
“Fou kamu mau ke mana malam-malam begini…” Mama mengejar Fou.
“Laki-laki itu harus tahu rasa sakit yang dia timbulkan… dia harus tahu.” Fou berkata dengan muka merah dan segera naik ke motornya.
Fou berangkat dengan rasa marah yang begitu menguasai dirinya. Mama melihat Fou dan mendadak dia menyadari ke mana tujuan anaknya.
“Fou… biarkan saja… biarkan papamu Fou… itu pilihannya…” Mama berusaha menghalangi dan Fou tidak peduli.
Mama bisa melihat ekpresi di wajah putri sulungnya. Marah yang sudah lama mengendap kini muncul dengan nyata di sana. Dan sekarang dia sedang menuju ke tempat yang menjadi sumber kemarahannya. Mama Silvia jadi mengingat apa yang pernah dilakukan putrinya ini.
“Fou…” Mama hanya bisa memanggil dengan nada pasrah panggilannya hanya terbawa angin, anaknya sudah pergi dengan motornya. Airmata semakin bertambah di sana, Fou remaja beda dengan Fou yang sekarang, dengan kemarahan yang sama entah apa yang akan Fou lakukan di rumah papanya itu, apakah dia akan berkelahi dengan si Dianita? Perasaan mama Silvia yang sedih sekarang bertambah dengan gundah dan khawatir karena Fou.
“Tante, Fou mau ke mana?” Jerol datang mendekati tante Silvia yang sedang memegang teralis pagar. Dia baru saja sampai dan melihat Fou melewatinya, dan sempat mendengar teriakan tante Silvia pada Fou.
“Jerol… oh… kamu… apa kamu bisa eh… tante minta tolong.” Tante Silvia yang sedang menangis hanya bisa berkata terbata-bata.
“Apa tante… apa yang terjadi pada Fou?”
“Dia… dia marah, dia sedang menuju rumah papanya, ahh… tante tidak boleh ke sana, boleh susul dia? Tante khawatir dia lepas kendali…”
“Rumah om Emil di daerah mana tante…” Selama itu tentang Fou, apapun akan Jerol lakukan.
“Aduh… susah tante menjelaskannya… tante ikut aja, tapi tante gak mungkin turun ya Jerol, kamu yang bantu menenangkan dia…”
“Iya tante, ayo…” Jerol segera ke mobilnya, dan bersama tante Silvia mereka menuju ke bagian lain kota ini.
Sepanjang jalan tante Silvia menceriterakan sedikit pada Jerol tentang alasan tindakan Fou sambil menangis. Perasaan bersalah menguasai hatinya karena tidak menahan diri dan tidak menahan mulutnya sehingga menyulut kemarahan Fou.
Seharusnya dia sudah tegar karena perselingkuhan suaminya bukan peristiwa yang baru terjadi. Dia menyesali tidak menjaga dirinya sehingga terbawa permainan suami melayani semua hal, bersikap seolah-olah mereka suami istri bahagia dan tetap saling cinta, dia masih cinta tapi suaminya tidak lagi punya rasa itu. Dia telah salah menganggap seolah-olah rumah tangga mereka telah pulih… menyesali tidak menjaga hatinya supaya tidak membangun harapan lagi, inilah sumber kekecewaan yang menyebabkan dia sakit hati.
Jerol dengan cekatan bisa membawa mobilnya menyusul Fou bahkan melewati Fou hingga bisa tiba lebih dahulu di rumah lain milik papanya Fou. Mobil Jerol parkir tak jauh di depan rumah, dari luar pagar Jerol melihat mobil yang selama beberapa bulan ini terparkir di garasi rumah Fou, menandakan om Emil ada di dalam rumah.
“Jerol… tante serahkan sama kamu ya… tolong cegah Fou membuat rusuh di rumah itu. Tante khawatir jadi pembicaraan orang, jadi viral, tetangga sekarang banyak yang usil merekam, aduh tante takut kejadian kayak anggota de*wan itu yang bikin heboh karena kedapatan selingkuh… tante gak mau keluarga tante jadi bahan pembicaraan satu negara… tolong tante Jerol…”
Tante Silvia masih khawatir tapi dia sudah menguasai emosinya, tidak menangis lagi.
Tak lama Fou muncul, memarkir asal motornya tepat di depan pagar rumah, lalu masuk ke dalam karena pagar masih terbuka. Fou segera menggedor pintu dengan sekuat tenaga. Melihat cara Fou masuk Jerol segera turun, dia belum memikirkan harus apa tapi dia harus bersiap mencegah Fou melakukan hal yang di luar batas. Orang yang tidak dapat mengendalikan amarahnya punya energi yang sangat banyak untuk melakukan apapun. Jerol berdiri di belakang Fou, Fou belum menyadari itu.
Saat Pintu terbuka Fou segera menerobos masuk. Nando yang membuka pintu tersenyum.
“Kakak… ah aku senang kakak ke sini, aku ikut kakak pulang ya?”
Tangan Nando yang coba bergelayut di lengannya ditepis Fou dengan kasar, Fou masuk lebih ke dalam melewati Nando. Nando mengernyit bingung kakaknya belum pernah bersikap seperti itu padanya, yang dia tahu sebelum ini kakaknya sangat menyayangi dirinya.
“Kakak?” Nando, cemberut lalu melihat pada Jerol.
Menyadari situasi Jerol segera masuk dan menutup pintu, setidaknya jika Fou ribut suaranya akan sedikit teredam.
“Kakak kenapa, kak Jerol?” Nando bertanya dan wajahnya nampak sedikit takut.
“Kakakmu sedang marah, papamu mana?” Jerol menjawab sambil melangkah ke dalam.
“Papa di kamar, papa sakit…” Nando menjawab dengan suara yang terdengar mulai menangis.
“Mamamu?” Jerol bertanya lagi sambil mencari ke mana Fou sekarang.
“Mama belum pulang.”
Suara keras Fou kemudian membuat Jerol berlari ke arah sebuah pintu yang terbuka yang menjadi asal suara.
“BANGUN LAKI-LAKI BAJINGAN! PEMBOHONG! TUKANG SELINGKUH!”
Jerol mendapati Fou yang sedang menarik tubuh papanya sendiri dari tempat tidur. Dan papa Emil kaget tiba-tiba merasakan seseorang menarik tangannya dengan kasar, melihat anak perempuannya datang dengan emosi yang sangat besar hanya bisa membiarkan tubuhnya mengikuti tarikan Fou.
Lalu dengan sekuat tenaga tangan Fou menyasar papanya tepat di bagian dada.
“KAMU RASAKAN INI! SAKIT DADAMU? SAKIT BUKAN? ITU SAKIT YANG MAMA ALAMI, ITU SAKIT YANG AKU ALAMI, BAHKAN SAKIT ITU BERKALI-KALI LEBIH SAKIT. SUAMI BAJINGAN!! GAK PANTAS JADI PAPA!!!”
Papa Emil yang kemudian mengerti mengapa anaknya bisa bertindak seperti ini hanya membiarkan tindakan Fou padanya, dan Fou terus melakukannya masih dengan segenap kekuatannya.
“Kakak… jangan lakukan itu kak, papa lagi sakit kak,” suara kecil Nando terdengar lagi.
Nando sudah menangis sekarang. Dia coba menarik Fou, tapi kekuatannya tidak berarti apa-apa melawan kekuatan Fou. Tenaga yang didorong oleh amarah itu luar biasa.
"KENAPA DATANG LAGI KE RUMAH KALAU HANYA UNTUK MEMBUAT LUKA YANG LAIN? SEHARUSNYA JANGAN PERNAH DATANG LAGI!"
"Kakak... kasihan papa kita, itu papa kita..."
Fou tidak menghiraukan perkataan Nando masih melakukannya di dada papanya. Sekalipun tenaga Fou sebenarnya tidak seberapa bisa saja ditepis oleh papa Emil, sang papa terlihat mulai merasakan sakit karena tangan Fou, tapi dia seperti membiarkan saja Fou melampiaskan seluruh kemarahannya tiga belas tahun ini. Kesedihan pun nampak di wajah itu, kesedihan karena dia tahu sekarang betapa dalamnya luka di hati putri tertuanya karena kelakuannya, luka yang nampak sekarang lewat seluruh ekpresi dan tindakan Fou padanya. Dia tidak marah dan tidak bisa menganggap Fou sedang bertindak kurang ajar padanya.
Jerol yang berdiri di ambang pintu akhirnya masuk saat mendengar perkataan Nando, Jerol memperhatikan kondisi om Emil dan dia tahu memang bahwa orang tua ini memang terlihat kuyuh, pucat, dan lemah, dan semakin terlihat tidak baik karena sekarang sedang menahan sakit akibat apa yang masih dilakukan Fou. Refleks Jerol datang dang memeluk Fou dari belakang, menarik Fou menjauh dari om Emil. Om Emil kemudian terduduk di pinggiran tempat tidurnya, menunduk di sana dan terlihat kemudian bahunya berguncang.
Fou sedang berontak di dalam pelukan Jerol.
“LEPASKAN, KENAPA KAMU SELALU MUNCUL JEROL? KENAPA KAMU IKUT CAMPUR? PERGI KAMU! LEPASKAN AKU!!!”
"Tidak Ra, cukup ya..." Jerol sekuat tenaga mengatasi gerakan Fou, dia memutar tubuh Fou sehingga posisinya sekarang membungkus tubuh Fou dalam pelukan eratnya. Tangan Jerol yang satu mulai mengusap punggung Fou, sebuah tindakan yang dia pikir bisa menenangkan Fou.
Bergulat beberapa waktu tapi kemudian Fou mengendor karena dua tangannya tidak bisa bergerak lebih, pelukan Jerol benar-benar telah membatasi dia.
"Jerol, kenapa kamu harus ada di sini sih, aku belum puas Rol, aku masih marah... dia menyakiti mama lagi Rol, dia membuatku sakit hati lagi... Kenapa aku harus punya papa seperti dia? Kenapa Rol? Dia memilih mereka Rol, dia lebih sayang mereka, dia gak sayang kami lagi... Kenapa kamu menghalangiku, dia harus tahu sakit yang kualami seperti apa Rol? Sakit Rol, sakit..."
Fou kemudian menangis dengan tangisan yang memiluhkan hati yang mendengarnya. Ada tiga orang yang menangis sekarang di dalam kamar ini. Jerol bingung harus berkata apa, dia hanya bisa mengecup sayang kepala Fou, berkali-kali dia melakukan itu, mengusap lembut punggung Fou seolah dengan itu dia bisa mengambil luka Fou yang sekarang mengangah.
"Maafkan papa, Nonie... Maafkan papamu... Papa salah Non..." Suara papa Emil diikuti tangisan pria itu. Tangisan Nando juga tak kalah kerasnya.
Fou lebih sakit lagi mendengar permintaan maaf sang papa, itu tidak cukup untuknya. Fou menggeleng dengan keras, tubuhnya berguncang karena merasakan sakit yang menusuk dadanya, membuat Jerol kembali harus mengeratkan pelukan.
"ITU TIDAK BERGUNA, SAMA SEKALI TIDAK BERGUNA!" Fou kembali teriak.
"Udah ya, Ra... udah ya sayang... ya..." Jerol membujuk dengan suara lembutnya, hatinya turut sakit menyaksikan keadaan Fou. Kembali Jerol mengecup kepala Fou untuk kesekian kali. Usapan di punggung tidak dia hentikan.
Beberapa waktu kemudian, suara Fou berkurang, tetapi justru tubuh itu berguncang hebat, Jerol hanya bisa melakukan hal yang sama berulang-ulang, dia akhirnya tak bisa menahan airmatanya untuk ikut jatuh, dia menangis bersama Fou, dia dapat merasakan puncak emosi Fou lewat tubuh yang berguncang itu. Di tempatnya om Emil juga sama.
Tak berapa lama sesudah itu Jerol merasakan bahwa tubuh Fou melemah dalam pelukannya. Semua emosinya telah dia keluarkan yang tersisa adalah tubuh yang tidak dapat lagi ditopang oleh kedua kakinya.
"Ra... Kita pulang aja ya?" Jerol kemudian berkata pelan di telinga Fou, lalu membawa Fou melangkah perlahan.
Fou tidak lagi berontak atau menolak, dia hanya menyandarkan semua kekuatan tubuhnya pada pelukan Jerol. Saat tahu Fou tidak dapat melangkah dengan baik, Jerol mengangkat tubuh Fou, mengendong seperti mengendong seorang anak. Rasa sayangnya pada Fou membuat dia bisa mengangkat tubuh seberat lima puluh kilogram itu, menyandarkan kepala Fou di bahunya. Fou kemudian merangkul leher Jerol saja, dia telah habis kekuatan untuk berpikir apalagi untuk protes.
Masih di dalam ruangan, Nando menyusul mereka...
"Kakak... kakak... hiksss... aku ikut kakak ya?"
Fou tidak menjawab, tapi airmatanya segera mengalir deras lagi.
"Nando... kakakmu sedang tidak baik, nanti aja ya kamu ikut... papamu butuh kamu di sini..."
Jerol berkata tanpa menghentikan langkah.
"Ada dua mbak di sini, ada om sopir juga. Aku mau ikut kak Jerol, aku kangen mama Sil..."
Hati Fou teriris lagi, ingin dia membenci Nando juga, tapi dia tidak bisa melakukan itu, entah kenapa. Dia hanya bisa menangis lagi.
"Nando, papamu sedang sakit kan, papamu sedang butuh kamu untuk menemaninya..."
Jerol kemudian melangkah lebih cepat, kemudian membawa tubuh Fou duduk di kursi depan mobilnya, mengatur kenyamanan Fou. Tak tahan melihat wajah Fou yang penuh air mata, Jerol mengecup dahi Fou lama, lalu mengeringkan pipi Fou dengan lembut, mengusap pipi itu sesaat lalu menutup pintu.
Jerol kembali ke rumah Nando, mendorong motor Fou ke dalam sampai di depan garasi lalu mengambil kunci kontak dan menyimpan di saku celananya.
"Titip motor kakakmu ya? Nanti akan ada orang yang mengambilnya..."
"Kak Jerol, apa kakakku marah padaku juga?"
Jerol tertegun sesaat menatap bocah yang wajahnya sama dengan Fou, penuh air mata.
"Gak... kamu udah lihat kan tadi siapa yang menyebabkan kakakmu semarah itu, kamu juga udah dengar kan kenapa kakak marah.... dia sayang padamu kok." Jerol kemudian meninggalkan adik tiri Fou.
Di mobil...
"Jerol... kenapa Fou seperti ini?" Tante Silvia bertanya dan dalam suaranya ada tangisan juga.
Jerol menoleh pada tante Silvia.
"Dia sudah mengatakan yang ingin dia katakan, tante... gak usah khawatir ya... Fou kuat kok... Tante juga harus kuat buat Fou... Kita pulang aja ya?"
Jerol mengemudikan mobilnya dengan hati-hati. Melepaskan napas lega karena setidaknya Fou bisa teratasi sehingga gak sampai bertindak di luar batas. Dia bisa paham kemarahan Fou. Dia ingin segera pergi karena ada tetangga yang mendengar kejadian barusan, saat bicara dengan Nando dia melihat ada beberapa orang yang berdiri mengamati di jalan. Dia tidak ingin ini menjadi urusan pala di lingkungan ini, mereka warga kelurahan lain di kota ini, urusan bisa panjang dan bisa saja kekhawatiran tante Silvia terjadi.
Di balik kemudinya Jerol melihat Fou, dia kemudian meraih tangan Fou, dan menggengamnya sepanjang perjalanan pulang. Fou membiarkan, dia butuh kekuatan seseorang selain sang mama, dan hanya ada Jerol di sini. Hatinya tidak menolak apa yang Jerol lakukan malam ini, bagian hati yang lain mengingat tentang Jerol yang dulu menjadi tempat dia bersandar saat peristiwa tiga belas tahun yang lalu, mereka masih bersama waktu itu. Apa yang Jerol lakukan dulu sama dengan yang dia lakukan sekarang.
Dan genggaman tangan Jerol begitu menenangkan dirinya. Sejenak dia mengingat Petra, status cowok itu pacarnya, tapi pacarnya tidak membaca beberapa pesan yang dia kirimkan setiap pagi sejak dia mengetahui nomor hp Petra.
.
.