My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 14. Mamanya Elsie



Rumah depan membuat acara, ulang tahun Jerol dan syukuran ketambahan anggota keluarga baru. Fou mau tidak mau hadir di acara ini karena mamanya mendampingi papa acara pisah-sambut di kantor papa yang baru. Ada Nando di rumah, ditinggalkan papa di sini saat menjemput mama tadi siang.


“Do… temani kakak ke acara di rumah depan…”


“Acara apa kakak?”


“Acara ulang tahun, ayo pakai baju itu aja, masih rapih kok…”


Fou risih hadir acara itu sendirian, terlebih ini ulang tahun Jerol. Jadi Fou memutuskan membawa Nando saja, toch warga udah tahu siapa dia dan cerita tentang papa dan Nando sedikit mereda berganti gunjingan tentang acara Jerol dan bayinya.


Fou hanya menggunakan baju casual, rok A line selutut warna coklat susu dengan blus bunga-bunga dengan warna yang serasi dengan roknya.


Melihat rambut acak-acakan Nando, Fou mengambil sisir di kamarnya lalu tanpa sadar dia sendiri yang merapihkan rambut Nando, menyisir rambut yang agak panjang di bagian atas sementara di sisi telinga sangat pendek. Nando menerima perlakuan kakaknya senyum-senyum senang, dia mulai menikmati berada di rumah istri papanya.


“Kakak…” Suara kecil Nando terdengar saat Fou menyisir rambutnya.


“Hmm…”


“Boleh aku panggil tante Silvia mama?”


“Boleh aja… ehh Hahh???”


Fou membelalakkan matanya lalu menatap heran pada Nando, Nando berhenti tersenyum.


“Gak boleh ya?” pertanyaan remaja bersuara kecil itu langsung menyiratkan kekecewaan.


“Bukan… kamu punya mama sendiri Nando…” Fou berusaha menghilangkan rasa herannya, apa yang anak ini minta sungguh di luar dugaan.


“Iya, tapi tante Silvia itu istri sah papa…”


Fou selesai menyisir rambut Nando, dia sadar anak ini sudah ada di usia yang bisa menalar apa yang terjadi dengan mereka, bahkan dia bisa menyimpulkan sekarang bagaimana status mamanya.


“Kenapa pengen mengubah panggilan? Entar mamamu protes.” Fou berkata sambil memakai sepatu flat bertali miliknya.


“Tante Silvia baik, aku kayak punya dua mama. Kakak juga baik… aku senang punya kakak…”


Fou terpaku sesaat, betapa polosnya anak ini, dalam hati dia merasakan sebuah rasa senang menyentuh jiwanya, apakah dia merasakan perasaan yang sama dengan Nando, senang memiliki seorang adik?


Dan Fou bisa menilai tentang pemikiran sederhana seorang Nando yang menyikapi hubungan mereka tanpa prasangka. Fou sedikitnya bersyukur, mungkin karena mamanya si Nando sehari-harinya sibuk dengan bisnisnya di kompleks pertokoan di pusat kota, sehingga dia tidak sempat menanamkan benih kebencian di kepala anaknya kepada keluarga suaminya, makanya pola pikir anak ini positif saja.


Fou sendiri pernah mencari perempuan selingkuhan papanya ini ke rumah mereka dan memaki-maki dan melontar banyak kata hinaan waktu itu, sebuah perbuatan yang lahir dari kemarahannya pada sang papa, waktu itu Nando baru saja dilahirkan.


“Boleh kakak?”


“Kamu tanyakan sendiri pada mama.”


Senyum anak itu kembali mengembang, mungkin dia berpikir bahwa tante Silvia tidak akan menolak. Fou jadi bertambah sayang saja melihat reaksi anak itu, perasaan itu tidak bisa dia bendung, Fou tidak bisa membenci anak ini. Sementara dengan sang papa sikap Fou belum bisa melunak.


Fou memang menyukai anak-anak, itulah mengapa dia mau menjadi guru, sehingga saat berjumpa pertama kali dengan Nando, dia tidak dapat menolak untuk mengajari anak itu.


.


Mereka berdua berjalan keluar dari halaman rumah mereka. Hanya beberapa langkah sudah tiba di tempat acara, sudah banyak orang dan rupanya acara syukuran sudah dimulai. Fou merasakan adik tirinya sungkan dan malu maka Fou meraih tangan Nando dan menggenggamnya lalu berbisik…


“Ikut kakak, kita cari tempat di dalam aja…”


Fou tahu ada banyak sorot mata pada mereka berdua, dan pasti akan segera diikuti bisik-bisik berupa tanggapan terhadap kehadiran Nando. Fou ada kalanya harus bersikap tidak terlalu peduli apa kata-kata dan cerita tetangga tentang mereka. Karena ada kalanya saat menanggapi mereka malahan sakit hati justru bertambah. Saat dia tak acuh, cerita-cerita menghilang dengan sendirinya bahkan dilupakan.


Tenda di halaman rumah sudah penuh dengan undangan, demikian juga di garasi. Fou memilih masuk ke rumah saja dari bagian samping. Di dalam ruangan ada beberapa kursi kosong, maka Fou ke sana. Bertemu pandang dengan tante Anet yang duduk sambil mengendong bayi, Fou mengangguk sambil senyum. Dan di sebelah tante Anet duduk Jerol yang punya hajatan.


Saat sudah duduk beberapa menit, karena duduk berhadapan mau tidak mau ada waktu Fou bertatapan dengan Jerol, di situlah Fou menyadari kesalahannya mengambil tempat duduk di dalam rumah ini tidak memaksa duduk di luar saja dengan mencari kursi lain. Fou mencoba memperhatikan jalannya acara.


Saat ramah-tamah Jerol segera mendatangi kursi Fou, tak acuh dengan banyak mata yang memperhatikan mereka. Fou merasa terjebak di acara ini, apalagi Vinzy gak ada di sini.


“Ra… selamat ulang tahun juga untukmu…” Jerol meraih tangan Fou, menjabat sesaat dan segera ditarik Fou lagi.


“Buatmu juga Erol, selamat ulang tahun.”


Fou menjawab canggung, menerima ucapan selamat ulang tahun yang pertama kali dari Jerol dalam satu dekade ini.


“Ini siapa Fou?”


Jerol masih bertahan berdiri di dekat Fou, dia memperhatikan anak lelaki yang diambilkan sepiring nasi bersama lauk oleh Fou tadi.


“Ini, Fernando, adikku…”


Mimik wajah maklum terbaca di wajah Jerol dalam sebuah anggukan kepala.


“Je… gendong bayimu sebentar, mama mau lihat makanannya… masih cukup apa gak…”


Tante Anet menyerahkan bayi mungil berbaju perempuan ke tangan Jerol Fou tergoda untuk memperhatikan, dia penasaran juga bayi Jerol seperti apa, benarkah mirip dengan pria yang bersama Vinzy? Memang Fou tidak memperhatikan wajah pria itu, tapi rambut kriwilnya tidak mungkin Fou lupa.


“Mau mengendongnya Ra?”


Tanpa menunggu persetujuan Jerol sudah mendekatkan bayinya ke tangan Fou.


“Eh??” Fou hanya bisa mengeluh pendek karena mendadak keluh ditodong seperti itu di bawah tatapan banyak orang yang sambil mengambil makanan sambil melihat ke arah mereka. Ini sungguh sangat awkward untuk Fou.


Fou sedang memegang piringnya dan tanpa disuruh Nando segera mengambil piring itu, Fou menatap hendak protes tapi tidak diperhatikan Nando yang bergerak meletakkan piring Fou di atas lemari TV yang ada di dekat mereka.


Tangan Fou sudah bebas membuat Jerol semakin leluasa menyerahkan bayinya ke tangan Fou, mau tidak mau Fou berdiri dari kursinya dan menyambut bayi mungil itu. Siapa yang bisa menolak seorang bayi, bayi selalu membuat orang cepat jatuh hati. Fou baru sekarang mengendong bayi berumur satu bulan lebih ini, empat keponakannya tidak pernah dia gendong saat masih mungil seperti ini.


Fou agak takut salah gendong sehingga matanya hanya tertuju pada bayi yang sedang terlelap itu. Kulit merah, semua serba mungil, entah seperti siapa wajahnya saat besar nanti. Dan yang menonjol dari bayi itu adalah rambutnya yang masih seperti menempel di kepala itu bergulung-gulung. Tapi sepertinya terlalu dini jika mengatakan itu tidak mirip Jerol sama sekali, hanya, dia mendengarkan percakapan Vinzy yang sepertinya sudah tahu lebih dahulu dia hamil kemudian mendekati Jerol. Entahlah, Fou tidak ingin menduga-duga.


Sikap canggung Fou menggendong bayi miliknya membuat Jerol tersenyum, pemandangan ini begitu menyenangkan untuknya.


“Duduk aja Ra, biar nyaman… di sini Ra, pindah di sini… di situ orang-orang banyak yang lewat mengambil makanan.”


Fou terpaksa mengikuti Jerol ke arah sofa, di belakangnya Nando mengekori, dia tak mau jauh dari Fou. Fou duduk di tempat tante Anet duduk sebelumnya. Fou teralih dari perasaan tak nyamannya saat Jerol memberikan si bayi, dia tertuju pada anak ini. Kapan dia memiliki bayi sendiri? Tiba-tiba pertanyaan itu melintas di kepalanya. Hari ini dia genap berusia tiga puluh tahun, dan untung saja mama sedang teralih dengan papa makanya tidak cerewet mengomentari usianya kali ini.


“Namanya Elsie, Ra…” Jerol berkata dengan suara pelan. Dia duduk di samping Fou sekarang.


“Oh…” Pendek aja reaksi Fou.


“Panjangnya Jeniffer Elsyana Wayong…” Lanjut Jerol dengan mimik bahagianya, seperti bangga dan senang melekatkan nama marganya pada anak itu, menunjukkan betapa bahagianya dia sebagai papa.


Saat nalarnya mencermati kalimat Jerol, Fou terkesiap lalu menoleh pada Jerol.


“Erol? Kamu keras kepala… aku udah minta untuk gak menamai anakmu dengan namaku… ganti Erol!!”


Dengan menahan geram yang mendadak muncul Fou berbicara pelan pada Jerol, tak ingin ada orang mendengarkan pembicaraan mereka.


“Udah ada aktenya, Ra… gak mungkin diganti lagi…” Jerol menjawab dengan nada kalem.


“Ya ampun Jerol… kenapa kamu segitunya melibatkan aku sih…”


Mereka saling memandang dan Jerol melihat amarah di tatapan Fou.


“Gak ada yang tahu kok nama keduamu Elsyana… lagian anakku panggilannya Elsie aja…”


“Tetap aja… ahh, kamu…”


“Aku ingin anakku seperti kamu, Ra… cantik, pintar, baik… makanya aku memberi dia namamu…” Jerol memotong perkataan Fou.


Dia tak berani lagi memandang Foura yang sedang menatap tajam padanya. Dan Fou akhirnya terdiam mendengar alasan Jerol. Jika situasinya berbeda mungkin Fou akan dengan senang hati mengijinkan Jerol.


“Kak Je… ada anak buahnya… anak-anak bengkel…” Jilly datang mendekat dan langsung menempel pada Foura sambil memegang tangan mungil si bayi.


Jerol beranjak, “bentar ya Ra…”


Fou hanya mengerling, tak ingin merespon Jerol, dia masih jengkel.


“Gak ada miripnya sama kak Jerol deh…” Jilly tak terlihat menggerutu karena terlihat dia menyayangi bayi di gendongan Fou, bibirnya mencium-cium kepala bayi itu.


“Ini ponakanmu loh, kamu harus sayang…”


“Iya… gemesin, mungil banget… lucu…” Jilly mencium-cium lagi.


“Jill… bawa ke kamar, kasihan dari tadi digendong terus…” Fou mendapat kesempatan untuk melepaskan bayi ini. Fou menyodorkan si bayi dan Jilly refleks menjauh.


“Aku masih ngeri kak gendong dia…”


“Gak ada suster ya?” Fou bertanya sambil matanya mencari-cari jika ada wanita berseragam di sekitar.


“Gak ada, kak… mama gak mau pakai suster… mama hanya dibantu mbak Vin…” Jilly mendekati si bayi lagi, tangannya masih memegang tangan mungil ponakannya.


“Ya udah, di mana kamarnya, aku lepas di tempat tidurnya aja, kamu yang jagain ya, aku belum makan…”


Fou berdiri dan memandang tepat di wajah Jill dengan tatapan menuntut membuat remaja itu berdiri lalu berjalan ke kamar si bayi, Fou mengikuti dan si Nando juga, gak mau ditinggal sendiri.


Fou masuk kamar dan segera meletakkan bayi itu di box bayi. Sepintas Fou memindai kamar itu, sangat mewah, pertanda bayi ini istimewa dan disayangi, terlepas dari rumors yang beredar bayi ini pasti akan dirawat dengan baik.


Fou baru menarik lembut tangannya dari balik tubuh mungil itu, tiba-tiba si bayi menangis kencang. Fou mendadak panik, takut telah salah meletakkan si bayi.


“Aduuh… kenapa malah bangun, nangis lagi… Jill, panggil mamamu…” Fou menepuk lengan Jilly.


Jilly belum beranjak tante Anet sudah masuk ke kamar.


“Tante… maaf, aku hanya meletakkan di tempat tidurnya… dia langsung menangis…” Fou masih panik.


Tante Anet tidak menjawab karena tertuju pada si bayi.


“Diam ya nak, Elsie sayang… diam ya…” Tante Anet dengan cekatan mengambil lagi si bayi.


Fou hanya bisa melihat dengan pasrah karena si bayi belum berhenti meskipun sudah di ayun-ayun oleh tangan tante Anet.


“Eh biasanya langsung diem… kenapa nak?” Si oma masih membujuk dengan cara yang sama.


Fou ingin pergi saja tapi tertahan rasa bersalah, karena dirinya anak itu jadi meledak tangisannya. Lalu dalam beberapa menit kemudian karena si bayi tetap menangis kencang…


“Fou, coba gendong lagi… mungkin dia udah merasakan tanganmu, mungkin nyaman digendong kamu…” Tanpa menunggu persetujuan tante Anet segera mengangsurkan si bayi mungil, terpaksa Fou menerima lalu dengan gerakan canggung berusaha mengatur sendiri posisi bayi di tangannya.


Dan ajaibnya, bayi itu segera berhenti menangis, menggerak-gerakkan kepalanya lalu diam seolah tidak terjadi apa-apa, seolah sedang berkata, ini tempat yang nyaman untukku.


“Kan… dia nyaman kamu gendong Fou… kayak tahu aja yang gendong dia ibu guru yang baik hati…” Tante Anet berkata sambil mengusap kepala cucunya.


Fou hanya diam dalam sejuta keheranannya, kenapa bisa senyaman ini si bayi mungil ini dalam pelukannya, terlihat sangat lelap dengan mulut sedikit terbuka. Sebuah perasaan yang hangat menerpa relung hatinya, melihat bayi ringkih ini terlihat begitu bergantung pada kehangatan yang dia berikan menghadirkan sesuatu dalam nalurinya.


“Kamu gak menginginkan punya satu yang kayak gini Fou, lucu kan… kamu harus menikah secepatnya…” Tante Anet memandang Fou dan Fou hanya menghindar saja tanpa mau merespon. Sepertinya dia juga menginginkan untuk dirinya sendiri, Fou tersenyum lembut sambil menatap wajah bayi merah itu.


“Foura akan jadi mamanya Elsie, ma…”


Fou terkesiap, suara Jerol membuat dia ingin ngamuk lagi. Kalau gak ada tante Anet di sini pasti dia sudah membalas si mantan yang gak berperasaan ini. Fou hanya bisa melemparkan tatapan marahnya. Tante Anet beranjak dari kamar sambil menepuk pelan bahu Fou.


Dan setelah tante Anet jauh Fou menyerahkan bayi itu pada Jerol, dia sekarang tidak peduli bayi itu akan menangis lagi. Dan memang bayi itu tidak menangis di tangan Jerol. Fou kembali heran dengan fenomena ini, bayi itu nyaman di pelukannya dan di pelukan papanya.


Fou menarik tangan Nando untuk pulang saja. Astaga, jika waktu bisa diputar dia akan memilih tidak menyukai si tetangga ini dulu.


.


Happy reading...


Tinggalkan respon jika menyukai cerita ini 🫠