
“Hari ini udah bisa pulang, ma…” Fou berkata saat melihat mama Silvia muncul di pintu kamarnya bersama salah seorang mbak di rumah. Rombongan dokter yang melakukan visit pagi baru saja meninggalkan ruang perawatan Foura.
“Mama sudah dikasih tahu sama dokternya, tadi berpapasan di lorong,” timpal sang mama.
“Mbak Aty, beresin barang aja ya…” Perintah mama pada si mbak sambil mengambil hpnya. “Mil… Fou udah bisa pulang hari ini, gak usah ke sini siang nanti…” Hanya satu kalimat mama segera menutup panggilan.
Selama Fou di rumah sakit papa menunjukkan perhatian yang besar, tindakan yang tidak dapat ditolak Fou lagi, dan walaupun masih kaku Fou sudah mau menjawab sang papa. Bahkan tadi malam papanya yang menjaganya.
“Jerol pulang jam berapa semalam?” Mama bertanya sambil duduk di sisi ranjang.
“Aku gak tahu, aku udah tertidur,” pelan suara Fou.
Selama dia di rumah sakit, Jerol paling rajin menjenguk, Fou sudah melarang tapi gak digubris Jerol.
“Udah diomongin orang loh, Fou… ada yang lihat Jerol di sini…” Mama bicara lagi.
“Aku bisa apa ma… aku juga heran sekarang Jerol keras kepala gak mau dilarang.” Fou hanya bisa menekan kekesalannya pada berita yang dibawa sang mama.
“Ma, berkali-kali aku bilang ke mama, jangan terlalu mendengar apa kata orang, udah tahu tetangga kita apa aja diomongin.” Fou meneruskan.
Mama memang selalu terintimidasi dengan lingkungannya, banyak kali keluarganya jadi bahan pergunjingan dan ini selalu membuatnya tertekan.
“Tapi kan perkataan mereka ada benarnya, gak pantas dia selalu datang menjenguk bahkan ikutan menjagamu. Mama gak enak sama Anet dan pak Herry, Fou… sedikitnya kamu dianggap mengganggu rumah-tangga Jerol.”
Fou melihat mamanya sedikit tertunduk saat mengatakan kalimat barusan, terlihat sedih. Fou tahu itu telah menganggu hati sang mama lagi.
Fou terpekur, dia tidak ada niat mengganggu, Jerol yang datang padanya. Fou juga tahu perasaan Jerol tapi baru kali ini Jerol berubah menjadi agresif menunjukkan hal itu dengan perhatian demi perhatian. Dan semakin terpekur karena menemukan bahwa justru sekarang hatinya tidak mempermasalahkan tindakan Jerol.
“Kenapa kamu gak ajak Petra nikah, Fou… dia bilang umurnya tahun ini tiga puluh tahun, gak selisih jauh denganmu, masih sesuai lah Fou…”
Fou hanya bisa mengerutkan bibirnya dengan hati sedih. Pada akhirnya muaranya adalah tentang dirinya yang belum menikah, tekanan utama pikiran mama adalah hal ini. Sementara untuk menikah dengan Petra, tidak ada tujuan itu, gak ada di gambaran di benaknya. Bahkan sampai sekarang hatinya masih bingung dengan status mereka, susah untuk menempatkan lagi Petra sebagai pacar, apa yang indah pada awalnya menjadi hambar sekarang.
Jika boleh jujur, hatinya merasa nyaman bersama Jerol beberapa hari ini, hanya mulutnya yang melarang Jerol menjenguk tapi hatinya menyukai ketika Jerol muncul.
“Tapi, kenapa hp Petra tidak bisa dihubungi ya? Apa dia menelponmu?” Mama mengingat pacar anaknya yang berdinas di sini tapi gak pernah datang. Mama mengambil hp dan membuka ruang chatnya dengan Petra.
Fou sendiri enggan menanggapi, memang sempat terlintas tentang Petra di sini, tapi dia pun malas untuk memberitahu keadaanya, bahkan hpnya entah ada di mana.
“Hpnya gak aktif… berarti dia gak tahu kamu sakit. Apa dia terlalu sibuk Fou? Masa gak punya data atau gak megang hp sedikitpun? Mama udah menghubungi dia sejak di IGD, tapi gak tersambung.” Mama sekarang yang menggerutu.
Fou hanya menyeringai kecil, dia pernah memprediksi Petra yang seperti ini bakal terulang dan itu bukan masalah lagi buatnya, yang menjanjikan akan memperbaiki cara berkomunikasi dengannya adalah cowok itu. Apa dia bosan akhirnya karena Fou justru malas merespon.
Jerol muncul kemudian…
“Aku dikasih tahu kamu pulang hari ini, Ra…” Jerol langsung ke samping brankar. Jerol dikira suami sama suster-suster yang bertugas di sini, karena Jerol pernah nekad membawa Elsie dan dicegat dilarang masuk ruangan dan akhirnya Jerol menitipkan Elsie pada mereka sementar Jerol masuk ke kamar Fou.
“Ini sedang bersiap…” Fou menjawab sambil senyum kecil pada Jerol.
Sementara mama Silvia keluh di sofa kecil. Dia juga gak berdaya mengenai kehadiran Jerol di sini, perasaan di antara senang karena ada pria yang begitu peduli pada anaknya tetapi gusar dengan status Jerol. Dan lagi pria yang sangat diharap tak kunjung menunjukkan hidungnya.
Setelah semua barang selesai dibereskan si mbak...
“Ayo Ra…” Jerol memegang tangan Fou untuk turun dari ranjang.
Fou mengikuti saja saat dituntun si Jerol, lima hari hanya berbaring badan sedikit kaku membuat dia membiarkan Jerol membantunya.
“Ra?” Dokter Petra berusaha tersenyum, dia gak mungkin langsung marah-marah pada Jerol ataupun menarik paksa Fou meskipun hatinya bergemuruh karena emosi.
Fou hanya memandang sekilas, itu pacarnya tapi gak ada sebersit rasa bersalah karena dia sedang digandeng pria lain. Petra membantu mamanya Fou saja, mengambil-alih tas yang dibawa si mama. Mamanya Fou ingin bertanya kenapa Petra gak mengaktifkan hp, tapi ada Jerol di sini.
“Ra… naik mobilku ya?” Jerol berkata pelan tapi didengar tante Silvia.
“Naik mobil tante aja, Jerol… tante bawa mobil,” sergah tante Silvia sambil buru-buru menuju mobilnya. Ada Petra di sini, malah dia sedang mrnunggu apa Petra bersedia mengantar Fou pulang.
Jerol membantu Fou masuk jok depan. Saat Jerol menutup pintu, Petra sedikit mendorong Jerol agar menyingkir lalu Petra membuka pintu lagi.
“Maaf Ra, aku di rumah sakit ini gak pernah pulang, malahan gak tahu kamu sakit…” Petra bicara lembut sambil memasangkan seatbelt.
Tante Silvia yang sudah duduk di belakang kemudi langsung menyergah dengan keluhannya…
“Tante beberapa kali menelpon Petra loh, kirim pesan juga tapi nomernya gak aktif.”
“Iya maaf tante, aku lupa bawa charger, baru tadi aku pulang dan baru ngisi daya, makanya baru tahu Fou sakit, aku langsung cari ke sini… maaf juga soal kesibukkanku belakangan ini. Aku di rumah sakit gak pulang-pulang.” Petra menjawab tanpa mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil.
“Ra… maaf ya…” Petra memandang Fou sekarang dengan tangan yang mengusap kepala Fou. Fou menghindari dengan menggerakkan kepalanya.
“Aku sedang dinas, sementara visit ke pasien, lalu aku ke sini, nanti sepulang dinas aku ke rumah ya… maaf ya Ra… aku seperti mengabaikanmu…” Petra membujuk Fou dengan nada yang manis.
Fou bersikap datar hanya menatap Petra sepintas, ini pacar berasa mantan menjengkelkan yang gak ingin dilihatnya. Perlahan dia mendorong bahu Petra agar tubuh cowok itu bergeser dari dalam mobil. Terpaksa Petra keluar lalu menutup pintu untuk Fou.
Dalam hati rasa jengkelnya telah naik ke level tertinggi, rasa jengkel yang membuat hatinya panas karena Fou gak merespon dirinya. Ini pacar atau apa? Dia hanya menatap mobil putih yang keluar meninggalkan parkiran gedung perawatan VVIP rumah sakit ini.
Dengan cepat Petra mengejar Jerol yang sudah berjalan menuju mobilnya.
“Maaf… Jerol…” Petra hampir gak bisa mengendalikan suaranya terbawa emosi.
Jerol berhenti, hanya memandang Petra, sebelumnya di selalu mundur ke belakang gak ingin bersinggungan dengan Petra, tapi melihat sikap Fou, dia yakin bahwa Fou dan Petra ada masalah.
“Foura itu pacarku, kenapa anda pria beristri masih mendekati dia? Apa pun urusan Foura itu urusanku, harap anda jaga batas anda!” Sekalipun bisa mengatakannya dengan tenang tapi wajah Petra mengeras dengan tatapan dingin bercampur marah.
“Pacar? Kenapa tidak ada selama dia sakit? Dan aku yang kamu katakan pria beristri yang mendampinginya sejak hari pertama. Kasihan sekali kamu dengan statusmu… tapi menurutku kalian gak ada hubungan, gak terlihat itu… dan menjadi hakku untuk mendekati Foura.” Jerol mengatakannya begitu saja, mungkin sekarang ada niat yang kuat yang mendorong hatinya untuk memperjuangkan Foura hingga dia berani berhadapan dengan Petra.
“Hei?? Berani sekali kamu mau mendekati pacarku? Lihat dirimu, apa kamu mau punya istri dua hah? Kamu pikir aku akan diam saja melihat itu?”
“Kamu mau melakukan apa?” Jerol semakin berani.
“Kamu menantangku???” Rahang Petra mengatup dan matanya mulai memerah, kemarahan telah nyata di wajahnya.
“Tidak… untuk apa menantangmu,” Jerol sedikit keder di sini melihat ekspresi dan sikap tubuh Petra, dia gak pernah berkelahi, dulu bila dia ditantang berkelahi dia kan menangis di hadapan sang mama.
“Aku hanya bertanya apa yang kamu akan lakukan? Kamu tidak berhak melarangku mendekati Foura,” sambung Jerol yang berusaha mengatakan dengan nada berani.
“Denger!” Petra mendekati Jerol dengan mata menancap tajam di mata Jerol, “aku gak akan mengijinkan kamu melakukannya, aku tidak akan membiarkan kamu mendekati pacarku! Foura itu milikku. Jauhi Foura!! Mengerti?!”
Jerol terdiam, tatapan Petra mengintimidasi dirinya. Dia pikir Petra akan memegang kerah bajunya atau menyarangkan satu tinju di wajahnya menilik tatapan Petra padanya serta gesture marah Petra. Jerol hanya bisa melihat Petra pergi dengan meninggalkan bahasa isyarat, dua jari yang menunjuk matanya sendiri lalu mengarahkan pada Jerol, seperti mengatakan… aku mengawasimu…
Berjalan kembali ke gedung instalasi rawat inap anak tempat dia berdinas, dokter Petra mengepalkan tinjunya menahan amarah yang masih ada, rasa marah pada sikap Fou terutama yang melihatnya sebagai orang lain tadi, bahkan sejak mereka balikan tidak ada sikap manis Fou yang dia rasakan. Sementara yang dia lihat tadi, Fou membiarkan dirinya berjalan dalam rangkulan Jerol.
Hatinya panas.