My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 40. Menginginkan Kamu Jadi Istri



Jerol gak menyerah, setiap hari mengirimi Fou chat dan video bahkan berterus terang tentang niatnya yang belum berubah tentang Fou. Kadang Fou basah matanya seperti bisa merasakan tekad Jerol, tapi dia tidak membalas chat Jerol karena gak ingin memupuk harap baik untuk dirinya ataupun Jerol.


Dan bagi Petra hubungannya dengan Fou berubah bukan lagi sebuah intermezo dan sebuah petualangan singkat saja, Fou mulai mendapat tempat di sebagian hatinya, hanya bagian hatinya yang lain masih aja ragu untuk melepas Olivia.


Petra datang sabtu siang di rumah Fou.


“Ra… kita keluar yuk, pengen makan sesuatu yang enak,” ajak Petra.


“Mmh, boleh… sekarang?” Fou menyambut dengan senyum.


Petra memperlakukannya dengan baik, bersikap pengertian bahwa hati Fou lambat untuk pulih, gak mengeluhkan apa pun tentang sikap Fou yang kadang kala masih menjaga jarak.


“Iya dong… udah hampir jam makan siang kan… sore nanti aku dinas…” Petra juga tersenyum, Fou semakin manis aja, mulai suka senyum padanya, mulai suka meladeni saat dia datang.


“Ayo…” Fou pun beranjak dari taman belakang, tempat yang sering mereka gunakan untuk berdua.


“Ra…” Petra memanggil.


“Kenapa?” Fou berbalik dan melihat Petra gak bergerak dari tempat duduknya.


“Kamu gak ganti baju? Kita mau ke mall…” Petra berkata lembut.


Fou memperhatikan pakaiannya, hanya bercelana pendek selutut dan kaos oblong oversize, sedikit senyum muncul di wajahnya, ingin tahu reaksi Petra jika dia cuek dengan gaya baju rumahan, terutama karena outfit Petra sama aja, celana pendek warna hitam yang begitu pendek dan kaos oblong putih membentuk tubuhnya.


“Kamu ganti baju juga?” Fou balik bertanya.


“Gak, seperti ini aja…” Petra berdiri sekarang.


“Ya udah, kenapa minta aku ganti baju?” Balas Fou sambil meneliti apakah penampilan Petra apa layak untuk keluar rumah.


“Maksudku, biasanya cewek-cewek suka dandan saat pergi,” Petra menjawab hati-hati, takut menyinggung Fou.


“Aku bukan golongan cewek seperti itu… kalau kamu gak nyaman denganku yang seperti ini, ya udah aku gak ikut,” Fou keterusan membuat drama padahal dia juga gak mungkin secuek itu soal penampilannya.


Petra segera mendekat dan meraih tangan Fou, “gak seperti itu Ra, aku suka kok… kamu gak jaim.” Belaian mampir di pipi Fou, lalu melanjutkan “tapi sana sisiran dulu, rambutnya kusut, terus mukamu agak berminyak… pakai bedak dikit, biar semakin cantik.” Dua tangan Petra mendorong bahu Fou menuju kamarnya, dan sebelum tubuh Fou masuk ke kamar dari belakang Fou Petra mencuri sebuah ciuman di pipi. Dada Fou sedikit berdesir di sini.


Petra semakin leluasa bertindak romantis, Fou hanya bisa melihat itu sebagai sebuah hal yang wajar karena dia pacar Petra dan gak ada tuduhan dan rasa bersalah merebut milik orang. Hanya kadang kala nama Jerol menjadi pengganggu, setiap kali berdekatan dengan Petra, setiap kali bayangan Jerol muncul, seolah mengingatkan dirinya pada siapa cintanya yang sesungguhnya.


Fou keluar dari kamar sudah mengganti pakaiannya dengan jeans biru navy dan blus kaos crop warna putih dan sedikit berdandan menyapukan beda dan lipstik warna nude dan sedikit perona pipi, sebuah tas kecil menyampir silang di pundaknya.


“Aku pamit ke mama bentar ya…”


Fou ke kamar orang tuanya. Di belakangnya Petra tersenyum melihat penampilan Fou, sederhana tapi memukau dirinya.


“Kenapa ganti baju?” Petra meraih pundak Fou merangkul menuju mobilnya. Dia sudah merencanakan ini karena itu mobilnya terparkir di depan pintu pagar Fou.


“Biar kamu gak risih,” ujar Fou sekenanya. Padahal dia sebenarnya yang risih dengan penampilan Petra yang terlalu santai.


Di seberang jalan, ada tante Anet baru turun dari mobil, melihat Fou dan Petra bersama membuat dia tersenyum dalam sedih, sama seperti anaknya jauh di dasar hatinya dia gak rela sebenarnya Fou bersama pria lain, terlebih sampai sekarang Jerol masih tetap berharap. Fou hanya melempar senyum pada tante Anet sebelum masuk ke dalam mobil Petra.


Di mall, berjalan berdua di akhir pekan seperti semakin mengukuhkan bahwa mereka adalah pasangan, Petra begitu posesifnya dengan semua sentuhan fisiknya. Saat hendak naik ke lantai paling atas di mana terletak banyak resto, Fou bertemu serombongan remaja yang ternyata murid-muridnya, Mereka langsung bersorak ribut gaya remaja masa kini menggoda Fou.


“Ciee… cie… Mem Fou ngedate…”


“Kenalin ke kita dong…”


“Future husband Mem Fou nih…”


“Ganteng abiss Mem… gak salah pilih… tapi kalau udah bosan, buat kita aja ya Mem… umur gak masalah Mem buat kita, hehe…”


“Mau dong jadi sugar baby…”


Murid-murid yang cengar-cengir dengan kata-kata yang gak difilter ditanggapi Fou dengan senyum aja. Sudah biasa menghadapi murid-murid yang kadang tingkah laku mereka super kreatif. Petra hanya menebar senyum patennya.


“Muridmu kan? Lucu ya mereka… “ Petra berkata saat para murid itu dadah-dadah lalu meninggalkan Fou dan Petra.


“Dengan omongan seperti itu gak lucu Petra…” ujar Fou agak jengah, pasti saat di kelas nanti bakal ada godaan lanjutan untuknya.


“Hahaha… emang sih agak sedikit kurang pantas diucapkan anak seumuran mereka…”


Fou hanya tersenyum masam, jika di dalam ruangan kelas dia bisa menegur dan menasehati mereka.


Mereka kemudian masuk ke sebuah resto, mereka diantar oleh pelayan resto ke sebuah meja. Saat selesai memesan masuk juga rombongan pengunjung lain dan resto itu segera penuh, rupanya mereka hendak merayakan ulang tahun di sini, karena terlihat ada yang membawa kue ulang tahun. Fou agak gak nyaman tapi mereka sudah memesan makanan, gak mungkin pergi.


Fou diam saja saat sesekali Petra melakukan sesuatu, memperbaiki rambutnya, mengusap pipinya, atau sekedar membelai lembut tangan Fou yang dia genggam, membiarkan hatinya meresapi ini. Jika Petralah yang digariskan bersama dirinya maka dia harus belajar menerima cinta Petra.


“Foura?” Seorang ibu setengah baya yang melewati meja mereka tiba-tiba menyebut namanya. Wanita itu sejak tadi sibuk sekali mengurus segala sesuatu, mondar-mandir dan meminta ini-itu pada pelayan resto.


Foura mengangkat muka dan… dadanya mendadak seperti mengetat membuat dia sesak. Wanita itu mamanya Randy, wanita yang begitu marah karena Fou membuat anaknya patah hati. Wanita yang pernah datang ke rumah khusus untuk mengata-ngatainya karena Randy sempat stress tiba-tiba diputusin Fou.


Fou entah mau balas menyapa atau mau apa hanya bisa tersenyum canggung.


“Ran… Randy, sini… Meisy… sini…” Tante Lily memanggil anaknya dan seorang wanita.


Randy dan wanita bernama Meisy datang, dan hal itu membuat Fou semakin canggung, tanpa sadar dia memegang lengan Petra. Petra bertanya dengan berbisik…


“Siapa?”


Belum sempat Fou menjawab…


“Foura, ini… perkenalkan istrinya Randy… dia cantik juga gak kalah sama kamu, dan syukur sekali kamu memutuskan Randy, dia mendapatkan istri yang lebih baik dan lebih kaya, sekarang Randy udah sukses dan bahagia…”


Tante Lily berkata dengan nada menyombongkan. Randy terhenti langkahnya saat mengenali Fou dan istrinya pun auto menggandeng tangan Randy. Benar-benar canggung, tapi Petra segera menangkap siapa orang-orang di hadapan mereka dari kalimat wanita itu.


“Halo bu, kenal Foura ya?” Petra menyapa sopan, mengambil alih menggenggam tangan Foura.


Tante Lily gak menanggapi sapaan Petra. Foura yang sesaat sempat salah tingkah sekarang bisa menguasai dirinya. Fou melempar senyum iklannya…


“Apa kabar tante Lily…”


Fou hanya mengangguk pada Randy dan menangkap tatapan gak suka dari istrinya.


“Kami sangat baik, Foura. Ini suamimu?” Tante Lily menatap Petra dari kepala sampai kaki dan setengah mencibir.


“Oh saya calon suami Foura, tante…” Petra mengangguk sopan.


“Ohh… baru calon, bukannya kamu sudah tiga puluh tahun ya? Belum menikah ternyata. Itu karma karena menyakiti Randy…” Tante Lily menyinggung Fou, duuh masih menyimpan sakit hati ternyata.


“Eh kamu… hati-hati, mungkin kamu pun jadi korban Foura, begitu mau dilamar langsung diputusin.” Tante Lily meneruskan sambil memandang dan menunjuk Petra.


Petra tertawa kecil, “saya gak takut tante… Foura bersedia jadi istri saya dan buktinya Foura masih bersama saya sekarang…” Petra seolah sedang berkata dia sudah melamar Fou, Petra merangkul bahu Fou.


“Ya dia memang lebih cocok dengan orang sepertimu.” Ketus tante Lily, mata menyelidik dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki. Si tante masih mencibir, terihat meremehkan Petra.


Begitulah, orang selalu suka tersesat dengan penilaian luar, orang yang gak tahu branded akan menganggap Petra terlalu biasa.


“Ma…” Randy menyenggol mamanya, dia tampaknya gak ingin berbasa-basi dengan Fou dan langsung pergi diikuti istrinya.


Si tante gak puas, kemarahan di masa lalu mencuat lagi.


“Aku pikir kamu akan mendapatkan konglomerat, ternyata…” bibir si tante kemudian mencemooh. Dia masih ingin berkata tetapi salah seorang kerabat datang membisikan sesuatu entah apa, sehingga tante Lily pergi.


Fou menghembutkan napas dan hanya menyeringai kecil, gak mempermasalahkan perkataan tante Lily, dia sadari di masa lalu telah menyakiti tante itu serta Randy, jika amarah masih tersisa sekarang, apa daya terima saja.


Sementara Petra hanya tertawa pelan, sedikit tersinggung dengan perkataan si ibu, dalam hati sedang memikir rencana untuk membalas.


“Mantan pacarmu?” Petra bertanya kalem. Dia paham bahwa hubungan Fou di masa lalu sudah pada tahap yang serius jika sampai mama si mantan masih menunjukkan marah.


Fou hanya mengangguk kecil.


“Hampir menikah?” Petra bertanya lagi.


“Hah?? Eh… dia pengen menikah dan aku gak mau makanya putus,” jelas Fou.


Mendengar itu Petra kemudian semakin romantis dengan afeksinya untuk Fou, tangan seperti mengeluarkan sesuatu di pipi, mata menyorot mesra. Lalu berlanjut sesekali bibirnya menyentuh kepala Fou, sengaja mengumbar kemesraan karena dia tahu mereka sedang disorot beberapa orang lewat tatapan maupun lewat pembicaraan.


“Gak nyaman kamu, Ra? Biasa aja ya… ada aku kan?” Petra membaca gesture Fou yang berubah sejak interaksi dengan si tante.


“Iya… gak nyaman sih karena mereka mulai memperhatikan kita… ada yang aku kenal juga di antara mereka…” Fou berkata pelan. Gak menyangka bertemu mantan lengkap dengan keluarganya, dulu udah sering dibawa Randy dalam acara-acara keluarga jadi dia udah dikenal mereka.


“Mmmh, kita pindah resto aja?” Petra menawarkan, walau dalam hati dia menikmati situasi ini, beberapa kali dia melihat Randy mencuri pandang pada Fou, dulu mungkin udah cinta mati dan sepertinya masih ada percikannya, karena sedikitnya Petra bisa membaca dari gesture Randy yang juga terlihat gak nyaman.


Fou menatap Petra, “gak, aku gak ingin tante Lily merasa senang karena menanggap kita pergi karena mereka. Cukup dia udah meremehkan kita tadi, Petra. Aku gak sengaja ada di sini, kita yang lebih dahulu datang, kenapa kita harus pergi…” Fou berkata tegas.


Petra tertawa, gadis ini memang sesuatu, bukan gadis yang lemah, jika merasa tertindas dia akan dengan berani menghadapi. Jadi ingat bagaimana dengan lantang Fou memutuskan dirinya hanya karena Petra tidak menerima perlakukan Petra yang tidak mengacuhkan chat dan panggilan telpon.


“Kamu tersinggung?” Petra bertanya.


“Tante Lily marah aku paham, tapi sikapnya yang meremehkan kamu Petra… ya aku tersinggung.”


“Hahaha…” Petra tertawa, ada rasa senang meresap di dadanya, perkataan Fou seperti memperjelas sikap Fou yang menganggap dirinya pacar sekarang. Petra mengacak mesra rambut Fou lalu memperbaikinya geraian rambut panjang itu kemudian.


“Gak usah tersinggung, mmh… aku lebih dari segalanya jika dibandingkan dengan Randy, aku jauh lebih ganteng, Ra…”


“Narsis kamu pak dokter…” Fou memukul lengan Petra, dalam hati mengakui perkataan Petra, secara fisik Petra jauh lebih tinggi dan lebih tampan.


“Hahaha… kenapa seleramu dulu buruk sekali hmmh? Lihat perutnya… dia seperti sedang hamil, Ra…”


“Petra… jangan mengatai orang, dan dulu itu dia lumayan kok sebelum badannya melar begitu, kamu juga bakal seperti itu setelah menikah dan punya anak.” Fou memukul lengan Petra lagi.


Petra masih tertawa, dan sedikitnya Fou kembali merasa nyaman.


“Kita menikah aja? Aku merasa kamu wanita yang aku cari… ketemu dirimu entah kenapa serasa klik aja… kamu selalu membuat aku penasaran.” Petra mengatakan sambil melihat tepat di manik mata Fou.


Fou terpaku… de ja vu, rasa gak nyaman segera menyerbu masuk melalui semua indranya, hati ingin segera menolak, dia gak menginginkan hal ini dengan orang lain, termasuk Petra. Kenapa Petra melakukan itu di sini?


Jika menelisik tentang Petra, segala sesuatu yang menghubungkan dirinya dengan Petra karena arus hidup seperti mendesaknya dan memaksanya. Termasuk kali ini, bagaimana bisa menolak Petra di bawah sorot mata dan di tengah keluarga sang mantan yang dulu pernah dia tolak mentah-mentah saat memintanya menikah.


“Ra…” Petra menggoyang lembut tangan Fou yang ada dalam genggamannya.


Fou tersadar.


“Jangan becanda Petra…” Fou menanggapi dengan hati mulai berdenyut, di bibirnya sudah berbaris kalimat penolakan tapi gak bisa dia ucapkan, perkataan tante Lily tadi masih diingatnya.


“Aku gak becanda, Ra… aku menginginkan kamu jadi istriku…” Wajah Petra memancarkan kesungguhan.


Ahh… Fou lupa mereka bukan abg, di usia sekarang salah satu alasan mencari pasangan adalah untuk menikah. Fou mencari kata-kata yang tepat untuk menyanggah ungkapan hati Petra.


“Petra… hubungan kita baru sebentar, kita belum saling tahu… aku minta jangan buru-buru…” Suara Fou begitu tenang, dia tahu bagaimana menambahkan penekanan suara pada inti kalimatnya.


“Kita akan saling tahu setelah menikah, Ra… aku sekarang merasa harus buru-buru malahan, belum pernah aku memikirkan ini, melihatmu sekarang tiba-tiba keinginanku muncul begitu saja…” Lembut suara Petra sekarang. Keriuhan dan kemeriahan acara hut di sekitar mereka seolah gak menganggu.


“Aku gak bisa menjawabnya sekarang Petra, aku harus memikirkan hal ini dulu…” Akhirnya Fou memilih menghindari topik menikah dengan cara ini.


“Oke… aku gak ingin ditolak loh…” Ringan saja perkataan Petra tapi menusuk jantung Fou, menolak permintaan lelaki yang memintanya menikah jika ditambah Petra berarti menjadi tiga kali. Dia jadi ingat perkataan tante Lily tempo hari yang menyumpahi dirinya bahwa gak akan ada pria yang akan memintanya jadi istri… jangan-jangan setelah dia menolak Petra hal itu menjadi kenyataan.


Sementara makan, tidak ada lagi pembicaraan lanjutan, dan Fou mencoba meredam kegalauannya dengan menikmati makan siangnya. Terlebih terlihat Petra makan dengan lahap, masih bertingkah romantis dan selalu melempar senyum mesranya. Mungkin Petra memang untuk dirinya.


Saat keluar dari restoran, tiba-tiba tante Lily mengejar. Petra memang melakukan sesuatu tadi.


"Foura... Jangan sok kamu ya..." sinis si tante.


Fou bingung...


"Maksud tante?" Fou berkata dengan tatapan gak suka.


"Kamu membayar makanan kami? Memang kamu sekaya apa?" tante Lily gengsi menerima kebaikan dari mantan anaknya, apalagi ini hari ulang tahun Randy.


"Saya yang membayar tante. Kalau tante tanya sekaya apa saya? Saya memang punya cukup banyak uang, termasuk bisa membeli restoran itu. Anggap saja permintaan maaf Foura untuk kejadian masa lalu, dan ucapan terima kasih saya karena akhirnya saya yang mendapatkan Foura... Mari tante..." Petra sambil senyum, sengaja melakukan itu akibat tersinggung dengan si tante.


Petra segera membawa Fou pergi.


"Petra?" Fou gak percaya Petra memikirkan membalas dengan cara ini.


Petra hanya menciumi pipi Fou. Di belakang mereka tante Lily memberengut.


.


.