
Jerol akhirnya tahu si dokter Petra jadian lagi dengan Fou ketika melihat beberapa kali si dokter keluar dari rumah depan.
Jerol bukan pria yang dapat bersaing secara terbuka dan dokter Petra bukan saingan yang ringan. Saat Fou pacaran di masa yang lalu, Jerol tidak merasa terancam walau pun hatinya sakit, tapi sekarang Jerol mulai takut bahwa Fou kali ini akan dinikahi dokter itu. Jerol terintimidasi dengan penampilan secara keseluruhan sang dokter.
Jerol hanya punya Elsie untuk jalan masuk memenangkan hati Fou, dia sadar cinta Fou untuknya telah hilang bertahun-tahun yang lalu. Tapi dia gak ingin cinta di hidupnya diambil orang lain.
“Mana Elsienya, berikan padaku…” Jerol meminta Elsie dari si suster baru.
Elsie pun segera mencondongkan tubuh mungilnya ke arah papanya, anak ini sudah mengetahui orang-orang terdekatnya.
“Wah, anak papa cantik banget pagi ini…” Jerol mengangkat tinggi bayinya lalu menurunkan lagi, cara dia bermain dengan bayinya yang mengundang gelak tawa bayinya.
“Udah harum pagi-pagi… kita jalan-jalan mau? Kita cari Onti ya? Onti Fou udah ngasih banyak baju lucu buatmu… kita belum sempat bilang makasih…”
Jerol kemudian keluar dari rumahnya, dia tahu jam berangkat Fou ke sekolah sekarang dan benar saja Fou sudah bersiap, si Nando juga.
“Hei… Sisie… onti kangen kamu.” Fou melepaskan helmnya saat melihat Jerol dan si bayi.
“Selamat pagi onti…” Jerol menyapa Fou dengan wajah senangnya, melihat Fou yang sekarang sungguh sangat menyenangkan, gak ada lagi aura permusuhan dari sang mantan, Elsie membuat Fou mengubah caranya berinteraksi dengan Jerol.
Dan ajaib si bayi tertawa melihat Fou, bahkan saat Fou mengulurkan tangan memintanya bayi itu mengeluarkan pekikan lucu. Fou tertawa dan mulai mengajak Elsie bermain, menggelitik perut Elsie sehingga bayi itu kembali mengeluarkan suara tawanya.
“Makasih Ra, oleh-oleh buat Sisie pas semua…” Jerol berkata kalem.
Fou hanya tersenyum menanggapi. Saat jalan-jalan ke sebuah mall di kota Smr sebelum kembali, melewati toko untuk bayi Fou jadi ingat Elsie dan dia membelikan beberapa potong pakaian bayi, salah satunya sedang dipakai Elsie sekarang. Fou kemudian memperhatikan, Fou senang dia gak salah memperkirakan ukuran Elsie.
Jerol kemudian mengambil dua tas dari bahu Fou karena terlihat Fou kesusahan menahan tas berisi laptop dan tas kerjanya. Fou juga mengangkat lengannya sehingga dengan mudah Jerol mengambil tali tas. Jerol kemudian menyampirkan kedua tas itu di bahunya sambil memandang dengan senyum cara Fou dan Elsie berinteraksi. Selalu harapannya bangkit, mereka bertiga menjadi sebuah keluarga.
“Papa, onti mau sekolah ya, kakak Nando nanti terlambat… nanti main lagi sama onti ya…” Fou menyodorkan Elsie.
Kalimat ambigu Fou entah untuk Jerol atau untuk Elsie membuat Jerol bahagia. Momen kecil dan sederhana ini membuat hati Jerol hangat, Jerol semakin yakin Elsielah yang akan mengubah impiannya menjadi kenyataan.
Si bayi kembali membuat keajaiban, dia menangis saat berpindah tangan, tubuhnya kembali ke arah Fou, belum ingin dilepaskan rupanya. Fou tertawa, perasaannya juga melembut dan senang bayi imut mungil ini enggan berpisah dengannya. Fou kembali mengambil tubuh gembul bayi tujuh bulan itu.
“Masih pengen main sama onti ya? Tapi onti harus kerja… nanti mainnya ya?” Fou membujuk sekaligus gemas dengan tingkah imut si bayi.
Ada perasaan gak tega muncul secara naluriah di hati Fou, memiliki beberapa ponakan ditambah memiliki Nando membuat hatinya menjadi seluas samudra saat melihat anak-anak.
Si bayi melakukan tugasnya dengan baik kali ini, haha, dia menempelkan tubuhnya bersandar pada Fou, seperti paham akan ditinggalkan. Fou tertawa.
“Rol… gak papa dia nangis? Aku bisa terlambat, sekolah Nando lumayan jauh…” Fou memandang wajah Jerol yang sedang terharu melihat adegan bayinya itu.
“Sini, gak papa, nanti aku bujuk…” Jerol kemudian mengambil Elsie.
Benar Elsie menangis dan Fou hanya bisa memandang dengan rasa kasihan sambil mengambil tasnya dari bahu Jerol.
“Dadah sama onti… dadah… dadah…” Jerol mengoyangkan tangan Elsie, bayi itu segera berhenti menangis dan memandangi Fou.
“Dadah Sisie… ayo Do…” Fou melambai pada Elsie. “Aku pergi ya Rol…” Fou berpamitan, lalu motornya melesat keluar halaman.
Jerol menghembuskan napas lega. Dia bersyukur di masa lalu dia mendapatkan Elsie walaupun dengan cara yang agak ekstrim melalui pernikahan yang gak diinginkan, merasa jatuh cinta saat melihat bayi itu, dan hingga sekarang mengabaikan ibu dari si bayi karena merasa tanggung jawabnya hanyalah untuk si bayi.
Jerol kembali ke rumahnya, bertemu dengan sang papa yang telah siap berangkat ke kantor. Dari tampangnya yang mengeras terlihat sekali tidak senang, Jerol tahu papanya melihat apa yang dilakukannya bersama Elsie.
“Je…” Mama Anet meminta perhatian anaknya.
Mata si mama memandang lekat membuat Jerol melengos, dia tahu dari pandangan itu, pasti mama ingin menyampaikan titipan nasihat sekaligus keberatan si papa lagi. Karena sama-sama pria mungkin jadi si papa gak selalu bisa leluasa berhadapan dengan putranya, maka si mama Anet yang diminta menyalurkan apa yang tidak disukai sang papa.
“Orang tua Vinzy mengharapkan keseriusanmu, Vinzy juga udah janji kan mau berubah? Jangan membuat Vinzy lari lagi dari rumah ini Je… tunjukkan perhatianmu padanya. Untung aja dia belum bangun sehingga gak ngelihat kamu pagi-pagi udah ke rumah depan,” ujar mama dengan penuh kehati-hatian, gak ingin terlalu menekan Jerol.
“Menantu belum bangun pagi-pagi dibilang untung, bukannya itu gak benar? Kenapa sih mama mau aja buat kesepakatan dengan mereka, mama tahu keinginanku kan?” Jerol berkata gusar.
“Sudah seharusnya seperti itu Je…” Mama masih mencoba memberi pengertian untuk anaknya.
“Mama sendiri mengeluhkan kelakuan Vinzy, kenapa mau menerimanya lagi sih? Kenapa gampang sekali menyetujui permintaan om dan tante itu…” Jerol meneruskan gerutuannya.
Menjadi anak mama dan terlalu dekat dengan si mama membuat Jerol punya hati yang lemah gak ingin bertindak mengecewakan mamanya, pada akhirnya dia tidak dapat memperjuangkan keinginannya, termasuk penolakannya terhadap kedatangan Vinzy di rumah ini lagi.
“Kamu sudah menikahi anak mereka, mereka sudah menjadi orang tuamu Jerol, berhenti menyebut mereka om dan tante, tidak sopan,” tegas sang mama.
Jerol hanya bisa menatap mamanya dengan jengkel.
“Vinzy itu istrimu dan kamu bertanggung jawab terhadapnya termasuk membuat dia jadi bener kelakuannya. Dia gak bangun pagi dan mengurus Elsie itu tanggung jawabmu Je… arahkan dia, bukannya membiarkan…”
“Kalau dia merasa seorang mama tanpa harus disuruh dia pasti peduli, ini apa? Gak ada tanggung jawab sama sekali. Aku juga gak butuh, aku memang gak menginginkan dia mengurus Elsie walaupun itu anaknya, biar suster yang mengurus Elsie. Aku udah punya calon mama buat Elsie,” Jerol berkata sambil menunduk meneruskan makannya.
Mama Anet terkesiap, sekalipun ini bukan hal baru tapi dia jengah juga perkataan itu keluar dari mulut Jerol.
“Foura maksudmu?” Mama menatap tajam anaknya. “Je??” Mama bersuara keras sehingga Jerol mengangkat wajahnya.
“Itu gak mungkin Je, kamu pria beristri, memang Fou mau kamu ajak nikah dengan statusmu? Keyakinan kita gak mengijinkan kamu punya dua istri Je! Bahkan capil gak akan menikahkanmu tanpa surat cerai. Dan kamu pikir papa akan diam saja jika kamu ingin bercerai?” Suara mama berbeda, sedikit naik karena sikap Jerol.
Mama Anet setuju dengan sikap Jerol tentang Vinzy, tapi dia tahu harus mengedepankan moral dalam menyikapi rumah tangga anaknya. Lagi pula dia gak berkuasa melawan kehendak suaminya sejak awal, tidak dapat menentang saat suami memaksa Jerol harus menikahi Vinzy. Mama melihat Jerol menghembuskan napas kasar, anaknya sama lemahnya dengan dirinya ketika berhadapan dengan pemilik otoritas tertinggi di rumah ini.
“Berhenti menemui Fou, Je… mama tahu kamu sengaja membawa-bawa Elsie pada Fou,” lanjut sang mama.
“Tapi mama tahu kan… aku hanya bisa bahagia jika Fou jadi istriku, aku hanya mencintai dia ma… jangan melarangku ma…” Lelaki bertubuh tinggi dan berisi itu hanya bersuara lirih ketika bicara tentang cinta di hatinya.
Mama Anet hanya bisa menatap prihatin, benar-benar sadar sekarang selama bertahun-tahun ini anaknya menjaga dengan baik perasaannya untuk Fou, dan dia menyayangkan kenapa anaknya tidak memperjuangkan perasaannya sebelum ini, sebelum dia terjebak dengan Vinzy dan sebelum Fou pacaran dengan si dokter?
“Aku gak mau Fou menikah dengan dokter itu, aku ingin mencegah itu, tapi aku gak tahu bagaimana caranya... hanya Elsie yang bisa membuat Fou kembali padaku…”
.
.
Hi... Slmt pagi selmt beraktivitas.
Brill nanti sore yaaaa
.
.