My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 27. Tanpa Antusiasme



Entah dengan cara apa, tahu-tahu Petra ikut ke dalam gedung bandara, mengambil alih mendorong koper Fou. Karena suasana sedang ramai, tangan Petra yang merangkul dirinya dibiarkan Fou hingga mereka masuk ke antrian untuk check in.


“Ra… pulangnya kasih tahu ya… nanti aku yang jemput.” Petra berkata di telinga Fou.


Fou bisa merasakan tubuh Petra yang begitu dekat dengannya, ini posisi sudah seperti orang pacaran aja, tangan Petra masih ada di bahunya, sementara koper Fou tetap dipegang si dokter.


Dan Fou sedang gamang karena semua tekanan yang masih menguasai pikirannya. Fou seperti tidak dapat menolak Petra seperti biasanya.


“Apa aku bisa mendapatkan jawaban sekarang, Ra?” Petra berbisik lagi.


Fou diam saja, seperti beku di sisi Petra. Saat Petra mere mas bahunya lembut Fou membiarkan. Dia seperti kehilangan jati dirinya, Fou yang gak suka sesuatu akan segera menolak dan menjauh. Tapi sekarang ini, dia seperti sedang menjalani sesuatu yang asing, dia gak bisa menerima keadaan yang terjadi sekaligus gak bisa menolak apa yang tengah terjadi.


Melihat papa tadi dan bagaimana mama berinteraksi dengan sang papa membuat Fou menyadari bahwa sekalipun dia menunjukkan marah dan protes keras itu gak akan berguna, mau atau tidak dia hanya bisa mendukung kebahagiaan mamanya.


Dan sekarang tentang pertanyaan Petra, Fou binggung karena dia sedang kehilangan daya untuk melakukan sesuatu menurut caranya sendiri.


“Ra?” Petra kembali berbisik sambil menggoyang lembut bahu Fou.


"Hahh?" Fou yang melamun kembali ke realita.


"Kamu memberi aku kesempatan kan?" Bisik Petra lagi, sangat lembut dan membuat hati Fou lemah. Mungkin Petra sudah merencanakan ini, meminta jawaban Fou di tempat ini, makanya dia ikut masuk.


“Hah?? Iya…” Suara hampir bisikan keluar dari bibir Fou, dia melirik Petra.


Petra tersenyum lebar, walaupun Fou hemat kata sejak tadi tapi jawaban yang dia tunggu sudah terucap.


“Ra… makasih ya, aku janji padamu, kita akan jalani hubungan ini dengan baik, aku akan berusaha ada untukmu Ra, aku tahu komunikasi itu penting… aku gak akan mengabaikan hal itu lagi…” Selesai mengatakan Petra mempererat rangkulannya dan sebuah ciuman mendarat di sisi kepala Fou.


Fou merasakan usapan lembut kemudian di kepalanya. Meskipun tidak yakin tapi jawaban terlanjur terucap, sisi hatinya memilih itu mungkin karena kehadiran Petra beberapa waktu ini menstimuli otaknya untuk menerima Petra lagi.


Beberapa tindakan intim, seperti beberapa kali mencium kepalanya terus dilakukan Petra padanya, antrian masih beberapa orang di depan memberikan Petra waktu untuk hal semacam itu. Fou melirik di sekeliling…


“Pak dokter, hentikan… orang-orang melihat kita…” Fou berbisik.


“Semingguan aku gak akan melihatmu, aku sedang hepi, biarkan aku ya? Orang-orang gak peduli kok…” Petra berkata lembut dan tersenyum saat Fou mendongak melihat padanya. Tangan yang ada di bahu Fou, naik menangkup sisi kepalanya sementara satu tangan lain membawa Fou bersandar padanya.


Fou tersenyum getir bukannya hepi diperlakukan dengan mesra seperti ini. Mungkin orang-orang akan melihat mereka sebagai pasangan yang sedang bahagia. Hatinya entah seperti apa, memasuki hubungan pacaran tanpa keinginan dan antusiasme, entah akan bagaimana jadinya ke depan.


Setelah check in, Fou ingin segera naik ke ruang tunggu di lantai dua, dia risih terus diperlakukan sebagai kekasih oleh Petra.


“Aku hanya bisa sampai di sini, Ra… hati-hati. Nanti aku telpon ya…” Sebuah perkataan lembut Petra, sambil memeluk Fou bahkan ada bonus ciuman di pelipis kirinya.


“Makasih…” Jawaban pendek Fou, sambil membalas lambaian tangan Petra dan menyertakan sebuah senyum basa-basi lalu segera menuju mesin xray untuk baggage inspection dan pemeriksaan tiket.


Baru aja sampai di lantai dua hpnya berbunyi, sebuah notifikasi pesan, Fou membiarkan karena itu dari Petra, Fou justru menghubungi tiga muridnya yang sudah lebih dahulu check in. Setelah bertemu murid-muridnya Fou mencari Nando, dia ada di gate yang lain. Dia ingin memastikan keadaan Nando, anak itu baru pertama kali naik pesawat.


“Kakak…” Nando memanggil saat Fou hampir melewati dirinya. Anak itu tertawa lebar dan berdiri datang memeluk Fou.


“Hei… lepasin, kayak anak kecil…” Fou kaget Nando bertindak agresif.


“Aku kangen kakak,” polos Nando menjawab. Anak ini tidak menutupi kegembiraannya bertemu Fou lagi. Fou pun tersenyum, kegembiraan Nando mempengaruhi suasana hatinya.


“Mana gurumu?” Fou membiarkan saja Nando belum melepaskan pelukan.


Nando masih melingkarkan tangannya di pinggang Fou membawa Fou bertemu dengan seorang wanita setengah baya. Fou menjadi lega melihat sosok guru pendamping Nando, dia pasti seorang ibu yang biasa mengurus anak-anak.


“Bu guru, ini kakakku…” Nando memperkenalkan Fou.


Fou mengulurkan tangan dan disambut si ibu guru.


“Hello bu… saya Foura…”


“Saya Arlin. Nando sudah cerita, kakaknya juga seorang guru matematika… terima kasih ya bu guru Foura, berkat bu guru si Nando bisa jadi yang terbaik…”


“Jangan sombong kamu…” Fou berkata sambil mengacak rambut adiknya. Si adik langsung menempel padanya.


“Bu… saya titip Nando ya, kita beda tempat menginap, nanti hari terakhir baru saya jemput dia… boleh saya minta nomor hp ibu?”


“Oh boleh… boleh,” si ibu segera menyebutkan nomornya.


Fou berpamitan menuju ke gatenya. Dalam perjalanan hpnya berbunyi lagi, kali ini chat dari nomor yang tidak dia simpan. Fou membukanya dan langsung tersenyum, ada kiriman video si Elsie yang sedang menatap kamera dan ada suara Jerol yang mengucapkan… ‘hati-hati di jalan onti, jangan lupa oleh-oleh buat Sisie ya?’.


Saat menutup video itu, senyum Fou menghilang. Jerol memang tidak seberani Petra dalam mengejar dirinya, tapi dia tahu Jerol sengaja mengirim video ini padanya, ini seperti sedang mengatakan bahwa Jerol juga sedang berusaha untuk medapatkannya. Dan meskipun hanya dengan keterpaksaan sekarang dia dan Petra sudah punya hubungan lagi. Fou tahu Jerol waktu itu terlihat sedih melihat kebersamaannya dengan Petra. Kenapa hidup membawanya masuk ke lingkaran yang tidak dia sukai?


.


🧮


.


Acara lomba matematika sudah berakhir, murid-murid Fou satu orang mendapatkan medali emas, dua mendapatkan medali perak. Dan Nando luar biasa, dia juga mendapatkan medali emas. Sungguh hasil yang menggembirakan. Lomba berakhir pada hari kamis siang, masih tersisa tiga hari sebelum kembali dan dimanfaatkan untuk ke kota Smr, bertemu si mama hari ini di sana.


Sebenarnya Fou khawatir mama melakukan perjalanan seorang diri di saat kondisi fisiknya tidak baik, tapi menurut mama dia sudah tiba dan sehat. Sekarang dia berdua Nando sedang dalam perjalanan menuju kota yang sama dengan kereta api kelas Priority.


“Enak ya naik kereta, kakak… Kursinya lebih lebar dan lebih nyaman... Makanannya lebih banyak.” Nando tak henti-hentinya membicarakan kesan perjalanannya, begitu menikmati momen ini, Fou hanya tertawa menanggapi adiknya.


“Kamu baru sekarang ke luar daerah?” Fou penasaran tentang hidup adiknya, sangat terlihat begitu girang dan enjoy naik kereta.


“Iya kakak, baru pertama kali naik pesawat, baru pertama kali naik kereta.” Nando menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari jendela kaca besar di kereta api.


Fou teringat saat keluarga mereka masih jauh dari perselingkuhan si papa, setiap tahun mereka pasti liburan. Si papa kadang mengambil cuti sehingga mereka bisa bepergian bersama, atau anak-anak holiday ditemani si mama aja, destinasi bukan hanya di negara ini tapi juga di negara tetangga.


“Gak pernah liburan ke mana-mana?” Fou meneruskan mencari tahu.


“Gak pernah.” Nando menjawab singkat.


“Gak pernah pergi dengan mamamu?”


“Ada sih, ke mall aja… tapi seringnya sama papa berdua. Kami gak pernah jalan bareng kayaknya…” Penjelasan Nando membuat Fou kaget. Papanya rupanya sangat menjaga dirinya supaya tidak terlihat bersama selingkuhannya di luar.


“Beneran gak pernah pergi bertiga?” Fou masih gak percaya.


“Gak kakak… gak percaya ya?”


Ternyata hidup adiknya gak seindah hidup mereka dulu. Fou pikir si papa akan mencurahkan segenap perhatian pada keluarga barunya dan memanjakan anak lelakinya. Fou bisa membayangkan bagaimana mereka tidak bebas menikmati hidup terutama si Dianita.


“Kata papa, kami akan meninggalkan mamaku, kami akan tinggal selamanya dengan kakak… aku senang kak…” Nando mengatakan sambil melihat padanya, dan Fou memandang heran pada adiknya, ini bukan sesuatu yang sederhana, apa dia tidak terganggu?.


“Kamu gak sedih meninggalkan mamamu?” Fou memberi tatapan menyelidik.


“Emmh, gak terlalu…” Nando sedikit berubah ekspresinya.


“Kenapa begitu? Mamamu loh… Kakak sedih tuh ninggalin mama Silvia di rumah padahal cuma beberapa hari mama udah nyusul kita…” Fou coba menggali isi hati Nando, sedikit banyak dia mulai tahu siapa si selingkuhan papa, masa anak sendiri tidak keberatan meninggalkan dirinya.


“Mama gak asik, kerjanya marah melulu, pulang-pulang marahin aku, marahin mbak, marahin papa juga, cape katanya tapi semua orang jadi pelampiasan.” Nando menjawab sambil merogoh sebuah rubik dari ranselnya, memilih memainkan itu, dan Fou melihat kilau sedih di wajah Nando.


Pantas si Nando nyaman dengan mama Silvia, dia rindu mamanya tapi si mama gak memperlakukan dia dengan baik.


Oh… mungkin itu salah satu alasan papa kembali?


.


.