My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 42. Gak Patah Semangat



Seorang siswi pingsan di jam pelajaran matematika, ternyata siswi ini melakukan diet ketat, hanya minum air putih tiga hari ini. Siswi ini memang bertubuh bongsor. Di ruang UKS karena belum sadar juga, Fou bersama guru wali kelas XII IPA 1 ke rumah sakit mengantarkan murid dengan menggunakan mobil Fou. Setelah orang tua siswi bersangkutan datang ke UGD Fou dan guru wali kelas minta diri untuk kembali ke sekolah.


“Mem Foura, saya pulang sendiri aja, tadi sudah telpon pak suami minta jemput di sini…” Si guru wali kelas berhenti di selasar depan UGD.


“Mem Frida gak kembali ke sekolah?” Fou bertanya sebelum meninggal temannya.


“Iya Mem Foura, tadi sudah sekalian ijin pulang lebih awal, anak saya juga sedang sakit di rumah…”


“Oh… begitu… saya tinggal yang Mem…” Fou menuju parkiran yang lumayan jauh, tidak ada tempat lagi di depan UGD jadi Fou parkir di parkiran gedung IRINA Anak.


Sebelum masuk mobil, iseng aja, sekedar ingin tahu bagaimana pacarnya jika sedang bertugas, dia gak akan mengganggu, hanya akan melihat dari jauh maka Fou masuk ke dalam gedung. Tadi pagi saling memberi kabar dan si pak dokter mengatakan hari ini dinas siang, mumpung ada di sini, lagi pula jam pelajarannya di kelas yang lain masih satu jam dari sekarang. Jika bertemu Petra bagus juga, tiba-tiba jadi ingin melihat si pacar. Kangen kah? Haha Fou tersenyum.


Fou hanya mengelilingi melewati lorong demi lorong, sekarang sedang jam besuk jadi ada banyak orang juga yang hilir mudik. Fou tidak tahu di mana Petra berada di gedung ini, setelah mengitari dua lantai Fou tidak melihat sosok Petra, Fou keluar dan di selasar luar gedung Fou berhenti lalu mengirim sebuah chat.


Sudah makan siang?


Pendek saja, centang dua, dan tidak berubah warna. Fou akhirnya memutuskan pergi saja, ada rasa jengah melakukan ini yaitu mencari Petra di sini, lebih dahulu mencari pacarnya ini bukan karakternya.


Saat keluar dari parkiran IRINA Anak itu Fou harus memutar bagian gedung untuk keluar ke jalan umum. Saat mengantri di pos parkir Fou melihat di balik pagar besi abu-abu sosok Petra sedang menelpon. Dengan jarak yang cukup jauh terlalu aneh jika dia berteriak memanggil Petra dari mobilnya. Fou ingin menepi dan turun tapi di belakangnya sudah ada mobil lain. Maka Fou harus keluar pos lebih dahulu.


Selesai membayar parkir Fou menepikan mobilnya di sebuah sisi jalan dan di belakang sana matanya masih bisa melihat Petra belum berpindah tapi sekarang sudah bersandar di gedung itu.


Fou berjalan mendekat sambil menimbang-nimbang apa harus menyapa Petra. Ini canggung, sekali lagi dia tidak biasa sengaja mencari pacarnya. Tapi pikiran lain datang juga, toch dia datang bukan khusus mencari Petra. Tapi akhirnya Fou tidak meneruskan langkah lebih dekat dan berdiri di bawah sebuah pohon lalu mengamati Petra. Lama dia menunggu tapi Petra belum selesai menelpon juga, terlihat begitu asyik, sambil tertawa-tawa. Lalu sepertinya panggilan telah berubah menjadi video call karena Petra bicara sambil memandang hpnya.


Sebuah sikap yang kemudian membuat mata Fou sedikit membulat adalah tindakan Petra yang mencium layar hpnya.


Dia menelpon siapa sampai harus seperti itu?


Semua indra mengirimkan isyarat pada nalurinya, tiba-tiba otaknya bekerja seperti memberi peringatan dini tentang sesuatu, jika dengan mamanya gak mungkin Petra seintim itu kan. Fou menelpon Petra, dengan pikiran jika telpon darinya segera diangkat Petra berarti itu bukan siapa-siapa, mungkin sebuah telpon dengan ponakan lucu atau entahlah.


Fou bersembunyi di balik sebuah mobil yang parkir di sisi pagar rumah sakit ini, tapi masih bisa melihat Petra. Panggilan tersambung beberapa kali tidak diangkat dan tidak ada pemberitahuan Petra ada di panggilan lain. Fou menahan diri untuk tidak menutup hingga dering terakhir. Fou mengulangi, kali ini instingnya semakin bergetar, Petra mengambil hp yang lain hanya menatap sesaat lalu memasukkan lagi ke dalam saku celana seragamnya.


Fou akhirnya menyimpulkan, Petra punya dua hp dan panggilannya ada di hp yang baru saja masuk saku. Fou mengulangi lagi, menunggu apa tindakan Petra selanjutnya.


Feelingnya segera mengisyaratkan bahwa Petra bukan sedang berbicara dengan seseorang yang biasa, pemandangan yang dilihatnya adalah Petra sedang menatap mesra layar hpnya, beberapa kali mencium seperti tadi, dadah-dadah, mencium lagi lalu menutup panggilan. Ingin sekali Fou berada di dekat Petra untuk mendengarkan apa yang sedang Petra ucapkan pada lawan bicaranya, rasa penasaran yang tidak nyaman segera menyerbu otaknya.


Petra kemudian menjawab panggilannya tapi Fou segera menutup tak ingin bicara, reaksi Petra membuat dia dongkol, Petra kemudian memasukkan hp itu kembali lalu berjalan masuk ke dalam gedung.


Dia tidak menelpon balik? Batinnya sedikit tergores di sini.


Fou menuju mobil dengan pikiran lain yang datang. Petra tidak mengacuhkan panggilan darinya baru sekali ini tapi melihat langsung Petra sengaja melakukannya membuat dia marah.


Lima belas menit kemudian Fou sampai di sekolah dengan kekesalan yang merajai hati. Fou membuka kaca dan menyapa security sambil meminta membukakan pintu pagar besi setinggi dua meter, yang akan selalu tertutup saat jam pembelajaran sementara berlangsung.


“Sebentar ya Mem Foura…” si security tersenyum sambil masuk lagi ke pintu kecil untuk membuka gerbang dari dalam.


Sebuah klakson berbunyi panjang, dan kepala seseorang menyembul dari sana… Jerol sedang tersenyum. Tak lama Jerol turun dan berdiri di pintu kursi penumpang mengetuk kaca, Fou membuka kaca setengah.


“Ra… buka pintu sebentar.” Jerol berkata rupanya ingin masuk dan bicara.


Foura membuka kunci pintu, tidak ada perasaan untuk menolak.


Saat duduk…


Fou tersenyum perih, sesuatu segera menggetarkan nuraninya. Entah bagaimana mendefinisikan hubungan mereka. Dalam batinnya Fou bergumul untuk mengenyahkan rasa sayang yang masih ada di sana, bergumul juga soal kepantasan mereka bertemu di kompleks sekolahnya lagi, dan terutama ada orang-orang yang tahu soal Jerol. Soal Petra dia tidak perhitungkan terlebih baru saja dia kesal dengan Petra, tapi soal mamanya dan orang tua Jerol yang membuat dia ingin meminta Jerol keluar dari mobilnya.


Tapi tetap saja yang memenangkan situasi ini adalah keinginan hatinya yang tersembunyi beberapa waktu belakangan yaitu dia ingin melewatkan waktu berdua Jerol.


“Dari mana Ra?” Jerol kembali bersuara.


Fou tidak menjawab hanya menatap Jerol. Jendela telah tertutup dan gerbang sudah terbuka, sejenak Fou bingung hendak melakukan apa, hingga security datang mengetuk jendela di sisi sopir.


“Ra? Kamu disuruh masuk?” Jerol menanyakan sesuatu yang tidak perlu.


“Turunlah, Rol… aku harus masuk…” Fou berkata akhirnya setelah tatap-tatapan bermakna seolah saling melepas aliran rindu yang selama ini mengendap jauh di bagian terdalam hati mereka.


“Ra… aku menunggu di sini dari tadi, satpam bilang kamu pergi mobil kamu gak ada…” Jerol menolak turun dengan kalimat itu, dia gak bergerak di sisi Fou.


“Rol, aku harus masuk kelas bentar lagi…” Fou berkata gak berdaya, dia juga ingin terus ada di dalam mobil jika boleh, ingin sekali bertukar cerita bahkan hanya sekedar memandang Jerol.


“Sebentar Ra… aku ingin tahu sesuatu sekarang… aku ingin kepastian Ra… apa… apa kamu memang gak menginginkan kita bersama? Aku gak patah semangat Ra, masih tetap menginginkan itu…”


Fou tidak siap ditanya hal seperti ini. Dia gak boleh memberikan Jerol harapan, sementara dia sendiri gak ingin menyakiti hati mamanya, tiba-tiba dia bersama Jerol lalu mamanya kambuh, dia gak ingin kehilangan sang mama.


“Ra… kamu juga ingin kita bersama kan?” Jerol meraih tangan Fou.


Tatapan Jerol yang sekarang gak bisa ditentang oleh Fou, tatapan yang sarat dengan harapan. Fou menunduk. Fou gak mampu menjawab itu.


“Ra… lepasin Petra ya?” Jerol meminta kembali hal yang sama waktu itu, karena dia beberapa kali melihat Petra bersama Fou, hatinya sakit karena hal itu.


Karena Fou membisu akhirnya Jerol bicara lagi…


“Ra, gak lama lagi aku sidang, aku gak mau mediasi, walau orang tuaku memaksa… karena aku gak ingin berubah lagi… bagaimana denganmu Ra?” Lanjut Jerol, Fou memang gak tahu harus menanggapi seperti apa.


“Rol… justru kalau kamu cerai aku malah semakin gak boleh nikah sama kamu. Mamaku sakit jantung, itu membuatku gak bisa memaksakan keinginanku untuk bersamamu. Kamu tahu juga kan sama seperti papamu mamaku tetap gak akan pernah setuju kita bersama meskipun kamu udah sendiri. Dia akan merujuk dirinya sendiri Rol… kamu tahu berapa lama mamaku bertahan hingga papaku kembali? Sementara aku dengar Vinzy gak mau kamu ceraikan… keadaan kita terlalu pelik Rol…” Ungkapan Fou membuat keduanya hanya bisa saling mere*mas tangan mereka.


“Rol… aku harus masuk… aku kangen Sisie sebenarnya… tapi…. udahlah… kamu harus turun sekarang Rol…


Serta-merta Jerol menarik Fou dan memeluk tubuh yang dirindukannya setiap malam itu dalam pelukan yang begitu erat.


“Aku sangat yakin kita akan bersama, Ra… aku sangat yakin…”


Erol membisikkan itu lalu kemudian sebuah ciuman rindu dilabuhkan di pelipis kanan Fou, dia gak pernah lebih dari itu sebab dia tahu batasannya, tapi suatu saat Fou akan seutuhnya jadi miliknya, dia gak akan mengubur mimpi yang sangat berharga ini.


.


.


Maaf ya, otor gak bisa up daily, belakangan project kehidupan dunia nyata perlu diurus dengan baik hehe, jika sudah punya waktu, bakal rajin up...


Terima kasih yaa Bun, kk, tante, semuanya....


.


.