My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 50. Cerita yang Berbeda



Liburan kali ini begitu bermakna. Fou bersenang-senang, di setiap tempat yang disinggahi dia seolah menemukan cara untuk lebih berbahagia. Bertemu orang asing, menjelajahi tempat yang baru, juga menapaki tempat-tempat yang pernah didatangi sebelumnya, berbaur dengan kultur yang berbeda, menjadi healing yang sesungguhnya untuk Fou. Perasaan yang ditimbulkan setiap kali mengakhiri kunjungan di sebuah tempat untuk berpindah ke tempat yang lain benar-benar hanyalah kepuasaan yang besar dan mendalam.


Ini juga karena dia menyukai berpetualang sendiri, dulu dia pernah menandai di sebuah peta miliknya, kota-kota yang sudah dia kunjungi di negara ini. Papanya punya andil yang besar menanamkan keberanian liburan sendiri sejak SMA. Dan karena lama tidak pernah melakukannya lagi, kali ini Fou mengunjungi sepuluh kota di lima pulau berbeda, memilih dengan cermat tempat wisata alam yang bagus, semua dilakukan dalam dua puluh satu hari.


Benar-benar memanjakan diri sendiri dengan kamar hotel yang terbaik, membeli beberapa barang yang unik, mengambil banyak foto, dan menikmati kuliner yang lezat. Walau gak semua kegetiran benar-benar terlepas, tapi Fou merasa jauh lebih baik.


“Kakak, aku kangen… aku sendirian di sini…” Nando segera menyerbu dan memeluk Fou ketika Fou keluar dari pintu kedatangan di bandara Ahmad Yani.


Fou tertawa melihat ekspresi Nando yang hampir menangis. Dia awalnya ingin membawa Nando tapi papa melarang justru mengingatkan tentang petualangan yang pernah dia lakukan. Nando akhirnya berangkat sendiri ke kota Smr, ke tempat om Marvin. Fou jadi ingat perasaan ketika dipaksa liburan sendiri oleh sang papa, tapi dari situlah dia berani ke mana-mana sendiri. Tapi mungkin itu berbeda dengan Nando.


“Sendiri gimana? Ada mama, ada om Marvin, ada Mark ada semua kan… eh ada Glen kan?” Fou menyebut dua sepupunya yang seumuran Nando.


“Tapi gak ada kakak, mama barus seminggu di sini…” Nando berujar sambil menyurukkan kepalanya ke dada Fou.”


“Dia banyak murung, Foura… seperti gak bersemangat menikmati liburan…” om Marvin menimpali.


Suara om Marvin mengingatkan Fou dia belum menyapa omnya. Fou melepaskan pelukan adiknya lalu memeluk on Marvin sejenak.


“Om sehat?” Fou bertanya sambil melepas senyumnya untuk omnya.


“Sehat Foura…” Om Marvin menepuk-nepuk lengan Fou beberapa kali. “Ayo kita ke mobil, tante Wiwid dan mamamu menunggu di mobil…” sambung om Marvin.


Nando kembali bergelayut pada Fou membuat Fou kesusahan mendorong trolly yang berisi bagasinya. Fou akhirnya mengacak rambut adiknya yang terlihat sekali sangat senang dengan kedatangannya dan terlihat benar-benar merindukannya.


Satu hal yang dia tidak mengerti mengapa adiknya ini begitu melekat padanya, ini nampaknya menunjukkan tentang keadilan Tuhan yang dinyatakan padanya tentang Nando, membenci perselingkuhan papanya dan justru menyayangi hasil perselingkuhan itu.


Pernah terlintas dalam pikirannya, jika hidup hanya menggariskannya sendiri saja gak punya pasangan untuk selamanya, dia akan memindahkan Nando ke dalam Kartu Keluarga miliknya, mungkin adik tirinya ini dilahirkan salah satunya agar hidupnya tidak terlalu menyedihkan, dan suatu saat mungkin dia hanya hidup berdua Nando saja, itu pun jika Nando belum bertemu seseorang di masa depannya nanti.


.


Hari ini pernikahan sepupunya Gallen. Perasaan Fou biasa aja, baru selesai liburan poin penting yang membuat hatinya tenang, dan lagi di sini tidak ada yang akan peduli tentang keadaan Fou, keluarga omnya gak pernah menyinggung tentang usia apalagi menghubung-hubungkan dengan pernikahan.


Semua keluarga menginap di hotel tempat resepsi akan dilaksanakan. Fou selesai berdandan sendiri, mamanya serta adik-adiknya menunggu giliran dirias oleh orang salon yang dibooking tante Wiwid istri omnya.


Eileen masuk ke kamar tempat Fou dan Nando, Nando ada di kamar orang tua mereka.


“Kakak… udah selesai make up? Kakak aja yang make up-in aku ya… tipis-tipis aja yang natural aja kayak kakak, kakak tahu kak Rene kan…”


“Suamimu memang aneh, gak mau istrinya terlihat cantik…” Fou menjawab sambil memastikan kesempurnaan polesaan di wajahnya.


“Suamiku dari zaman batu kak, mami kak Rene kolot banget sih… aku gak boleh pakai kuteks, aku gak boleh pakai yang ketat-ketat yang pendek-pendek… tau gak… aku suka jengkel suka dibilang orang-orang lebih tua dari kakak, dihhh…”


“Makanya perawatan, walau gak make up tetap aja setiap hari muka harus dirawat…” Fou merasa lucu tapi menahan tawanya karena melihat muka bete adiknya.


“Ahh kakak juga bukan yang rajin pakai skin care kan… tapi emang kakak lebih cantik dari aku aja. Sodara-sodaranya tante Wiwid juga mengira aku anak tertua… sebel…”


“Sini…” Fou berdiri dan meminta Eileen duduk menggantikan dirinya, lalu mulai mengaplikasikan pembersih wajah di wajah bulat telur adiknya.


Fou memperhatikan wajah adiknya, pada dasarnya wajah mereka mirip, gen papa mendominasi wajah mereka. Tapi kulit wajah yang kendor dan ada bagian yang mulai berwarna gelap serta berbintik, terlihat bahwa Eileen tidak merawat wajahnya. Apa karena semua urusan rumah tangga yang dia lakukan sendiri?


“Anak-anak?” Fou bertanya pendek.


“Di kamar papa mama, semua cucu ngumpul di sana...”


“Rene?”


“Ada di kamarku…” Eileen berkata sambil menarik napas pendek.


“Lin… Rene juga harus diminta mengurus anak-anak, kamu kerepotan dia suka gak peduli.” Fou akhirnya membicarakan sesuatu yang ditahannya setiap kali melihat Rene.


“Ahh, aku gak tahu harus ngomong dengan cara bagaimana kak… aku malas bertengkar lagi soal hal yang sama, alasannya selalu sama… dia bagian yang nyari nafkah aku bagian yang ngurus anak-anak. Dia sangat marah kalau aku bandingin sama papa dan Jeff… ahh nasib aku kak dapet suami seperti dia… mana aku gak bisa punya ART, gak megang uang… kalau dia tahu aku dapet uang dari papa suka diminta, katanya aku boros… aku suka nangis lihat Shirley, lihat rumahnya yang bagus, lihat Jeff yang main sama anak-anaknya… Shirley lebih hepi dari aku kak…” Eileen mengeluh.


Fou udah banyak tahu soal keadaan adik bungsunya, ada mertua yang begitu dominan. Adiknya ini hidup dengan pengawasan yang ketat dari mertuanya, Rene sang suami tipe anak yang selalu mengikuti apa kata maminya, termasuk dalam urusan rumah-tangganya, termasuk soal ART yang katanya hanya membuat istrinya malas.


“Aku cerai aja, boleh gak kak?” Eileen berkata sendu kemudian.


“Lin?? Jangan ngomong kayak gitu ahh.”


“Aku pengen balik ke rumah aja… aku lelah kak ngadepin Rene yang egois, aku ngerasa kayak pembantu aja di rumahku sendiri, kayak pemuas sek*s aja buat dia, aku udah lama menahan ini…”


Eileen menangis, Fou menghentikan membersihkan wajah Eileen. Satu lagi yang membuat hati Fou menjauh dari pernikahan, melihat kebahagiaan Shirley tidak terlalu berpengaruh padanya, justru keadaan Eileen yang selalu menjadi perhatiannya.


“Ada anak-anak Lin, pikirkan dengan baik jangan hanya emosi aja kemudian memutuskan berpisah, kamu lihat mama kan, papa selingkuh loh tapi mama tetap bertahan menjaga rumah tangganya…”


“Iya sih Rene gak selingkuh, tapi aku gak punya hak mengatur rumah tanggaku kak, itu yang aku gak suka… apalagi soal uang, jangankan uang gaji miliknya uang dari papa aja aku kayak gak punya hak gitu membeli sesuatu untuk diriku sendiri. Aku pernah minta uang ke papa untuk perbaiki rumah… eh dia ambil semua katanya untuk persiapan biaya sekolah anak-anak aja… aku marah tapi dia cuek aja… egois banget.”


Eileen terisak-isak sekarang. Fou menarik sebuah kursi lagi lalu duduk di sana, percuma meneruskan mengaplikasikan make-up karena si adik sedang curhat penuh emosi. Fou sendiri kehilangan kata, dia gak punya pengalaman apapun untuk dibagi soal berumah tangga.


Yang dia tahu banyak kali adiknya secara sembunyi-sembunyi meminta dia membelikan keperluan pribadinya seperti pakaian atau sepatu, dan kalau Rene bertanya harus menjawab bahwa Fou yang ngasih. Rene memang sangat pelit dan terlalu perhitungan.


“Udah nangisnya? Nanti kita terlambat…” Fou mengusap sejenak bahu adiknya.


“Aku harus gimana kak?” Eileen ternyata belum selesai.


“Jujur kakak gak punya solusi, kakak belum pernah jadi istri seseorang… nanya ke mama ya… mama pasti tahu kamu harus gimana…”


“Ahh… paling-paling disuruh bersabar menghadapi Rene… bosan ahh.”


Tak ada yang sederhana di dunia ini, semua fase kehidupan membutuhkan perjuangan, termasuk soal berumah-tangga, Fou semakin merasa kehidupan pernikahan bukan untuknya.


.


Selesai pemberkatan, masih ada beberapa jam sebelum acara resepsi nanti malam. Semua berkumpul di kamar mama dan papa, salah satu kamar tebaik di hotel ini.


Fou diam aja menjadi pendengar yang baik di tengah mereka, adik-adiknya dengan sang mama membahas soal pesta sementara papanya dan ipar-ipar seru membahas topik politik. Sesekali Fou meladeni ponakan-ponakan yang minta ini-itu.


Fou memperhatikan Eileen yang baru aja mengeluh soal suami tapi sekarang bersandar manja dan sesekali minta dipijit di bagian punggung. Rene sambil ngomong melakukannya tanpa keberatan. Fou melihat satu keajaiban dalam hubungan suami istri, mengeluh tapi butuh, di saat lain begitu benci sekarang terlihat begitu menginginkan.


Rene memang ogah melayani anak-anak tapi sepertinya rela aja disuruh meladeni istrinya. Fou hanya bisa tertawa tanpa suara saat melihat Rene disuruh Eileen mengambilkan minum, Rene sedang mengemukakan pendapatnya, sambil tetap bicara dia melakukan apa yang diminta sang istri. Sementara adiknya yang lain sedang repot meladeni dua anaknya tapi diminta Jeff untuk mengambilkan minum, padahal Jeff sedang duduk santai menyimak Rene.


Jika Shirley mengeluh, mungkin dia juga akan membandingkan Jeff dengan Rene. Sebenarnya tak ada yang lebih baik dari siapapun, masing-masing punya yang tidak dimiliki orang lain.


“Fou…”


Mama yang sedang selonjoran di tempat tidur menggerakkan tangannya memberi isyarat untuk Fou mendekat.


Fou datang…


“Boleh pijitin kaki mama… sakit…” Mama Silvia terlihat lelah.


Nando yang tiduran di samping mama segera melepaskan hpnya, mengambil lotion dan minyak kayu putih.


“Kakak kaki kanan aku yang kiri…” Nando mengambil inisiatif sambil menyodorkan dua benda yang diambilnya pada Fou.


“Nanti gak usah pakai heels ma…” Fou berujar mama diam saja sambil memperbaiki duduknya yang bersandar di headboard tempat tidur.


Papa yang melihat mama segera datang mendekat.


“Cape Yang?” Si papa segera duduk di samping mama lalu mulai mengusap pipi hingga kepala istrinya.


“Tuhh denger kan Jeff… papa manggil mama Yang… Sayang… kamu ya, manggil aku kayak manggil abang sate... gak ada mesra-mesranya sama istri…” Shirley menggerutu pada suaminya, sementara sang suami hanya nyengir sambil meladeni anak perempuannya.


Eileen lalu berlari ke kamar mandi diikuti Rene. Tak lama keduanya keluar dari sana. Mama yang tanggap kemudian berujar…


“Kamu hamil Lin?”


“Hah?? Eh?? Gak tahu, ahh… aku belum dapet mens sih kayaknya…” Eileen berkata lalu menangis tersedu-sedu kemudian. Dua bocah lelaki Eileen segera datang dan mulai menangis juga sambil memeluk mami mereka yang jatuh terduduk di sofa.


“Kenapa nangis babe… lihat anak-anak ikut nangis juga…” Rene memeluk sang istri, terlihat benar rasa sayang seorang suami pada istrinya.


Fou tergerak menenangkan dua ponakan yang menangis minta perhatian sang mama, jika beneran hamil pantas aja adiknya sensitif dan sempat mengeluh tadi.


“Aku gak mau hamil.” Eileen berkata di selah tangisnya.


“Eileen?? Itu anugerah, gak boleh ngomong seperti itu.” Mama berkata sambil berdiri mendekati Eileen.


“Periksa dulu… tapi mama rasa kamu hamil, biasanya kamu paling antusias kulineran di sini… udah beberapa hari mama perhatiin kamu males makan dan gak suka nyium bau masakan…” Mama menyambung lagi sambil menyodorkan sebuah stick aroma terapi pada Eileen.


“Siapa tahu kali ini perempuan, kamu suka gemes sama Elle kan, sekarang kamu bisa punya anak perempuan milikmu sendiri,” Shirleey berkata kemudian.


“Shirleey bener babe… kamu pengen anak perempuan kan, siapa tahu Tuhan jawab keinginanmu sekarang, aku beli testpack ya babe…” Rene berkata lembut sambil mengusap kepala istrinya. Terlihat wajah Rene sumringah.


“Iya, aku pengen anak perempuan tapi Drew dan Dyllan masih kecil, ngurus mereka aja aku udah kerepotan, gimana kalau nambah satu bayi lagi… aku gak sanggup Rene… kamu gak pernah bantuin aku ngurus anak-anak…”


“Ehh… ahh iya… kali ini aku akan bantuin kamu eh… iya, jangan nangis sedih gitu, entar kalau beneran hamil bayi kita akan merasa tertolak… Aku beli testpack dulu yaa…” Rene gelagapan tapi tetap aja ekspresi senang terpancar nyata di wajahnya.


Rene kemudian keluar dari kamar. Shirleey membisikkan sesuatu pada dua bocah anak Eileen, lalu keduanya berteriak dengan suara cadel mereka…


“Papi… ituut…” dua anak itu berlari lalu memeluk kaki sang papi.


Rene mengangkat Drew anak bungsunya dan satu tangan memegang tangan Dyllan lalu keluar dari kamar itu.


“Kamu kerepotan sendiri sebenarnya karena kamu yang gak melibatkan Rene, gak mungkin kan bapaknya menolak anaknya…” Shirleey berkata kemudian.


“Abiss dia suka ngomong aku yang ngurus anak-anak, dia yang nyari uang…” Eileen menjawab.


“Kamu gak pernah minta bantuan jadi dia pikir kamu bisa melakukannya sendiri… Jeff juga gitu kok awalnya… suami-suami sih kalau gak kita omongin kita perlu bantuan biar kata mereka lihat kita repot mereka diam aja…” Shirleey berkata lagi.


“Tapi papa beda… papa peduli banget sama mama, mama kayaknya gak usah ngomong papa udah tahu apa yang mama butuhkan…” Eileen masih bersungut.


“Udah… jangan bandingin suami kita dengan papa… kamu jadiin papa standar kamu bisa tertekan sendiri dan akan terus mengeluh tentang suamimu… lagian kamu gak ingin suamimu selingkuhin ka…” Shirleey gak meneruskan perkataannya.


Papa yang sejak tadi hanya menyimak anak-anaknya terlihat sedih hanya memalingkan muka sambil mengecup kepala mama Silvia aja. Jeff melayangkan tatapan tajamnya pada Shirleey yang telah menutup mulut dengan tangannya. Orang dewasa terdiam semua hanya celotehan Elle dan Erzan dua anak Shirleey yang terdengar sekarang.


Fou sejak tadi hanya mengamati tiga pasang suami istri yang ada di ruangan yang sama dengan cerita hidup mereka yang berbeda, yang dia temukan sekalipun mereka gak lepas dari semua keluhan tentang hidup. Tapi jika dia boleh mengatakan, mereka tampaknya akan melewati semua untuk lebih berbahagia kemudian. Bila dibandingkan dengan hidupnya... terlalu datar. Lagi Fou menyimpan nelangsa sendiri.


Benar kata papanya… dua orang dengan kebahagiaan masing-masing yang saling melengkapi itu lebih baik, dan dua orang akan lebih kuat memikul persoalan yang di hadapi.


.


Jangan pernah iri dengan kehidupan seseorang karena kamu gak pernah tahu penderitaan apa yang mereka simpan.