
Fou minta ijin gak masuk sekolah karena mama harus dirawat, murid lesnya pun dia liburkan. Dia gak bisa berkonsentrasi melakukan tugasnya karena bayangan dan ketakutan kehilangan sang mama begitu menguasai pikiran dan hatinya.
Mama Silvia masih di ruang perawatan intensif, sudah sadar tapi kondisi belum baik dan mungkin karena obat jadi lebih banyak tertidur, mama masih harus menggunakan oksigen dan entah alat apa lagi. Fou menunggu satu kali dua puluh empat jam walau lebih sering berada di luar ruangan, Fou hanya bisa melihat mamanya dari jendela kaca besar, jika mamanya gelisah baru dia bisa masuk. Memang hanya diijinkan satu orang keluarga saja menunggui di luar ruangan intensif itu.
Jerol juga datang ke sini, tetapi peraturan ketat gak membolehkan pasien menerima pengunjung membuat Fou tidak bertemu Jerol, hanya mendapatkan chat dari Jerol yang menghiburnya. Fou yang resah karena mamanya juga menjadi resah dengan adanya perhatian dari dua pria.
Yang punya akses leluasa masuk adalah dokter Petra, dia setiap ada kesempatan selalu datang dan menemani Fou. Fou tidak berpikir apapun tentang mereka berdua, pada kenyataannya walau hatinya gak merasakan getaran apapun dengan semua perhatian Petra, mereka berdua justru memiliki hubungan khusus.
Fou terbangun, dia tertidur di kursi di luar kamar perawatan. Sedikit kaget karena dia tertidur di bahu seseorang, rupanya Petra, entah sudah berapa lama Petra duduk di sampingnya dan menjadikan tubuhnya tempat Fou bersandar.
“Ra… udah bangun? Cape ya?”
Fou tidak menjawab. Selama tiga hari di sini Fou hanya bisa tidur satu atau dua jam. Kali ini entah berapa lama dia tertidur, dan Fou baru sadar di lehernya ada bantal bulat. Fou melepaskannya.
“Itu milikku, kamu pakai aja, aku masih punya satu lagi di mobil.”
“Makasih…” Fou menjawab pelan. Sejujurnya dia merasa tidurnya lebih nyaman kali ini dan mungkin lebih lama. Dan Fou akhirnya menjadi lebih membuka hati, setelah beberapa hari ini melihat semua yang dilakukan Petra sehubungan dengan perawatan mamanya, juga kepeduliaannya pada Fou.
“Makan yuk, aku bawa makanan… kita makan di ruangan dokter jaga, ayo… aku udah minta ijin.” Petra meraih tangan Fou dan membawa Fou ke tempat yang dia maksud. Lelah secara fisik dan lelah juga secara mental membuat Fou menuruti saja tanpa membantah.
Mereka makan berdua, Fou melihat jam di tangannya, sudah jauh melewati jam makan siang.
“Pak dokter baru mau makan sekarang?” Sebuah pertanyaan terlontar dari Fou melihat Petra yang begitu lahap menikmati menu makan siangnya.
“Iya… nungguin kamu, pas nyampe tadi kamu sedang tidur,” Petra menjawab di sela kunyahannya.
Berbeda dengan Fou yang gak bisa menikmati makannya. Dia hanya makan beberapa suap, sesudah itu Fou merapikan lagi bungkusan makanan dari sebuah resto terkenal itu.
“Harus makan yang banyak, Ra… kamu butuh stamina, gak tahu sampai kapan tante harus dirawat… entar kamu sakit juga loh…”
Fou menatap tanpa semangat kemasan kotak yang sudah dia tutup.
“Itu ada sushi juga, apa mau makan yang itu aja?” Petra membuka kemasan yang berisi barisan sushi lalu mengambil satu dengan sumpit yang tersedia.
“Ra… buka mulut…” Petra membawa sushi itu di depan mulut Fou.
“Gak… pak dokter, udah kenyang…” Fou menolak.
“Kamu makannya dikit banget loh, mana cukup buat tubuhmu? Ayo… Ra…” Petra masih menahan sushi itu di depan bibir Fou. Akhirnya beberapa suapan disuapkan oleh Petra.
“Cukup pak dokter, bener kok udah kenyang.”
Fou menjauhkan tubuhnya. Petra senyum lalu mulai makan lagi. Mereka duduk berdampingan, sesekali tangan pak dokter Petra mengusap kepala Fou. Memang Fou pelit omongan sejak mereka balikan, tapi gak menjauh atau menghindari dirinya lagi.
Tak lama sesudah makan, Fou melihat di kaca tubuh mama Silvia seperti bergerak, Fou segera masuk dan Petra mengikuti.
“Mama… mama butuh apa?” Fou berkata hati-hati sambil mengusap lengan mama.
Mama Silvia walau tubuh itu terggolek gak berdaya sekarang, dia mengangkat tangannya sebentar dan menggerakkan seperti memberi isyarat tidak butuh apa-apa. Tapi mama kemudian meraih tangan Petra lama menahan tangan Petra. Lalu dengan gerakan lemah mama menatap mereka berdua berganti-ganti. Fou memperhatikan itu.
Fou kemudian mengusap-ngusap tangan sampai lengan mamanya dengan hati-hati, hingga mama jatuh tertidur lagi. Fou harus keluar lagi.
“Pak dokter, kondisi mama bagaimana?” Fou bertanya untuk kesekian kalinya setiap Petra datang. Pak dokter tahu lebih banyak mengenai kondisi mamanya. Mereka sudah duduk lagi di lorong tempat kelaurga pasien dapat melihat pasiennya.
“Perkembangannya sejauh ini semakin baik, Ra... yang masih dipantau irama jantung dan tensinya, semoga semakin stabil… jangan khawatir ya… jika sudah semakin baik besok sudah bisa dipindah ke kamar perawatan,” Petra berkata sambil membagi senyum, mereka beradu pandang sebentar dan Fou menjadi sedikit tenang.
Fou hanya bisa berharap yang terbaik, dia tahu setelah ini mama kesehatan mama semakin beresiko bahkan bisa saja tiba-tiba mama pergi meninggalkan dirinya. Hati Fou sakit mengingat kenyataan ini. Dan Fou mengingat tatapan mata mama tadi pada mereka berdua. Fou merasa mama memintanya untuk menikah dengan Petra, bukankah itu yang selalu diungkapkan mama?
Apa dia harus mengabulkan itu saja mengingat kesehatan mama? Walau hatinya sekarang lebih condong pada Jerol, tapi jika dia memilih Jerol mungkin akibatnya fatal untuk mama. Kedatangan Dianita saja membuat mama separah ini kambuhnya, padahal papa sudah di rumah dan sangat serius dengan keputusannya meninggalkan Dianita, padahal papa begitu sayang pada mama sekarang.
Apa dia harus mulai buka hati saja? Bukankah status mereka berdua adalah sepasang kekasih? Bukankah dia juga pernah tertarik pada sosok yang sedang duduk diam di sampingnya ini? Sejak balikan baru sekarang setelah mama masuk rumah sakit baru Fou mau menanggapi Petra dengan lebih baik.
“Belum pak dokter, baru selesai makan kan…” Fou menjawab sambil melepaskan bantal berwarna biru itu, kemudian mendekapnya saja.
“Hehe… kamu terlihat cape banget, sih…” Tangan Petra kemudian naik ke kepala Fou, memperbaiki geraian rambut Fou. Fou risih, rambutnya memang gak bersentuhan dengan sisir beberapa hari ini, bahkan mungkin udah butuh keramas.
“Hadap ke kanan Ra… aku pijit kepala dan punggungmu… biar ototnya jadi lebih rileks,” Petra berkata sambil mengarahkan bahu Fou sehingga membelakangi dirinya.
“Ehh… pak dokter, gak usah,” Fou protes tapi gak bisa berbalik karena Petra sudah mulai memijat punggungnya. Dan ternyata pijatan itu enak, otot-otot yang mengencang seperti mengendur karena sentuhan Petra. Terlebih setelah tangan Petra memijat kepalanya, sudah seperti sedang creambath aja. Tapi Fou menikmati perlakuan Petra kali ini.
Beberapa menit Fou akhirnya meminta Petra berhenti, Petra mengikuti. Fou duduk normal lagi bersandar di kursi stainlessteel hitam silver itu.
“Kamu gak dinas pak Dokter,” Fou memecah kebisuan yang kembali datang.
“Nanti, aku dinas malam…” Petra menjawab dalam senyumnya.
Dalam hati Petra merasakan hal yang indah, Fou semakin leluasa bersikap padanya, gak pelit omongan sekarang, sudah mau bertanya. Hanya, Fou masih memperjelas jarak dengan menyebut dirinya pak dokter. Gak masalah yang penting dia dijinkan mendekat bahkan melakukan sesuatu untuk Fou.
“Kamu gak pulang rumah? Gak ada yang mengganti kamu menjaga tante?”
“Aku gak mau ninggalin mama. Papa udah minta mengganti jagain mama, tapi aku pengen ada di samping mama sekarang ini… mungkin kalau mama udah di kamar aku akan pulang.”
Ahh… kalimat Fou sangat panjang kali ini dan terdengar merdu di telinganya, Petra memang lekat Fou dari samping, hatinya berdetak riang berada di sisi Fou. Tangannya terulur merangkul bahu Gou, ingin membuat Gou nyaman. Fou gak menolak tapi gak ada gesture menyukai rangkulannya, gadis ini terlalu berbeda...
.
🧊
.
Akhirnya mama kembali ke rumah, betapa melegahkan. Dan sore ini Fou belanja beberapa keperluan rumah di supermaket. Tak disangka bertemu tante Anet dan Elsie serta suster.
“Hei Sisie… wah… jalan-jalan ya…”
Fou segera mendekati waktu mengenali rombongan kecil itu. Fou bermain-main sejenak dengan Elsie.
“Gimana mamamu, Fou?” Tante Anet bertanya kemudian.
“Semakin baik tante…” Fou menjawab sambil terus bermain dengan Elsie.
“Tante dengar udah pasang ring ya?”
“Iya tante… begitulah…” Fou tersenyum getir, kesehatan mama adalah prioritas utamanya sekarang.
“Oh iya… tante udah lama ingin bicara… kita duduk sebentar di sana Fou…” Tante Anet menarik lembut lengan Fou ke area yang ada kursi panjang.
Fou sedikit berdebar, ini apa mau mengajak bergosip atau apa?
“Foura… maaf ya kalau tante langsung aja… ini soal Jerol.”
Deggg… hati Fou bertambah tabuhannya, dia menduga sesuatu tentang Jerol itu berhubungan dengan dirinya.
“Tante pernah bilang ya… bahwa tante menginginkan Jerol dan Fou berjodoh. Tapi ternyata tidak, tante sedih tapi harus menerima jodoh Jerol itu orang lain…”
Tante Anet berhenti sejenak.
“Fou… jangan dengarkan Jerol ya… dia gak bisa menikahi kamu Fou, om Herry sangat menentang dia untuk bercerai. Mungkin… mungkin Jerol tidak akan mendengarkan papanya, dia semakin nekad untuk menikahimu kelak Fou… makanya tante minta Fou jangan meladeni ya… Fou udah punya pacar juga… tante takut om Herry dan Jerol bertengkar jika Jerol tetap memaksa… tante takut karena sakit om Herry kayak sakit mamamu…”
Ohh… entah kenapa dia merasakan sakit di hatinya, seperti ada yang patah sekarang, dia gak mengerti, apa karena di dalam hatinya ada asa yang tumbuh tentang Jerol?
.