My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 33. Yang Pernah Hilang



Di pagi hari aktivitas di rumah menjadi berkurang untuk Fou, karena udah ada ART dan ditambah dengan ART dari rumah papa sebelumnya yang gak diberhentikan si papa, makanya setelah sakit Fou kepikiran untuk mulai berolahraga, terlebih sekarang sekolah sudah libur dia hanya perlu sesekali ke sekolah.


Fou membangunkan Nando, adiknya menjadi teman dalam banyak kegiatannya sekarang.


“Do…” Fou menggedor pintu, “Do…”


Nando muncul dengan wajah malas, “ada apa kak? Aku gak sekolah kan… mau tidur lagi, ngantuk.”


Nando berkata kesal, sekarang anak lelaki itu sudah semakin berani menunjukkan banyak ekspresi padanya. Dia kembali melempar tubuhnya di tempat tidur.


“Kita jogging, yuk…” Fou membuka tirai dan jendela sehingga cahaya pagi dan udara segar bisa masuk. Kamar adiknya bersebelahan dengan kamarnya dengan jendela yang menghadap ke jalan.


“Di mana?” Nando bertanya tapi masih dengan mata tertutup, bahkan sekarang mengambil bantal menutupi kepalanya karena cahaya terang sudah menguasai kamarnya.


“Deket sini aja, ada lapangan di samping auditorium kampus, dekat sekolah kakak…”


“Jalan kaki? Malas ah, jauh…”


“Kita naik sepeda.”


Nando bangkit dan duduk di tempat tidur, “papa udah bawa sepedaku ke sini?”


“Iya, kakak pakai sepedanya papa, tuh sementara dibersihin papa… ayo,” ujar Fou sambil keluar kamar.


Akhirnya mereka berdua tiba di sebuah lapangan bahagian dari sport center kampus yang adalah almamater Fou juga. Mereka mulai berjalan mengelilingi lapangan mini sekitar seribu meter persegi ini, dan setelah lari baru dua putaran Nando sudah menyerah.


“Ayo, Do… jangan malas, badan kamu kecil karena gak olahraga, gak minum susu… ayo biar besarnya nanti bisa jadi tinggi kayak…”


Fou tidak meneruskan ucapannya, ada dua cowok yang bisa jadi perbandingan, tapi Fou gak ingin menyebutkan mereka berdua.


Fou meneruskan larinya. Saat memutar dan tiba di tempat di mana Nando berhenti, sudah ada Jerol di sana bersama Elsie yang duduk nyaman di strollernya.


“Hei… Sisie? Tumben papamu bawa kamu ke sini?” Fou melirik Jerol yang juga mengenakan setelan baju olahraga.


Jerol hanya tersenyum saat Fou beralih pandang padanya.


“Kamu sering olahraga di sini, Erol?” Fou bertanya penasaran, apa sebuah kebetulan mereka bertemu di sini?


“Gak sih, ngikutin kalian…” Jerol menjawab santai lalu mulai melakukan stretching.


“Tahu dari mana kamu, kami ke sini?” Tadi Fou sempat melihat Jerol masih dengan piyama.


“Nanya ke om Emil.” Jerol mulai berlari.


“Hei… kamu ninggalin Sisie?” Fou teriak.


Jerol berbalik lalu menarik tangan Fou, “Nando bilang dia yang jagain, ayo…”


Fou memandangi adiknya dan kepala adiknya mengangguk. Fou akhirnya ikut berlari di samping Jerol. Taman cinta di hati Jerol mengeluarkan bunga-bunga yang keindahannya berpendar di wajah gantengnya. Sinar matahari pagi belum sepenuhnya menguasai langit, tapi wajah Jerol bercahaya-cahaya karena bisa menikmati momen berdua Fou.


Beberapa putaran Fou merasa cukup lalu dia mulai berjalan lagi, Jerol melakukan hal yang sama, mereka berjalan bersisian sekarang, Jerol gak menjaga jarak, sesekali lengan mereka bersentuhan.


“Ra…”


Fou hanya menoleh sejenak.


Fou berhenti, Jerol juga. Bukan sebuah situasi canggung, tapi seperti sedang menyelami satu dengan yang lain. Pandangan mereka searah. Menatap mata Jerol Fou seperti langsung bisa melihat isi hati Jerol. Fou gak kaget mendengar pernyataan Jerol, karena sikap dan perbuatan Jerol telah menunjukkan itu.


Bertahun-tahun yang lalu dia pernah merasakan bahwa dirinya punya tempat istimewa di hati Jerol, itu gak berubah sebenarnya meskipun Jerol flirting sana-sini. Pernah melihat sendiri, baru aja Jerol jadian sama cewek lain dan Fou melewati pasangan itu, sejurus kemudian Jerol segera meninggalkan ceweknya mengejar Fou dan mohon-mohon untuk kembali saat Fou bilang putus.


Dan ajaibnya setelah belasan tahun berlalu dia menemukan kedudukannya masih sama, Fou bahkan menemukan kesungguhan dan ketulusan dalam pandangan lembut Jerol yang tengah memerangkap dirinya.


Jerol menarik tangan Fou untuk bergeser ke pinggiran running track warna oranye itu karena banyak orang yang lari dan melewati mereka. Jerol gak melepaskan tangan, genggaman Jerol terasa lembut. Fou yang masih berdiri diam gak melakukan apa-apa saat Jerol mengeringkan dengan telapak tangannya yang lain keringat di dahi Fou.


"Boleh Ra? Aku selalu sayang kamu, Ra." Jerol masih suara yang bernada rendah, tapi kali ini seperti bergetar mengungkapkan kesungguhan perasaannya untuk Fou.


Fou percaya Jerol gak asal ngomong, mereka telah sama-sama dewasa sekarang. Pernyataan Jerol yang sekarang bukan seperti pernyataan seeorang Jerol remaja ingusan yang emosional dan labil.


"Ra? Boleh ya... aku tahu di masa lalu aku banyak kali menyakitimu... Tapi Ra, sekarang aku ingin sekali membahagiakanmu... tujuan hidup aku hanya untuk membuat kamu bahagia Ra..."


"Erol... kita... kita tidak..."


"Aku akan berjuang, Ra... agar kita bisa bersatu, aku janji padamu..." Jerol memotong kalimat Fou.


Foura melepaskan tangan Jerol lalu duduk di rerumputan di pinggiran sentel ban, Jerol kemudian duduk di samping Fou.


"Aku akan menyelesaikan urusanku dengan Vinzy, setelah itu aku ingin bersamamu, Ra... Kita menikah ya..." Jerol mengatakan inti dari pengejarannya.


"Rol... situasi kita gak akan memungkinkan hal ini... papamu dan mamaku punya prinsip yang sama soal pernikahan." Fou mengatakan sambil memandang kakinya, suaranya begitu pelan.


Jerol terdiam di sini. Mereka kemudian duduk membisu dengan pikiran masing-masing. Belakangan seperti tidak ada lagi tembok di antara mereka, interaksi begitu mengalir sehingga keduanya merasakan sebuah kedekatan lagi.


"Apa... apa kamu masih sayang aku, Ra?" Jerol bertanya sangat lembut tanpa memandang Fou, matanya hanya menatap ke atas seolah ingin menembus cakrawala, membawa harapannya ke langit agar Fou mempunyai rasa yang sama.


"Aku gak tahu Rol... udah bertahun-tahun, aku gak tahu bagaimana hatiku," balas Fou sendu. Dia ingin jujur bahwa dia mulai menemukan apa yang pernah hilang tentang mereka berdua di hatinya. Mungkin memang rasa itu hanya mengendap bertahun-tahun di dasar hatinya, dan saat dia menginginkan maka rasa itu seperti hidup lagi. Tapi Fou masih takut mengatakannya dengan jujur.


"Aku tahu, kamu udah lama melupakanku, bahkan kamu pernah hampir menikah... sekarang kamu punya Petra... aku terlalu berani ya," sekarang Jerol menatap Fou dengan seulas senyum getir di bibirnya.


Nama Petra disebutkan, Fou jadi ingat ikatannya dengan Petra, sebuah ikatan yang hanya mengikat statusnya bukan hatinya. Dalam hati dia berpikir tentang kerumitan dirinya, punya pacar yang tidak dia sukai entah kenapa dia mengiyakan ajakan Petra untuk balikan, dan sekarang sedang mendengarkan keinginan hati dari suami orang untuk dirinya. Apa mereka berdua sedang masuk dalam hubungan perselingkuhan?


Jerol sendiri kemudian terdengar tertawa sumbang sambil menatap sepatunya.


"Seperti katamu Ra, hubungan kita sepertinya gak mungkin, di hidupku ada seorang istri, dan kamu milik Petra."


Jerol menjedah, saling memandang dan Jerol tersenyum lembut.


"Tapi... tapi seperti perkataanku tadi, aku akan berjuang Ra... terlebih jika kamu menerima aku, maka aku akan menghadapi papaku sampai papaku mengijinkan... aku gak akan menyerah Ra, sampai kita bersama. Mau ya, Ra?"


Ada ketegasan dalam suara Jerol walau dia mengatakan dengan pelan saja. Kembali tatapan bertaut dan serasa hati saling paham sekarang. Jerol tahu bahwa Fou tidak menjawab tapi gak ada penolakan dalam sikapnya.


Foura sendiri gamang, takut terjadi sebuah persoalan besar jika dia mengiyakan permintaan Jerol. Kompleks mereka bisa heboh, orang tua Jerol pasti akan marah besar, dan mungkin juga sakit mamanya akan parah.


Percakapan mereka tidak berlanjut karena Nando sekarang sudah sampai ke dekat mereka sambil mendorong stroller si Elsie.


"Dia nangis-nangis, jadi aku dorong ke sini, eh dia diam..." Nando memberi laporan, dia takut mengganggu sebenarnya, anak remaja ini paham karena tadi melihat kak Jerol itu mesra-mesra sama kakaknya.


Begitu stroller berhenti Elsie langsung menangis lagi. Fou tergerak untuk mebujuk bayi itu, dia mengulurkan tangan dan Elsie menyambutnya. Tubuh Elsie bergerak-gerak seperti meminta berjalan, maka Fou mengikuti mereka berjalan mengelilingi running track itu. Jerol dan Nando mengikuti.


Dalam diam Jerol berharap suatu saat mereka seperti ini dengan status seperti yang dia harapkan.