My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 51. Lebih Tulus



Sejak tadi mendengar percakapan di meja sebelah, Fou merasa mengenal suara salah seorang yang bercakap-cakap di seberang tempat dia duduk. Ada sebuah pot setinggi orang dewasa yang menjadi penghalang sehingga Fou tidak bisa melihat langsung pria pemilik suara maskulin yang mirip dengan suara papanya.


“Kamu sendirian datang ke sini? Setelah Olivia, siapa yang jadi pacarmu?”


“Aku gak bawa siapa-siapa.”


“Serius? Gak punya pacar sekarang?”


“Gak.”


"Wow… itu seperti bukan dirimu, hahaha. Tapi… seharusnya seperti aku kamu udah punya anak sekarang... kamu terlalu santai... apa belum puas juga dengan semua petualangan kamu?"


"Apa sih Lim... siapa yang bertualang?"


"Kamu lah, aku tahu loh semua kelakuan don juanmu... Om Simon dan tante Yedie minta aku bicara padamu, mereka sangat berharap kamu kembali pada Olivia..."


"Olivia udah menjadi masa lalu, Lim... jangan diungkit-ungkit, aku gak mau kembali padanya."


Fix... itu Petra, hanya menebak dari suara mungkin bisa ada kemiripan dengan sura orang lain tetapi ada nama Olivia yang disinggung, gak mungkin kebetulan. Apa mungkin Petra salah satu keluarga pengantin wanita?


Ini bukan sebuah drama di mana alur 'kebetulan' menjadi kebutuhan demi kesinambungan jalan cerita, ini sebuah kenyataan yang tak pernah terlintas sebelumnya. Fou meneruskan menikmati makanan di piringnya, entah apa dia perlu menghindari Petra atau bagaimana, dia tak ingin menentukan apapun atau mempersiapkan diri sekiranya bertemu Petra, Fou hanya bersikap lebih kepada membiarkan saja semua mengalir apa adanya. Dia lelah menghindari sesuatu, dia hanya harus menghadapi apapun dengan hati lapang.


“Kata tante Yedie… ada seseorang di kota M yang membuat kamu seperti ini? Kamu jatuh cinta padanya lalu memutuskan hubungan dengan Olivia tapi malah ditolak cewek itu… apa bener seperti itu Jenzen?” Suara seseorang yang bernama Lim terdengar lagi.


“Aku penasaran, siapa gadis itu… tapi aku yakin kamu benar-benar jatuh cinta pada gadis itu. Pria don juan sepertimu hanya bisa berubah setelah benar-benar jatuh cinta… gadis itu benar-benar mengubah dirimu, Jenzen…”


Fou gak mungkin menutup telinga, sebuah kalimat yang terdengar semakin meyakinkan untuk Fou bahwa Petra ada di sini. Tidak terdengar jawaban karena kemudian datang rombongan ke meja bundar di sebelah yang memang sengaja mencari si Jenzen, keriuhan terjadi di meja itu. Fou konsen pada makanan di piringnya sekarang.


Beberapa waktu kemudian acara resepsi secara resmi selesai tapi kegiatan foto-foto anggota keluarga dengan pasangan pengantin masih berlanjut, beberapa kali Fou ikut bergabung dalam beberapa pengambilan foto.


Dan… Petra segera mengenali ada Fou di antara keluarga mempelai pria, walau kali ini tampil dengan make up sederhana saja tapi itu cukup membuat mata Petra gak beralih dari Fou. Petra sangat terkejut melihat Fou, tapi hatinya senang bisa melihat Fou lagi setelah sekian lama.


Dada Petra segera berdebar kencang. Setelah pernikahan sahabatnya yang juga dibarengi dengan hancurnya hubungannya dengan Fou, dia benar-benar kehilangan keberanian untuk bertemu Fou, tapi sosok Fou justru semakin merajai hatinya. Tak berjumpa dan tak mencoba untuk memperbaiki hubungan mereka tapi tak ingin melepaskan apalagi melupakan, nama Foura terpahat indah di relung hati, dan tak ingin menggantikan dengan yang lain.


Sepanjang yang dia ingat, sejak dia mengenal arti berpacaran selalu ada wanita di hidupnya dan biasanya itu lebih dari satu, kemudian selalu dirinya lah yang mengakhiri sebuah hubungan dengan banyak cara. Dan Fou menjadi sosok yang membuat dia membayar semua sakit hati yang dia torehkan di hati banyak wanita termasuk Olivia. Semakin dia ingin melupakan, semakin sakit hatinya, dan semakin kuat cinta mengikat hatinya, tidak ada hari yang dia lewatkan tanpa mengingat Fou.


Sekarang setelah hampir setahun ini mencoba menata hati, setelah waktu bagaikan terhisap oleh kehampaan, melihat sosok Fou di sini seperti merasakan semesta membawa segala kemungkinan tentang sebuah awal yang baru. Sebentuk asa terbit di hati, sebuah benih harap yang tadinya terkubur dan mati seolah menggeliat muncul di permukaan.


Petra mendekati Foura yang baru selesai berpose dengan pengantin. Hatinya bicara, ini kesempatan yang datang seperti jatuh dari langit saja dan tidak boleh dia lewatkan. Fou sedang terlibat pembicaraan dengan adik-adiknya.


Shirley telah melihat Petra mendekat dan menyikut Fou. Fou melihat sejenak lalu kembali memperhatikan ponakannya yang sedang ada dalam gendongan Shirley.


“Ra…” Petra menyapa canggung.


Shirley merasa perlu memberi ruang, hingga dia bergerak menjauh dari Fou sambil menarik lengan Eileen.


“Hai…” Suara Petra terdengar lagi, kali ini semakin kentara sikap canggungnya.


Fou tidak tersenyum hanya kembali menatap Petra sesaat dan tidak menjauh, tidak ingin munafik bersikap gak mengenali Petra, hanya tidak mau bersikap ramah aja. Sesaat ketika bertatapan tadi waktu dia sedang berfoto dengan pengantin, Fou tahu bahwa Petra adalah lelaki yang gak akan menghindari bertemu dirinya.


“Ternyata kamu sepupunya Gallen, Ra?” Petra bertanya.


Fou menjawab dengan anggukan dengan tatapan telah mengarah pada ponakan-ponakannya yang lari-larian di sekitar dirinya.


“Aku juga sepupuan dengan Cleo…” Petra menyebut keterkaitannya dengan pengantin wanita.


Fou hanya menanggapi dengan membulatkan mulutnya. Selebihnya mereka masih berdiri berdekatan tapi tanpa ada percakapan lagi, Petra ingin mengajak Fou berinteraksi tapi sikap kaku Fou menghalangi. Sikap Fou yang tidak kaget, terlihat tidak menunjukkan permusuhan tapi juga sedikit tak acuh membuat hati Petra tersentil rasa penasaran dan memutar otak bagaimana menarik perhatian Fou kepadanya, setidaknya mau menjalin percakapan.


Mama Silvia diberitahu Nando tentang Petra, dengan wajah penuh senyum datang menyapa…


“Petra… tante kaget melihatmu di sini… ternyata kamu masih bersaudara dengan Cleo ya…” Suara mama terdengar begitu riang, rasa senang bertemu Petra nampak jelas.


“Helo tante Silvia… tante sehat?” Petra memberi salam.


“Tante sehat, Petra… aduuh… ini kebetulan atau bagaimana, sama sekali gak menyangka bertemu kamu di sini loh…” Mama senyum sempurna untuk Petra.


“Aku juga, tante… tapi jujur aku sangat senang bertemu tante…”


“Ehm… kalian lanjutin ngobrolnya…” Si mama Silvia dengan cepat berlalu dari sana.


Fou mengikuti mamanya tanpa pamit pada Petra, sejujurnya dia bingung bagaimana bersikap sekarang dan enggan berdiri diam di dekat Petra.


“Ra…” Petra mengejar dan memberanikan diri meraih tangan Fou.


“Aku pengen ngobrol sebentar…” Petra berbalik tanpa melepaskan tangannya di pergelangan Fou, berjalan ke arah luar ballroom hotel.


Sejenak Fou tergagap karena tindakan Petra, lalu…


“Lepaskan tanganku pak dokter,” ujar Fou tepat di punggung Petra.


Mau tidak mau Fou berjalan mengikuti Petra, genggaman tangan Petra terlalu kuat. Fou gak ingin membuat keributan terlebih banyak pasang mata terutama keluarga yang tersisa sekarang sedang memperhatikan mereka.


Sementara Petra semakin berani sekarang, rasa canggungnya segera menghilang, yang ada sekarang adalah keinginan yang kuat untuk menahlukkan lagi hati gadis ini, kali ini dengan niat hati yang lebih tulus dikarenakan dia telah benar-benar jatuh cinta.


“Sepuluh menit, Ra… please… aku pengen menyampaikan sesuatu… ya?” Petra berpaling menatap Fou dan berkata lembut.


Fou entah kenapa terdiam hingga Petra kemudian leluasa membawa Fou ke resto yang ada di lantai yang sama.


Saat duduk berhadapan…


“Katakan pak dokter… aku gak ingin lama-lama di sini.” Fou berkata sambil memandang lekat pada Petra.


Petra menarik napas, cara Fou melihatnya masih sama, nyata sekali Petra memang gak pernah berhasil masuk lebih dalam ke hati gadis ini, dia gak pernah punya tempat istimewa di sana. Tapi kali ini dia telah bertekad untuk memulai pendekatannya untuk meraih hati gadis ini.


“Apa… apa kamu masih marah padaku, Ra?” Suara Petra begitu rendah.


“Hah?? Kamu menarikku ke sini hanya untuk menanyakan ini?”


“Banyak yang ingin aku tanyakan, Ra… tapi hal ini yang harus aku ketahui lebih dahulu… apa kamu masih marah?” Petra mengulangi sambil menahan tatapannya beradu dengan sinar tajam mata hitam Fou.


“Aku gak ada urusan lagi sama kamu pak dokter, untuk apa aku menyimpan marah? Udah ahh…”


“Bener udah gak marah lagi?”


“Iya… permisi!”


Fou berdiri tapi tangannya segera ditahan Petra lagi. “Please Ra, ini belum sepuluh menit…”


“Apa lagi sih? Kamu lupa perkataanku ya, aku gak ingin bertemu kamu lagi Pak dokter… hari ini aku anggap bukan sebuah kesengajaan, berikutnya jika bertemu kamu gak perlu repot-repot menyapaku…”


“Tapi… bener kamu gak marah lagi kan?”


“Ya ampun Petra… berapa kali aku harus jawab?” Fou mulai kesal.


“Aku hanya ingin memastikannya, Ra… jadi kalau emang bener kamu gak marah sama aku lagi… ehmm… boleh kan kita jadi teman sekarang…”


“Hah?? Jangan aneh Petra… gak ada yang berteman lagi dengan mantan.”


“Ada kok, banyak pastinya, kita aja yang gak tahu…” Petra menjawab kalem.


“Tapi aku gak mau, aku tahu apa niat kamu sebenarnya.” Fou kembali menatap Petra tepat di matanya, kali ini sedikit lama dan pancaran ekspresi dalam sorot mata Petra menyentil hati Fou. Petra juga menahan tatapannya…


“Baiklah… aku memang ingin mendapatkan perhatianmu lagi, Ra… aku… aku selama ini gak bisa membebaskan diri dari ingatan tentang kamu… belum pernah aku mencintai seseorang seperti aku mencintai kamu…”


Sebagai wanita, mendengarkan lagi perkataan seperti ini mempengaruhi otak dan perasaannya. Fou diam. Petra berdiri, dia gak ingin buru-buru, dia takut terlalu banyak bicara dan menahan Fou akan berubah menjadi pemaksaan, itu bisa membuat Fou jengkel dan itu tidak baik.


“Yuuk… baru tujuh menit sih…” Petra melihat jam di tangannya. “Lain kali aku akan minta waktu lebih banyak…” Petra menarik lembut tangan Fou dan berjalan ke arah ballroom.


Fou heran, “hanya itu?” Entah mengguman atau berbisik tapi cenderung untuk dirinya sendiri sebenarnya, tapi suaranya bisa didengar Petra. Fou sendiri menyesal mengucapkan itu seolah dirinya masih ingin berlama-lama dengan Petra.


“Untuk sekarang itu aja Ra, cukup kamu tahu apa yang kamu tinggalkan di hatiku setelah kamu memutuskan hubungan kita… atau kamu ingin mendengarkan lebih banyak… tentang rindu…”


“Cukup Petra… Ngelunjak kamu.” Jengah, Fou menarik tangannya lalu berjalan mendahului Petra.


Petra tersenyum di belakang Fou, untuknya, Fou menyebut namanya berarti sesuatu.


“Aku pikir, kita gak kebetulan bertemu di sini Ra… Pernikahan Cleo dan Gallen adalah cara yang ditetapkan buat jalan kita bertemu lagi.” Petra berkata penuh percaya diri.


Fou gak menyanggah walau gak menerima perkataan Petra. Malas dia memikirkan dan menghubung-hubungkan kenyataan, menurutnya di mana saja mereka bisa aja bertemu jika memang harus bertemu, tak ada yang istimewa dalam peristiwa hari ini.


“Kali ini aku gak akan menyerah denganmu Ra, aku akan berusaha memenangkan hatimu…” Petra berkata di belakang Fou.


“Kamu gak punya kesempatan itu, pak dokter. Gak usah repot-repot berusaha, aku gak akan berubah.” Fou menjawab.


“Aku udah memutuskan Ra, lebih baik aku sendiri selamanya jika aku gak mendapatkan kamu.” Kali ini Petra udah berjalan sejajar dengan Fou.


“Terserah kamu, itu dirimu… aku gak terpengaruh. Silahkan berusaha sampai kamu bosan dan menyerah sendiri.”


“Aku akan menganggap ini sebagai ijin darimu untuk aku mendekatimu lagi…” Petra berkata lembut.


“Astaga Petra? Apa kamu gak mengerti bahwa aku tetap menolakmu? Jangan berusaha melakukan apapun.” Langkah Fou terhenti lalu memandang Petra.


“Kamu barusan ngomong terserah aku kan…” Petra tersenyum.


Fou hanya mengangkat bahu lalu pergi dengan langkah cepat.


Lalu berjalannya waktu… Petra membuktikan kesungguhan ucapannya. Setelah setahun menarik diri, sekarang secara intens dia berkunjung ke rumah Fou. Jelas tentu Fou tidak menyambut, lebih tepatnya tidak peduli. Yang mengherankan dia tidak berusaha berinteraksi dengan Fou, setiap kali dia hanya bercakap dengan mama Silvia atau papa Emil. Bila mereka berdua tidak ada dia tidak berusaha mencari Fou. Tapi satu hal, dia menjadi seperti salah seorang anggota keluarga di rumah ini.


.


Aku sematkan End mengingat level karyaku turun terus krn jarang update 🤪


Dua eps lagi baru benar end.


Maafkan krn aku gak bisa memuaskan kalian. Tugas RL benar2 membuat aku gak bisa menulis kali ini,.. 🙏🙏🙏