My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 46. Papa dan Putrinya



Fou sedang sibuk mengurus kenaikan pangkatnya. Selain merupakan bentuk pengabdian dirinya sebagai tenaga pendidik, menjadi guru adalah suatu pekerjaan profesional jadi Fou juga menginginkan untuk meningkatkan karir profesinya ini. Sudah sejak tiga tahun yang lalu dia mengurus kenaikan pangkat yang pertama.


Untuk memenuhi angka kredit minimal dalam kenaikan pangkat ini, selain kinerjanya maka Fou harus menulis sebuah karya ilmiah untuk dipublikasikan. Itulah mengapa setiap kali pulang sekolah Fou hanya mengurung diri di kamarnya, berkutat dengan penulisan karya. Bahkan murid lesnya yang kebetulan sudah selesai sesuai waktu pembayaran belum dia layani perpanjangan les.


Tapi mama Silvia melihat dari sudut pandang yang lain…


“Emil… kamu gak perhatiin Foura?” Si mama Silvia memutar tubuh berbaring menghadap suaminya.


“Kenapa? Ada apa dengan Nonie?” Suami melakukan hal yang sama sehingga mereka berdua saling hadap-hadapan di tempat tidur mereka. Satu tangan suami mulai membelai kepala istri dengan sayang. Si papa Emil benar-benar membuktikan tentang cintanya hari-hari ini dengan perhatian yang diberikan pada istri.


Mama Silvia mengeluarkan napas gundahnya.


“Anet bilang, dokter Petra pindah gak ngekost di tempat mereka lagi… pantas dua bulan ini aku gak pernah liat dia lagi… dan memang Petra gak pernah datang lagi kan ke sini… apa mereka putus?”


“Kenapa kamu pikirkan itu, Yang?”


“Foura selalu seperti itu… aku sedih… kenapa setiap ada lelaki yang meminta untuk menikah dengannya, hubungan mereka berakhir. Petra serius loh waktu ngomong sama aku… dia ingin secepatnya menikah dengan Foura… malahan waktu itu dia katanya udah mulai mencari rumah tempat tinggal karena dia akan menetap di sini seterusnya…”


“Yang… gak baik kamu sedih, ingat kesehatanmu… kalau kamu banyak pikiran asam lambung kamu naik dan bisa membuat jantungmu kumat lagi… sini…” Si papa Emil segera membawa sang istri ke dalam pelukan lembutnya.


“Ada yang salah dengan anak kita, Mil… dia takut menikah…” Mama Silvia berkata dengan terisak.


Papa Emil mengeluarkan satu tarikan napas berat, “ini aku yang salah, Yang… Nonie seperti itu karena aku…”


Mama Silvia tidak menanggapi, ini masalah sensitif yang dia akan hindari bila suaminya menginggung hal itu. Kedua pasangan suami istri itu lalu terdiam hanya berpelukan saling membagi ketenangan dalam kegelisahan.


“Tidur aja ya… kita gak boleh berpikiran buruk, nanti gak bisa tidur nyenyak… yakin aja ada jalan yang terbaik buat Nonie.” Si papa memberi satu ciuman selamat tidur lalu mulai mengusap punggung sang istri.


Setelah mama Silvia tertidur, si papa keluar kamar lalu menuju kamar putri tertuanya, dari sedikit celah di bawah pintu dia bisa melihat sedikit cahaya keluar, pertanda yang punya kamar belum tertidur. Si papa mengetuk pintu.


Pintu terbuka, tampang kusut anaknya menyembul di sana.


“Papa?” singkat Fou tapi penuh tanya, tumben papa melakukan ini.


Si papa melangkah masuk hingga Fou terpaksa bergeser membiarkan lalu menutup pintu di balik badannya. Papanya memperhatikan lantai yang penuh dengan kertas dan buku serta jurnal pendidikan, juga memperhatikan Nando yang sudah terlelap di atas tempat tidur.


“Nando tidur di sini?” Si papa melangkah di bagian kosong di lantai.


“Sejak dua hari yang lalu, dia sedih karena mamanya menikah lagi dan dia tidak diberitahu.” Fou duduk di depan meja kerjanya lalu melanjutkan kegiatannya dengan laptopnya.


“Beri tahu adikmu, dia tidak perlu mengingat perempuan itu… adikmu paling mendengarkanmu…”


“Itu mamanya, gak ada anak yang bisa melupakan mamanya.” Fou menjawab sedikit kesal.


Papanya penyebab semua kekacauan dari awal, papa yang gak bisa menahan gelora nafsunya. Akhirnya dia dapat menjernihkan pikirannya ketika Petra memposisikan dirinya sama dengan Dianita, pria punya andil yang besar dalam sebuah perselingkuhan.


“Perempuan egois itu gak layak untuk diingat sebagai mamanya, sejak Nando lahir dia tidak terlalu peduli pada Nando.”


“Tetap saja pa, jangan memaksakan pikiran papa pada Nando, Dianita gak mungkin disangkali sebagai mama Nando.” Fou menjawab papanya dengan pandangan menusuk. Si papa mengalihkan pandangannya.


“Kamu sedang apa, Nonie?” Si papa Emil mengalihkan pembicaraan.


“Sedang membuat karya ilmiah…” Fou menjawab sambil memijit pelipisnya, dia pusing dengan hal ini.


“Kamu ikut lomba atau apa?”


“Ini untuk memenuhi angka kredit minimal…”


“Oh…” Papa mengangguk tanda paham, dia juga termasuk warga aparatur sipir negara. “Mau ke IIIc?” Papa bertanya sambil duduk di lantai.


“Iya…”


“Mamamu salah paham Non, mana pikir kamu mengurung diri di kamar karena hal lain.” Si papa seperti menjelaskan kenapa dia datang ke kamar anaknya.


“Salah paham?” Fou memutar tubuhnya menghadap sang papa.


“Mama pikir kamu mengurung diri ada hubungannya dengan Petra, lagian dia gak pernah lagi datang ke sini kan… jadi… mama berpikir kalian putus.” Papa mengatakan sambil membaca sehelai kertas yang diambil acak di lantai.


“Ah… pantas papa masuk ke kamarku, aku pikir soal apa… mama yang minta papa bicara denganku? Katakan pada mama untuk lebih memikirkan kesehatannya aja...”


“Mama gak meminta papa, tapi kamu sendiri tahu, seribu kali kamu mengatakan pada mama, gak akan membuat mama tenang, Nonie… kamu tahu apa yang paling mama risaukankan tentang dirimu, dan itu akan tetap seperti itu sebelum kamu ya… melakukan apa yang mama inginkan,” papa berkata kalem.


Rasa kantuk dan rasa lelah yang coba dilawan demi menyelesaikan tulisannya tiba-tiba menghilang. Fou memutar kursi argonomis yang dia duduki sehingga seluruh tubuhnya menghadap papanya.


“Aku gak akan menikah, pa… tolong papa kasih mama pengertian tentang hal ini…”


Papa Emil memandang anaknya dengan hati pilu yang kental dengan rasa bersalah, ternyata apa kata istrinya benar, perilaku tidak bertanggung jawab sebagai seorang suami dan papa di rumah ini membuat anaknya menjadi apatis dengan pernikahan.


“Maafkan papa, Non… papa menjadi teladan yang buruk untukmu,” suara sang papa begitu rendah sambil menatap putrinya dengan pandangan sayu.


Fou menatap heran papanya yang menjadi melankolis.


“Kenapa Non? Petra… kata mama serius denganmu…”


Fou baru ingat, dia belum memberitahu mama soal Petra, dia lupa tentang hal itu. Sebenarnya dia tidak harus menjelaskan pada mama atau papanya tentang hal itu, sebab jika tentang hubungan dengan pria tentu itu rana pribadi. Tapi Fou ingat, obsesi terbesar sang mama adalah melihat dia menikah dan semakin cepat semakin baik.


“Dia akan menikahi orang lain, dia sudah tunangan dengan orang lain saat dia datang padaku.” Fou berkata seperti hanya memberi informasi biasa. Dia telah menghapus Petra, termasuk gak ingin ada sakit hati atau rasa marah yang tertinggal, dia tidak terpengaruh dengan itu.


“Petra?” papa sedikit membelalakkan mata. “Maksudmu dia…”


“Maksudku jelas pa, dia telah punya calon istri dan dia menjadikanku orang ketiga, ini yang paling aku benci.” Kali ini suara kesal Fou sangat jelas.


Benar adanya, apa yang paling kamu benci acap kali justru diijinkan semesta mendatangimu, jadi jangan terlalu membenci sesuatu. Jangan pula terlalu menyukai sesuatu, karena ketika sesuatu itu pergi atau terlepas, hatimu akan paling menderita karenanya. Jadi dalam situasi tertentu rasanya perlu mental masa bodoh jangan terlalu terpengaruh oleh keadaan.


“Maafkan papa Non… semua karena papa.” Papa kembali mengucapkan kalimat ini dengan suara yang dalam. Dia tahu dia tidak dapat memperbaiki apa yang rusak di belakang sana, dia tidak dapat mengubah keadaan traumatis pada Fou, dia hanya harus melangkah dengan benar sekarang supaya anak-anak tidak mengalami hal yang lebih pahit. Ini seperti sedang melihat sendiri hasil perbuatannya di masa lalu.


“Udahlah… kenapa papa minta maaf lagi, aku udah memaafkan papa. Tapi… jika papa melakukannya lagi, silahkan pergi selamanya dari hidupku.” Dengan berani Fou mengucapkannya, entahlah apa dia sedang mengancam papanya tapi kalimat ini sudah lama disimpannya untuk sang papa.


Papa Emil melihat tatapan menusuk anaknya, hatinya sedikit sakit walaupun dia senang telah mendengarkan penerimaan kembali anak tertuanya, tapi dia juga tahu bahwa gadisnya punya ketakutan di balik ucapannya.


“Papa janji Non, papa gak akan melakukannya lagi."


Fou memandang papanya, semoga janji ini ditepati.


"Papa sangat menyesali kelakukan papa berdampak padamu, tapi papa mohon… jangan takut untuk menikah, jangan trauma karena papa menyakiti kalian… papa berdoa ada pria baik yang datang dalam hidupmu…” lanjut papa Emil.


“Pa, apa tujuan akhir selalu adalah tentang menikah? Apa yang salah dengan hidup sendiri? Aku gak ingin memikirkan pernikahan sekarang, aku mulai merasa bahwa garis hidupku seperti ini, dan aku pikir aku akan bahagia saja tanpa harus menikah. Papa tolong membuat mama mengerti dan jangan mendesakku tentang hal ini.” Fou menyanggah papanya.


Fou memang mengakui adanya cinta, bahkan dia masih punya cinta untuk seseorang, tapi hidup seperti menjauhkannya dari cinta. Mungkin keputusannya menentang kelaziman, tapi rasanya di luar sana banyak orang yang memutuskan untuk sendiri saja, dan pengalaman terakhir dengan Jerol dan Petra kembali membawa dia pada kesendirian, jadi hanya pilihan untuk melajang yang ada di benaknya sekarang. Apapun alasan efek traumatis mungkin memang digariskan untuk menggiringnya tetap sendiri.


“Nonie… papa gak akan mendesakmu, papa juga akan coba membuat mama mengerti. Tapi papa hanya ingin membagi satu hal… sendiri dan bahagia itu baik, tapi akan lebih baik jika ada dua kebahagiaan yang disatukan, lebih sempurna jika kita merasakan kebahagiaan karena orang lain yaitu pasangan kita yang memberikan itu pada kita..."


Sang papa meneruskan saat melihat perhatian Fou terhadap perkataannya...


"Orang berpikir kalau sendiri hanya memikirkan masalah diri sendiri, tapi kehidupan menjadi lebih indah ketika ada dua orang saling menguatkan dalam menghadapi setiap masalah yang datang. Dan yang paling penting ketika kamu sendirian, kamu akan merasakan kesepian… papa pernah mengalami ini selama bertahun-tahun, kesepian sangat tidak mengenakkan, kesepian bisa membunuh diri kita.”


Fou coba mencerna kalimat panjang papanya, dia paham tapi sekaligus penasaran tentang kesepian papanya.


“Kapan papa pernah kesepian?”


Si papa tersenyum kecil, tidak menyangka bisa bercakap seperti ini dengan putri kesayangannya. Sejujurnya dia masih meraba-raba sikap putrinya, ada rasa takut bahwa putrinya hanya bersikap baik karena tidak ingin melawan sang mama. Ini seperti percakapan dari hati ke hati, si papa bahagia bisa merasakan ini lagi. Maka dia memilih untuk lebih lama bercakap dengan anaknya.


“Saat papa meninggalkan kalian… di situ papa mulai merasakan kesepian…”


“Hahh… papa punya Dianita, jangan bohong!” Fou menyambar dengan ekspresi sedikit sinis.


“Papa jujur Non… dengan Dianita hanyalah… eh hanya sebuah daya tarik seksual, tidak lebih.” Suara papa terdengar canggung mengatakan alasan dia berselingkuh pada putrinya sendiri, tapi dia memilih meneruskan…


“Alasan papa bersama Dianita hanyalah ya… kamu tahu… ada kesempatan, ada wanita yang datang, papa tahu dia memang sengaja menggoda hanya karena dia ingin segera diusulkan, dia honorer baru, dan papa salah karena papa menyambut Dianita. Papa juga ada uang… sehingga papa tergoda, mungkin ya… papa harus akui ada variasi yang berbeda dengan mama…” Si papa tertunduk malu, tapi itu kenyataan yang sebenarnya.


Fou hanya diam sekarang, jujur dia penasaran alasan papa selingkuh, dia ingin mendengarkan kali ini.


“Sebenarnya… saat kamu datang dan mengamuk pada Dianita, saat itu papa sudah menyesali perbuatan papa, saat itu papa semakin merasa kesepian karena kamu mengancam akan melaporkan papa ke kantor dan tidak mau berhubungan lagi dengan papa. Di satu sisi papa mulai merasa bahwa Dianita bukan wanita yang bisa hidup bersama papa, terutama umurnya berbeda jauh dengan papa dan papa telah terbiasa dengan mama yang melayani papa, sekarang papa harus melayani seorang istri yang penuh tuntutan…”


“Istri papa hanya mama, Dianita hanya selingkuhan bukan istri.” Fou berkata kesal, protes papanya menempatkan Dianita sejajar dengan mamanya.


“Iya… maaf Nonie…” Papa tertunduk lagi.


“Terus… kenapa kalau kesepian papa terus bersama Dianita? Kenapa papa gak meninggalkan Dianita? Papa tahu, waktu itu walau aku marah dan kecewa tapi aku berharap papa pulang sebenarnya… tapi papa gak pernah datang lagi…”


“Non?? Ahh… kalau papa tahu sikapmu… perkataanmu waktu itu yang sangat malu dan jijik punya papa seperti papa membuat papa menahan kerinduan papa untuk kembali. Tiga belas tahun papa kesepian Non, tanpa kalian itu sebuah kesepian yang panjang, terutama kamu Non, kamu cinta papa setelah mama, hati papa sakit karena kamu terus-menerus menolak papa.”


Saat mengatakan itu setetes airmata muncul di ujung mata sang papa. Fou sadar ini isi hati papa yang sesungguhnya, perkataan papa barusan seperti sebuah salep yang segera menghilangkan bekas luka di bagian hatinya. Tapi…


“Papa punya Nando, aku marah karena papa bahagia dengan keluarga baru papa sementara kami sakit dan menderita…” Fou mengatakan satu hal lagi yang menjadi ganjalan di hati soal papa.


“Papa harus jujur, papa bahagia punya Nando, hanya itu satu-satunya yang berharga dari apa yang papa lakukan. Papa sadar memiliki anak laki-laki seperti mewujudkan obsesi papa, tapi itu tidak serta-merta membenarkan perselingkuhan papa, Makanya sejak awal papa selalu berkata pada Dianita bahwa papa akan kembali pada mama, papa memberi dia modal untuk berbisnis sebagai tanggung jawab papa padanya, papa memasukkan Nando dalam daftar kartu keluarga kita, sehingga Nando gak ada sangkut-pautnya dengan Dianita.”


“Dianita tidak menuntut papa?”


“Sejak awal papa sudah menekankan padanya, dia sendiri yang datang dengan rela pada papa, ingin hidup bersama papa, dan konsekuensinya harus dia terima. Papa sering mengatakan tidak ada rencana membangun rumah tangga dengannya, bahkan saat Nando berumur lima tahun, papa sudah meminta dia pergi… silahkan dia menikah dengan selingkuhannya, papa tidak akan mengambil tokonya, itu untuknya… dia tidak mau.”


“Hah?? Jadi… jadi Dianita juga selingkuhin papa… dan itu papa tahu? Pantas kalian terus bertengkar kata Nando…”


Si papa Emil merasa gak perlu menjawab pertanyaan anaknya. Dan apa yang dia rasakan sekarang ada kesejukan, selama bercakap dia tidak melihat setitikpun kemarahan pada ekspresi putrinya. Melegakan bisa membicarakan dengan tenang aibnya sendiri dengan putrinya yang paling merasakan dampak perselingkuhannya.


“Makasih udah memaafkan papa Non…”


Si papa merentangkan tangan, tidak ada kebahagiaan seperti ini, mengungkapkan kasih sayang yang mendalam tanpa kata-kata tapi dengan tindakan. Fou gak mungkin lupa bahasa tubuh papanya, sampai sebelum kejadian papa ketahuan selingkuh dialah yang gak akan segan memeluk papanya. Fou turun dan datang pada papanya yang siap mencurahkan kasih-sayang untuknya.


“Kamu kesayangan papa Non…”


Nonie hanya membalas melingkarkan dua tangannya memeluk papanya.


“Kata papa, aku yang jadi kesayangan papa…” Nando menginterupsi moment bahagia papa dan putrinya.


“Astaga Nando? Kamu nguping dari tadi?” Fou melepaskan diri sambil menoleh pada adiknya yang sudah duduk bersila di tempat tidur.


“Aku gak sengaja nguping, aku belum tertidur…”


Papa hanya tersenyum lalu berdiri untuk keluar dari kamar.


“Tidur di kamarmu sendiri,” kata si papa sambil berjalan.


“Aku pengen dipeluk kayak tadi, aku juga sedang sedih, pa…”


“Diih… cengeng.” Fou mencibir tapi tetap aja tangannya mengacak rambut adik kesayangannya.


Inilah fakta kehidupan, senyum dan sedih, bahagia dan sakit hati adalah elemen-elemen yang selalu ada dan hadir, diminta atau tidak.


.


Hi... Aku datang lagi, semoga bisa menghibur yg masih penasaran dengan Fou...


.