My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 23. Gak Terima Kata Putus



Fou baru akan meninggalkan rumahnya ketika dokter Petra masuk ke halaman. Fou hanya memandang sepintas pada dokter yang sedang tersenyum padanya tak ada niat menikmati atau membalas senyum itu, pandangannya beralih untuk memastikan bawaannya yaitu tas laptopnya dan tas kerja tersampir di bahunya, serta tas berisi tumbler besar untuk kebutuhan minum sepanjang hari sudah tergantung di tempat biasa di motornya. Fou mulai menjalankan motornya.


“Ra…” pak dokter mencoba menahan motor Fou dengan dua tangannya.


Fou menatap dengan wajah serius… “maaf pak dokter, aku harus berangkat…” Fou pun kembali menjalankan motornya.


Tubuh si pak dokter bergerak bersama motor itu masih berusaha menahan Fou…


“Ra… hanya lima menit, aku ingin mengatakan sesuatu…”


Fou akhirnya melepaskan handle gas lalu menurunkan dua kakinya untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.


“Oke… 2 menit, aku gak mau terlambat.” Fou mengunci netra hitam Petra dengan tatapan seriusnya, dua tangannya masih memegang stir motornya.


“Beberapa kali aku mencari ke sini, kamu gak mau menemuiku…” Petra berkata lembut, dia ingin sekali menyentuh Fou tapi tatapan tajam Fou membuat dia membatalkan niatnya.


“Iya… lalu?” Fou tidak membantah.


Dia memang sengaja tidak menemui Petra, menurutnya cara Petra mengabaikannya menunjukkan gak ada niat sama sekali menjalin sebuah hubungan. Alasan Petra yang jarang memegang hp terlalu dibuat-buat, dan dia gak ingin kompromi, baru mulai udah kayak itu kelakuannya, gimana nanti.


“Ra… kamu marah karena aku gak menjawab chatmu? Bukannya udah pernah aku bilang sebelumnya kalau aku jarang banget menggunakan hpku… aku udah minta kamu mengerti hal ini, Ra…”


“Iya aku tahu, karena itu… aku ingin mengatakan… kita tidak cocok bersama, … ternyata aku bukan cewek yang bisa menerima pacarku gak ada kabar berhari-hari, pacar yang gak mengacuhkan semua pesanku, itu pertanda aku bukan siapa-siapa bagimu. Kamu punya waktu istirahat pak dokter, kamu bisa paling tidak membaca chatku di waktu istirahatmu. Jadi, sebelum perasaan kita lebih jauh sebaiknya kita akhiri sampai di sini aja. Permisi pak dokter…” Fou berkata panjang lebar.


Dia sudah memikirkan keputusannya beberapa waktu ini, dan kebeneran pagi ini bertemu si pak dokter, akhiri sajalah dari pada bikin pusing, toch hanya sebuah rasa suka, gak masalah untuknya. Bahkan dua mantan sebelumnya lebih dari ini perasaannya dan dia baik-baik saja setelah putus. Fou kemudian melesatkan motornya, dan dokter Petra gak sempat lagi menahannya.


Petra kaget mendengar perkataan Fou. Baru sekarang ada seorang cewek yang memutuskan hubungan dengannya, yang ada selama ini adalah cewek yang mengejar-ngejar dirinya, dan hampir tidak pernah mengeluh saat Petra tidak ada kabar. Petra tidak terima keputusan Fou, ini belum sebulan jalan bersama. Ini gila, belum pernah ada hubungan yang sesingkat ini sebelumnya. Dengan cepat Petra mengejar Fou.


Ternyata Fou masih mampir setelah beberapa meter keluar dari pagar, padahal tadi dia mengatakan tidak ingin terlambat. Petra menjadi sebal dan geram, hawa panas mulai berkumpul di wajahnya. Fou berhenti di samping Jerol yang sedang menggendong bayinya, Fou tertawa-tawa bermain dengan si bayi.


"Hi Sisie... Pagi-pagi udah mau jalan-jalan? Masih bau loh... kayak papanya..." Fou memegang jemari Elsie, berkata dengan mimik lucu.


"Hahaha... kamu tahu kebiasaanku selalu mandi pagi-pagi, Ra... masa bau?" Jerol hepi pagi-bagi bisa ngobrol sesantai ini dengan Fou.


"Kapan aku tahu? Sisie ikut onti mau?" Fou mengerling pada Jerol dan sedikit tersenyum karena melihat muka ganteng Jerol yang tertawa.


"Sisie tambah endut ya?" Fou menoel pipi bayi Elsie.


Hati Petra bergemuruh dengan rasa marah karena diputuskan cewek itu dan melihat reaksi Fou yang sepertinya bahwa putus dengan Petra bukan sesuatu yang besar untuknya. Petra mendekat, dia tidak ingin menunda untuk meminta Fou menganulir keputusannya sesaat tadi.


“Ra?” Petra sudah berdiri dekat dengan tiga orang yang begitu akrab seperti seorang suami dan bayi yang mengantar kesayangan mereka berangkat bekerja, Petra menahan dirinya supaya tidak menunjukkan marahnya di depan Jerol, ini bisa membuat poinnya jatuh dan Jerol akan mendapatkan keuntungan. Dia juga tidak bisa menunjukkan pada Foura karena dia tidak ingin putus begitu saja.


Melihat Petra datang, Foura segera meninggalkan dua pria itu tanpa mengatakan apapun lagi. Petra ikut bergerak berlari mengejar motor Fou, dan sial untuk Fou dia harus berhenti karena ada mobil om Pala sedang mundur keluar dari garasi. Kesempatan itulah yang digunakan Petra untuk duduk membonceng. Merasakan gerakan di motornya Fou berbalik, matanya terbelalak melihat si dokter sudah duduk menempel padanya. Fou memajukan tubuhnya ke arah stir.


“Ehh?? Ngapain di motorku? Turun pak dokter!”


“Gak, Ra… kita harus bicara…” Pak dokter menjaga intonasi suaranya, dia ingin memenangkan situasi ini, Fou harus membatalkan keputusannya.


“Oke, dua menit… tarik kembali perkataanmu yang tadi, aku gak terima itu Ra…”


“Gak, aku gak suka dengan hubungan seperti itu, turun pak dokter,” Fou berkata galak, dia bukan tipe cewek yang akan mengalah.


Fou mulai memandang sekeliling. Mobil pak pala sudah berangkat, gak ada lagi yang menghalangi jalan, tapi dia tidak mungkin pergi ke sekolah sementara dokter Petra masih duduk di boncengan. Dan yang membuat Fou mulai gak nyaman, beberapa ibu ‘Perkumpulan Poskamling’ mulai keluar dari rumah masing-masing, secara ada pemandangan yang bisa membuat ramai 'diskusi' mereka nanti.


“Aku gak akan turun Ra, sampai kamu menarik lagi keputusanmu…” Dokter Petra masih bersikukuh.


Fou semakin kesal, ternyata cowok ini berbeda, jika itu Jerol dia pasti akan segera menyerah, gak ingin berdebat lagi dengan Fou.


“Terakhir pak dokter, turun dari motorku.” Suara Fou penuh tekanan saat dia memutar kepala dan memberikan tatapan tajam pada dokter Petra.


“Gak, Ra… aku gak terima kita putus, kita baru jadian… aku janji Ra… aku gak akan kayak kemaren… aku akan balas semua chat kamu, ok?”


Petra memberanikan diri memegang dua lengan Fou dari belakang. Fou udah gak bisa menunggu, selain dia udah harus berangkat, matanya menangkap ibu-ibu pada berbisik, pasti udah arisan gibah pagi-pagi.


“Oke oke… tapi turun sekarang Petra…” Suara Fou akhirnya melembut.


“Gitu dong…” Petra pikir dia berhasil meluluhkan hati Fou, maka dia turun dari motor Fou.


Fou segera memutar gas dan menjauh beberapa meter lalu berhenti dan berbalik memandang Petra, dia mendapati senyum sang dokter dan dengan tegas Fou berkata…


“Apa yang udah aku ucapkan sebelum ini bahwa kita putus, itu gak berubah pak dokter… kita gak pacaran lagi sekarang, aku gak pernah membatalkan apa yang aku putuskan.”


Dan Fou kemudian melesat pergi meninggal Petra yang kembali ternganga.


Sial, aku pikir… aku gak akan menyerah Foura, kita lihat nanti… kamu pasti bisa aku tahlukkan lagi.


Jemari dua tangan Petra mengepal.


Tidak terlalu jauh di belakang Petra Jerol tersenyum. Dia hafal sikap Fou, dia berkali-kali diputusin, tapi dengan tatapan Fou seperti tadi Fou gak akan kembali pada Petra lagi, dia yakin itu. Ini berarti dia punya kesempatan untuk maju.


“Sisie… papa akan memanggilmu seperti onti, kita akan mendapatkan onti untuk jadi mamamu dan jadi istri papa, onti Fou itu milik kita berdua…” Jerol berbisik pada bayinya, si bayi seperti paham memandang papanya lalu menepuk-nepuk dada sang papa seolah memberi dorongan. Jerol tertawa, Elsie juga tertawa.


Jerol berbalik arah dan segera masuk ke dalam rumah saat dia melihat Petra masih menatap Fou hingga menghilang di ujung lorong. Jerol gak bisa menutupi rasa gembira, dia tadi mendengar perkataan Foura. Saatnya untuk mendekati Fou, tapi tentu saja dengan cara yang kalem aja, dia gak boleh ketahuan sama Petra bahwa dia punya rencana selanjutnya, dia gak ingin membangkitkan perasaan bersaing di hati dokter itu.


.


Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin.


Lagi liburan, termasuk libur menghalu, hehehe...


.