
Fou kaget Petra ada di depan dekat gerbang, menunggu dia di pos security. Jadi tahu ada Petra karena beberapa murid yang pernah berjumpa dengan Petra segera ribut kasak-kusuk ke murid-murid yang lain bahkan seperti membuat pengumuman tentang pacarnya Mem Fou yang ganteng.
Dan sebagian sengaja ikut menunggu Fou di dekat gerbang, Fou tahu murid-murid hanya ada di sana untuk menggodanya, seperti biasa tingkah abg yang punya interest tinggi alias kepo mengenai hal-hal yang berkaitan dengan jenis hubungan seperti ini, terlebih ini menyangkut Mem Fou yang kecantikannya pun membuat beberapa siswa abg labil terang-terangan mengungkapkan ketertarikannya di kelas.
Fou memang cukup populer di kalangan murid-murid, seorang guru yang masih terbilang muda dan dengan cara mengajar yang sangat disukai murid-muridnya, di depan kelas dia tegas tetapi di luar kelas dia gak jaim dan mau bersikap sebagai teman di saat tertentu. Fou memilih bersikap luwes dengan murid-muridnya agar mata pelajarannya disenangi oleh mereka, maklum matematika hanya diminati oleh mereka yang punya IQ di atas rata-rata.
Biasanya Fou bukan peragu dalam mengambil sikap, tapi berulang-ulang sejak hidupnya berkaitan dengan Petra dan Jerol, situasi selalu menguji dia bahkan memojokkan dirinya sehingga karakter dasarnya seolah berubah.
Seperti saat ini, rasa marahnya pada Petra belum pergi karena melihat dengan mata kepala sendiri Petra mengabaikan panggilannya, dan dia terpaksa tidak bisa frontal menunjukkan kemarahannya pada sang pacar di depan murid-muridnya, kali ini mau tidak mau dia harus jaga imagenya, gak lucu pacar yang tiba-tiba menunjukkan diri di sekolah kemudian dengan ditonton banyak murid dia menghadapinya dengan kemarahannya, situasi gak memungkinkan untuk dia tidak mengacuhkan Petra.
Mengapa juga dia datang ke sini sih? Rasa geram Fou hanya bisa disimpan dalam hati.
Fou terpaksa berhenti di samping mobilnya saat melihat Petra mendekatinya, tapi berat sekali untuk dia menyambut Petra dengan senyum.
“Aku sebenarnya pengen melihat kamu mengajar di kelas, tapi aku terlambat. Tadi kamu telpon aku ya… maaf aku gak menelpon balik, ya? Tadi aku harus memeriksa pasienku yang akan dioperasi…” Petra langsung memberi penjelasan tanpa pembukaan alias tanpa basa-basi, tersenyum dengan senyum luar biasanya.
Fou mengeluh dalam hati, apakah alasan itu bisa menenangkan Fou? Rasanya terlalu gampang untuk berlindung di balik pekerjaannya, kalau tidak melihat sendiri dan kalau tidak mengetahui Petra melakukan telepon yang lain, mungkin Fou akan mudah menerima itu.
Fou memasang senyum iklan, senyum yang gak ingin dia berikan sebenarnya, tapi di bawah suit-suitan murid-muridnya serta teriakan-teriakan mirip histeria para abg labil yang semakin bertambah banyak di area itu, terpaksa Fou harus menjaga sikap.
“Aku cape, aku mau pulang sekarang, pak dokter…” Fou memilih pamit saja sambil membuka pintu mobil dan hendak masuk ke dalam.
Petra menarik pelan tubuh Fou dari balik pintu…
“Aku yang nyetir…” Petra berkata lembut lalu mendorong Fou di dua bahunya menuju pintu kursi penumpang.
Tingkah Petra yang membuat murid-murid bersorak riuh. Jengah dengan kelakuan Petra membuat Fou mempercepat langkah dan segera masuk ke dalam. Fou bukannya senang diperlakukan dengan manis tapi ini seperti membawa adegan drakor ke dunia nyata memberi murid-muridnya adegan life pacar yang romantis, mereka sudah seperti pasangan artis saja.
Di dalam mobil, Fou tidak memulai percakapan apapun, di sini dia tidak perlu bersikap munafik.
“Tadi… kamu menelponku saat kamu di rumah sakit?” Petra bertanya tapi matanya fokus di jalan.
Fou terbeliak, apa Petra melihatnya tadi?
“Tahu dari mana aku ke rumah sakit?” sergah Fou tanpa nada lembut tapi dia mengatur intonasinya supaya tidak terdengar kasar, emosi masih bergolak di hatinya.
“Pak satpam yang ngasih tahu…”
Oh begitu rupanya.
“Muridmu pasti dibawa ke IGD kan… aku gak dinas di sana lagi, aku di gedung Instalasi Perawatan Anak sekarang…”
Iya, aku tahu, aku mencarimu tadi dan melihatmu asyik menelpon. Kata-kata itu hanya diucapkan dalam hati.
“Makanya aku ke sini sekarang, Ra… itu sesuatu banget buatku, kamu jarang banget menelpon duluan… makanya selesai dinas aku langsung ke sini…”
Ahh hati Fou belum bisa ditenangkan dengan kedatangan Petra menjemputnya pulang gara-gara tadi dia menelpon, yang masih mengganggu adalah bayangan Petra yang menelpon seseorang dan Petra yang sangat terlihat mengabaikan panggilannya tadi.
“Ra… kamu ada jadwal les anak-anak?”
“Nanti malam…” Singkat saja, gak ingin percakapan panjang sekarang.
Keinginannya untuk maju dalam hubungan ini menjadi beku lagi, terlebih tadi bertemu Jerol dan sisa-sisa kehangatan Jerol masih terasa di hatinya. Kadang kala Fou merasa berdosa dengan hatinya, status dirinya adalah pacar orang lain tapi menikmati kehangatan yang diberikan oleh suami orang, bagaimana membuat hati dan jalan hidupnya gak menyimpang, entahlah… dia ada di persimpangan sekarang dan hati dan otaknya tidak memberi arah sama sekali hendak ke mana seharusnya. Dia gak suka seperti ini, seperti hidup tanpa arah, tapi keadaan gak mengijinkannya untuk memiliki hidup sesuai pilihannya.
“Kalau begitu temani aku makan ya?” Lembut Petra sambil menoleh sejenak lengkap dengan senyum magnetisnya yang kehilangan gaya tariknya buat Fou.
“Gak, pak dokter… aku cape, antar aku pulang aja.”
Fou jadi ingat sesuatu langsung mencecar Petra…
“Kenapa kamu justru meninggalkan mobilmu? Kamu gak seharusnya membawa mobilku dan meninggalkan mobilmu. Balik ke sekolah aja, aku bisa pulang sendiri,” tegas Fou.
“Gak papa… pengen ngerasain gimana menjemput dan mengantar kamu pulang ke rumah… aku belum pernah melakukannya.” Petra menoleh lagi masih dalam senyum lembutnya.
“Aku gak butuh hal seperti itu, pak dokter… ayo putar mobilnya kembali ke sekolah.” Fou bersikeras sambil menatap langsung wajah Petra.
Dari suara dan cara Fou berbicara Petra bisa menafsirkan bahwa pacarnya ini kembali membuat jarak. Kenapa susah sekali menakhlukkan hati gadis ini hingga bisa menerima sepenuhnya apa yang ingin Petra lakukan sebagai pacar? Sementara Olivia jika bertemu langsung menempel posesif dan manja, selalu ingin perhatian, senang sekali jika Petra membuat kejutan seperti ini. Dia ingin Fou seperti itu, tapi apa daya, bukannya berterima kasih, sejak pintu mobil tertutup dan mereka bergerak meninggalkan halaman sekolah Fou bahkan tidak tersenyum padanya.
“Ra… please, pengen berduaan sama kamu, kita makan dulu ya… aku belum makan siang loh,” suara memelas Petra gak bisa meluluh hati Fou. Petra mulai bingung, tadi pagi perasaan mereka masih baik-baik aja, kenapa sekarang Fou jadi ketus.
Tak kentara Fou mencibir, kamu yang gak makan, apa urusannya denganku, tadi jam makan kamu ngapain?
Karena gak mendapat jawaban dari Fou akhirnya Petra meneruskan membawa mobil hingga ke rumah, memarkir tanpa banyak bicara dan mengikuti Fou masuk ke dalam rumah. Awalnya Fou gak menggubris, dia lelah bersikap berpura-pura dengan Petra, rasanya ingin memutuskan hubungan saja sekarang, bukan karena permintaan Jerol tapi karena dia sendiri tidak nyaman dengan hubungan mereka, berkali-kali dia terpicu untuk marah dengan sikap Petra. Memang karena gak ada dasar perasaan mungkin sehingga sukar untuk menerima segala hal tentang Petra.
“Iya tante, aku sengaja jemput Fou di sekolah,” Petra mengangguk hormat.
“Oh… jadi dari rumah sakit langung mampir ke sekolah, begitu?” mama Silvia meneruskan kepoin pacar anak gadisnya.
“Iya tante…” Petra menjawab sopan lalu mengangguk pada papanya Fou yang keluar kamar baru melepaskan kemeja khakinya hanya mengenakan singlet putih dan celana kantor.
“Nonie, nanti malam kita makan sekeluarga loh… jangan lupa… papa udah telpon Shirley dan Eilleen…”
Si papa bicara sama anaknya yang hendak masuk kamar.
“Petra ikut ya… biar tambah akrab dengan adik-adiknya Foura…” Mama Silvia mengajak pacar anaknya, Fou hanya bisa menyimpan kedongkolan mendengar itu.
“Oh boleh-boleh, jam berapa?” Petra menyambut riang.
“Jam tujuh aja… menunggu adik-adik ipar Fou pulang kerja…” Mama menjawab lagi.
“Pa, aku ada les… gak enak kalau aku tunda…” Fou memberi alasan, gak ingin ikut acara makan malam kali ini. Sejak papa pulang, ini rutin sebulan sekali dilakukan.
“Kamu bisa ngasih les online kan, biasanya seperti itu…” mama Silvia bicara sambil menarik Petra…
“Duduk Petra, dari tadi kamu berdiri depan pintu seperti itu…” sambung mama.
Fou masuk kamar, gak ada alasan karena memang kenyataannya dia pernah beberapa kali keluar bersama semua keluarga sambil memberikan les.
“Aku mau pulang sebentar, tante mau makan siang dulu, nanti aku balik lagi.” Petra akhirnya pamit ke tante Silvia karena tidak ada tanda Fou mempedulikannya, ahh gadisnya terlalu pelik untuk dimengerti, tapi kok dia mau menerima sekarang dan rasanya gak ingin marah meskipun Fou gak ada manis-manisnya.
“Ehh?? Kamu belum makan, Petra? Ini sudah sore loh?” Mama Silvia berdiri dan membuka pintu kamar Fou.
“Fou, Petra belum makan siang, sana temenin makan… jangan mandi dulu, kasihan…”
Si mama setelahnya menuju ruang makan dan meminta mbak untuk menyiapkan makan lalu kembali lagi ke ruang depan.
“Makan di sini aja, Petra,” tambah mama sambil meneriakkan nama Fou lagi.
Fou muncul, wajah tidak sedatar tadi walau tanpa senyuman, lalu mengajak Petra dengan bahasa isyarat. Petra jadi paham sesuatu, Fou selalu berubah manis padanya jika ada tante Silvia. Petra akan mengingat hal ini, dengan senyum dia mengikuti Fou. Dan seperti bisa merasakan bahwa untuk saat ini dirinya berguna untuk Petra, mama Silvia mengikuti mereka ke ruang makan.
Petra makan dengan nikmat ditemani oleh Fou dan mama Silvia, Fou hanya duduk diam sambil melakukan sesuatu di hpnya, jika Petra bertanya dia hanya memandang tanpa antusiasme, hanya sekedar meladeni, tapi itu lebih dari cukup untuk Petra.
Dalam hati Petra bertanya mengapa dia bisa menahan diri terhadap sikap Fou yang jutek, dari semua perempuan yang pernah menjalin hubungan dengannya semua seperti memuja dirinya memperlakukan dia dengan sangat spesial dan takut mengecewakan dirinya. Bertemu Fou seperti menantang egonya, ternyata ada wanita yang tidak tunduk pada pesonanya.
Saat ditinggal berdua…
“Ra, kamu kenapa?” Suara lembut Petra mulai melancarkan rayuan.
Fou menatap sejenak, “gak papa.”
“Kamu marah soal tadi siang? Aku mengangkat panggilanmu kan, tapi kamu malahan menutupnya… aku gak bisa langsung menelpon balik karena pasienku sudah menunggu…”
Alasan yang begitu realistis, tapi entah kenapa otak Fou gak bisa serta-merta menerima.
“Ra… please, aku gak mau kita berjarak lagi jadi kaku seperti ini, aku berusaha banget kan supaya kita semakin nyaman satu dengan yang lain… aku sayang kamu, Ra… gak ingin kita kayak waktu itu lagi harus putus… maafin kalau aku gak bisa memenuhi apa yang menjadi standarmu, tapi ijinkan aku lebih berusaha ya? Please jangan kaku seperti ini… aku mohon, Ra…”
Fou menatap Petra, memang dia menangkap kesungguhan di wajah Petra, tapi hatinya susah untuk disentuh dengan kata-kata Petra ini, ada misteri yang membungkus hatinya yang sepertinya selalu menghentar dia untuk tidak membuka hati dan memberikan cintanya pada pria ini.
"Ra, please... aku minta maaf deh kalau ada sikapku yang gak menyenangkan kamu, tapi jangan cuekin aku dong, aku gak bisa kalau kamu seperti ini, aku trauma waktu itu kamu putusin aku, please Ra... aku ingin kita baik-baik seperti sebelum ini..."
Petra berkata lagi, hampir putus asa membujuk Fou untuk bersikap manis lagi, baru sekarang ada wanita yang membuat dia harus memohon-mohon mengakui dan memperlakukan dirinya sebagai pacar.
"Petra, kapan kalian meresmikan hubungan, tante berharap secepatnya loh... kalian sudah sama-sama matang... jangan terlalu lama ya... Tunangan aja dulu lah... mumpung tante sehat-sehat sekarang..."
Mama Silvia tiba-tiba mengatakan kalimat itu saat melewati mereka, mungkin sengaja karena menguping pembicaraan?
"Itu tujuanku dengan Foura tante, tergantung Fou aja sih..." Petra segera menjawab.
Hati Fou semakin beku di persimpangan. Sanggupkah dia melukai hati sang mama?
.
.
🌱