
Secara finansial sebenarnya boleh dikata Fou ada di kondisi yang sangat baik, dia punya beberapa sumber penghasilan. Setelah papa kembali rekeningnya bertambah digitnya, bayaran kost masuk sepenuhnya ke rekeningnya, ada gaji tetap setiap bulan, penghasilan dari les privat yang lumayan besar, bayaran menjadi MC minimal empat kali sebulan saja jumlahnya sudah dua kali lipat gaji tetapnya, dan terakhir, sebagai anak dia masih menerima uang saku dari papanya. Saat orang melihat Fou dari sudut pandang ini, siapa yang tidak tergiur untuk menjadikan dia istri?
Seorang pria mendekatinya karena alasan ini. Saat menghadiri acara ulang tahun omanya, Fou dikenalkan dengan seorang pengusaha muda. Semua yang wow tentang pria itu dijelaskan dengan detail oleh tante dan omnya yang membawa pria itu. Katanya dia memiliki bisnis pabrik ikan kaleng, bisnis SPBU dan sederet kepemilikan lainnya. Karena sudah menduga akan ada kejadian dijodoh-jodohkan lagi, Fou demi tatakrama dan nama baik keluarga menanggapi dengan sopan saja.
“Foura, ini anak teman om Diony… namanya Salmon.”
Salah satu adik papa mendatangi Fou yang sedang duduk sambil mengendong salah satu ponakannya anak bungsu Eileen yang sedang tertidur, sementara Nando bermain rubik sambil bersandar di lengannya yang lain.
Seorang pria mungkin di usia tiga puluhan sedang menatap padanya, Fou hanya melirik sekilas dan senyum sopan. Tadi istri om Diony sudah menyebutkan kualifikasi si Salmon. Pria itu menarik sebuah kursi ke hadapan Fou dan duduk di sana, terlihat begitu percaya diri dan terutama gesturenya memperlihatkan dia sedang menjaga imagenya.
“Foura kan?” suara si Salmon memulai percakapan, sementara om Diony sudah meninggalkan mereka.
Fou tidak menjawab tapi menatap pria itu sejenak dan membagi senyum formalitasnya.
“Saya Salmon…” Pria itu tersenyum, dibalas Fou dengan mengangkat sedikit dua keningnya.
Nando tiba-tiba tertawa, ingin mengatakan sesuatu bibirnya sudah dekat dengan telinga Fou, tapi tante Beby istri om Diony tiba-tiba sudah ada di situ.
“Fernando, tante minta tolong dong, sini ikut tante…”
Fou penasaran kenapa adiknya tertawa tapi gak bisa menanyakannya karena Nando sudah ditarik oleh tantenya.
“Foura menyukai anak-anak? Saya perhatikan sejak tadi Foura ikut meladeni ponakan Foura…” Si Salmon bicara lagi.
“Hah? Oh? Ya mereka keponakanku kan… biasa aja… membantu adik-adikku aja yang kerepotan…” Fou menjawab sekenanya.
“Tapi tidak banyak perempuan yang secara alamiah terlihat senang terhadap anak kecil. Saya memperhatikan Foura juga peduli dengan anak-anak yang lain selain keponakan Foura, saya senang bisa bertemu Foura. Nampaknya Foura memang perempuan yang berbeda, kebaikan hati seorang perempuan bisa nampak dari cara dia memperlakukan anak-anak di sekitarnya…” Dengan irama yang tetap Salmon menyatakan kalimat panjangnya.
Eh? Ini murni pujian atau sebuah kalimat dengan maksud tersembunyi? Mata Fou sedikit membeliak.
“Istri saya sudah dua tahun meninggal… sudah cukup lama saya menduda…”
Fou gak sengaja beradu pandang dengan pria di hadapannya, dan menjadi risih mendengar pria ini memberitahu statusnya.
“Anak saya dua, mungkin seumuran dengan ponakannya Foura… tapi mereka tidak ikut, mungkin lain kali saya akan membawa mereka untuk berkenalan dengan Foura…”
“Hah? Oh?” Fou bingung awalnya kenapa si Salmon menceritakan tentang dirinya, tapi kemudian paham ke mana arah cerita pria ini.
Fou menahan napasnya sesaat, mulai canggung dengan isi pembicaraan, apa seperti ini cara seorang duda memperkenalkan diri? Fou mulai mencari dengan matanya di mana Eileen… mulai mencari-cari alasan untuk segera pergi dengan sopan.
“Saya menyukai penampilan Foura tadi saat menjadi MC… sangat profesional, ternyata itu salah satu profesinya Foura?”
Kalimat terakhir adalah kalimat tanya, Fou hanya menanggapi dengan mengangguk saja. Dan nampaknya skenario sudah diatur omnya sehingga para kerabat yang tadinya duduk-duduk sambil makan di sekitar mereka mulai menyingkir, seperti memberi space untuk keleluasaan mereka bercakap, tapi ini segera menjadi arena yang menyiksa Fou.
“Berapa tarif Foura sebagai MC?”
Eh? Sesuatu semakin mengusik pikiran Fou.
“Apa bapak mau menggunakan jasa saya?”
“Eh maksud saya… eh iya… siapa tahu ada acara di perusahaan saya, atau acara syukuran seperti hari ini… saya juga bisa merekomendasikan Foura pada mitra bisnis saya…”
“Oh begitu… bayaran saya standard MC di provinsi ini pak, tapi kalau tempatnya jauh seperti tempat bapak mungkin ditambah biaya perjalanan.”
“Berapa?” Si Salmon memaksa Fou menyebutkan sebuah nomimal. Fou mengernyit, dia tidak biasa menyebutkan tarifnya sebelum fix jasanya digunakan.
“Kalau acara syukuran seperti ini biasanya tiga juta pak, kalau acara yang lebih besar saya dibayar lima juta.” Fou menjawab sekenanya sengaja melebihkan jumlahnya, percakapan tentang ini membuat rasa tidak nyaman mengalir dengan cepat.
“Oh, lumayan juga ya… tapi ngomong-ngomong, emm bisa tidak emm… jangan memanggil saya bapak atau pak, umur kita hanya berbeda tiga tahun, saya baru tiga puluh empat tahun, saya pikir saya belum terlalu tua sehingga Foura menyebut saya demikian… selain itu saya berharap kita bisa lebih akrab…”
Rupanya dia sudah mengetahui beberapa informasi pribadi Fou, dan mungkin saja percakapan ini dalam misi menggali lebih dalam demi tujuan tertentu alias pdkt.
“Om Diony tadi memberitahu kegiatan Foura, ternyata suka memberi les matematika juga ya?”
Fou meringis, ini termasuk wawancara calon istri sepertinya, sebab jelas sekali tujuan omnya membawa seorang duda di hadapannya, seorang pria yang dengan jelas menyatakan sedang mencari istri.
“Apa membuka tempat les begitu? Ada berapa murid lesnya? Emm biasanya dibayar berapa?”
Terpikirkan untuk mengerjai pria ini saja, dari segi usia omongannya terlalu serius. Dua pria sebelum ini juga berusia sama dengan si Salmon tapi bahasa dan cara dia berbicara seperti papanya. Fou senyum samar, Fou kemudian paham menilik dari isi pembicaraannya sejak tadi, pria ini sedang bicara soal penghasilan Fou.
“Saya memberi les privat pak, saya datang ke rumah murid-murid, ada juga yang les secara online. Biasanya saya menghitung les saya untuk enam bulan setiap muridnya, satu murid tiga juta. Dan biasanya juga murid saya di atas sepuluh orang… jadi dari les saja saya sudah mendapatkan income minimal tiga puluh juta setiap enam bulan… Dan saya juga guru sertifikasi yaa bapak tahu kan selain gaji ada income tetap juga setiap tiga bulan, belum dihitung dengan gaji tiga belas. Di rumah saya punya sepuluh kamar kost yang tiap bulan pemasukannya dua belas juta… jadi ya jika dirata-ratakan income saya setiap bulan berkisar di lima puluh juta… lumayanlah pak untuk biaya hidup…”
Fou bicara panjang lebar dengan intonasi yang terjaga, dengan senyum formalitasnya, dia ahli bermain kata-kata dan nada suara sehingga tidak terkesan sedang menyombongkan diri, dia juga bicara sambil menatap si Salmon yang terlihat beberapa kali membulatkan bibirnya.
“Waah… Foura sangat luar biasa… selain cantik punya kemampuan yang lain yang menghasilkan, sangat kreatif ya memanfaatkan peluang untuk menambah income… dan nampaknya pintar mengatur keuangan…”
“Harus pak… buat saya wanita yang sebenarnya bukan wanita yang pintar berdandan atau, tetapi harus pintar menghasilkan uang dan… eh ya saya juga bukan tipe wanita konsumtif…” Di sini Fou ingin menertawakan dirinya yang seolah sedang promosi sebagai wanita yang layak dipilih oleh Salmon.
“Saya sangat setuju… nampaknya Foura wanita yang saya cari… saya sudah terlalu lama sendiri, anak-anak juga butuh seorang mami…” Si Salmon berkata sambil menjaga pandangannya pada Fou.
Astaga ini duda umur berapa sih? Bahasa dan cara pdktnya begitu membosankan dan menggelikan.
“Foura… boleh minta nomor wa?” Si Salmon merogoh saku celananya.
“Waah maafkan saya, pak… saya tidak ada urusan dengan bapak kan… rasanya aneh memberikan nomor wa saya pada bapak. Dan oh ya… bapak mengatakan tadi bahwa saya mungkin ada di kriteria wanita yang bapak cari… tapi sayang pak, saya tidak sedang mencari suami… bapak salah orang. Maaf saya harus pergi, tangan saya pegal karena mengendong ponakan saya, permisi pak… mari…” Tegas Fou sambil berdiri.
Fou masuk ke kamar, sebaiknya bersembunyi di kamar aja, mungkin saja masih ada pria yang lain yang sengaja dibawa ke sini untuk dikenalkan padanya.
“Kak… om Dion sama tante Beby mencarimu…” Shirley masuk kemudian dengan mengendong anak bungsunya yang juga sudah tertidur, dia kemudian meletakkan dengan hati-hatinya anaknya di samping anak Eileen.
Nando juga ikut masuk dan melempar tubuhnya di sebuah kasur yang ada di lantai di samping tempat tidur. Fou turun dari tempat tidur, menutup jendela dan menghidupkan AC.
“Kunci kamarnya, Nando… entar mereka menerobos masuk, anak-anak bisa bangun… entar bisa rewel tidur mereka terganggu…” Fou berkata pelan lalu duduk selonjor di sofa panjang.
Setelah memastikan anaknya terlelap Shirley duduk di seberang Fou di sebuah sofa single.
“Tau gak kak, papa marahin om Dion… tante Beby juga… papa melarang mereka bawa-bawa lelaki untuk dikenalkan ke kakak…” Shirley berbicara dengan suara pelan.
Fou hanya mengerucutkan bibirnya, papa membelanya tak segera membuat dia senang. Dia mau datang ke sini karena mengingat papanya dan omanya, soal bakal dijodoh-jodohkan dia udah memprediksi sebelumnya.
Shirley kemudian melanjutkan…
“Mama akhirnya menunjukkan foto dokter Petra di hp mama… bahkan mama membacakan chat si dokter yang masih sayang sama kakak. Mama bilang juga, dokter itu masih tungguin kakak hingga sekarang, jadi mama seperti menegaskan bahwa kakak itu bukannya gak laku-laku… mama juga bilang bahwa dokter Petra bukan sembarang dokter, dia adalah dokter yang sudah mapan… kayaknya mama gak suka dokter Petra dibanding-bandingkan sama si siapa itu… aku lupa namanya, si duda anak dua kalo gak salah…”
“Ahh… mama, kenapa harus sejauh itu…” Fou hanya bisa mengeluhkan mamanya yang memang gak bisa menyimpan rahasia atau menahan bibirnya tentang apa yang dia ketahui.
“Mama marah kayaknya tante Beby ngatain kakak bakal jadi perawan tua, amit-amit kak, dan tante Beby niatnya baik katanya membantu mengenalkan kakak pada siapa itu, lupa namanya…”
“Ikan Salmon…” Nando berkata sambil tertawa.
“Do… suaramu… Elle sama Drew bisa bangun…” Shirley memperingatkan adik sambungnya.
“Abisnya lucu banget namanya… lucu juga cara duduknya… hehe…” Nando bangkit dan duduk menempel pada Fou.
“Ihh Do… kamu suka banget duduk nempel-nempel ke kakak… udah gede loh… manja banget ihh…” Shirley mendelik pada Nando. Fou hanya diam aja, sudah biasa Nando seperti itu, dan dia sendiri menyukai punya adik laki-laki, jadi oke-oke saja Nando bermanja padanya.
“Biarin, aku suka…” Nando menjawab dengan suara manja dan Shirley bergidik.
“Astaga, anak cowok… entar gak bisa punya pacar loh… atau pacaran dengan cewek yang jauh lebih tua… ihh…”
“Lily… ngomong gak difilter…” Fou melotot pada Shirley.
“Kakak… papa pernah cerita kan… kakak dulu dinamain Flora, eh gak tau kenapa yang tertulis di akte itu Foura… nah cocok tuh kakak sama om Salmon, jadinya Flora dan Fauna, hehehe…” Nando tertawa kecil.
Sebuah senyum atau ringisan entahlah tapi yang jelas Fou terhibur dengan celotehan Nando. Fou menoel kepala Nando.
“Kak… kenapa gak terima aja lagi si dokter Petra sih… semua orang kan pernah berbuat kesalahan… termasuk si dokter itu. Lagian menurut aku ya… cinta sejati itu bukan karena lamanya berhubungan dengan seseorang, tetapi siapa yang membuat kita yakin untuk hidup bersama selamanya. Aku sih melihatnya kayak gini… kenapa dokter Petra gak nikah-nikah juga dengan si Olivia padahal hubungan mereka udah segitu lamanya… karena dia gak yakin kalau Olivia wanita yang dia butuhkan… pas ketemu kakak… si dokter langsung klik… gitu kak…” Shirley panjang lebar.
“Kamu tahu apa Lily?” Fou ingin marah, tapi ungkapan adiknya bisa diterima otak logisnya, hanya dia gak terima dia yang dijadiin selingkuhan, itu begitu membekas.
“Aku baca semua chat dokter Petra… gila… ada cowok yang seberani itu mengungkapkan kesalahannya pada mama mantannya… aku sih gak heran dia beraninya sama mama dan takut sama kakak, haha… entar kayak papa dia waktu kena amukan anak perempuannya, hahaha, aku bisa bayangin dokter seganteng itu dan sekekar itu bodynya tertunduk di hadapan kakak… hahaha… tapi aku akui dia gentlemen banget ngungkapin semua sama mama… cowok keren sih menurutku… suamiku keder sama mama… eh dokter Petra yang udah mantannya kakak bisa sedekat itu dengan mama…”
“Lily, omonganmu gak masuk akal, gak usah kepoin urusanku ahhh…”
“Aku hanya bantu memberi persepsi yang lain kak… sama seperti kalau ke dokter kita suka nyari second opinion… cobanya lebih memikirkan dari sudut pandang Petra… dia berani loh mutusin Olivia di depan kakak… dia milih kakak loh… itu artinya apa? Dia tegas memilih siapa wanita yang dia inginkan, sekalipun terasa sadis dan jahat buat Olivia, tapi seseorang harus memilih kak… dia punya hak memilih. Soal dia jadiin kakak selingkuhan… mungkin dia ingin mengakhiri dengan Olivia dan benar-benar hanya kakak pada akhirnya, tapi orang butuh waktu untuk menyelesaikan dan bertepatan kakak keburu tahu sebelum hubungan mereka berakhir… tapi buktinya sekarang dia putus dengan Olivia…”
“Ly… udahlah… dia udah selesai buatku. Aku gak mau melihat ke belakang lagi.” Fou berkata meskipun kata-kata Shirley terekam jelas di memorinya.
“Aku hanya mengatakan pemikiranku kak… kayaknya aku lebih berpengalaman soal hubungan dengan pria deh, aku udah nikah kan… dan satu lagi… kakak dulu menentang aku nikah muda kan, tapi buktinya tujuh tahun nikah aku baik-baik aja, suamiku sangat bertanggung jawab… ini membuktikan gak semua lelaki punya bakat selingkuh… papa aja mungkin, dan melihat sikap papa sekarang, kayaknya papa udah tobat… hihihi… udah selingkuh terus hasilnya bocah kayak gini ihh…”
Shirley sengaja mendekatkan kepalanya ke arah Nando, dia paling suka mengusili Nando.
“Aku kenapa kak?” Nando memberengut.
“Kamu gak tahu? Kamu kayak anak cewek tau gak? Kecil, kurus, hobinya nempel-nempel sama kakak, diih gak banget punya adik kayak kamu…”
“Kakakkkk… aku bilangin mama ya…” Nando semakin memberengut.
“Tuh kan… beneran bocah… itu mamaku, bukan mamamu.” Shirley semakin menggoda Nando.
“Lily ahh… tuh anakmu bangun…” Fou menengahi, dia tahu kadang Nando bisa sensitif dan sedih berhari-hari dan Fou yang bakal kerepotan dengan kemanjaannya.
Dalam hati Fou memikirkan semua perkataan adiknya, yang terdengar lebih fair menempatkan Petra.
.