My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 20. Masa Lalu yang Mengikuti



Jerol baru saja masuk mobilnya, mobil yang baru selesai diperbaiki dan telah siap untuk dipasarkan. Saat hendak menghidupkan mobil matanya auto memadang melintasi pagar rumah orang yang masih tertutup tapi di antara teralis besi warna hitam Jerol menangkap Fou yang sudah duduk di atas motor lengkap dengan helm di kepala, menunggu motor dipanaskan.


Jerol tersenyum, sebuah pemandangan yang sering dinikmatinya dalam diam. Jerol ingin sekali melanggar aturan papanya tentang nasib pernikahannya. Papanya bersikukuh bahwa pernikahan terjadi karena kesalahan Jerol sendiri dan cara memperbaiki kesalahan itu bukan dengan bercerai tetapi membawa kembali istrinya pulang lalu memulai hidup sewajarnya sebagai suami istri.


Jerol ogah melakukan itu, dia gak mau mencari Vinzy, dia tahu Vinzy pergi dengan lelaki lain dan yang terutama dia tidak pernah mencintai Vinzy.


Mengenai Elsie, dia sayang anaknya sejak pertama kali melihat anak itu. Bahkan setelah tahu Elsie bukan anak kandungnya dia tidak menolak, hatinya terhubung dengan Elsie, bukan dengan Vinzy, tidak peduli siapa orang tua kandung anaknya, dia ingin menjadi papa bukan hanya di atas akta kelahiran Elsie.


Kesenangan Jerol terganggu, dokter Petra datang melintasi mobilnya dan langsung membuka pagar rumah Fou, bukan hanya itu tindakan si dokter selanjutnya membuat Jerol tersentak, kaca jendela dia buka sedikit untuk mencuri dengan percakapan dua insan itu…


“Hi sayang…” Petra membuka lagi helm di kepala Fou.


Fou tersipu disapa dengan kata sayang. Terasa ada yang mengisi hatinya pagi-pagi, mungkinkah sebuah kebahagiaan? Ahh berapa lama hatinya kering dan tandus karena menutup pintu untuk cinta semacam ini?


“Pagi Petra…” senyum manis Fou memancing Petra untuk bertindak banyak. Dia mengulurkan tangan merapihkan poni panjang Fou lalu telunjuk auto singgah memberi usapan.


“Kamu cantik, Ra…”


“Kamu kusut sekali dan bau Petra… baru pulang ya?” Fou mencermati penampilan khas rumah sakit si dokter yang sudah jadi pacar ini.


“Hahaha… jujur sekali kamu… iya, aku dinas malam…” Petra memegang lagi pipi Fou. Fou melirik tangan itu dan menjauhkan kepalanya.


“Hahaha… tanganku selalu bersih, sayang, aku selalu mengunakan hand sanitizer, sudah sikap gigi, walau memang belum mandi, tapi aku gak sebau itu deh... yang ada aroma hand sanitizer.” Petra mencium tangannya yang baru lepas dari pipi Fou.


“Aku tahu, di mobil, di saku celana pendekmu, di jas dokter milikmu, ada botol kecil hand sanitizer… udah hafal, setiap berapa jam sekali kamu akan menggunakannya."


“Hahaha… udah beneran pacar kalau gini, udah hafal kebiasaanku.”


“Iya, satu yang sangat jelek… kamu bisa gak ada kabar berhari-hari, padahal hanya di depan rumahku…”


Fou sedikit menggerutu walau suaranya tetap kalem. Ini penyakit si Petra nampaknya yang akan mengganggu hubungan mereka berdua ke depannya. Sejak mereka ngemall dan Petra akhirnya nembak dia, setelahnya Petra menghilang semingguan lebih sampai hari ini. Ini agak tidak normal untuk Fou, berbeda jika mereka belum punya hubungan, Fou gak akan peduli.


“Maaf, ya Ra… kamu udah tahu kondisiku kan… aku minta pengertiannya ya… sejak awal aku akan meminta ini darimu…” Petra lebih mendekat dan memegang dua lengan Fou.


“Aku mungkin akan jarang mengajakmu date atau jalan berdua, waktuku lebih banyak di rumah sakit, dan jika aku tidak ada kabar mungkin aku sedang mempelajari suatu kasus penyakit, memantau berhari-hari pasienku, banyak hal lah…”


Fou mengambil hp di sakunya dan menyodorkan pada Petra.


“Kenapa hpmu?”


“Simpan nomor hpmu pak dokter, aku paham kamu sibuk, tapi kadang aku butuh kamu mengetikkan satu emoticon saja, itu cukup. Gak susah itu Petra… gak harus mengetik pesan panjang, tapi minimal aku punya nomor kamu, itu menunjukkan bahwa kita sedang pacaran.”


Fou memaksa, aneh rasanya gak punya nomor pacar sendiri, dan sepertinya Petra tidak akan meminta itu, maka dia saja. Petra terlihat enggan meraih hp Fou hingga Fou harus menggoyang sekali mengisyaratkan keinginannya tak boleh ditolak. Petra kemudian meraih benda itu lalu mulai melakukan sesuatu di sana.


“Sebenarnya ini sama saja Ra, aku jarang menghidupkan hpku, aku hanya menelpon mama sekali seminggu atau menelpon Prof aku… aku bukan tipe yang suka menggunakan hp. Mungkin aku bahkan gak akan menjawab panggilanmu, gak membaca atau membalas pesanmu, mamaku suka mengeluhkan ini… tapi begitulah aku… mohon mengerti tentang ini ya…” Petra mengatakan itu dengan suara tak biasa, lalu mengembalikan hp milik Fou.


“Iya pak dokter… aku akan berusaha mengerti.” Fou menjaga intonasinya walau ada sedikit kegelisahan yang menyusup tentang hal itu. Apa akan sampai segitunya si dokter ini jika dia menelpon atau mengirim pesan nanti, belum apa-apa Fou sudah merasa tidak nyaman.


“Dihh… pak dokter lagi… udah, pergi sana, nanti kamu terlambat…” Petra mengusap sejenak kepala Fou lalu memasangkan helm dengan hati-hati.


Fou tertawa dan segera melupakan rasa tak nyaman yang muncul sesaat tadi, suara Petra lucu saat kesal, Fou nampak jatuh cinta pada dokter ini selain senyumnya juga suaranya. Suara tawa Fou membuat Petra membuka lagi kaitan helm, melepaskannya lalu memberikan sebuah ciuman singkat langsung di bibir Fou.


Omg, dia langsung melakukan itu di pertemuan pertama setelah jadian. Cowok ini sangat berani. Fou memandang dengan membulatkan mata.


“Petra… ini di halaman, astaga…”


“Kali berikut aku akan melakukannya lebih panjang… kamu menggemaskan.” Petra menjawab dengan suara ringan membuat Fou hanya bisa memukul tangan yang sedang memasang lagi helm di kepalanya.


“Aku pergi…”


Fou segera tancap gas meninggalkan si dokter karena rasa malu dan grogi memperoleh ciuman itu, walau jujur hatinya sudah menabuhkan kebahagiaan sejak tadi.


Di dalam mobil, seseorang terpaksa menyaksikan adegan itu. Siapa yang mau menonton romantisnya dua orang kekasih sementara salah satu di antara kedua orang itu sangat diinginkan untuk dijadikan istri. Jerol merasa hatinya sakit mendengarkan dan melihat mereka, bahkan matanya panas tapi dia menahan airmatanya untuk keluar. Benar kata Fou dia memang pria cengeng, tapi dia hanya pernah menangisi Fou, sepanjang hidupnya dia hanya menangis karena Fou.


Jerol kembali merasakan siksaan yang sama ketika Fou memiliki pasangan. Dan dia hanya bisa mengeluhkan kebodohan dirinya sendiri kenapa tidak pernah bisa memiliki Fou dan kenapa tak bisa melepaskan cintanya dari Fou.


Jerol turun dari mobilnya, dia tidak punya gairah untuk melakukan apa-apa lagi. Jerol kembali ke rumah dengan perasaan kacau.


“Lo? Je? Gak jadi ke show room?” Mama Anet bertanya.


Mama Anet yang mengendong Elsie membelalak heran melihat anaknya yang pamit ke tempat usahanya sekarang balik lagi dengan tampang yang aneh. Jerol hanya melengos dan lurus ke kamar saja. Siapa yang bisa kerja atau mikir, pagi-pagi hati sudah rusak begini?


Masih dengan mengendong Elsie mama Anet masuk ke kamar Jerol yang tidak dikunci, pasti ada sesuatu karena Jerol tak mengacuhkan Elsie. Di kamar dia menemukan anaknya menelungkup di tempat tidur.


“Kamu sakit Je?” Mama kemudian memeriksa suhu dengan menempelkan satu tangan ke leher bagian belakang si Jerol.


Mama Anet secara naluri tahu bukan seperti ini perangai Jerol jika sakit, ini hanya terjadi jika ada sesuatu yang berkaitan dengan anak tetangga depan rumah. Anaknya begitu lemah dengan wanita itu dimulai ketika pacaran dengan Fou dan berakhir dengan dibodohi si Vinzy.


Dan cinta anaknya entah kenapa hanya untuk Fou, tetapi tidak berani mendekati. Dia ingin sekali melihat Jerol yang bertindak gentlement sebagai pria mengejar kembali dan berjuang mendapatkan Fou, bahkan dengan cara frontal langsung menikah tak masalah. Tapi sejak dulu, anaknya tidak punya kekuatan itu, hanya berdiri dari jauh, coba mendekati tapi kemudian ciut lagi.


“Kenapa Je… kasih tahu mama… nih denger, Elsie menangis loh…”


Hati Jerol memang begitu empuk, dia segera berbalik ketika nama Elsie disebut, dia lalu berdiri dan meminta Elsie dari sang mama.


“Kenapa si Foura? Kamu lamar dia dan kamu ditolak lagi?”


Wajah sedih anaknya membuat mama Anet trenyuh, apakah karena anak ini begitu dekat dengannya sehingga hatinya selembut kapas? Ditolak wanita lalu menangis?


“Foura udah pacaran dengan si dokter ma…” Lirih suara Jerol.


“Dokter yang mana?” Mama menatap kepo.


“Yang baru ngekost di sini.” Suara patah semangat Jerol terdengar lagi


“Petra?”


Jerol mengangguk


Oh kasihan sekali anakku ini… Selalu kalah langkah dengan orang lain, mama membatin


Berapa kali dia patah hati karena Foura? Berkali-kali karena diputusin Foura dan berkali-kali karena tahu Fou pacaran dengan cowok lain. Mama Anet menghela napas.


“Je… mungkin sudah saatnya kamu melepaskan cintamu untuk Foura, dia sudah memilih pasangannya, dan selama ini dia tidak pernah mempertimbangkan kamu… dia sudah tidak punya rasa apapun untukmu, Je… kamu sia-sia masih mencintainya, kamu membuang banyak waktumu Je… lupakan ya… kamu harus melakukan itu sekarang.”


“Gak ma, aku akan sabar sampai dia putus dengan dokter itu, dan ketika itu terjadi aku akan berani mengajak Foura menikah.” Suara itu menjadi lebih berenergi saat menyebutkan tekadnya.


“Astaga Jerol? Kenapa mendoakan yang gak baik untuk orang lain? Dosa loh…”


“Gak tahu ma, aku selalu merasa Foura akan kembali padaku.”


“Je? Ini sudah berapa tahun… sudah selesai Je, jangan berharap lagi, mama gak akan ijinkan kamu melakukannya, cukup Je…” Mama Anet menggoyangkan kepalanya. Anaknya ini sungguh-sungguh mencintai atau hanya terobsesi? Jika sungguh mencintai, itu cinta yang aneh.


“Ma... Ini semua salahku, dia kecewa karena aku yang selalu mempermainkan cintanya makanya dia pacaran tapi gak bertahan lama, sampai sekarang dia gak nikah-nikah, itu karena aku…”


“Astaga Jerol dia seperti itu gak ada hubungannya denganmu, memang jalan hidupnya dan pilihannya, kenapa kamu yang merasa bersalah?”


“Karena itu kenyataannya, ma… dia trauma…”


“Jerol… ya ampun kalian pacaran saat masih ingusan, Fou udah lupain itu nak... percayalah. Kalaupun si Foura trauma, mungkin itu karena si Emil yang selingkuh, bukan karena kamu… kamu seperti seorang ahlijiwa saja…”


Mendengar pikiran anaknya dan serta keteguhan sikapnya tentang Fou membuat mama Anet hanya bisa menggelengkan kepala lagi, pasrah. Anaknya kenapa memilih jalan yang sulit untuk bahagia?


.


🚥


.


“Ma… Nando udah lama gak ke sini… apa dia sakit?” Sambil lalu Fou bertanya saat masuk ke dapur.


Fou dan si mama selalu memilih makan di meja makan untuk empat orang yang ada di dapur, karena dari dapur ada ruangan terbuka ke area belakang, di sini lebih sejuk ketimbang di ruang makan di dalam rumah.


Fou sudah selesai mengambil makanan dari dalam lemari, sudah duduk berhadapan dengan mama dan mulai menikmati makan malamnya tapi mama tidak juga menjawab. Mama sudah selesai makan sejak tadi tapi belum beranjak dari dapur.


“Udah dua minggu kayaknya dia gak ke sini, padahal aku kepengen tahu hasil KSNnya, dia lolos apa gak ya…” Fou berkata di antara mengunyah makanannya.


Mama masih diam membuat Fou mengangkat kepalanya menatap mama yang biasanya selalu cerita apa saja sejak dia pulang sekolah, semua gibahan tetangga pasti diteruskan pada Fou. Sepertinya mama sudah lama gak melakukan itu, apa sudah bertobat?


Saat matanya lebih intens memperhatikan mama, Fou tahu ada kesedihan tergambar jelas di sana. Keceriaan dan kebahagiaan mama beberapa bulan ini karena ada papa di sini sudah menguap sepenuhnya. Fou jadi sadar bahwa dua minggu ini gak mendengar celotehan mama di rumah ini.


“Ma?”


“Papa memilih mereka Fou… mama pikir papa akan kembali pada kita, mama sempat meyakini bahwa papa sudah pulang… ternyata papa lebih sayang mereka…”


Suara mama bercampur isak tangis. Mama menangis lagi… lama Fou tidak melihat airmata di pipi mama, mama berangsur menerima rasa sakitnya. Beberapa tahun berlalu mereka memilih berdamai dengan keadaan, papa hanya menelpon jika membutuhkan mama untuk urusan kantor papa.


Hingga beberapa bulan ini papa datang… tiba-tiba hadir datang sebagai suami yang menyadari kesalahannya, sebagai suami yang menyayangi istrinya… ternyata itu hanya kamuflase? Ternyata hanya sebuah kebohongan lagi untuk mama? Hanya untuk membuat luka di hati mama bertambah parah?


Mendadak amarah di hati Fou seperti menggelegak dan hendak meluap lagi. Dia tidak terima perbuatan papa yang dahulu, dan paling tidak terima perbuatan papa yang sekarang.


Fou meninggalkan makanannya, dia mengambil jaketnya memakai helmnya, tujuannya hanya satu, ke rumah papanya. Dia pernah berontak membuat kehebohan di sana, pernah menampar selingkuhan papanya. Kali ini dia tidak peduli dengan selingkuhan papanya… sasaran kemarahannya sekarang adalah lelaki yang tidak pernah ingin dipanggilnya dengan sebutan papa lagi sejak tiga belas tahun yang lalu.


“Fou kamu mau ke mana malam-malam begini…” Mama mengejar Fou.


“Laki-laki itu harus tahu rasa sakit yang dia timbulkan… dia harus tahu.” Fou berkata dengan muka merah dan segera naik ke motornya.


Fou berangkat dengan rasa marah yang begitu menguasai dirinya. Mama melihat Fou dan mendadak dia menyadari kr mana tujuan anaknya.


“Fou… biarkan saja… biarkan papamu Fou… itu pilihannya…” Mama berusaha menghalangi dan Fou tidak peduli.


.


.