My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 28. Yang Retak di Hati



Jam sembilan malam, om Marvin sendiri yang menjemput di stasiun Tawang. Setelah mampir makan mereka tiba di rumah om Marvin. Fou terkejut ternyata mama datang bersama papa.


Setelah ngobrol sejenak dengan dua adik sepupu dan istri om Marvin, Fou masuk ke kamar yang diperuntukkan padanya. Rumah om Marvin besar dan memiliki banyak kamar jadi Fou mendapatkan kamar sendiri.


Selesai mandi dan sudah bersiap tidur Fou menghidupkan hp yang sejak siang tidak dia hidupkan, dia perlu mengecek tiga muridnya apakah sudah tiba. Fou bebas tidak menemani mereka pulang karena ada seorang anak yang didampingin mamanya, sehingga Fou bisa menitipkan muridnya.


Serbuan chat masuk, terbanyak dari Petra. Berasa de ja vu, sekarang giliran Fou yang tidak mempedulikan, selain belum sepenuhnya bisa menerima status mereka berdua, Fou juga ingin melihat nanti seperti apa reaksi Petra saat bertemu, benar-benar gak memberi respon apapun terhadap interaksi yang dibangun Petra.


Dia telah memutuskan akan bersikap pasif, jika Petra nekad, mungkin perasaannya akan tumbuh? Jika Petra mundur karena sikapnya entahlah, hatinya masih terlalu dingin untuk hubungan ini. Fou tidak berharap apapun.


Fou malah tertarik membuka ruang chat dari Jerol, entah apa penyebabnya, mungkin karena chat Jerol berisi video Elsie? Jerol sama sekali tidak menuliskan apa-apa. Fou memperhatikan dengan senyum video berdurasi satu menit itu, lalu menutup lagi tanpa bereaksi apa-apa. Setelahnya dia menghubungi murid-muridnya.


Mama lalu mengetuk pintu, terdengar dari suara mama di luar. Fou membuka dan membiarkan mama masuk. Fou memandang sang mama yang berbaring di sampingnya.


“Mama tidur di sini?” Gak tahan mulut Fou menanyakan ketika mama terlihat menutup mata.


“Gak… mama tidur bersama papa, tapi papa masih ngobrol sama Marvin… Marvin menyuruh mama masuk tadi, sengaja mungkin…” Mama membuka matanya.


Fou paham, mungkin om Marvin punya maksud. Papa ikut datang ke sini sepertinya sedang menunjukkan kesungguhannya untuk kembali bersama mama, sebab papa tahu om Marvin adalah sosok yang paling marah dengan kelakuan papa. Mama hanya punya om Marvin sebagai keluarga dekatnya sejak oma-opa meninggal, dan satu-satunya yang menjadi pembela mama.


“Rara…” Suara mama sangat lembut, itu menyentuh hati Fou, ini panggilan sayang mama padanya dan jarang-jarang mama memanggilnya demikian. Fou menahan pandangannya pada sang mama.


“Besok ikut ya?” Mama kemudian duduk bersandar sama seperti Fou. “Mama ingin kamu ikut, Nando bilang dia ikut kalau kamu ikut,” mama menyambung.


Fou memang menolak ajakan jalan-jalan ke sebuah kota populer yang pernah jadi ibukota negara ini. Mama dan papa berencana menginap sehari di sana.


“Aku di sini aja, nanti aku bujuk Nando supaya ikut.” Fou kembali memperhatikan hpnya, dia sedang memberikan materi lewat chat untuk salah seorang murid lesnya.


“Rara… apa karena papa?” Mama sekarang memandang Fou. “Papa sengaja ambil cuti untuk bersama kita, papa ingin memulai lagi jadi suami mama, jadi papamu, beri papa kesempatan ya?” Suara mama begitu lembut.


Fou malas menjawab mamanya. Dia gak akan percaya dan menerima begitu aja, dia butuh bukti.


“Gimana pemeriksaan dokternya?” Fou memilih menanyakan kesehatan mama, di telpon hanya bilang keadaannya baik.


“Mama udah minum obat rutin, ternyata waktu mama sakit itu, mama udah kena serangan jantung,” perlahan mama menjawab.


“Kapan mama kena serangan? Kok aku gak tahu?” Fou menegakkan tubuhnya dari headboard.


“Kamu di sekolah, mama pikir hanya sakit asam lambung biasa…”


Fou ingat pernah ada waktu mama beberapa hari hanya berbaring, sejak itu ada ART di rumah. Mungkin saat itu kejadiannya, Fou pikir mama hanya kebawa sedih.


“Ma… lain kali kalau sakit kasih tau aku…” Fou terlambat untuk khawatir, tapi dia sadar sakit mama bukan sakit biasa, mungkin karena kondisinya lalu mama menjadi lemah terhadap papa? Atau bisa saja mama sakit karena papa, tapi terlihat sekali mama butuh papa sekarang.


Karena mamanya masih diam, Fou berkata “berarti mama gak boleh capek-capek, yang aku denger sakit jantung gak boleh capek… besok ke sana empat atau lima jam loh… apa batalin aja ma?”


“Iya sih, mama berasa lemes sebenarnya, tapi mama kasihan Nando belum pernah jalan-jalan… pengen membawa dia melihat beberapa kota yang terkenal di provinsi ini, katanya dia baru melihatnya di peta dan di tv…” Mama menjawab sambil tiduran lagi. Perjalanan hari ini rupanya membuat dia kelelahan.


“Nando malah gak mau iku kalau aku gak pergi kan…” Ternyata perjalanan besok untuk Nando, mama memikirkan Nando juga.


“Dia begitu melekat padamu… mama heran loh…”


Fou senyum tipis, dia juga heran, tapi dia banyak membaca tentang anak remaja karena dia butuh perspektif bagaimana menghadapi murid-muridnya. Nando memasuki masa di mana dia butuh figur, mungkin dia menemukan Fou untuk jadi tempat bersandar karena mamanya gak memberikan itu. Fou jadi sadar bahwa dia harus memperlakukan Nando dengan baik.


“Ma. Aku aja yang ajak Nando ke sana… mama di sini aja jangan memaksakan diri, Ya?” Fou mengambil keputusan.


“Kita tanya papa dulu… papa juga pengen ke sana, dulu mama dan papa honeymoon di kota itu…” Mama berkata sambil tidur miring sehingga Fou gak bisa melihat ekspresi mama.


Oh… sedang ada usaha merekatkan hati dengan napak tilas. Jadi papa sungguh-sungguh? Fou hanya bisa memandang punggung mama. Fou tahu ada perubahan pada fisik mama, mungkin lelah karena beban emosional bertahun-tahun, berusaha berdiri tegar dan kuat, tapi kemudian tubuh fisik menemukan limitnya dan sekarang ibaratnya mama sedang turun mesin.


“Dianita ngamuk karena papa mengambil semua aset, gak meninggalkan apapun untuknya. Dia selingkuhin papamu dengan pemilik toko di sebelahnya, papa tahu dan mereka benar-benar pisah sekarang. Sebenarnya papa sudah beberapa tahun ini minta pulang, tapi mama belum mau, mama memikirkan dirimu… dan mama tahu papa masih ragu. Tapi sekarang mama ingin kamu memikirkan mama. Kalau kamu khawatir soal papa nyakitin mama lagi, semoga gak terjadi lagi, Rara…”


Suara mama sangat tenang dan begitu dalam tanda mengucapkannya dengan penuh perasaan.


Fou tidak tahu harus merespon seperti apa, apakah ini jawaban atas gumul mama kepada Sang Pemilik Hidup? Apakah ini bisa disebut buah kesabaran mama? Tapi kenapa justru mama sakit setelah kembali bersatu dengan papa? Seharusnya mama lebih bahagia kan?


“Apa… apa Dianita selingkuh karena papa kembali waktu itu?” Fou coba menyambung alur persoalan, dia ingin tahu motivasi papanya.


“Mama gak tahu Rara, tapi Nando pernah bilang setiap hari mereka bertengkar, itu jauh sebelum papa pulang waktu itu…”


Fou diam, mama pun diam. Fou kembali sibuk dengan les onlinenya, memeriksa jawaban soal yang baru aja masuk, bersamaan dengan itu ada beberapa chat beruntun dari Petra, Fou hanya melihat chat di menu pop up itu dengan senyum getir.


Aku akan melihat sejauh mana usahamu Petra, saat aku mengabaikanmu.


Beberapa waktu kemudian papa masuk, tersenyum pada Fou saat bertatapan tapi sikap Fou datar saja. Nando juga menyusul masuk dan tanpa sungkan masuk ke space tengah dan menempel padanya, Fou jadi merasa seperti seorang mama pada akhirnya menghadapi remaja kecil ini.


Kenapa dia begitu manja? Suara hati Fou menggetarkan kalbunya, terlebih saat tangan Nando melingkari tangannya sambil memejamkan mata seperti hendak tidur dengan posisi itu.


“Yang…” Papa bersuara lembut sambil mengusap lengan mama, suara khas papanya yang mengingatkannya pada suara Petra. Dalam hati Fou mengeluhkan kemiripan papa dengan Petra. Fou masih mengamati sikap si papa.


Mama membuka mata sambil meluruskan badannya.


“Cape ya?” Suara lembut papa ditambah dengan gerakan tangan yang mengusap kepala mama.


Ahh papanya memang romantis sejak dulu, mungkin itu alasan hingga Dianita takhluk, Fou mengibaskan kepalanya, tapi masih ingin menyaksikan gimana papa dan mamanya.


“Iya Mil, kakiku sakit sekali…” Mama bermanja, Fou meringis, dia tidak pernah bersikap seperti itu pada pacar-pacarnya.


“Nanti aku pijit ya… tapi pindah ke kamar kita biar kamu bisa segera tidur. Obat udah diminum kan?”


“Udah…” Si mama menjawab pendek sambil membiarkan papa membantunya berdiri.


“Mil, Fou aja yang mengantarkan Nando, aku kayaknya gak sanggup naik mobil berjam-jam…” Mama bicara saat dia sudah duduk sempurna.


“Iya… kan udah aku bilang sebelumnya… Nando masih punya waktu lain untuk jalan-jalan, aku memikirkan kondisimu, Yang…” Papa kemudian memperbaiki rambut mama yang acak-acakan dengan mata yang saling memandang mesra.


Fou seperti melihat dua orang paruh baya yang dilanda cinta kesekian. Fou melirik Nando yang buru-buru mengatupkan matanya, rupa-rupanya dia mengintip dan ternyata malu melihat adegan seperti itu.


“Boy… kita gak bisa jalan-jalan besok, mama sakit, gak boleh kelelahan…” Papa menatap Nando.


Rupanya papa punya panggilan khusus untuk Nando seperti pada dirinya, dua adik perempuannya tidak. Apa ini pertanda dia dan Nando sama-sama memiliki tempat yang khusus di hati papa?


“Aku gak papa di sini aja, banyak kok yang bisa dikunjungi di kota ini, aku udah browsing, ada Kota Tua, ada Lawang Sewu… gak papa lain kali ke sana… aku mau kita semua sama-sama kalau mama udah sehat lagi… aku sebenarnya hanya ingin berfoto di candi Borobudur…” Nando menjawab si papa tanpa merubah posisi, hanya membuka matanya.


“Kakak anterin kamu, Do…” Fou bersuara pelan saja, membuat Nando membelalakkan mata.


“Kita berdua aja? Kakak berani ke sana?”


“Kakakmu pernah jalan-jalan sendirian ke beberapa kota di negara ini waktu kelas dua SMA…” Si papa yang menjawab.


“Wow? Kakak pemberani, besok-besok aku mau kayak kakak jalan-jalan sendiri… tapi besok aku mau di sini aja sama mama…”


“Kenapa? Mumpung ada kesempatan, pergi aja Nando…” Mama sekarang yang bicara.


“Gak usah, nanti di sana aku mikirin mama, gak enak ah…” Nando menjawab lalu menutup matanya.


Fou menyimpan senyum, ikatan ini gak mungkin disangkali, ada seorang anak hasil selingkuhan yang ingin juga mendapat cinta dari istri papanya, bukankah ini aneh, tapi begitu kenyataan yang sedang melintas untuk Fou. Fou bertatapan sejenak dengan sang papa, sejak tadi papa seperti ingin bicara padanya, selalu memandang kepadanya. Tapi Fou punya banyak cara untuk menghindari, termasuk sekarang, Fou menunduk memperhatikan hpnya.


“Ya udah… kita semua di sini aja… gak papa juga, mama juga masih kangen om Marvin kalian…” Mama berdiri dibantu papa.


“Tapi kalau mama sehat kemudian aku dan kakak libur, kita jalan-jalan ya pa?” Nando bicara kemudian. Fou melihat papanya yang menganggguk tapi fokus pada sang mama.


“Kakak, aku tidur di sini ya… kamarku di atas, rumah ini asing buatku…” Tanpa persetujuan Nando mengambil posisi tidurnya, memeluk guling menghadap ke arah berbeda.


Fou hanya bisa menyetujui tanpa suara, apa Nando dan semua perilakunya serta kepolosannya menyikapi keadaan mereka dikirim Tuhan untuk mengisi yang retak dalam hatinya?


.


🌱


.


Hi... Selamat bermalam minggu.


Terima kasih untuk semua respon baik... Juga terima kasih utk kk semua yang membaca judul aku yg lain dan meninggalkan respon di sana 🙏🙏


.