My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 34. Cinta yang Membawa Masalah



Cinta, apapun bentuknya sering membawa masalah. Dianita berani datang di rumah Fou dengan alasan Nando adalah anak yang dicintainya, dia ingin mengambil Nando kembali. Baru pertama kali dia datang dan tentu saja dia tahu rumah pria yang pernah hidup bersamanya.


Mama Silvia terbangun ketika mendengar suara keras menembus ke kamarnya. Mama Silvia keluar.


“Mbak… ada siapa?” Mama bertanya pada mbak Ima.


“Anu, ada mamanya si Nando, maksa mau masuk kamar Nando mau ngambil barang-barang Nando.”


Kehadiran Dianita membuat mama shock, apalagi sudah menunjukankan sikap pemaksaan. Mama Silvia tidak pernah secara sengaja bertemu perempuan ini dan berinteraksi secara langsung. Mama Silvia yang kaget awalnya tidak dapat bicara banyak. Dirinya sudah kepalang dilihat gak bisa masuk lagi dan suka tidak suka dia harus berhadapan langsung dengan wanita yang pernah jadi selingkuhan suaminya.


“Saya ingin mengambil Nando, tante.” Suara Dianita sangat dingin.


Dulu dia tidak ingin terlihat keluarga terutama istri sah pria yang menjadi papa anaknya. Tapi sekarang hanya Nando satu-satunya yang dia miliki, dia sangat tahu Nando sangat disayang si mantan selingkuhan, dan katanya disayang keluarga juga, sesuatu sudah dia pikirkan untuk hal ini.


Wanita yang dipanggil tante, mengumpulkan jiwanya yang terguncang karena bertemu seseorang yang paling menggores luka di hatinya, seseorang yang telah menghancurkan kebahagiaan rumah tangganya. Tapi posisi sekarang sudah berbalik, dia menguatkan hatinya yang tercubit sakit dan menghadapi wanita yang berani datang ke sini, dengan wibawa seorang istri yang hanya akan mengibaskan debu sisa perselingkuhan saja.


Tidak masalah dia menyebut ‘tante’, dia merasa jauh lebih muda? Mama Silvia memandang dengan tatapan menyelidik. Lama tidak melihat langsung, perempuan ini ternyata ikut bertambah tua juga, menggusur bayangan yang tersimpan di otaknya tentang perempuan seksi muda dengan kecentilan yang akan selalu menggoda pria.


Mama Silvia tersenyum dalam hati, dibandingkan tubuh dan penampilan dirinya yang sekarang, beda-beda tipis padahal selisih umur mereka begitu jauh. Bersyukur karena sakit yang ditinggalkan suami membuat dia rajin merawat diri.


Lalu tangannya segera mengirim pesan singkat pada suaminya tentang Dianita, dan dengan gaya tidak peduli mama Silvia hanya menatap Dianita sepintas dan kembali bergerak hendak masuk lagi ke dalam kamar. Dia tidak ingin pusing berurusan dengan perempuan ini.


Dianita jengah hanya ditatap dingin istri sah si mantan lalu buru-buru melanjutkan…


“Dia anak kandung saya, saya lebih berhak atas anak itu.”


Realitanya Nando benar adalah darah daging Dianita. Dari suaminya dia enggan mengorek-ngorek tentang si selingkuhan bahkan hampir tidak pernah bertanya apapun, kecuali suami yang keceplos menyinggung nama itu, kadang dia harus meredam amarahnya yang muncul, kadang dia bisa memahami belasan tahun suaminya hidup bersama perempuan itu.


Salah satu mbak yang dibawa suaminya ikut tinggal di sini yang mengurus Nando sejak bayi, darinya mama Silvia tahu banyak hal, dia tidak pernah menceritakan yang baik tentang Dianita, padahal katanya masih saudara jauh si Dianita, memilih ikut suaminya daripada ikut si Dianita.


Dan satu hal yang dia tahu, perempuan ini tidak pernah mengurus Nando dengan tangannya langsung. Dia tahu suaminya seperti apa, pria yang memanjakan istri, mungkin awalnya Dianita dimanja tapi disuruh berdagang hingga akhirnya Nando diasuh si mbak.


“Saya bisa lapor KP*AI anak saya direbut paksa dari saya.”


Mama Silvia memicingkan mata mendengar sebuah kalimat ancaman. Tadinya mama Silvia gak akan menanggapi, toch Nando belum pulang.


“Silahkan lapor… tapi kamu tidak akan mendapatkan Nando dengan cara itu.” Baik suara maupun tatapan mama Silvia berubah tajam.


Jika perempuan ini nekad melakukan itu maka nama suami pasti terseret, dan karir suami yang masih bagus bisa terancam bencana, padahal sedikit waktu lagi akan masuk masa purnabakti, mama Silvia gak ingin perempuan di hadapannya menambah satu kerusakan lagi.


“Memang saya siap melaporkan, saya gak diberi akses pada anak saya.” Suara Dianita mulai gak terkontrol.


“Apa kamu pernah dilarang untuk menemui anakmu? Justru kamu yang tidak pernah mencarinya, bahkan mengirim chat atau menelpon saja tidak. Lucu sekali sekarang mengaku paling berhak atas Nando. Saya dengar kamu bahkan tidak mengurusnya sejak bayi, gak heran Nando gak merasa kehilangan mama kandungnya.” Mama Silvia dengan percaya diri dan tatapan menantang mengatakan kalimat panjangnya.


“Anak saya dicuci o*taknya oleh kalian semua, kalian pura-pura menunjukkan sayang hanya untuk mengambil hati anak saya.” Dianita meradang dia disudutkan mama Silvia.


Mama Silvia mendekat, kemarahan yang hampir lenyap untuk perempuan ini karena suaminya telah kembali, sekarang muncul lagi. Tapi mama Silvia masih bisa bertindak waras dan menjaga emosinya.


“Dengar! Saya tidak perlu mencuci o*tak Nando, apa untungnya? Jika saya mau, Emil boleh kembali tapi tanpa anak itu, dia adalah bukti pengkhianatan Emil. Tapi Nando adalah bagian dari suami saya yang harus saya terima. Dan Jika Nando memilih hidup bersama kamu, itu bagus. Tapi Nando lebih menginginkan saya jadi mamanya, berarti masalahnya ada pada dirimu, mengapa dia tidak menginginkanmu? Jadi silahkan lapor KP*AI karena mereka akan memberikan anak itu hak untuk memilih.”


“Saya akan buat pengaduan, kalian memanipulasi anak saya.” Emosi sudah menguasai Dianita, masih soal ancam mengancam.


“Silahkan! Mereka akan mempertimbangkan lingkungan yang sehat untuk seorang anak. Lah… kamu bahkan tidak menikah dengan papanya Nando dan sekarang hidup dengan suami orang? Ternyata tabiatmu adalah menggaet suami orang? Dengan itu saja kamu sudah membuat dirimu cacat di mata anakmu sendiri,” suara mama Silvia penuh tekanan.


“Iya memang benar! Lalu apa urusan kalian?? Tapi aku akan mengambil Nando, aku tidak akan biarkan kalian merebut anakku!!” Dianita berteriak sekarang.


“Jangan berteriak di rumah saya! Keluar, kamu membuat keributan di sini!” Mama Silvia juga bersuara keras, semakin geram pada perempuan perusak rumah tangganya.


“Saya tidak akan pergi! Saya harus membawa anak saya pergi dari sini. Jangan-jangan kalian memperlakukan dia semena-mena di sini. Saya curiga, gak mungkin dia diperlakukan dengan baik oleh kalian!” Suara Dianita masih sama.


“Tuduhanmu tidak beralasan. Tanya anakmu, tanya mbak di sini… bikin masalah saja. Pergi! Saya bisa lapor Pala di sini kamu mengganggu ketentraman kami.”


“Saya tidak takut dilaporkan, saya punya tujuan mengambil apa yang menjadi hak saya!”


Melihat perempuan di hadapannya begitu keras kepala, tiba-tiba tubuh merasa tidak enak, tiba-tiba kepalanya menegang. Mama Silvia mengurut dadanya yang terasa sakit. Mbak Ima dan mbak Aty yang tadi hanya berdiri menjaga jarak segera menghampiri majikannya yang terlihat menahan sakit.


“Bu… masuk aja, saya sudah telpon Fou… sedikit lagi dia sampai.” Mbak Aty memapah mama Silvia ke kamar.


Mbak Ima segera mendekati mantan majikannya.


“Bu Dian, pulang saja, kalau bapak datang pasti bapak marah, bertengkar lagi. Gak baik bertengkar di rumah orang bu…” Mbak Ima masih meminta dengan sopan.


“Gak, aku akan tunggu Nando, dia harus ikut aku!” Suara sarat emosi dari Dianita tak bisa dibantah mbak Ima. Dia sudah tahu bagaimana sikap keras kepala dan suka melawan dari mantan majikan ini.


Suasana semakin memanas saat Nando pulang sekolah diantar sopir. Awalnya Dianita masih membujuk Nando tapi karena anak itu terus menolak, maka kalimat-kalimat berubah jadi kemarahan dan ancaman seorang mama terhadap anaknya.


“Mau jadi anak kurang ajar kamu? Mau jadi malingkudang melawan mama? Ikut mama pulang.” Suara teriakan Dianita mulai mendapat perhatian tetangga.


“Gak mau, rumahku di sini. Mama suka bohong, aku gak mau ikut mama.” Nando mulai menangis. Dia menolak setiap kali mamanya menarik tangannya.


“Di mana kamarmu? Mana barang-barangmu?” Dianita gak sabar dia menuju pintu kamar yang tadi sempat dia lihat hendak dimasuki Nando.


Nando mendahului lalu menutup pintu dari dalam. Dianita menggedor dengan keras.


"Buka Nando, ini bukan rumahmu, ikut mama!"


Fou sampai dan sempat mendengar beberapa kalimat terakhir Nando dan mamanya dari parkiran. Fou segera meneriakkan kekesalannya.


“Saya mau ambil barang-barang anak saya, apa hakmu melarang?”


“Nando tidak mau ikut denganmu, Apa tidak dengar tadi??? Keluar! Sebelum saya bertindak kasar.” Muka Fou memerah sekarang, dia marah perempuan ini nekad datang ke rumah, dia marah karena orang belum berhenti membicarakan dirinya dan sekarang keluarganya bakal menjadi bulan-bulanan lagi bakal digunjingkan lagi.


“Kamu mau menampar saya lagi?” Dianita menantang walaupun tahu Fou pernah dan bisa melakukan itu, bahkan dia mendengar Fou mengamuk pada papanya.


"Fou, lihat ibu aja, ibu kesakitan. Tinggalkan dia." Mbak Ima menarik tangan Fou dengan gugup, dia pernah menyaksikan Fou main tangan saat kemarahannya memuncak.


Fou menatap mbak Ima.


"Mama kenapa?" Darah Fou semakin menggelegak, langsung teringat sakit sang mama, dan bisa jadi mama anfal karena perempuan ini.


"Ibu kesakitan... Di kamar, lihat ibu aja, Fou..." Mbak Ima mukanya memelas karena melihat gelagat Fou yang belum ingin pergi dari hadapan Dianita.


Dan benar, Fou justru menarik tangan Dianita dengan seluruh kekuatannya, mencengkeram tangan perempuan itu lalu berjalan ke arah pintu, Dianita berontak Fou gak menghiraukan.


"Pergi dari rumahku! Wanita murahan! Kamu membuat mamaku sakit, kamu gak tahu malu. Pergi!!"


Dianita gak bisa melawan Fou, tapi dia teriak-teriak.


"Lepaskan!"


"Nonie... Lepaskan dia." Papa Emil tiba dan segera memisahkan Dianita dan Fou.


"Pa? Dia membuat mama Sakit. Gara-gara dia mama sakit!" Fou gak terima papanya seperti hendak membela Dianita.


"Pulang kamu! Jangan pernah ganggu kami lagi, kamu tidak pantas melakukan apapun untuk Nando! Pergi sebelum aku menyeretmu dari sini! Bisanya cuma bikin onar!" Papa Emil berkata sambil mendorong Dianita keluar.


Suara papa mengeram marah, dan itu membuat Fou tersentak. Hampir saja dia salah paham dengan papanya, ternyata papanya hanya ingin dia membiarkan Dianita menjadi urusan papanya. Fou segera berpikir tentang mamanya dan dia yakin papanya bisa membuat perempuan ini pergi. Dia berlari ke kamar mama.


"Ma? Oh ya Tuhan... Panggil dokter!" Fou panik, dan hanya kalimat itu yang bisa dia ucapkan.


Dia meraih tubuh mamanya. Mata mama tertutup, terlihat kesakitan dan seperti sedang kesusahan untuk bernapas. Wajah mama pusat pasi dan basah.


"Panggil dokter mbak Aty!" Suara Fou disertai tangisan sekarang, baru kali ini dia melihat mama kesakitan seperti ini.


Mbak Aty segera keluar dari kamar.


"Ma... mama... Mama dengar aku kan? Ma... Oh Tuhan tolong."


Fou menangis dan terus memanggil mamanya. Lalu berteriak memanggil papanya. Waktu seperti berjalan sangat lambat dan Fou tidak tahu harus melakukan apa selain menguncang pelan tubuh mamanya yang tidak merespon panggilannya.


Dokter Petra muncul dan segera melakukan tindakan medis dasar.


"Kita harus ke rumah sakit, Ra... sekarang. Kasih tahu om Emil." Petra mengusap kepala Fou yang terlihat bingung dan takut.


"Ra, jangan panik, ya? Ada aku... Ayo kita gak boleh terlambat." Petra berkata lagi dengan suara tenangnya membuat Fou bisa mengumpulkan logikanya. Dan kehadiran Petra sedikitnya membuat Fou bisa menghilangkan sedikit ketakutannya.


Fou keluar mencari papanya. Di ruang tengah, papanya masih berdebat dengan mantan selingkuhannya.


"Pa... tinggalkan dia, mama anfal jantungnya kita harus ke rumah sakit." Giliran Fou yang meminta papanya.


Papa Emil mendengar perkataan Fou dengan cepat berlari ke kamarnya. Fou memandang tajam wanita yang wajahnya penuh airmata sekarang, mungkin mencoba mengibah supaya papanya luluh.


"Kalau terjadi apa-apa terhadap mamaku... itu karena kamu! Pergi dari sini, dan jangan pernah datang lagi!" Suara Fou begitu penuh tekanan dan kali ini Fou gak main tangan, tidak ingin menyentuh perempuan ini lagi, tapi tatapan Fou setajam pisau, aura marah Fou lebih datiyanb tadi membuat mental Dianita terpengaruh. Dia segera berlalu terlebih karena tubuhnya telah ditarik oleh mbak Ima.


Fou balik ke kamar mama. Entah apa yang dilakukan dokter Petra, tapi Fou melihat ada perubahan di wajah sang mama tidak lagi terlihat menahan sakit. Fou sekilas melihat wajah papanya yang penuh airmata, tubuh mama sekarang bersandar di dada papanya.


"Aku sudah menghubungi rumah sakit Ra, ambulance sedang ke sini..." Petra mengambil tangan Fou. Fou tidak terlalu memikirkan itu, dia hanya menatap mamanya dengan perasaan yang campur aduk, hati yang masih dipenuhi rasa takut menjadi pendorong untuk airmatanya jatuh.


"Mama..." Fou berguman pelan, dia tidak ingin membayangkan hal buruk, dia menepis semua bayangan yang coba mendatangi. Dia berjanji akan lebih peduli dan akan berusaha selalu menyenangkan sang mama. Fou berjongkong di depan mamanya diikuti dokter Petra yang tidak melrpaskan tangan Fou.


Di rumah sakit, Fou menangis karena gak bisa melihat penanganan dilakukan untuk sang mama, dia dan papanya serta Nando tidak diijinkan masuk. Berdiri di luar ruangan tindakan dengan tubuh lemas, hanya bisa berdoa mama tidak apa-apa.


Tak lama dokter Petra datang, bagian Jantung bukan bidang sang dokter, tapi dia bisa masuk sebentar karena dia masih menggunakan atribut seorang dokter rumah sakit ini, ternyata dia baru pulang dinas tadi saat dipanggil mbak Aty.


"Ra... Om... Tadi itu tante kena serangan jantung lagi, ini kali kedua om... semoga tante bisa melewati ini ya..." Petra berkata sambil merangkul Fou.


Fou terisak, hanya bisa menunduk pasrah, berita ini belum melegakan karena sejak dari rumah hingga terakhir melihat mama didorong ke dalam ruangan di gedung khusus penyakit jantung ini, mama gak bicara apa-apa, gak merespon Fou dan papa juga Nando. Fou masih takut sesuatu terjadi.


Isakan Fou semakin bertambah, karena menunggu dalam keadaan kalut mempengaruhi emosinya. Fou gak menyadari dirinya diam saja saat Petra memeluk dirinya erat sambil tangan terus membelai punggung.


.


.


Petra, bagaimana hatimu sekarang? Seandainya kamu tulus... mungkinkah kamu bisa berubah menjadi sosok yang pantas untuk Fou?


.


.


Maafkan gak balas komen ya... Lagi sibuk 🙏


.