanya dengan kaos oblong. Kapan dokter ini melakukan latihan? Tubuhnya tampak berotot. Dan Fou harus jujur jika dari segi fisik, Petra terlalu indah untuk ditolak, wajahnya ganteng dari angle manapun, dan tubuh tinggi proporsionalnya sangat memikat. Tapi begitulah… hati selalu secara rahasia akan memilih kepada siapa dia akan jatuh cinta.
“Jalan yuk, Ra… suasana di sini alami dan pemandanganya indah banget. Petra menarik lembut tangan Fou dan membantunya berdiri.
Fou merasa kesal dengan hatinya sendiri karena tidak bisa menolak Jerol dan tidak bisa menerima Petra. Saat mereka berjalan berdampingan melalui jalan yang membelah kebun papanya. Hati Fou bicara tentang sebuah keputusan yang harus segera dia ambil sekarang.
Jika yang tersedia hanya pilihan logis dan cinta gak punya kekuatan untuk memilih... maka Fou harus mengikutinya.
Fou berpegangan di lengan Petra, walau hati sakit untuk melepas cinta yang baru terasa lagi dengan Jerol, tapi Petra lebih memungkinkan jika hendak menyenangkan hati mamanya, sekaligus sebagai cara untuk membunuh cinta Jerol untuknya.
Mungkin cinta untuk Petra bisa tumbuh kemudian….
Mendapatkan sikap berani Fou membuat Petra mencium kepalanya sejenak lalu berbalik menggenggam tangan Fou. Kebahagiaan sedang berpihak pada dokter Petra.
.
.