My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 31. Memilih dari Dua



Petra membuktikan janjinya, setiap hari dia menyempatkan mengirim chat. Sekarang Fou mulai membacanya, sesekali menanggapi dengan sebuah bola kuning atau sesekali memberikan reaksi sebuah jempol aja.


Beberapa kali Petra menelpon tapi tidak dijawab Fou dan Petra tidak memaksa. Sebulan ini hubungan mereka menjadi lebih baik, Petra intens menghubungi bahkan datang ke rumah Fou di saat senggang, benar-benar menunjukkan bahwa dirinya seorang pacar.


Dan udah seminggu Fou kembali tidak membaca atau beraksi terhadap pesannya. Petra mencoba melakukan panggilan, tiga kali gak dijawab. Petra mengerutu dengan kata-kata gak jelas sambil memandang hpnya, sementara dia gak bisa langsung mendatangi si Fou.


“Kenapa lagi?” Dokter Aril tertawa melihat raut wajah Petra, dia sedang membereskan barang-barang miliknya, bersiap pulang setelah dinas dari pagi.


“Penyakitnya kambuh lagi.” Si Jentezen Petra menjawab kesal.


“Siapa yang sakit?” Aril menghentikan kegiatannya.


“Bukaan, si Foura gak membaca chatku.”Petra semakin kesal.


“Hahaha… kalau aku bilang sih, kamu sedang menuai karmamu sendiri… emang enak dicuekin? Olivia dan mantan-mantanmu yang seabrek-abrek itu pasti sudah mendoakan ini hahaha, kamu ketemu cewek yang setuju jadi pacar tapi gak menganggap kamu pacar, emang enak digantung kayak jemuran…”


Dokter Aril masih tertawa. Sekalipun dengan nada bergurau tapi sebetulnya itu bentuk sindiran juga, jika mau jujur, dokter Aril ingin mengatakan yang sedang sakit itu adalah temannya ini, dan Foura dengan karakter seperti ini adalah terapi terbaik untuk menyembuhkan si Petra. Dalam hati Aril mendukung tindakan Foura.


“Sial…” kembali Petra mengerutu saat tiga chat beruntun yang dikirimkannya juga masih bernasib sama.


“Udahlah… malah bagus kan seperti itu, ada Olivia loh di sini… sama calon mertua lagi, emang kamu mau ajak mereka bertemu Foura, mau kamu kenalin si Foura sama mereka?” Aril meneruskan kata-kata tajamnya. Dia bosan juga selalu kompromi dan selalu menjadi tameng Petra pada Olivia.


“Gila kamu. B*unuh diri itu namanya.”


“Makanya kebetulan si Foura seperti itu, kamu bebas kan menikmati waktumu dengan Olive. Hadeeh Jenzen, kapan kamu tobat sih? Mana ada orang yang mendua hati bisa hidup tenang? Pacar dua, Hp dua, kamar kost ada dua… yang ada hidup tambah rumit, harus menyembunyikan yang satu terhadap yang lain…” Dokter Aril berjalan keluar ruangan.


Petra menyusul dan memberikan hpnya pada Aril.


“Gak. Aku gak mau pegang lagi.” Aril menolak.


“Tolonglah Ril, kalau Foura menjawab, bilangin aku di rumah sakit gak bisa pulang… lagi ada yang harus dipelajari… dia tau kok tentang itu…” Petra tetap mengangsurkan hpnya.


“Gak ahh… aku pernah hampir ketahuan sama olive…” Aril menolak lagi, meneruskan langkah panjang-panjangnya hingga ke parkiran.


“Foura beda, Ril… dia gak akan lebih dulu menelpon aku apalagi video call, palingan hanya menjawab chat… Olive masih tiga hari di sini… jadi aku masih tiga hari juga di kost itu. Tolong Ril, aku gak mau diputusin si Foura lagi.” Petra juga mengikuti langkah Aril dan terus meyakinkan Aril supaya bisa memegang hp ini, sama seperti saat dia sibuk mengejar Fou, Aril yang memegang hpnya yang satu.


“Kenapa gak chat aja sekarang, simple kan. Aku gak mau nanggung dosa kamu lagi.” Aril bersikukuh.


“Gak mungkin aku megang dua hp, Olive bisa curiga. Buat jaga-jaga juga Foura butuh aku, kamu bisa beritahu padaku.”


“Pupuk terus… bohong terus… bisa kebawa sampai nikah loh, astaga, kamu gak akan menikahi mereka berdua kan?” Aril mengomeli si Petra lagi tapi mau tidak mau dia akhirnya mengambil hp si Petra.


“Gak lah, tapi wajar aja kan kalau aku punya lebih dari satu pacar biar bisa memilih mana yang terbaik untuk jadi istri.” Petra memberikan alasannya.


“Ahh itu sih karena kamu playboy, kebiasaan buruk itu… kayak gak bisa puas hanya dengan satu perempuan aja.”


“Makasih Aril, kamu terbaik deh…” Petra senyum lalu masuk ke dalam mobilnya.


“Terbaik dengkulmu, ini terakhir kali ya Jenzen. Kalau Olive nyerah sama kamu, aku bakal ngambil Olive loh!” Teriak Aril saat Petra membuka kaca jendelanya. Petra membalas dengan acungan tinjunya.


.


DI tempatnya, Fou punya aktivitas yang padat makanya tidak terlalu pedulikan gadgetnya. Dia harus mengejar ketertinggalan materi untuk anak-anak lesnya, sibuk dengan membuat soal, memeriksa ujian akhir dan langsung dengan memberikan nilai. Kesibukannya menjadi bertambah karena salah satu rekannya guru matematika sakit serius dan kelasnya harus diambil alih Fou.


Dan hari ini Fou pulang dengan tubuh lemas, sesampai di rumah belum mengganti seragam Fou langsung tiduran di sofa ruang keluarga. Tadi dia pulang dengan meminta bantuan salah satu muridnya memboncengnya.


“Nonie… kamu kenapa?” Si papa Emil datang mendekat. Papa juga masih menggunakan seragamnya. Papa spontan meraba kening Fou dan Fou tidak sempat menghindari demikian juga saat si papa memegang tangannya, otak Fou masih mengingat tindakan papa yang seperti ini bila anak-anaknya terlihat sakit.


Tidak mendapatkan jawaban Fou membuat si papa masuk, “yang…” si papa memanggil mama Silvia di dalam kamar.


Mama Silvia sedang merapihkan ke dalam lemari tumpukan baju yang baru selesai digosok si mbak… “baru sampai, Mil?”


“Iya…” sebuah pelukan dan ciuman singkat, ritual yang kembali dilakukan si papa saat berangkat dan sepulang kerja. “Nonie di luar, apa sakit ya? Dia tiduran di sofa belum ganti baju, gak biasanya kan?”


“Dia suka seperti itu kalau kelelahan, Mil,” mama menjawab sambil berjalan ke luar.


“Fou? Kamu sakit?” Mama menggoyang pelan lengan Fou. “Masuk ke kamar aja Fou…” Mama membantu Fou berdiri.


Foura membiarkan saat papa Emil mengambil-alih memegang lengan dan pinggangnya menuntunnya ke kamar, dia terlalu lemas untuk protes.


“Mau bilas-bilas dulu? Kotor loh seharian di sekolah.” Mama Silvia bertanya dan Fou menjawabnya dengan membaringkan asal tubuhnya. Papa Emil memperbaiki posisinya, Fou langsung memejamkan mata.


Sejak pagi dia sudah merasakan tapi karena ini hari terakhir memasukkan nilai dan ada rapat guru jadi dia memaksakan diri untuk tetap tinggal di sekolah.


“Tangan dan kakimu dingin, Nonie… kamu sepertinya sakit,” si papa sekarang memegang telapak kakinya. “Kita bawa ke rumah sakit aja, Yang,” lanjut si papa pada mama Silvia.


“Gak papa, aku hanya cape aja,” Fou berkata lirih.


“Mil… keluar dulu, aku mau lap-lap dia aja biar seger.”


Hingga malam kondisi Fou gak membaik, justru tubuhnya demam, terlebih karena Fou gak bisa makan dan mengeluh sakit.


“Bawa ke rumah sakit aja, Yang… sekarang penyakit gejala awalnya biasa aja tau-tahu sakit yang parah, gak boleh kita remehkan.” Si papa bertindak sekarang.


Akhirnya Fou tidak menolak karena seluruh tubuhnya terasa lemas, nyeri dan sakit. Saat sedang dipapah oleh orang tuanya, Jerol melihat dari rumahnya dan dengan secepat kilat datang menghampiri.


“Fou kenapa tante?” Jerol tidak bisa menahan rasa khawatir yang mendadak tumbuh melihat kondisi Fou.


“Sakit, mau dibawa ke rumah sakit.” Tante Silvia menjawab.


“Aku yang nyetir deh om…” Jerol setengah merebut kunci di tangan om Emil yang sedang menaikkan tubuh Fou ke dalam mobil.


Menggunakan fasilitas kesehatan karena kartu papanya maka Fou mendapatkan kamar perawatan terbaik. Di kamar itu...


“Jerol… Fou udah tertangani sekarang, kamu bisa pulang…” Kembali tante Silvia meminta Jerol pulang.


“Gak tante, dia masih seperti ini, aku gak mau ninggalin dia…” Jerol gak menghiraukan keberatan tante Silvia, dia gak bisa tenang melihat kondisi Fou yang memang gak berdaya, terus merintih karena panas yang tinggi.


Akhirya si mama menyerah melihat sikap Jerol, dia juga terharu melihat kepedulian Jerol yang begitu penuh dan betapa telatennya dia. Si mama kemudian menyingkir dari sisi brankar, cukup lelah selama proses dari ruang IGD sampai ke kamar perawatan. Si mama kemudian berbaring di tempat tidur lain yang disediakan di ruangan itu. Papa Emil sedang mengurus beberapa hal jadi masih ada di luar.


Mama Silvia menelpon ulang nomor dokter Petra, tapi di luar jangkauan, mencoba menelpon lewat aplikasi hijau, hanya memanggil. Chat memberitahu soal Fou juga hanya centang satu. Si mama merasa kecewa, orang yang diharapkan akan membantu karena kapasitasnya sebagai dokter dan sebagai pacar anaknya justru gak ada. Dan orang yang justru mengulurkan tangan dan terlihat begitu cemas dan gak ingin meninggalkan Fou adalah suami orang lain.


Mama memperhatikan si Jerol dari tempat pembaringannya, semua tindakan Jerol adalah untuk kenyamanan Fou, jika saja garis hidup lebih berpihak kepada mereka berdua, mama Silvia pastikan anak tertuanya itu pasti akan hidup bahagia bersama Jerol.


.


Pagi hari, pada akhirnya tiga orang yang menjaga Fou di rumah sakit.


“Erol??” Fou berkata lirih saat memperhatikan kepala siapa yang ada di sisinya, duduk menelungkup di tempat tidur tanpa melepaskan tangan Fou.


Jerol terbangun. Sedikit meregangkan ototnya yang kebas lalu memandang Fou. Tangannya Jerol meraba jidat Fou. “Syukurlah… kamu udah gak deman, panas udah turun…” Jerol tersenyum lalu mengusap-usap tangan Fou yang terpasang infus.


“Kamu gak pulang sejak semalam?” Fou berusaha meyakinkan yang dilihatnya adalah beneran Jerol.


“Iya… aku gak mau ninggalin kamu… kamu parah semalam, Ra…” Jerol berkata lembut.


Mereka berdua saling memandang, dan Fou kenal arti tatapan Jerol untuknya. Fou terharu karena melihat juga pancaran kekhawatiran Jerol. Tanpa melepaskan pandangan Jerol mengusap kepala Fou, Fou membiarkan karena dia merasakan sesuatu di hatinya, entahlah, dia menyukai apa yang dilakukan Jerol. Lama dia membiarkan Jerol melakukan itu. Tapi kemudian sebuah peringatan melintas di kepalanya… ada Elsie dan ada Vinzy yang sekarang telah kembali di rumah Jerol.


“Makasih ya, Erol… tapi sebaiknya kamu pulang… aku udah lebih baik…” Fou mengatakan dengan senyum, dia entah kenapa sekarang setiap bertemu Jerol gak bisa lagi berkata kasar atau memarahi seperti biasanya.


“Biarkan aku di sini, Ra… aku pengen jagain kamu…” Jerol senang sekali melihat senyum Fou, dan semakin ingin melakukan sesuatu untuk Fou.


Fou menghembuskan napas gak kentara, niat hati Jerol terlihat tulus tapi yang pasti berita dia ke rumah sakit pasti akan segera diketahui seisi kompleks karena persaudaraan mereka sangat kuat, pasti jam besuk nanti akan berdatangan ibu-ibu yang membesuk dirinya. Jerol ada di sini itu pasti masalah.


“Kamu bau Jerol… hehe.” Fou gak serius mengatakannya, hanya trik mengusir Jerol aja.


“Hah… maaf, aku kemaren seharian di bengkel dan semalem langsung ke sini…” Jerol mencium kemejanya dan itu membuat Fou kembali tertawa.


“Ya udah… aku pulang aja, nanti aku balik lagi…” Jerol berdiri tanpa melepas tatapannya pada Fou.


“Iya… sana pulang, salam buat Sisie ya…” Fou melambaikan tangannya yang bebas infus.


“Aku bawa dia jenguk kamu nanti…” Jerol jadi ingat anaknya, membuat dia akhirnya meninggalkan kamar itu.


“Eh… bayi gak boleh dibawa ke rumah sakit…” Fou sedikit berteriak tapi pintu sudah tertutup, entah Jerol mendengar atau tidak.


Teriakan Fou tadi membangunkan mama dan papanya. Si mama datang kemudian.


“Kenapa Fou, sudah lebih baik?” Mama otomatis mengecek suhu di kepala. “Masih hangat.”


“Aku sakit apa sih?” Fou penasaran dengan diagnosa dokter.


“Kamu kelelahan karenanya jadi sakit, infeksi virus kata dokter.”


“Tapi semua badanku terasa sakit…” Fou mengeluhkan apa yang dirasakannya.


“Itu gejalanya…” Mama mulai memijit kaki Fou.


Papa juga sudah berdiri di sisi brankar, melakukan hal yang sama memijit kaki putrinya. Fou mengalihkan pandangannya. Sedikitnya di antara sakitnya Fou tahu perhatian papanya untuk dirinya.


“Papa pulang dulu, Nonie… papa harus ke kantor… kalau bisa ijin papa akan pulang lebih awal. Papa juga harus melihat Nando.”


Perkataan papanya membuat Fou spontan bertanya pada sang papa…


“Siapa yang temenin Nando di rumah pa?”


Papa tersenyum menyimpan haru yang menyeruak, untuk pertama kali dia mendengarkan anaknya memanggilnya lagi…


“Kan ada mbak… gak papa, dia biasa ditinggal hanya bersama mbak…” Papa menjawab lembut dan sekarang berani mengusap kepala Fou.


Si mama menitikkan airmata melihat interaksi suami dan anak tertuanya. Mereka sedang bertatapan, dan si mama melihat ada perubahan dalam cara Fou memandang papanya. Si mama berharap semoga tembok tebal di hati anaknya mulai runtuh.


.


“Kenapa kamu mematikan power hpku, Ril?” Dokter Petra berkata setelah menerima hpnya lagi.


“Itu mati sendiri, Jenzen… abis batere…” Aril menjawab lugas lalu meninggalkan temannya, keluar untuk melakukan visit ke pasien-pasiennya pagi ini.


Jadinya lima hari hpnya berpindah tangan dengan maksud supaya temannya bisa memberitahu jika ada berita dari Fou. Petra mengambil charger, lalu menitipkan hpnya pada seorang perawat di nurse station karena harus melakukan visit juga.


Saat selesai, Petra menghidupkan hpnya. Muncul pemberitahuan dari aplikasi hijau, dia lebih dahulu mengecek ruang chat Fou, tidak ada perubahan sejak hp dia serahkan pada Aril. Petra membuka chat dari tante Silvia, ada beberapa panggilan dan sebuah chat yang memberitahukan Fou sakit dan dirawat di rumah sakit, dan itu lima hari yang lalu, Olvia dan mamanya menambah waktu jalan-jalan di sini dan dia gak mungkin kembali ke kostnya di depan rumah Fou.


Petra hanya bisa berkata…. “sial!”


.


.


Makasih yg masih mendukung ceritaku.


.