
Petra melihat dengan perasaan kesal deretan chat yang terkirim ke nomor Fou. Petra memeriksa info di di ruang chat itu, tersampaikan tapi tak ada satupun yang dibaca oleh gadis itu. Chat terakhir, dia ingin informasi kapan Fou kembali agar bisa menjemput tapi nihil.
Kesabarannya diuji, baru sekarang dia menghadapi gadis yang seberat ini untuk ditahlukkan, egonya tergores dan semakin tertantang untuk mengejar dan menjadikan Fou itu miliknya seutuhnya, pantang dirinya menyerah kalah.
Jika melihat kepada alasan di belakang keinginannya mengejar Fou, sebenarnya bukan karena dia jatuh cinta. Fou memang menarik dan jujur dia terpesona, tapi Fou bukan tipenya. Awalnya hanya penasaran karena gak sengaja mendengarkan seorang gadis yang bernama Foura yang sering dibahas di lingkungan ini, dan menjadi semakin penasaran karena cewek ini saat berjumpa bersikap ramah tapi gak menunjukkan ketertarikan padanya.
Dengan pengalamannya dia bisa membuat Foura jadi pacarnya tapi seminggu sesudahnya malahan memutuskan dirinya. Dan sekarang dia justru terjerat dengan sikap tak acuh yang ditunjukkan si Fou.
Sudah seminggu lebih, mungkinkah Fou menambah beberapa hari lagi di ibukota? Petra akhirnya mendatangi rumah Fou.
“Eh… apa Fou dan tante Silvia sudah pulang?” Petra bertanya pada seorang penghuni kost yang kebetulan baru saja sampai dan sedang memarkir motornya.
Gadis yang ditanyai tersenyum dan menjawab, “sudah sejak empat hari yang lalu kak Fou pulang, tante Silvia dan om Emil baru tiba tadi.”
Petra melebarkan matanya, gadisnya itu sangat keterlaluan.
“Tapi kenapa gak kelihatan berangkat ke sekolah ya?” Petra mencoba meyakini berita itu.
“Kak Fou berangkat lebih pagi, mengantarkan si Nando ke sekolahnya kayaknya…”
“Oh… makasih ya…” Petra menjawab lalu melihat jamnya, jam tiga sore dia harus masuk untuk dinas sore ini. Berarti hari ini dia belum dapat bertemu Fou.
Dengan kesal si dokter Petra menuju rumah sakit.
.
.
“Jenzen, hpmu masih aja diletakkan sembarangan, bunyi terus dari tadi, Olivia menelpon berkali-kali...” dokter Aril menyambut rekannya yang masuk di ruang istirahat dokter di gedung instalasi perawatan anak, telah beberapa waktu mereka pindah dari IGD dan sekarang berdinas di sini.
Pria yang dipanggil Jenzen hanya melihat sejenak hp di atas meja itu lalu mengambil tumblernya dan meneguk setengah isinya lalu mengambil tempat duduk di sebelah temannya. Setelah itu dia mengambil hp yang lain di saku jas putihnya mencoba menelpon Fou lagi, tapi panggilannya gak dijawab.
“Gimana dengan cewek itu? Udah ada kemajuan?” Aril bertanya sambil mengecek lembaran status pasien mengecek terapi yang telah dilakukan.
Si Jenzen hanya menarik lurus bibirnya malas, ini baru aja panggilan gak dijawab Fou, mimik muka Jenzen disambut suara tawa temannya.
“Hahaha… udahlah nyerah aja, chat gak dibaca, panggilan gak diangkat, udah diputusin masih maksa balikan lagi, jadinya kamu yang merana… buang waktu buang energi aja kamu sih,” ujar si dokter Aril.
Sudah beberapa minggu temannya ini galau karena seorang cewek.
"Berhenti main-main JP... Olivia udah cukup bersabar loh, kamu main hati terus, kayaklah kamu kena batunya kali ini..." Kali ini Aril bicara serius.
Si Jentezen Petra masih membisu. Pak Dokter yang mengaku bernama Petra pada Fou, datang mengambil spesialisnya di kota ini atas ajakan temannya Aril sekaligus ingin menghindari Olivia yang terus meminta mereka menikah atau paling tidak tunangan.
Itu tujuan mereka berdua, tapi Jenzen belum ingin terikat dalam waktu dekat, belum ingin melepas masa lajangnya, masih ingin menikmati hidup tanpa beban seorang istri. Dia mencintai hidupnya yang masih bebas flirting around, mengencani wanita lain, tentu saja di belakang Olivia kekasihnya lima tahun ini.
"Baru dia cewek yang cuekin aku, Ril..." Jenzen menggerutu samhil melihat lagi chat room cewek itu.
"Ya udah... tinggalin, ribet amat sih hati kamu... makin ditolak makin gak terima. Lagian kasian Olive loh, kayaknya dia udah curiga deh, kemaren dia telpon aku tapi gak aku angkat juga. Bisa-bisa dia muncul lagi datang di sini..."
"Gak mungkin, aku melarangnya datang lagi, aku udah ngomong terus terang gak mau diganggu..."
"Astaga JP, tega amat sih jadi pacar..." Dokter Aril menggelengkan kepala.
"What? Jenzen? Karena guru itu? Dia aja gak nganggap kamu ada, eh kamu mau ninggalin Olive. Jangan naif JP," seru dokter Aril dengan mata terbuka sangat lebar.
"Dia mulai membatasiku, dia berubah, aku gak suka." Petra mendengus.
"Wajarlah JP, kalian udah berapa tahun, lagian dia cukup tau kelakuanmu, mata masih jelalatan, dia butuh kepastian..." Aril lugas menohok Jenzen.
"Ya udah... kepastiannya, aku udahan sama dia," sergah Jenzen.
"Ahh... Aku gak yakin kamu mau udahan. Sadar gak sih kamu, kamu cinta mati sama Olive, cewek-cewek yang kamu kencani hanya karena hatimu masih ingin menikmati sanjungan... Hanya sedikit bosan aja sama Olive setelah itu berlalu kamu pasti kembali padanya. Ahh Jenzen... Kalau kamu gak berhbah, kamu bisa kehilangan Olive loh..." Aril yang adalah sahabatnya sejak masa kuliah, tahu betul karakter Jenzen.
Si dokter Jenzen diam merenungkan hatinya sendiri, kenapa dia gampang terpesona dan selalu memberi peluang untuk hatinya memiliki cinta yang lain dan di saat yang sama gak mau melepaskan Olivia.
Tapi kali ini dorongan untuk memiliki cinta gadis yang lain begitu kuat, ini karena dia bertemu dengan wanita yang berbeda, yang tak mudah didapatkan sepenuhnya, seperti sudah ada dalam genggaman tetapi begitu licin hingga susah payah dia menahan agar tidak terlepas. Lagj pula biasanya dia yang melepaskan bukan seorang cewek yang menghempaskan lebih dahulu. Fou jadi sesuatu yang memacu semua adrenalinnya, maka dia menolak menyerah.
.
.
Petra muncul di rumah Fou pagi di hari sabtu, bertemu tante Silvia yang sedang berolahraga ringan jalan-jalan di sekitar rumah mereka saja ditemani om Emil. Setelah basa-basi sejenak, Petra segera masuk ke dalam rumah dan menemukan Fou asik dengan 'proyek kecilnya' membuat taman kering di area belakang. Fou memilih menggunakan rumput dan daun sintetis, dia sedang membongkar dus yang berisi dua barang itu.
"Hi..." Petra sudah menekan rasa marah dan kesalnya sampai ke dasar hati, dia sedang mengembangkan sikap yang lain sekarang, harus punya strategi jitu demi membuat Fou bertekuk lutut. Entahlah apa ini cinta atau bukan dia gak peduli. Dia harus toleran, harus sabar, harus gigih demi tujuannya.
Senyum seorang Petra mengembang sempurna dibalas Fou dengan satu tarikan sudut bibirnya sepersekian detik lalu kembali fokus memisahkan jenis dedaunan meteran dan yang satuan.
"Ini untuk apa?" Petra bertanya kalem dan ikut melakukan hal yang sama.
"Untuk di gantung di tembok..." jawab Fou setelah melihat barang apa yang ditanyakan si Petra.
"Mau buat taman di sini?" Petra bertanya lagi.
"Iya..." Pendek saja jawaban Fou.
"Kenapa gak menggunakan tanaman asli, Ra?" Suara khas Petra kemudian.
"Ah? Aku gak telaten ngerawat tanaman..." Fou menjawab sekarang menatap Petra, menelisik wajah pria itu, ingin mencari guratan emosi apa jengkel atau marah padanya, tapi yang dia temukan hanya senyum paten Petra.
Petra kemudian membantu Fou memasang dedaunan di dinding tembok, ikut memberi ide dan mencarikan contoh taman kering di hpnya.
"Ra, sini deh... model ini kayaknya cocok diterapkan di sini, coba kamu lihat..." Petra mengacungkan hpnya, Fou mendekat karena ingin tahu dan ingin mendapatkan lebih banyak referensi.
Petra menggulirkan layap hpnya dan berhenti jika Fou meminta karena tertarik pada sebuah contoh penataan taman kering.
Hingga kemudian Petra mencium pipinya beberapa kali...
"Kangen Ra... banget..." Petra berkata lembut, melihat Fou yang masih canggung membuat Petra melakukannya terlebih karena posisi dekat bereka berdua.
Mereka saling pandang, dua-dua dengan keadaan hati yang berbeda. Petra setelah melakukannya justru merasakan debaran di dadanya. Apa dia sungguh-sungguh tertarik sekarang? Berdekatan dengan Fou selama beberapa waktu, meskipun Fou sangat kaku tapi dia merasa dia menikmati moment ini.
Dan hati Fou sedikit tergugah, Petra sedikitpun tidak menyinggung tentang kelakuannya yang mengabaikan cowok ini. Sekalipun gak terlalu menunjukkan tapi sebenarnya Fou heran melihat reaksi Petra yang terlihat biasa aja. Pandangan sedang bertaut, entah apa yang terjadi di alam bawah sadar mereka...
.