My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 37. Langkah Berani Jerol



Jerol bukan pemaksa, sangat mengerti keadaan Fou, karena itu dia sedikit menjaga jarak tapi bukan berarti mundur, setiap pagi dia mengirim chat berisi rindu dan cintanya. Dia ingin fokus menyelesaikan masalahnya sendiri, dia gak ingin Fou dikait-kaitkan dengan niatnya menceraikan Vinzy.


Fou mulai dibicarakan orang-orang dan dikait-kaitkan dengan profesinya yang seharusnya menjadi teladan. Orang gak akan bertanya siapa yang benar, atau berusaha untuk mencari tahu sebuah keadaan, karena kenyataan yang orang lihat ada Petra dan Jerol yang terhubung dengan dirinya. Realitas sosial yang harus dihadapi Fou, bahwa bibir ibu-ibu sangat kreatif jika menyangkut membesar-besarkan sebuah gosip.


Seperti pagi ini, Fou keluar dengan mobil mamanya. Sejak mama sakit maka mobil mama digunakan Fou. Mobil yang dikendarai Fou melewati Jerol yang sedang jalan sambil mendorong stroller Elsie. Keduanya hanya bisa saling bertatapan, seperti saling mengirim rindu yang berkecamuk di dada. Sangat ingin untuk bersama tapi sama-sama harus menjaga diri sendiri serta cinta mereka dengan cara seperti ini.


Apa mau dikata, masing-masing masih punya status walau hati tidak lagi terikat dengan pasangan mereka. Dan di lorong ini ada banyak ibu-ibu yang sedang beraktivitas pagi di luar, jadi sebuah gerakan kecil bisa jadi santapan empuk yang menambah keceriaan pergibahan pagi.


Hanya Nando yang duduk di depan yang menyapa Jerol dan Elsie dengan melambaikan tangan, sampai kepalanya keluar dari jendela mobil saat melakukan itu.


“Nando?” Fou menegur adiknya, mata Fou segera menangkap pandangan lapar ibu-ibu di depan motor abang sayur.


“Aku mewakili kakak, hehehe… kakak kangen kan sama kak Jerol, kelihatan loh tadi tatapannya, hehehe…”


“Bocah tahu apa?” Fou menggerutu.


“Aku tahu kok, gimana rasanya kangen seseorang.”


“Hah? Kamu udah pacaran? Kamu gak boleh pacaran, anak kecil…” Fou menyergah sambil mengirim lirikan maut.


“Ihh kakak ngelarang aku, kakak sendiri kata mama mulai pacaran dengan kak Jerol saat SMP kelas dua, aku udah kelas tiga masa gak boleh,” balas Nando.


“Astaga Nando? Kamu masih kecil…” Dalam hati Fou menyesalkan mamanya bisa menceritakan hal semacam itu pada Nando.


“Hehehe… belum pacaran kok, baru naksir aja.” Balas Nando sambil cengengesan, mukanya memerah membuat Fou tertawa dalam hati, dia juga gak mungkin menahan tahap perkembangan adiknya ini.


.


Di rumah Jerol, ketegangan terjadi. semalam Vinzy kedapatan oleh mama Anet pulang larut malam diantar seorang lelaki. Beberapa kali dia bisa mengelabui orang rumah bekerjasama dengan mbak yang membukakan pintu belakang.


Di ruang makan, Vinzy terlambat sarapan dan dia sudah ditunggu mama mertua...


"Vinzy, semalam kamu pergi dengan selingkuhanmu?" Pertanyaan gamblang Mama mertua. Sejak awal mama mertua ini bersikap kaku dan tegas.


Vinzy gak bisa mengelak soal dia pergi semalam karena si mama mertua yang membukakan pintu.


"Temen kok," kilah si Vinzy.


"Jangan bohong kamu! Saya berbesar hati memberi kesempatan kamu kembali ke rumah ini, bukannya memperbaiki diri tapi kamu bertingkah seenaknya." Suara mama Anet sangat ketus terlebih karena melihat mimik tidak peduli dari menantunya.


"Kak Je juga kayak gitu, kenapa hanya aku yang disalah-salahin. Kak Je juga selingkuh, mama pikir aku gak tahu?" Vinzy mengatakan dengan santai, sambil sarapan sambil melihat hpnya bahkan lebih fokus di sana dan tidak peduli dengan mama mertuanya.


Mama Anet terdiam karena dalam nuraninya membenarkan tingkah Jerol yang terang-terangan padanya ingin menikahi Fou. Jika saja mereka tidak terikat suatu sistem keyakinan mengenai menikah itu sekali saja, mungkin dirinya sudah mendukung langkah Jerol menceraikan Vinzy dan menikahi Fou, sebab dalam segala-galanya kepribadian Fou jauh lebih baik dari Vinzy.


Vinzy sendiri jadi besar kepala, dia dipaksa datang oleh papa mertua, dan hidup di sini tentu lebih terjamin, dia menerima uang bulanan yang besar, sangat lumayan untuk belanja yang dia sukai dan untuk ongkos hedonnya bersama sang pacar yang merupakan papa bayinya.


“Jerol gak akan seperti itu kalau kamu bersikap sebagai istri dan bersikap sebagai mama. Mulai berubah Vinzy, sayangi anakmu sendiri.” Mama Anet sedikit berubah suaranya, entah bagaimana dia harus mengarahkan supaya hidup rumah tangga anaknya menjadi benar.


“Elsie gak mau aku gendong, jadi untuk apa repot?”


“Astaga anak ini? Berusaha Vinzy, tetangga aja menyukai Elsie dan mau mengajak main, bayi gampang didekati, masa kamu mamanya gak punya hati?” Mama Anet terpancing lagi dan berkata dengan emosi. Lama-lama dia bisa sakit jantung seperti suami bahkan bisa parah seperti tetangganya Silvia. Punya menantu membuat hidupnya penuh tekanan sekarang.


Vinzy memanyunkan bibirnya menanggapi semprotan mama mertua. Sebenarnya hati kecilnya sering menusuk pikirannya sendiri saat melihat Elsie, tapi dia gak mau dekat dengan Elsie, dia gak mau akhirnya suster dipulangkan saat dia peduli pada Elsie. Dia gak benar-benar ingin kembali bersama Jerol dan menjadi pasangan orang tua. Makanya dia gak peduli saat tahu Jerol dan Fou, justru itu bagus dan dia punya alasan dan tameng untuk tetap bersama pacarnya.


“Suster… bawa Elsie ke sini…” Mama Anet berteriak ke arah kamar bayi Elsie. Elsie baru selesai dimandikan dan dijemur sebentar, biasanya setelah itu dia akan minum susu dan siap untuk tidur siang jilid pertamanya, karena subuh dia sudah terbangun.


Suster membawa Elsie keluar, Elsie terlihat mengantuk.


“Berikan pada mamanya, biar dia tahu bagaimana mengendong anaknya sendiri,” tegas mama Anet dengan nada memerintah.


Vinzy kaget dan berusaha menolak, tapi suster meletakkan Elsie di pangkuannya. Dia tidak siap mengendong dan Elsie hampir terjatuh.


“Gendong dengan benar, itu anakmu Vinzy!!” Mama Anet setengah berteriak, panik juga melihat cara Vinzy mengendong bayinya sendiri.


Elsie menangis setelah mengenali siapa yang mengendongnya, Vinzy berdiri dan membawa Elsie untuk memberikan lagi pada si suster.


“Jangan sus… biar dia belajar membujuk anaknya, suster ke belakang saja,” tegas mama Anet lagi.


Raut wajah jengkel jelas terlihat baik di wajah mama Anet maupun Vinzy, mama Anet sebenarnya sedang menahan hati karena cucunya menangis meronta-ronta, dia takut vinzy gak menahan Elsie dengan baik, bayi itu bisa terjatuh.


Vinzy gak kehilangan akal, dia ke kamar Elsie dan meletakkan Elsie di atas tempat tidur Elsie yang besar, lalu keluar kamar. Mama Anet naik pitam melihat kelakuan menantunya. Dia setengah menyeret Vinzy masuk lagi.


“Jangan kurang ajar kamu ya, urus anakmu. Ini darah dagingmu, bukan darah daging kami, kami gak ada hubungannya dengan bayimu!” Mama Anet berteriak marah.


Mama Anet mendorong Vinzy ke arah tempat tidur, di mana Elsie sudah duduk terlihat dua tangannya terangkat sambil memandang omanya. Vinzy tersentak melihat kemarahan mama mertuanya, tapi Vinzy secepatnya lari keluar gak mau dipaksa mengendong bayinya, dan langkahnya terhenti karena ada papa mertua masuk ke kamar. Dia segan jika dengan papa mertuanya.


“Net?” Singkat suara suami tapi punya banyak arti, ikut campur seperti ini pasti karena mendengar teriakannya tadi.


“Menantu gak berguna yang kamu sayang gak mau bahkan sekedar mengendong Elsie, aku harus memaksanya, itu darah dagingnya sendiri, bahkan itu bukan cucu kita sebenarnya, Her??”


“Stop. Kita sudah sepakat soal Elsie? Kamu mau menolaknya sekarang?”


“Bukan seperti itu Her, anak ini harus diajar bagaimana bertanggung jawab terhadap bayinya sendiri.” Mama Anet jelas menyayangi Elsie seperti cucunya sendiri tapi maksudnya jelas mengenai Vinzy.


Jerol bergegas, keributan sampai ke kamarnya, dia sudah bermain dengan Elsie hingga saat Elsie mandi, mendengar bayinya menangis, Jerol masuk kamar dan segera mengangkat Elsie.


“Kenapa ma?” Tanya Jerol sambil membujuk bayinya dengan mengusap punggung mungil Elsie. Elsie bersandar di bahu Jerol berhenti menangis tapi masih terisak.


“Mama minta Vinzy ikut memperhatikan Elsie, dia menolak,” mama menjawab dengan nada gusar.


“Ada suster ma, kenapa memaksa dia? Aku gak butuh dia, bahkan lebih baik dia menjauh dari Elsie.” Jerol berkata dingin, dia tidak peduli dengan kehadiran Vinzy di rumah selama ini. Vinzy menoleh pada Jerol, dia punya dendam pada suaminya ini, hanya status saja yang disematkan padanya tapi Vinzy tidak pernah mendapatkan perlakuan yang baik dari Jerol.


“Jerol?” Suara wibawa papa Herry menerobos gendang telinga Jerol. Hanya menyebut nama saja, itu sudah terkandung semua kalimat yang hendak diucapkan kepala keluarga ini mengenai situasi yang terjadi, dengan nada seperti itu tanda dia tidak setuju atau melarang istri dan anaknya.


“Dia gak becus jadi mama untuk Elsie, dia gak punya rasa sayang untuk anaknya sendiri, karena itu aku gak akan membiarkan dia dekat-dekat dengan Elsie,” Jerol menjawab papanya.


“Anet, ambil Elsie. Kalian berdua… ikut papa!”


Dengan meninggalkan tatapan penuh otoritas papa Herry keluar, Vinzy mengikuti dengan takut. Jerol tidak mau kali ini, ini saatnya dia ingin menentukan apa yang dia inginkan mengenai Vinzy. Dia tetap mengendong Elsie yang masih bersandar manja padanya.


“Jerol!!”


“Je… papa memanggilmu, sini Elsienya…” Mama Anet mulai was-was karena suara suami meneriakkan nama Jerol kembali terdengar, dan dia tahu itu suara marah sang suami.


“Gak ma, sekarang papa yang harus memahami diriku dan keinginanku.”


“Je… mama mohon, jangan ribut dengan papa, dengarkan papa…” Mama Anet berusaha membujuk.


“Papa yang harus mendengarkan aku ma.” Jerol masih bertahan.


“Je… kamu tahu papamu seperti apa kan? Tolong mama, jangan sampai papamu semakin marah, mama yang kena imbasnya, mama yang akan dimarahin papamu. Kamu mau seperti itu?” Mama Anet terpaksa memanipulasi anaknya, dia tahu anaknya gak akan tega padanya.


Jerol terpaksa menyerahkan Elsie lalu keluar ke ruang tengah.


“Duduk Jerol!”


Jerol bergeming, menunjukkan perlawanannya sekarang, dia sudah tiga puluh satu tahun dan sepanjang dia paham banyak hal, dia selalu tunduk pada papanya.


“Jerol???!” Suara papa semakin naik, mukanya memerah dan semakin mengeras.


“Katakan apa yang ingin papa katakan.” Jerol bereaksi dingin, jika harus menghadapi papanya yang seperti ini, maka hadapi dengan cara lelaki juga, Jerol tidak mau lemah lagi di hadapan papanya.


“Jangan lari dari tanggung jawabmu sebagai suami, selesaikan masalah kalian.” Papa akhirnya bicara setelah melihat sikap anaknya.


“Aku memang hendak melepas tanggung jawabku secepatnya, aku sementara mengurus perceraian kami, dengan demikian gak ada masalah lagi, dia bebas dengan keliarannya dan aku bebas menentukan masa depanku sendiri.” Jerol memasang wajah bekunya, dia sudah bertekad dan bertepatan di hadapan papanya dan Vinzy momen yang tepat untuk mengutarakan niatnya.


“Jerol!!” Papa Herry terperanjat, mereka setelah Jerol dewasa jarang berinteraksi. Tapi anak ini selalu hormat padanya, tapi kali ini berbeda. Papa menatap Jerol dengan emosi yang semakin bertambah.


Dan Vinzy juga terkejut, bukan ini yang dia inginkan, dia terancam kehilangan kenyamanannya.


“Kamu tahu papa melarang keras hal itu,” tekan sang papa.


“Aku punya hak mengatur hidupku, aku minta papa jangan mencampuri lagi, cukup sampai di sini mengenai Vinzy jangan papa intervensi lagi!” Suara Jerol sama menekannya.


“Kamu harus mendengarkan orang tua, Jerol. Kesalahanmu adalah tidak memperlakukan Vinzy dengan baik.”


“Ya, karena papa memaksaku menikah dengannya, itu kesalahan papa! Dan ternyata dia menipu kita semua! Elsie adalah bukti nyata bahwa dia bukan perempuan baik-baik."


“Papa tidak memaksa, papa memintamu sebagai pria dewasa yang harus menerima konsekuensi perbuatanmu. Kamu sendiri yang menyetujuinya.”


“Karena aku berpikir dia anak baik. Aku juga menikah dengan niat baik, tapi dia merusaknya.” Jerol menunjuk Vinzy yang hanya bisa diam saja kali ini.


“Kamu yang merusaknya Jerol, pikiranmu mengenai Fou membuat kamu menyakiti Vinzy.” Papa menuding balik ke arah Jerol.


“Pa, aku gak akan seperti itu kalau aku gak melihat dengan mataku sendiri, baru sebulan kami menikah dia udah berani keluar dengan pacarnya itu. Sejak itu aku gak peduli padanya.”


Vinzy terbelalak, jadi sejak awal kak Jerol sudah tahu?


“Karena itu jangan melarangku untuk menceraikan dia,” sambung Jerol lagi.


“Kamu menceraikan Vinzy… papa gak mau melihat mukamu lagi!” Suara lantang papanya gak membuat Jerol lemah.


“Baik, jika itu kemauan papa, aku akan secepatnya pergi dari sini. Aku akan membawa Elsie karena dia anakku. Dan papa boleh mengembalikan Vinzy pada orang tuanya,” pungkas Jerol lalu meninggalkan papanya dan Vinzy.


“Jerol!!!” Papa Herry berdiri hendak menjangkau Jerol tapi segera ditahan mama Anet yang sudah datang karena khawatir suasana semakin panas.


“Sudahlah Her… Jerol bukan anak-anak lagi, biarkan dia…”


“Biarkan bagaimana? Biarkan dia mempermalukan kita?” Si papa Herry sudah ada di puncak kemarahannya.


Dan Vinzy berharap semakin papa mertuanya marah pada Jerol semakin aman posisinya di sini. Dia belum ingin saldo di rekeningnya habis, bisa kiamat dunianya.


"Pa, aku malu kalau bercerai... Apa kata saudara di kampung," Vinzy berusaha


"Masuk kamar kamu Vinzy! Kalau gak ingin diceraikan ubah dirimu, perhatikan Elsie dan layani suamimu. Terutama tinggalkan selingkuhanmu!" Mama Anet berkata dongkol.


Mau tidak mau Vinzy masuk takut membantah di depan papa mertua, dia berharap papa mertua akan tetap membelanya.


"Her... Coba pahami Jerol. Dia tersiksa dengan pernikahannya, mereka tidak baik terus bertahan dengan keadaan seperti ini."


"Tidak, katakan pada anak itu penyelesaiannya bukan cerai. Dia harus melihat Vinzy sebagai istrinya, begitu cara memperbaiki yang salah."


"Tapi Vinzy selingkuh Her, masa kamu menerima begitu aja?"


"Aku akan bicara pada Vinzy, minta Jerol menjauhi Fou. Sekali kita ijinkan Jerol cerai, maka mental itu akan melekat padanya seumur hidup, menyelesaikan masalah dengan bercerai. Tidak ada perceraian Anet!"


Siapa yang bisa mengubah pendirian suci seorang papa Herry?


.


.


.