
Hari sabtu, Fou sedang merapihkan area belakang ketika dokter Petra datang. Fou tidak mengacuhkan kehadiran sang dokter, dan si dokter sepertinya sudah menduga hal ini justru tidak mengajaknya berbicara tapi menawarkan memeriksa kesahatan mama, mulai dari mengukur tekanan darah, memeriksa kadar gula dengan alat yang dibawa si dokter, dan entah apa lagi. Setelahnya si dokter hanya mengobrol dengan mama, lama.
“Hai…” tiba-tiba dokter Petra muncul di dekat Fou.
Fou hanya menatap sejenak lalu meneruskan merapihkan semua kantong kresek bekas belanjaan, kadangkala itu diperlukan untuk membuang sampah, dan Nando pernah mengajarkan untuk melipatnya menjadi segita kecil sehingga tidak makan tempat. Fou sedang duduk di lantai, dokter Petra ikut duduk di depan Fou dan mulai mengikuti apa yang dilakukan Fou. Fou memperhatikan sejenak...
Dia hanya berpakaian sangat santai, dengan celana pendek yang terlalu pendek, sisi hati Fou berbicara.
Selama beberapa menit tak ada percakapan, saat selesai merapihkan kantong kresek, Fou beranjak untuk mengerjakan yang lain, dan si dokter turut membantu jika melihat Fou butuh, tapi tidak berusaha untuk menjalin percakapan.
“Fou… mama mau ke rumah bu Pala, diajak makan tinutuan…” Mama datang pamitan, sudah rapih dan tentu saja cantik. Walau mukanya masih terlihat murung dan kurang semangat.
“Iya…” Fou menjawab pendek karena mama masih memandang dirinya, seperti ada yang masih ingin disampaikan.
“Kalian makan aja ya… mbak udah selesai masak. Petra… makan di sini aja ya?” Si mama mengucapkan itu sambil memandangi anaknya. Fou mengerti, mama pasti meminta dirinya untuk menemani Petra.
“Iya tante… terima kasih sebelumnya…” Petra menjawab sopan.
Petra masih membantu Fou merapihkan bagian belakang, sudah banyak tumpukan dus dan barang tak terpakai, Fou ingin merapihkan area ini sekalipun jadi area laundry tapi dia ingin membuat tempat ini lebih tertata, sudah punya rencana membuat taman kering di sini.
“Ra… ambil waktu ajak mamamu general check up… atau paling tidak periksakan diri ke dokter…” Dokter Petra berkata setelah bayangan mamanya Fou menghilang, Fou hanya mendengarkan saja.
“Ada banyak keluhan, Ra… tekanan darah tante agak tinggi dan tante belum minum obat rutin kan…” Suara Petra terdengar serius memancing respon Fou.
Sekarang Fou memandang si dokter, menghentikan pekerjaannya. Dia memang memperhatikan mama belakangan, dia pikir hanya murung dan gak bersemangat akibat perisitiwa terakhir dengan papa. Pantas mama sekarang menggunakan ART dua sekaligus, sehingga Fou tidak lagi mengerjakan semua pekerjaan rutinnya setiap sabtu.
“Aku sih baru menduga, ada gangguan di jantung, karena keluhan mamamu mengarah ke sana, tapi untuk diagnosa akurat harus periksa ke ahli… keluhan mamamu gak boleh dibiarkan… jangan menunggu udah sakit baru ke rumah sakit," tegas Petra. Kini mereka saling tatap, suara dan pandangan Petra membuat Fou sadar kapasitas Petra.
“Mama gak pernah mengeluh sakit… mama selalu sehat selama ini…” Fou berkata pelan seperti pada dirinya sendiri.
“Banyak hal bisa menjadi penyebab kondisi kesehatan tiba-tiba menurun, Ra… termasuk pikiran, tubuh berhubungan erat dengan pikiran… jika ada tekanan dalam bathin itu mempengaruhi kesehatan… aku melihat mamamu… mungkin ada yang sedang dipikirkan." Petra menanggapi lugas.
Tak usah dijelaskan lagi, dia menyadari pembawaan mamanya berubah belakangan ini, lebih banyak tiduran di kamar, bahkan sinetron kesayangannyapun ditinggalkan.
“Aku harus bawa mama periksa ke mana?”
“Langsung ke dokter jantung aja, Ra… mamamu mengeluhkan dada kirinya sakit dan tembus ke bagian belakang, itu salah satu tanda awal ada gangguan di jantung. Mamamu sering mengeluh sakit maag belakangan kan?”
“Mama gak pernah bilang apa-apa…” Fou sedih, mama seperti menyimpan sendiri keluhannya, tidak mau berbagi dengannya.
“Banyak orang tua seperti itu Ra, udah sakit tapi gak kasih tahu anak-anak… ketika udah semakin berat terkena serangan baru mencari dokter.”
“Apa sekarang aja bawa mama ke dokter?” Fou berkata sambil berjalan keluar. Kecemasan tentang mama segera menguasainya.
“Mau ke mana Ra?” Dokter Petra mengejar Fou yang sudah berjalan ke luar.
“Mau jemput mama pulang, mau ke dokter… bukannya tadi kamu suruh aku bawa mama ke dokter?” Fou menjawab, wajahnya menegang.
“Ra… jangan panik, begitu. Harus dibicarakan dengan baik sama mamamu dulu. Tadi aku udah nyaranin ke tante untuk pergi ke dokter… tapi beliau bilang dia gak apa-apa hanya sedang sedih aja katanya sehingga jadi loyo. Aku belum kasih tahu diagnosa awalku.” Petra berkata lembut, ingin sekali meraih bahu Fou saat melihat mimik Fou.
“Gak apa-apa gak ke dokter hari ini?” Fou masih cemas.
“Bukan gak papa, tapi pasiennya yang harus mau… dia menganggap dirinya sehat lalu kita paksa ke dokter dan langsung kasih tahu ada gangguan di jantungnya… itu malah bisa memicu penyakitnya jadi parah. Coba bicara baik-baik, siapa tahu mamamu mau sebentar malam ke dokter praktek…” Petra tetap menjaga pandangannya pada Fou.
Merasakan sorot teduh Petra membuat Fou duduk di teras rumah, walau ada rasa takut yang mulai menjalar di dadanya. Baru seminggu yang lalu tante Mira salah satu tetangga yang giat di “perkumpulan ibu-ibu poskamling’ meninggal dunia karena serangan jantung. Salah satu teman gurunya juga bulan kemarin mengalami serangan jantung, dan kondisi fisiknya segera berubah.
“Ra…” Dokter Petra duduk di samping Fou. Mendapatkan sebuah ‘jalan masuk’ untuk berinteraksi dengan Fou, membuat dokter menjadi lebih berani mendekat.
Fou melirik si dokter dan membiarkan posisi dekat mereka. Pikirannya lebih tertuju pada mamanya. Sang mama jarang membagi bebannya pada Fou, justru lebih sering curhat pada tetangga, ibu-ibu teman mama.
Fou juga sama, dia bukan tipe yang mengeluhkan semua keadaannya pada sang mama. Sejak perisitiwa papanya, Fou jadi tertutup untuk masalah-masalah pribadi, bahkan hampir-hampir tidak punya teman dekat untuk berbagi, Fou justru dekat dengan banyak murid-muridnya.
“Apa tekanan batin bisa jadi pemicu sakit mama?” Tiba-tiba Fou bertanya.
“Yang aku pelajari iya... pikiran dapat mempengaruhi kesehatan tubuh, emosi dan mental kita. Ada penelitian yang menyatakan hingga 95 persen penyakit yang mengganggu hidup kita saat ini adalah akibat langsung dari pikiran,” jelas sang dokter.
Fou membuang napas, mulai menggali apa yang paling mengganggu pikiran sang mama. Pertama tentu soal papa, dan itu memicu lagi kemarahan di hatinya pada pria itu. Tapi kemudian muncul sebuah sebab yang lain yaitu tentang dirinya yang gak nikah-nikah, sepanjang beberapa tahun ini mama terlihat tertekan soal ini.
Fou merasakan sebuah perasaan bersalah karena menjadi beban mamanya. Fou masih mengingat betapa girangnya sang mama saat dua adiknya mengatakan akan menikah, mama langsung menyetujui, padahal si bungsu Eillen waktu nikah belum selesai kuliah.
Apa terima saja permintaan dokter Petra untuk balikan? Di satu sisi dia tidak merasakan ketertarikan lagi pada sang dokter seperti pada awal melihatnya. Entahlah, mungkin ada masalah dalam hatinya sehingga dia gak pernah dapat mengembangkan perasaannya kepada seorang pria. Kepada Randy, kepada Bryan, dan seorang mantan yang lain…
Di sisi yang lain, apa dia memang harus menikah sehingga satu beban mamanya berkurang? Dengan siapa? Dengan Petra? Dengan Jerol?
Dia menyadari Jerol sedang melakukan pendekatan, dia cukup tahu Elsie hanyalah alasan Jerol karena Jerol tahu Fou menyukai anak-anak. Tapi tentu saja ini bukan sesuatu yang baik, Jerol seorang pria menikah apapun kondisi rumah tangganya, dan lagi papanya Jerol bukan seseorang yang dapat dilangkahi Jerol, gak mungkin mengijinkan Jerol cerai. Prinsip yang sama di hati mamanya tentang pernikahan. Jerol bukan pilihan yang tepat.
Hanya ada Petra yang memungkinkan untuk hal itu. Fou tidak pernah mencari pria, di sekolah banyak juga guru-guru mulai yang masih muda sampai seorang guru yang duda yang dijodoh-jodohkan dengannya, bahkan ada satu bapak duda orang tua murid yang les padanya sudah sering kirim salam melalui murid lesnya. Fou tidak tertarik.
“Ra… kalau tante Silvia mau ke dokter hari ini, aku bersedia ikut dengan kalian sehingga aku bisa tahu kondisi mamamu seperti apa, aku bisa bantu memperhatikan kesehatan mamamu…” Suara dokter Petra memecah kesunyian.
Fou memandang langsung wajah Petra.
“Apa mama memang sakit jantung?” Fou ingin penegasan dokter ini.
“Belum pasti, Fou… harus ke dokter ahli, aku hanya menemukan beberapa gejala yang mengindikasikan hal itu dari keluhan mamamu khususnya tekanan darah dan denyut jantungnya… makanya tante harus periksa ke dokter biar tahu… Mungkin juga hanya karena stress sehingga ada gejala itu, tetapi lebih baik periksa," jelas Petra.
Fou kembali diam, memikirkan betapa pentingnya sosok mama untuknya, hanya mama seseorang yang paling dia inginkan ada bersamanya di sepanjang hidupnya, dan mama harus sehat.
.
🌱
.
Fou memperhatikan barang-barang yang sudah rapih di dalam koper, mencoba mengingat lagi jika ada kebutuhan yang belum dia masukjan. Setelah yakin Fou menutup kopernya, tinggal menunggu jam keberangkatan ke bandara.
Dia adalah guru pembimbing untuk murid-murid yang mengikuti lomba matematika, makanya dia ditugaskan oleh Kepala Sekolah untuk mendampingi anak-anak. Dari lima murid yang lolos di tingkat provinsi tiga orang lolos untuk tingkat nasional. Hari ini jam boarding adalah jam sebelas siang.
Notif pesan di hp berbunyi, Fou meraih hpnya. Adiknya mengirimkan foto dirinya yang sudah siap untuk perjalanan ini. Fou tersenyum, membalas dengan emoticon jempol. Dia sudah merespon setiap chat adiknya. Nando juga menjadi pemenang pertama di tingkat provinsi untuk kategori anak SMP, dan akhirnya mereka merencanakan perjalanan bersama, walaupun untuk keberangkatan ini Nando mengikuti rombongan sekolahnya dan tidak satu penerbangan.
“Fou… udah selesai?” Mama masuk dan langsung duduk di tempat tidur. Mama sudah rapih dan cantik, mama yang akan mengantar ke bandara.
“Udah…” Fou menjawab pendek.
“Mama nanti jadi nyusul… mama tunggu kalian di Smr, mama sudah kasih kabar sama Marvin.” Mama menyebut adik mama yang tinggal di kota itu.
“Menurut Marvin, kalian naik kereta api aja… dan si Nando girang saat mama kasih tahu ini… katanya dia belum pernah naik kereta…” Mama menyambung lagi.
“Fou… papamu titip Nando… minta tolong kamu perhatikan adikmu.” Mama berkata lembut, setiap kali menyinggung kata papa dia tahu ekspresi Fou akan mengeras, dia tahu butuh waktu lama untuk suaminya dapat meraih kembali hati anak tertuanya.
“Jangan lupa pintu selalu dikunci, mama sendirian di sini…” Fou memilih mengingatkan mama yang suka lalai soal mengunci pintu dari pada merespon soal si papa.
“Mama gak sendirian, ada anak-anak kost kan, jangan khawatir, tiga hari aja, setelah itu mama udah berangkat ke Smr.”
“Iya tapi kalau malam… jangan lupa kontrol pintu-pintu, anak kost ada di luar sana, mama sendirian di sini.” Fou masih mengkhawatirkan sang mama.
“Papa akan ke sini mulai malam ini…” Mama keceplosan lupa bahwa ini bukan sesuatu yang dapat diterima anaknya.
“Mama? Kenapa mengizinkan dia datang?” Fou kaget dan segera menjadi marah dan kecewa.
Mama Silvia diam dan menjadi serba salah.
“Kenapa mama plin-plan? Lupa kalau papa sudah keterlaluan menyakiti mama? Airmata mama belum kering loh?” Perkataan Fou menyerang mamanya.
“Gak Fou, kamu tahu prinsip mama kan…“ suara mama melemah.
“Kenapa mama memegang prinsip yang justru membuat mama tidak dapat keluar dari lingkaran rasa sakit. Mama membuat diri sendiri menderita.” Fou mendengus sebal.
“Jangan terlalu keras pada papamu, Fou… papa memang sungguh-sungguh minta waktu dan papa punya alasan… makanya mama coba bersabar… mama juga punya batasan, papa tahu itu. Dan sekarang papa akan tinggal dengan kita lagi," mama coba memberi pengertian.
“Ma… laki-laki seperti dia selalu membuat alasan!” Suara Fou mulai naik.
“Fou… cobalah mempercayai papa lagi… papa ingin kembali pada kita… mama udah lama menunggu papa pulang,” mama tak berdaya, anaknya punya hati yang keras.
“Ma? Kenapa percaya begitu aja sih? Waktu itu mama minta dia memilih bersama mama atau selingkuhannya, buktinya dia memilih mereka. " Suara Fou semakin tinggi.
“Karena papa punya alasan tepat, mama belum bisa memberitahu itu… tapi yang paling penting buat mama adalah papa suami mama, Fou… dan papa ingin kembali…”
Akhirnya mama menangis. Melihat itu hati Fou justru sakit. Fou gak mengerti cinta seperti apa yang ada di hati sang mama, Fou gak mengerti kenapa mama seperti mengabaikan lukanya. Apa memang ada cinta sekuat ini? Melupakan kesalahan terbesar pasangan dan mau menerima keinginan untuk kembali bersama begitu saja? Fou melihat di mata mamanya tekad mamanya untuk bersatu lagi dengan si papa. Apa haknya melarang sang mama?
“Ma… apa mama akan lebih bahagia kalau dia pulang ke sini?” Suara Fou melembut, gak tega melihat airmata mama lagi.
“Iya Fou… iya… ijinkan papa datang lagi ya?” Mama menatap Fou, seolah mendapatkan ijin dari Fou.
“Lalu? Setelah itu? Dia pergi lagi dan mama menangis lagi?” Suara Fou naik lagi, menyatakan apa yang dia benci dari papanya.
“Fou…”bMama mengurut dadanya dan seperti menahan sakit.
Fou mendekat, dia teringat penjelasan Petra tentang keluhan mama dan sikap mama yang gak mau periksa ke dokter meskipun Fou memaksa beberapa kali.
“Ma… sakit?” Fou menurunkan lagi suaranya, jadi sadar telah bersuara keras terhadap mama.
“Iya… sedikit… tolong pijit punggung mama…” Mama mengurut-ngurut dadanya sendiri.
“Kita ke dokter?” Fou mendadak cemas. Dia melihat wajah mama yang sedikit pucat.
“Gak papa, Fou, ini hanya sebentar… kamu gak boleh terlambat…”
Fou dilema… dan akhirnya setelah sakit mama mereda, Fou memilih menelpon seseorang, dia terdesak untuk melakukan yang tidak ingin dilakukannya.
Panggilan langsung dijawab di dering pertama. Fou heran.
.
“Ya… Ra? Ada apa?”
“Kamu di mana pak dokter, di rumah sakit?”
“Tidak, aku di rumah, aku dinas malam… bentar ya, aku ke sana.”
.
Panggilan sudah ditutup. Fou hanya bisa bersikap pasrah, apapun tujuannya menelpon Petra itu pasti akan ditanggapi berbeda oleh cowok itu, dia gak akan bisa bersikap tak acuh lagi, terlebih jika mengenai mama, mungkin Petra akan menjadi orang pertama yang akan dia hubungi. Dan situasi hari ini mendesaknya untuk memulai menghubungi Petra lagi.
Hatinya kemudian memilih membiarkan semua hal mengalir saja mungkin pilihannya sekarang adalah membiarkan hidupnya berjalan mengikuti alur yang ada.
Petra muncul di rumah, dengan outfit berbeda, setiap datang ke sini cowok ini selalu dengan outfit rumahan. Hari ini penampilannya sama seperti saat dia nembak Fou, rapih.
“Udah siap, Ra?” Petra menebarkan senyum patennya.
“Hah? Maksudnya?” Dahi Fou mengernyit heran.
“Aku akan mengantarmu ke bandara,” ujar Petra kalem.
“Mama yang meminta tolong… mama ikut tapi gak bisa bawa mobil, lengan mama agak sakit. Mama tanya Petra ternyata dia gak dinas…”
Fou lupa sesuatu, mama dan Petra punya hubungan baik sekarang. Fou mengeluh dalam hati, merasa gak mungkin menghindari situasi bersama Petra karena ada mama di dalam hubungan ini sekarang.
“Pak dokter… tadi mama sempat merasa sakit di dada sama punggungnya…”
Fou akhirnya memilih mengatakan kondisi mama tadi.
“Oh, terasa lagi tante? Makin sering kayaknya," ujar Petra sambil mendekati tante Silvia.
“Iya Petra…” si tante Silvia menjawab, dia masih sedikit lemas.
“Periksa ke dokter ahli aja ya? Biar bisa terapi, aku gak bisa sembarang memberikan obat…” Petra berkata lembut sambil meraih pergelangan tangan mama.
Fou memperhatikan, rupanya si dokter sedang menghitung denyut karena dia melakukannya sambil melihat jam di tangannya.
“Aku balik ambil alat tensi dulu…” Petra bergegas balik ke tempat kostnya.
Fou menelpon Eillen dan Shirley, meminta mereka datang menemani mama. Jawabannya… Shirley mengatakan bayinya sedang sakit, mungkin gak bisa. Eillen juga sama alasan anak. Kesal tapi Fou gak mungkin memaksa. Dan Fou akhirnya menyerah, dia akan meninggalkan mama, siapa yang akan melihat mama dalam kondisi seperti ini? Hanya ada papanya yang udah dibilang mama akan tinggal di sini lagi mulai hari ini.
"Ma... dengarkan saran pak dokter, pergi periksa hari ini saja ya?"
"Iya... Mama udah ngomong ke papa, papa mau bawa mama periksa malam ini. Jangan khawatir ya, ada papa di sini sama mama... hari ini papa ijin gak ke kantor, papa mau mengantar Nando ke bandara, setelah itu papa datang ke sini."
Fou saling tatap dengan mama, apa dayanya menghalangi mama... situasi kadang gak bisa sesuai dengan apa yang kita inginkan…
.
.