My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 41. Tunangan



Sebuah telpon jarak jauh, Petra sedang mengambil waktu libur…


“Kangen, Ra… kangen gak kamu?” Petra bertanya.


“Hehe, baru aja pergi, jangan lebay,” Foura senyum kecil sambil mencoba meraba hatinya sendiri, apa dia kangen Petra? Dia sedikit kehilangan sepertinya.


“Beneran kok… jadi pengen cepat-cepat kembali ke sana, gak enak ternyata berjauhan, Ra.” Petra berkata lembut.


“Gombal ahh, biasa aja kali, pak dokter…”


“Aku mengatakan yang sebenarnya, Ra…”


Reaksi Fou hanya tertawa, jujur ada rasa senang mendengar Petra kangen padanya. Suara Petra jadi enak di telinga dan mulai betah berlama-lama bercakap dengannya. Setelah dia bersikap menerima, belakangan hubungan mereka semakin dekat, rasanya setiap hari selalu ada nama Petra, sekali pun hanya sebuah chat Petra pasti menghubungi, sungguh berbeda dibandingkan di fase pertama ikatan ini.


.


Di tempat yang sama, agak jauh dari tempat Petra berdiri, Olivia memandang dengan senyum perih. Petra pamit sebentar mengatakan harus menelpon Prof. Andrew yang menjadi dosen pembimbing pacarnya itu. Tapi Olivia sangat mengenali gelagat Petra, dia sudah kenyang dengan banyak alasan Petra, dia mengerti sekarang bahwa lagi... hati Petra terbelah dua untuk wanita yang lain.


“Liv… hai, selamat ulang tahun ya…” Aril baru saja datang dan langsung mencari Olivia. Dia memeluk Olivia sejenak disertai cipika-cipiki, tangannya gak dia lepaskan tetap merangkul Olivia. Mereka akhirnya berteman dekat karena Petra atau Jenzen adalah sahabatnya, akhirnya dia juga bersahabat dengan Olivia.


“Makasih ya, Ril… kamu datang sendiri? Katanya ada pacarmu ikut datang ke kota ini?” Olivia tersenyum lalu melepaskan rangkulan Aril. Sedikitnya dia tahu dari nalurinya, Aril punya perasaan juga padanya, makanya dia membatasi kedekatan mereka.


“Udah pulang lagi… dia hanya cuti tiga hari…” Aril mengambil minum dari seorang pelayan yang lewat.


Ulang tahun Olivia diadakan di sebuah restoran ternama di rooftop sebuah hotel. Olivia punya bisnis sendiri dan punya orang tua juga pebisnis yang punya kerja sama dengan orang tua Petra.


“Aku pikir kamu akan membawa pacarmu… kata Jenzen kamu mau merit ya? Akhirnya kamu punya seseorang, Ril… selamat untukmu…” Olivia tulus mengatakannya, sekaligus merasa terbebas dari perasaan sungkan tahu bahwa sahabat Jenzen juga menyukai dirinya.


“Hehe… terima kasih, aku harus move on dan bahagia juga, Liv…” suara rendah Aril, bertatapan sejenak dalam pengertian yang sama tentang maksud kalimat itu.


“Jenzen mana?” Aril mengedarkan pandangan mencari keberadaan sahabatnya.


“Sedang menelpon…” jawab Olivia, dengan perasaan gundah yang kembali bangkit.


Sesaat hening, keduanya sama-sama menatap Petra yang terlihat sedang menikmati percakapan jarak jauhnya. Petra gak menyadari dia sedang diamati oleh mereka.


“Ril… aku gak percaya dia sedang menelpon Prof. Andrew… melihat sikapnya, pasti dia sedang menelpon seorang wanita… dia gak berubah, Ril…” Suara Olivia disertai rasa sakit yang jelas di air mukanya.


Tiba-tiba Olivia mengatakan apa yang ada dalam pikirannya tentang Petra. Aril sedikit terbatuk, dia selalu menutupi ulah sahabatnya, hingga akhirnya dia gak bisa melawan naluri seorang wanita, Olivia tidak lagi mempercayainya setiap kali dia berdiri membela Petra.


Aril hanya bisa memandang wajah sedih Olivia.


“Oh come on Olive, ini ulang tahunmu, jangan berprasangka, itu hanya merusak hari bahagiamu…”


“Itu kenyataannya kan… kamu gak boleh menutupi kelakuannya lagi, Ril… aku gak bisa kamu bohongi lagi,” tuntut Olivia.


Aril melepaskan napas berat, ya gak mungkin lagi dia bersandiwara, bukankah wanita punya insting yang kuat soal orang ketiga?


“Maafkan aku sebelum ini, Oliv, aku terpaksa,” balas Aril.


“Aku mengerti…”singkat Olivia.


Kembali hening di antara mereka berdua. Sementara suasana pesta sangat terasa di sekitar mereka sebenarnya, banyak sahabat dan keluarga dekat Olivia yang datang.


“Kamu harus minta komitmen Jenzen, Olive… mungkin udah waktunya kamu tegas terhadapnya…” Akhirnya Aril bicara lagi, dia juga bosan dan lelah melihat Petra yang suka main hati, sementara dirinya ingin mempersembahkan cinta untuk Olive tapi gak mungkin karena wanita ini begitu mencintai Petra.


“Aku gak akan menyerah, Ril… aku udah bersabar lima tahun ini dia selalu berpaling, dan aku gak ingin lima tahun menunggunya menjadi sia-sia, Jenzen seutuhnya harus menjadi milikku, dia boleh bertualang, tapi hanya aku yang akan jadi istrinya…” Olivia mengatakan sambil menunduk, hanya dia yang tahu sesakit apa mempunya pacar yang suka main hati, dan konyolnya dia gak mau melepaskan Petra.


“Tapi mungkin kali ini berbeda Liv, belum pernah aku melihat Jenzen sengotot itu mengejar cewek…” Aril membalas Olivia.


“Jadi… benar Jenzen punya pacar lain di sana?” Olivia justru bertanya.


Aril gelagapan, secara tidak langsung dia telah mengatakan itu dan itu gak bisa ditarik lagi. Tapi memang dia pernah berkata pada Petra bahwa dia gak akan menutupi lagi kelakuan Petra.


“Iya… dan jika dia berani menelpon wanita lain di hari bahagiamu, berarti wanita itu punya posisi yang sama atau bahkan lebih dari dirimu, Olive…” Aril berkata dengan kesal, kesal pada Petra terlebih sejak tadi dia melihat Petra senyam-senyum sementara bertelpon.


Olivia tidak menjawab hanya menatap ke atas seperti hendak menghentikan airmata yang hendak turun, sebab kedua ujung matanya telah bergantung kristal bening.


“Kamu berhak untuk bahagia Olive, tinggalkan Jenzen,” tegas Aril.


“Gak, dia kebahagiaanku, Ril… justru aku akan gila kalau pisah darinya,” sergah Olivia.


“Olive? Ini sangat bodoh, kamu bersedia terluka untuk orang yang tidak menghargai cintamu yang sebesar ini.”


“Justru karena aku mencintainya, Ril… maka aku gak akan menyerah sampai dia jadi milikku.”


“Tapi Jenzen gak sungguh-sungguh sayang padamu, Liv…”


“Setiap aku meminta sesuatu, dia melakukannya… itu cukup buatku.”


“Sayang… kenapa?” Petra segera memegang tangan Olivia dan menggantikan mengeringkan airmata Olivia. “Kamu apain Olivia, Ril?” Tatapan penuh tanya Petra beralih pada Aril.


“Tanya diri sendiri kenapa. Kamu gak berperasaan sama sekali. Ini hari bahagia Olive, dan kamu tega merusaknya dengan menelpon cewek lain.” Ketus sura Aril.


“Ril???” Rahang Petra mengeras.


“Olive tahu, Jenzen. Aku gak perlu melapor padanya. Olive yang mengatakannya sendiri. Kamu pikir selamanya kamu bisa membodohi Olive? Kamu pikir dia gak bisa menalar dan merasakan sikapmu?” Sekarang Aril berani menantang Petra, suaranya begitu penuh tekanan, emosi terlihat di wajahnya.


“Udahlah Ril, jangan bertengkar di hari ulang tahunku… ya?” Olivia menengahi karena Petra terlihat juga sudah emosi. Olivia mendorong Aril sedikit menjauh, jangan-jangan kedua sahabat ini saling adu otot di sini.


“Tunggu Liv… aku masih harus bicara pada bajingan ini… dengar ya Jenzen, Olive sabar menghadapi kelakuanmu, tapi aku tidak. Kalau kamu gak berubah, aku bakal lamar Olive.”


“Gila kamu! Kamu lebih sadis tau gak? Olive pacarku, kamu sahabatku, dan kamu baru aja memperkenalkan seorang wanita pada keluargamu. Di mana akal sehatmu?”


“Jangan sok bicara akal sehat. Aku gila dan kamu juga gila, mari kita lihat kegilaan siapa yang akan menang!” Aril menantang, dan terlihat ego Petra naik hingga ke level tertinggi.


“Udahlah, sayang… kumohon jangan diterusin ya? Orang tuaku udah melihat ke sini…” Olivia merangkul Petra.


Olivia membawa Petra meninggalkan Aril yang terlihat masih emosi. Dan maminya Olivia datang mendekati pasangan itu.


“Jenzen, kami perlu bicara denganmu…” Mami si Olivia segera menarik tangan Petra. Sudah cukup lama Petra berhubungan dengan anak gadis satu-satunya, Petra bukan lagi orang luar bagi keluarga mereka.


Mereka berjalan ke arah set kursi nyaman yang tersedia di situ di mana ada papi dan om tantenya Olivia duduk sambil makan. Petra berusaha meredakan emosinya, Olivia mengandeng Petra dengan sangat mesra, dia berusaha menyingkirkan resah yang tadi datang menghampiri, dia sudah banyak kali bertoleransi dengan sikap Petra, kali ini pun tidak apa, dia masih mampu memberikan toleransi saat tahu Petra kembali mendua. Cintanya begitu luar biasa.


Tadi Petra sudah bertemu semua keluarga, dia sudah makan pula… jadi Petra duduk, kemudian meraih lalu meneguk minuman soda miliknya sebelum ini dari meja di hadapan mereka. Olive duduk sangat rapat dan menyandarkan kepalanya di bahu Petra. Setelah bisa menguasai dirinya Petra balas merangkul Olive, menciumi kening gadis itu, Keluarga yang memperhatikan sudah biasa dengan sikap mesra pasangan ini, mereka senyum memaklumi.


“Jenzen… kita gak usah basa-basi… kami menginginkan hubungan kalian diresmikan, kalian sudah lima tahun pacaran, itu sudah cukup bahkan terlalu lama… dan Olivia sudah dua puluh delapan tahun hari ini… jadi tahun ini saja kalian menikah… papi gak sungkan memintamu Jenzen, karena ini sudah beberapa kali kita bicarakan… orang tuamu sudah pernah bercakap dengan kami soal ini…” Papinya Olivia segera bicara masuk ke intinya. Dia gak terima lagi jika Jenzen mengulur-ulur waktu.


Petra terbatuk, ditodong seperti ini membuat otaknya segera kacau balau. Tiba-tiba nama gadis lain melintas. Bagaimana dengan Foura? Petra segera menenggak ludahnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering.


“Jenzen? Jangan menunda lagi, Olivia juga menginginkan menikah hanya denganmu,” papinya Olivia menyambung lagi.


Dia membaca keterkejutan di wajah Petra, tapi dia gak ingin memberi kelonggaran lagi pada pemuda ini. Entah apa yang membuat dia tidak kunjung melamar Olivia, maka papi yang sayang anaknya segera bertindak, toch orang tua Petra berhubungan baik dengan mereka, untuk apa sungkan dengan mereka lebih dahulu membahas ini.


Petra didesak dan situasinya gak berpihak padanya, terlebih saat dia beradu pandang dengan Aril, emosinya yang tadi menggelegak lagi. Dia marah karena Aril tidak lagi mendukungnya, dan hatinya panas karena Aril sepertinya serius dengan ancamannya.


“Kalian tunangan saja selagi kamu libur… kamu tidak punya waktu lagi setelah itu.” Maminya Olivia segera menyambung.


Olivia meremas tangan Petra yang duduk tegang di sampingnya. Dia juga menyetujui ini dan sudah tahu ini bakal dibicarakan orang tuanya, bahkan sebenarnya dia yang menyusun rencana ini, sudah cukup baginya kelakuan liar pacarnya.


“Sayang? Papi menunggu…” Olivia berbisik, sambil membelai lengan Petra.


Ada banyak mata sedang memandangnya menjadi sebuah tekanan untuk Petra, tidak mungkin dia menghindar, keluarga besar Olivia ada di sini dan sebentar lagi mama dan papanya akan tiba di sini. Petra serasa ingin lenyap saja menghilang dari sini.


“Aku gak terlalu lama libur kali ini, dan lagi masih berapa tahun di kota M… mungkin akan sulit untukku dan Olivia…” Petra mencoba mengelak.


“Makanya tunangan aja dulu… nikah pun gak masalah, sekarang gampang mengurus pernikahan kan… apalagi yang kamu tunggu Jenzen? Umurmu sudah lebih dari cukup, karir udah ada… kalian bukan orang yang baru membangun hidup, secara finansial gak ada halangan…” Salah seorang omnya Olivia bicara sekarang.


Alamak, Petra semakin didesak, hatinya mulai memikirkan Foura, dia mulai merasa nyaman dengan Foura, tapi Olivia juga gak bisa dia hindari, dan melihat lagi dan bersama lagi beberapa hari ini membuat dia sadar bahwa di dalam hatinya masih ada rasa sayang untuk Olivia.


“Jenzen? Atau jangan-jangan benar kecurigaan mami, kamu…”


“Baiklah, kami tunangan aja dulu sebelum aku kembali,” Petra memotong perkataan mami dari Olivia. Olivia pernah menyampaikan kecurigaan maminya soal Petra yang punya pacar lain. Petra tidak ingin malu di sini, terlebih dari gelagat Aril sepertinya dia tidak lagi memihak padanya, bisa saja dia bocor mulut dan mengatakan yang sebenarnya.


“Nah… untuk apa membuat ribet, kamu seperti terlalu lama berpikir Jenzen, serahkan pada mami soal acara tunangan kalian… nanti mami berdiskusi dengan mamamu… tentu kamu harus meminta keluargamu melamar Olivia." Calon mama mertua berkata sumringah.


Dalam hati Olive bersorak kecil, di tengah keluarga besarnya mana mungkin Petra punya keberanian untuk menolaknya, kali ini dia akan membuat si serigala wanita ini berubah menjadi doggie puddle yang taat.


Ahh… Tunangan? Hati Petra mendadak seperti menyusut, pikirannya pun langsung kusut. Ini baru tunangan, nikah aja bisa pisah, begitu pikir Petra. Dan mengenai Foura nanti urusan belakangan.


“Aku senang kamu mau melangkah lebih jauh, sayang… aku memaafkanmu… tapi ingat, jika kamu meneruskan hubunganmu dengan perempuan itu… aku akan bertindak kali ini, aku gak akan membiarkan kamu lagi Jenzen… aku akan temui perempuan itu dan mengatakan yang sebenarnya…” Olivia berbisik penuh tekanan.


Petra tergugu, dia pikir Olivia selama ini bersikap diam karena tidak tahu, rupanya dia sangat tahu bahkan, dan dari perkataan dan dari mimiknya dia tahu Olivia bukan sekedar mengancamnya.


Orang tua Petra muncul, mama dan papanya langsung disambut oleh orang tua dan keluarga Olive. Setelah basa-basi panjang...


"Pak Simon... Keinginan kita untuk berbesan akan segera terwujud, Jenzen mengatakan mau tunangan dengan Olivia... kita akan rencanakan dalam beberapa hari ini semua tahapannya... memang sudah seharusnya seperti itu, mereka tinggal di kota berbeda, tau-tau ada yang oleng bisa bahaya... Jadi biar gak ada orang ketiga yang masuk, sebaiknya kita lakukan secepatnya acara tunangan ini, biar Jenzen dan Olivia tenang..." Si papinya Olivia mengatakan dengan gamblang pada papanya Petra.


Deraian tawa bahagia keluarga mewarnai pembahasan serius soal pertunangan yang segera disepakati akan dilangsungkan sebelum Petra kembali.


Sementara Petra merasa seperti duduk di atas duri, ini bukan niatnya, kenapa jadi seperti dia yang mengemukakan ide ini? Petra terjebak dan mati langkah, hanya bisa memaki dalam hati.


.


Hi... Sorry, lagi melambat...


Makasih masih membaca ceritaku.