My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 52. Aku Akan Bersabar Menunggu Cintamu



Fou hendak menutup jendela kamarnya, tapi terhenti kemudian karena melihat sesuatu. Jerol sedang memapah Vinzy yang hamil besar. Fou senyum kecil, setelah berjuang cukup lama, dia berhasil membuang sedihnya tentang Jerol, biarlah Jerol menjadi bagian memori indahnya saja.


Fou teringat ketika memblokir nomor Jerol lebih dari setahun yang lalu, Jerol datang menyelinap masuk kamarnya dan menangis lama di bawah jendela tepat di mana dia berdiri sekarang, terduduk di sana karena Fou tidak mau mengubah keputusannya. Sejak awal sekuat-kuatnya perasaan cintanya untuk Fou, dia menyerah bila Fou memintanya menyerah.


Dan Fou memintanya untuk menerima Vinzy saja karena mereka berdua memang terikat pernikahan. Atau jika pun Jerol menceraikan Vinzy Fou telah menegaskan tidak akan menikahi Jerol, Fou memilih kehilangan cintanya dari pada menjadi penyebab terjadinya perceraian Jerol. Terlebih dia menghormati prinsip mama dan om Herry tentang pernikahan hanya sekali. Gak ada yang lebih baik dalam kehidupan ketika menghormati ajaran orang tua, lagi pula dia gak ingin menjadi penentang sesuatu yang telah kuat mengakar seperti itu.


Ternyata Jerol mendengarkan perkataan Fou. Sedikitnya Fou tetap saja mendapatkan informasi dari gibahan ibu-ibu kompleks tentang Jerol yang kembali ke rumah depan, tentang Vinzy yang katanya berubah dan terakhir tentang kehamilan Vinzy yang katanya kali ini benar-benar anak Jerol.


Garis berliku kehidupannya, Jerol yang merupakan tetangga sekaligus mantan yang coba merajut kembali kisah lama tapi keadaan terlalu pelik sehingga mereka tak mungkin bersama.


Ketukan di pintu membuat Fou segera meneruskan menutup jendela, sebelumnya melihat terakhir kali bagaimana Jerol memperlakukan Vinzy membantunya masuk ke dalam mobil, dan bagaimana Jerol kemudian tertawa-tawa saat Elsie meminta papanya mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi sebelum masuk mobil, mungkin mereka hendak pergi. Fou percaya Jerol lebih bahagia sekarang.


Fou keluar kamar…


“Udah siap? Kamu gak dandan Fou?” Mama Silvia mengamati penampilan Fou dari atas sampai bawah.


“Gini aja cukup ma… emang ada apa sih? Cuma makan doang kan?”


“Iya… tapi ini hari istimewamu loh, masa kamu cuman memakai kaos oblong sama jeans… mama aja dandan gini…”


“Aku nyaman kayak gini ma, mama kan emang biasa dandan…”


“Ada Petra loh…”


“Emang kenapa kalau ada dia? Paling-paling dia memakai celana pendek sama kaos…”


Fou kemudian mencari Petra dengan matanya, tadi sayup dia mendengar suara Petra saat masih di dalam kamar. Fou membulatkan mata saat melihat outfit setengah resmi yang digunakan Petra, celana chino hitam dan blazer coklat muda dengan dalaman kaos turtle neck warna hitam. Sesaat Fou terpana, mata dan hatinya kompak mengakui bahwa pak dokter terlihat sangat tampan kali ini. Fou menarik tatapannya yang jengah saat bertemu pandangan berisi senyum magnetis si Petra.


Fou telah terbiasa dengan kehadiran Petra di rumah ini, bahkan dalam setiap moment penting keluarganya ada Petra di sana. Hubungan mereka gak berkembang jauh, tapi Fou tidak bisa lagi menganggap Petra gak ada. Kadang dia mengakui tekad Petra yang besar dan tidak goyah hingga sekarang, Petra terlihat bersabar untuknya.


“Ganti baju dong Fou… hari ini ulang tahunmu, gunakan baju yang lebih cocok untuk perayaan… Shirleey dan Eileen juga mama suruh dandan loh…”


“Astaga mama, makan malam doang…” Fou mengerutu tapi mau tidak mau masuk lagi ke kamarnya, gak lucu juga dia akan lain sendiri nanti sementara karena dirinya mereka makan malam di luar.


Akhirnya di sebuah resto terkenal di kota ini di sebuah ruang VIP semua keluarga berkumpul merayakan ulang tahun Fou yang ke tiga puluh dua, semua sudah memberikan ucapan dan doa, tersisa Petra yang belum mengatakan apa-apa. Fou sedikit menunggu tapi kemudian meredam rasa penasarannya karena Petra seolah tak acuh. Karena selama ini Fou tidak pernah memulai berinteraksi dengan Petra, terlalu aneh jika Fou kemudian berakrab-akrab hanya karena menginginkan ucapan selamat dari Petra. Haha ternyata Fou menginginkan itu sekarang.


Petra tidak duduk di dekatnya, selalu seperti itu selama berbulan-bulan sejak dia katanya melakukan pendekatan. Yang Fou lihat Petra mendekati seluruh keluarganya dan menjadi akrab dengan mereka tapi tetap menjaga jarak dengannya, seaneh itu sikap Petra sebenarnya untuk Fou, dan kadang-kadang membuat Fou gusar.


Selesai makan, semua orang masih karaokean karena ada fasilitas itu di dalam ruangan ini. Fou kadang menyanyi mengikuti lagu yang dinyanyikan, kadang hanya diam saja sambil sesekali mengambil foto dengan hpnya.


Petra kemudian didaulat Shirleey menyanyikan sebuah lagu untuk Fou. Fou tanpa sadar mengabadikan momen Petra bernyanyi, dan sampai lagu selesai beberapa kali tatapan mereka beradu, Petra tersenyum padanya, senyum yang pernah membuat Fou terjerat dalam pesona dan selalu ingin dipandanginya lama sebelum ini.


Ketika lagu berakhir, mendekati tempat Foura duduk Petra berkata…


“Selamat ulang tahun Ra… aku doakan semoga kamu mencapai hal-hal terbaik dalam hidupmu. Kamu wanita yang begitu istimewa di hatiku, kamu teguh dengan prinsipmu, tidak mudah digoyahkan oleh apapun, tapi kamu begitu penyayang… tentu saja kamu wanita tercantik yang pernah aku temui, cantik secara keseluruhan, dan dalam hidupku yang brengsek ini kamu cahaya yang membuatku ingin keluar dari gelapnya hidupku… aku mencintaimu Ra… sangat mencintaimu… terima cintaku ya?”


Petra berkata lembut tapi semua yang ada di ruangan itu mendengarkan Petra, dua adiknya bersorak riuh menyemangati Petra yang lain hanya tertawa, semua tahu status Petra yang digantung Fou sekian lama.


Mendapatkan pernyataan cinta di depan semua keluarganya membuat wajah Fou memerah, risih tentu saja. Tapi hati Fou melembut melihat pendar mata Petra, Fou melihat cahaya cinta berkilau di legamnya mata Petra, saat menelisik seluruh wajah Petra Fou tahu apa yang berbeda yang terpancar di sana, sebuah kesungguhan cinta.


Hatinya mengakui usaha Petra berbulan-bulan lamanya, walau belum sepenuhnya percaya, suara hatinya berbisik untuk memberi Petra kesempatan lagi, sebab Petra yang dilihatnya belakangan sangat berbeda dengan sosok Petra yang pernah jadi pacarnya. Sedikitnya dia bisa menghitung bahwa seluruh waktu senggang Petra dia habiskan di rumah Fou, bahkan bila dia tidak berdinas suka menginap di kamar Nando dan hari berikutnya berdiam saja di sana.


Bukti apa yang dia cari?


“Ra? Mau menerimaku kan?” Petra mengulangi sambil menarik dua tangan Fou untuk berdiri dari tempat duduknya.


Fou mengikuti dorongan hatinya sekarang, Fou menggangguk pelan. Petra tersenyum sangat lebar lalu menarik Fou ke dalam pelukannya, pencariannya bertemu dimensi yang lebih bermakna karena baru kali ini dia sungguh-sungguh berusaha mengejar sebuah cinta, dan hasilnya selaras dengan perjuangannya.


Fou memang tidak mudah ditahlukkan, dia bertahan saat Fou menganggapnya gak ada, saat Fou gak mengacuhkan dirinya, dan itu seperti semakin memurnikan cintanya hanya benar-benar untuk Fou. Ketika dia tetap di sana, hari ini dia mendapatkan apa yang telah dia bayarkan sebelum ini.


Semua orang sesaat seperti membiarkan Petra dan Fou menikmati penyatuan kembali hati mereka, lalu seperti dikomando bergerak sedikit menjauh dari pasangan ini.


“Aku mencintaimu, Foura Elsyana Fernanda…” Petra berbisik di telinga Fou.


“Aku belum percaya padamu Jentezen Petra…”


Petra melepas pelukannya, tapi dia tertawa lembut.


“Kamu pintar merusak suasana, Ra… tapi kamu harus tahu aku akan terus berjuang sampai kamu percaya cintaku.”


“Aku menantikan sejauh mana usahamu…” Fou berkata, gak ada lembut-lembutnya.


“Astaga Ra… kamu emang sadis… belum cukup ya apa yang aku tunjukan selama ini?”


“Belum. Kamu sendiri yang membuat kepercayaanku jatuh sampai ke dasar…”


Petra hendak mengeluh, tapi moment ini terlalu berharga dan dia baru saja merasa lega dan sangat bahagia. Saat dia memandang Fou, dia tahu bahwa ucapan Fou serius.


“Baiklah Ra… sepertinya kamu akan terus menguji cintaku kan… kamu sedikit arogan tapi aku suka, ini menantangku untuk terus membuktikan cintaku… kamu akan lihat nanti Ra, seberapa bucinnya aku…”


Petra gak menunggu lebih lama, Fou sudah membuka pintu hati walau masih sangat terasa keraguan Fou untuknya, tapi cinta yang penuh segera menguasai aliran darahnya memicu adrenalin dalam raganya, bibir Fou disambar Petra kemudian.


Kali ini Fou yang mati langkah, hanya bisa menikmati ketika bibir lembut Petra menguasai bibirnya. Sesaat kepekaannya dengan orang-orang yang ada di ruangan ini menghilang, seperti ada yang menjalari seluruh sel tubuhnya, sebuah sensasi yang dibiarkannya karena terasa menyenangkan. Otaknya seperti memerintahkannya untuk menikmati sensasi yang dikirimkan aliran darah ke seluruh tubuh.


Saat Petra berhenti, Fou sadar lalu mendorong Petra yang kemudian tertawa dengan nada suara yang tiba-tiba berubah menyenangkan di telinga Fou. Semburat malu segera menguasai jaringan kulit wajah dan perasaannya.


Fou kembali duduk di kursinya dan mengedarkan pandangan, gak ada yang memperhatikan dirinya dan Petra sekarang sibuk dengan urusan masing-masing, tapi Fou tahu, mereka bukan tidak melihat apa yang dilakukan Petra padanya tadi.


“Ikut aku Ra…” Petra menarik tangan Fou dan berjalan ke luar resto itu.


“Mau ke mana?” Fou melihat ke dalam restoran dari kaca-kaca besar bangunan itu.


“Kita pamitan dulu, Petra…” Fou menyambung saat Petra hanya menatapnya dengan pandangan cintanya.


“Kamu udah tiga puluh dua, kamu udah terlalu dewasa hanya untuk menghilang beberapa saat, dan aku rasa… gak ada yang akan mencarimu sekalipun kamu menghilang bersamaku beberapa hari… malah mungkin itu yang mereka inginkan agar aku segera menikahimu…” Petra tertawa lagi.


“Gila kamu ahh…” Fou menonjok lengan Petra.


“Ra… sakit ihh, aku baru tahu bagian yang ini… tinjumu ternyata begitu kuat…”


“Aku bahkan bisa menendangmu pergi jauh-jauh kalau kamu selingkuh, ingat itu.” Fou berkata ketus.


“Iya… iya, aku udah tobat sekarang Ra… tolong percaya.” Petra merangkul kepala Fou dan memberikan sebuah ciuman lembut di sana.


“Gak. Gak secepat ini. Aku aja masih bingung kenapa aku bisa mengangguk menerimamu tadi…”


Jawaban Fou membuat Petra berhenti, dan menatap manik mata Fou sambil meraih memegang dua tangan Fou.


“Kamu meragukanku aku paham… tapi aku jadi ingin tahu… alasan apa yang membuatmu mengangguk tadi?”


“Hah?? Eh? Entahlah… mungkin karena aku udah tiga puluh dua, dan mungkin kamu lelaki terakhir yang memenuhi syarat yang memintaku jadi pacar… mungkin karena aku tertekan karena gak ingin menjadi perawan tua…” Fou menjawab asal karena gak yakin, bisa saja memang itu alasannya.


“Dasar… aku gak percaya alasanmu sedangkal itu.” Petra menoel jidat Fou dengan sedikit bertenaga, hingga kepala Fou sedikit bergerak ke belakang.


“Terserah kalau gak percaya. Memang aku punya alasan lain menurutmu?”


“Iya…” Petra mengulurkan tangan membelai pipi Fou, dan tanpa suara menjaga tatapannya memandangi Fou. Masing-masing merasakan dada mereka berdesir.


“Apa?” Fou bertanya lembut sekarang, terbawa suasana yang sekarang melingkupi hatinya, tatapan mesra Petra memerangkap dirinya.


“Aku percaya kamu mulai menyukaiku, Ra… aku melihat pandanganmu sekarang seperti saat pertama kita bersama… itu cukup buatku. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku…”


“Kamu terlalu percaya diri dan narsis, pak dokter…” Fou menyanggah walau hatinya berdebar saat mengatakan kalimatnya, dalam hati mengakui bahwa perasaannya untuk Petra memang sedikit berubah.


“Aku sangat menghargai kesempatan ini Ra, kesempatan yang kamu berikan untukku… kali ini aku gak akan tersandung pada hal yang sama… aku pernah gak menghargai cinta dan kesetiaan seseorang, dan aku telah bertekad gak akan melakukannya lagi, kamu sulit untuk aku miliki dan itu mengajarkanku tentang seberapa banyak cinta yang aku miliki untukmu… aku gak akan memaksamu untuk percaya sekarang…”


Petra kemudian mengambil sesuatu di saku blazernya dan menyematkan sebentuk cincin di jari Fou.


“Petra?” Fou memandang cincin di jari manis kirinya.


“Aku memintamu jadi istriku, Ra… mau ya?” Petra berkata dengan gugup, jujur dia takut penolakan Fou untuk hal ini.


“Ya ampun Petra, aku bahkan masih ragu jadi pacarmu lagi, baru beberapa menit kita jadian lagi…”


“Udah hampir dua tahun kita saling mengenal Ra, kamu udah tahu sisi terburukku dan aku belum pernah seyakin ini tentang wanita yang akan jadi istriku… itu kamu Ra… dan aku gak mau menunda lagi untuk melamarmu.” Ada getaran di suara Petra, Fou bisa mendengarnya.


“Tapi ini terlalu cepat… dan jika soal menikah, kamu harus tahu aku gak percaya tentang pernikahan… terlalu banyak hal yang pahit yang aku lihat dari pernikahan,” Fou menjawab lirih.


“Ra… aku gak bisa janji jadi suami yang sempurna untukmu, gak bisa menjanjikan kamu akan selalu bahagia bersamaku, aku juga sadar betapa buruk penilaianmu tentang diriku. Tapi kamu masa depanku Ra, aku hanya punya keinginan bahwa masa depanku hanya bersamamu dan ingin bahagia bersamamu, aku pasti berusaha…”


Fou tidak bisa menyanggah lagi, ini memang terlalu banyak untuk diterima otaknya sekarang tapi jujur hatinya menuntunnya untuk tidak menolak Petra.


“Hanya cintai aku seiring waktu Ra… aku akan sabar menunggu cintamu…”


“Kamu tidak sesabar itu Petra… kamu melakukan dua langkah sekaligus malam ini.”


“Hahaha… jika tentang memilikimu, aku memang tidak dapat bersabar lagi… aku akan menambah satu langkah lagi, aku akan meminta orang tuaku dalam ke rumahmu minggu depan… melamarmu dengan resmi…”


“Astaga… kamu tidak mempertimbangkan perasaanku? Ini terlalu mendadak Petra, aku belum siap sejauh itu…”


“Katakan aku serakah, menginginkan semua terjadi dalam satu malam… tapi aku memang sudah merencanakan semua, Ra… hanya menunggu kamu mengangguk menerimaku… dan kamu gak akan bisa menghalangiku untuk bertindak lebih jauh… paham bu guru sayang?”


“Tauk ahh…” Fou menjawab dengan bibir manyun.


“Hahaha…” Jerol tertawa sambil mencubit pipi Fou lembut.


Fou kemudian menarik tangannya lalu bergegas kembali ke dalam resto.


“Ra… kita mau pergi…”


“Gak. Kamu baru berkata kamu gak bisa ditahan untuk bertindak lebih jauh, aku gak akan memberimu kesempatan…” Fou membalas sambil tetap berjalan.


“Hahh? Maksudnya?” Petra mengejar Fou.


“Laki-laki suka ngelunjak saat mendapatkan kesempatan.” Fou berkata ketus.


“Hahahaha…” Petra tertawa bahagia, yang dia tahu sekarang Fou telah menjadi miliknya.


.


Percaya tidak percaya, manusia selalu membuat kesalahan dan sepanjang perjalanannya setiap orang tersandung, tetapi karena hal itulah seseorang menjadi lebih kuat untuk berjejak pada langkah berikutnya, dan orang yang bijak akan bersikap awas di setiap langkahnya. Jadi otor minta berikan Petra kesempatan yaaa... Otor tahu byk yg gak suka 🫣


.


.


.