My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 39. Hidup yang Diinginkan



Kekuatan mistik cinta yang menghubungkan diri Jerol dengan Fou tumbuh menjadi kuat justru di saat tidak ada jalan untuk saling memiliki. Dan di saat Jerol sudah bersikap lebih berani untuk memilih Fou, justru Fou mundur.


Erol, kalau aku mengakui bahwa aku sayang sama kamu, mungkin gak berarti apa-apa buat kita… karena aku gak berani mengambil resiko, mama aku dan orang tuamu sama-sama gak menyetujui kita bersama, aku harus menghormati itu Erol walau hatiku sakit. Maaf ya Erol, aku gak bisa memenuhi janjiku untuk menunggumu… maaf.


Sebuah chat yang dikirimkan Fou tadi pagi… ini kali ke sekian dia membacanya dan setiap kali melakukannya mata Jerol memanas bahkan ada buliran airmata yang jatuh. Dia memang lelaki cengeng, di usia ini masih menangisi cintanya. Tapi Fou telah menjadi dambaan hidupnya sejak dia tahu bagaimana mencintai, sejak dia tahu bagaimana bermimpi dan ingin meraih Fou menjadi bagian dalam kehidupannya selanjutnya.


Dan impian paling berharga itu harus patah sekarang, Jerol hanya terpekur menatap hpnya dengan kepedihan yang merajai hatinya.


Pintu kamar Jerol diketuk dan ada suara adiknya terdengar. Jerol menghapus airmatanya lalu membuka pintu.


“Kak Je… kenapa pindah sih… untung aja gak susah nyariin rumah ini.” Jilly mendorong pintu diikuti tatapan heran Jerol.


“Siapa yang kasih tahu alamat rumahku?” Jerol kesal karena baru beberapa hari rumah yang sengaja tidak pernah disebutkannya kini terendus keluarga.


“Dari karyawan kakak di bengkel… udahlah kak Je mau mutusin hubungan dengan kita? Mama nangis terus tau gak, kak Je tega?” Jill menjawab dengan suara cemprengnya.


Jerol terdiam, rasa sayang yang besar buat mama segera menambah lagi sedih di dadanya.


“Mama di mana?” Jerol bertanya dengan suara rendah.


“Ada, aku datang berdua mama, mama udah main sama Sisie, kangen tau gak… kak Je ahh main pergi segala sih…” Jilly mulai menggerutu dengan suara manjanya.


“Kak Je ngapain sih di kamar? Dari tadi kita datang loh, kak Je gak keluar, masa suara kita gak kedengaran sih?” Gerutuan Jill terdengar lagi membuat Jerol menarik napas dan menghembuskan secara kasar.


Jerol sedang terpaku pada pusaran sedihnya hingga gak mendengarkan hal lain di luar sana.


Dia pergi gak pamit pada siapapun, sengaja gak bawa apa-apa dari rumah, semua kebutuhan Elsie dia beli baru, benar-benar ingin lepas dari tangan orang tua. Tadinya dia gak pernah kepikiran untuk meninggalkan rumah dan hidup lebih mandiri. Tapi persoalan yang dia hadapi membuat dia ingin bertindak untuk dirinya sendiri.


Hidupnya sudah ada di tahap yang baik, bisnisnya berjalan baik dan sudah mencakup beberapa jenis usaha, jadi incomenya udah sangat lumayan untuk membiayai keluarganya, tapi tentu bukan dengan Vinzy karena itu keluar dari rumah orang tua dan membeli rumah sendiri.


“Rumah kak Je gak besar tapi nyaman… keren deh, aku nginap ya malam ini… aku udah bawa seragam sama buku, besok kak Je anterin aku ke sekolah ya…”


Jilly melempar tubuhnya di tempat tidur anak yang dimepetkan dengan tempat tidur kakaknya di dalam kamar ini. Jerol gak mungkin melarang adiknya ini, bertiga Elsie kadang mereka tidur di kamar Jerol.


“Kasian mama nanti sendirian di rumah,” balas Jerol.


“Ada papa kan… aku kangen Sisie, kangen kak Je juga…” suara Jill berubah manja.


Jerol membiarkan adiknya yang memang terlihat sudah siap untuk tidur, dia sudah menggunakan piyama dari rumah. Jerol keluar kamar mencari sang mama.


“Ma…” Jerol menyapa sang mama yang sedang mengendong Elsie, Elsie sudah tertidur. Jerol tahu sekalipun Elsie bukan darah daging mereka tapi bayi itu sudah menyatu dan mendapat tempat di hati mereka semua.


“Bawa ke kamar aja, ma…” Jerol menyambung.


“Biarkan mama gendong sebentar… belum puas bermain dia udah ngantuk…” mama berkata pelan.


Mama duduk hati-hati di sebuah sofa single agar Elsie tidak terganggu lalu terbangun. Jerol menatap sang mama, mama gak melepaskan pandangannya dari Elsie yang sekarang rambut keriwilnya semakin nyata, membuatnya semakin lucu dan menggemaskan. Mungkin itulah mengapa mama berusaha mencari tahu di mana Jerol tinggal.


“Je… pulang lagi ke rumah ya…” Mama menatap anaknya, Jerol gak suka sorot mata mamanya yang terlihat sedih, tapi…


“Ma… rumahku di sini sekarang.” Jerol menjawab lembut, gak tega sebenarnya dan merasa bersalah gak mengindahkan permintaan mamanya.


“Tapi mama belum rela kamu ninggalin rumah…” Suara sang mama semakin gak enak di telinga Jerol, suara sedih dan kecewa.


“Ma… bukankah hukumnya seperti itu, anak-anak pasti akan meninggalkan rumah… aku ingin punya kehidupanku sendiri juga ma, sudah saatnya mama membebaskan aku…”


Jerol telah melalui titik di mana dia berani melangkah keluar dan memang gak ingin kembali lagi, dia telah memperoleh kekuatan untuk berani mengambil jalannya sendiri.


“Kamu anak mama, mama gak rela kamu pergi, Je…” Mama terisak sekarang.


“Aku tetap anak mama, dan aku gak akan melarang mama datang ke sini. Aku… aku hanya minta restu mama aja untuk jalan yang aku pilih… dan aku minta mama maafkan aku ya… aku gak mau dipaksa menjalani apa yang gak aku suka.” Jerol melawan kata hatinya yang telah jatuh melihat airmata mama, dia gak ingin berbalik lagi.


“Je… papamu…”


“Aku gak bisa mengikuti prinsip papa, dan papa harus menerima itu ma… jangan memaksa.” Jerol memotong kalimat mamanya.


Dia bukan lagi seorang pria kecil yang sering bingung dan canggung menghadapi persoalan dan butuh perlindungan orang tua, dia gak punya ketakutan lagi sekarang untuk menghadapi persoalannya sendiri. Menjalani peran sebagai papa membuat dia mendapatkan pengalaman sekaligus kesadaran tentang hidup yang diinginkannya. Yang tumbuh dalam jiwanya seperti seorang serdadu yang berani menyerang memperjuangkan daerah otorita miliknya sendiri, tanpa intervensi papanya.


“Mama sedih, Je… kita keluarga, harusnya tetap bersama-sama…”


“Ma… keluarga juga harus saling support kan? Papa tidak melakukan itu padaku, papa berjalan dengan pemikirannya sendiri untuk hidupku… aku tetap anak kalian ma, kecuali mama dan papa tidak menganggap aku seperti itu lagi…”


“Jangan bicara bodoh Je… gak ada orang tua yang membuang anaknya hanya karena gak sepaham.” Mama terisak lagi.


“Jadi… kamu tetap mau bercerai? Keyakinan papa kuat sekali Jerol, perceraian itu termasuk dosa untuk papa… dan jika kamu menikahi Fou, menurut papa itu zi*nah…”


Jerol gak langsung menjawab, gurat sedih semakin kentara di wajahnya, karena apa yang terjadi sekarang tidak sesuai dengan apa yang dia angankan.


“Aku tetap akan bercerai ma… walaupun Foura menolak menikah denganku…”


“Fou menolak menikah?” Mama Anet memastikan.


“Iya ma… dia juga sayang padaku, ma… tapi dia gak ingin sakit mamanya bertambah parah…” Jerol mengusap sudut matanya yang kembali basah.


Hatinya mengeluh sakit, kenyataannya hidupnya kembali sedih tanpa harapan, serasa terluka hingga ke tulang hingga semua terasa sakit, karena gak bisa melawan realita.


Di sisi lain mama Anet tidak bisa lega karena salah satu hal yang menjadi pikirannya sekarang terjawab, karena sama saja untuk mereka, tekad Jerol adalah bercerai. Dilema hati seorang mama, ingin mendukung anaknya walau salah, membiarkan anaknya pun tetap saja salah, mendorong anaknya untuk mengejar Fou juga tetap aja salah.


.


🌱


.


Secara perlahan sikap Fou berubah menjadi lebih manis untuk Petra. Petra pun bersikap menerima saja tidak memaksa, masuk dengan perlahan di hati Fou, dia melihat dengan cara itu lebih jitu.


Di ruangan dokter, Petra baru selesai menjawab panggilan Olivia, sempat berdebat karena Petra membatalkan kepulangannya padahal dia pernah berjanji akan pulang saat Olivia ulang tahun.


"Kamu jadi pulang, Ril?" Petra mengalihkan pikirannya dari efek pertengkaran dengan Olivia baru saja.


"Jadi dong, mau memperkenalkan calon istri pada orang tua..."


"Serius ternyata mau merit?"


"Iya... udah mantap lah... udah bosan nungguin kamu lepasin Olive..."


"Heiii..." Petra menunjukkan tinjunya.


Hp Aril berbunyi, dia segera membaca pesan masuk...


“Jenzen… Olive nanya, beneran Prof. Andrew gak memberi ijin kamu pulang? Kenapa alasannya konyol begitu?” Aril mengangkat hpnya menunjukkan isi chat Olivia.


Petra hanya memandang sebentar tanpa niat membacanya.


“Aku malas pulang…” Balas Petra singkat.


“Wow… biasanya kamu paling menunggu waktu libur, ahh apa bu guru itu benar-benar bisa mengubah kamu jadi lebih baik Jenzen? Apa dia udah menyingkirkan Olive di hatimu eh?”


Petra diam, mungkin sekali seperti itu sekarang. Tidak seperti hubungan-hubungan sebelumnya yang hanya bersifat mengisi sepi atau sekedar mengikuti ketertarikan sebentar pada sosok cewek yang baru, kali ini Fou telah masuk lebih dalam… apa mungkin Fou mulai menyingkirkan Olivia di hatinya? Fou yang pasif kadang bersikap gak butuh dirinya dan kadang bisa bersikap manis, begitu membuat dia penasaran dan terus mengejar.


“Kalau sekarang hatimu lebih berat sama si bu guru, Olive buat aku ya…” Aril berkata kemudian.


Dan Aril gak bisa menghindari tinju Petra yang begitu kuat menghantam lengannya. Tiba-tiba emosi saat temannya mengatakan hal itu.


“Hei… kenapa emosi Jenzen? Astaga… sakit. Kamu gak mau Olive dilirik orang lain, tapi kamu suka sembarangan dengan banyak cewek… hadeeh Jenzen… kali ini aku gak akan menutupi kelakuanmu di hadapan Olive. Kalau aku bertemu dia pas pulang nanti, aku akan beritahu dia hal yang sebenarnya.”


“Sialan! Ril… kamu mau nusuk aku dari belakang? Kamu udah punya calon istri?” Petra kembali melayangkan tinju tapi kali ini dengan sigap Aril menghindari itu.


“Gak… aku terang-terangan bicara di depanmu, aku terang-terangan juga mengenai Olive dari dulu...” Dokter Aril berdiri dan keluar dari ruangan itu, bisa-bisa dia jadi samsak tinju si Petra. Dia memang gak menyimpan rasa sukanya pada Olivia dari Petra. Dan jika ada peluang mengejar Olivia dia bersedia meninggalkan pacarnya yang sekarang.


“Ril!! Kamu tahu, aku gak segan-segan denganmu jika kamu lakuin itu!” Teriak Petra.


“Apa? Mau main kekerasan sekarang? Berani kamu denganku? Aku yang paling banyak menyimpan aibmu Jenzen… ingat itu.” Aril membalas ketus. Dia jenuh kompromi dengan Petra.


Petra menendang dinding di depannya, saat dia meringis sendiri dengan akibat tendangan itu pada kakinya, hpnya berbunyi lagi, sebuah notifikasi chat, Petra membaca… Olvia mengancam datang lagi ke kota ini…


Ahh… sialan. Kaki Petra kembali menendang dinding.


Kadang manusia tersesat dengan keinginannya sendiri untuk hidupnya dan suka sekali salah membaca arah jalan hidup yang seharusnya.


.


.