
Hidup kadang terlalu membosankan, hanya menghadapi hal-hal yang sama, mendengarkan hal-hal yang sama, melakukan hal-hal yang sama, bahkan tersakiti oleh hal-hal yang sama.
Perkumpulan ibu-ibu pos kamling pindah lokasi di depan Indo maret di seputaran gerobak gorengan tante Tuti. Kursi-kursi outdoor yang disediakan toko beralih fungsi jadi tempat nongkrong ibu-ibu ini. Bertepatan yang jadi manager toko adalah salah satu warga di lingkungan ini jadi dia gak bisa melarang ibu-ibu menjadikan area depan toko jadi area markas baru ibu-ibu pasukan elite lorong ini.
Fou kebetulan mampir untuk membeli sesuatu di toko. Kedatangan Fou segera membuat topik ‘pembahasan’ berganti. Fou sempat mendengar ‘intro’ yang menyinggung dirinya saat turun dari mobilnya, dan Fou hanya senyum sekedarnya pada geng ibu-ibu itu lalu mulai berjalan masuk ke dalam toko.
“Aku masih heran dengan si Fou ini, kasihan banget udah takdir kali ditinggal pacar terus. Kayaknya memang gak akan nikah-nikah deh, udah hampir tiga dua loh umurnya, seumur dia anakku udah tiga…” Salah satu tante memulai dengan suara rendah takut didengar Fou tapi sambil membalas senyum Fou.
“Iya, pria jadi takut juga deketin dia… Vasco adiknya pak Pala kan suka sama Fou, tahu Fou putus dari dokter Petra udah mau deketin eh… gak tahu kenapa,.. batal. Takut gagal kali,” seorang ibu yang lain menimpali.
“Iya sih, walau kata gaji besar, wajah cantik, orang tua punya banyak uang, tapi kalau gak nikah-nikah juga… itu karma pak Emil selingkuh sih…” Tante Tuti menimpali tanpa melihat Fou, dia pikir Fou sudah masuk ke dalam toko
Fou biasanya kalem bila mendengar orang-orang bergunjing tentang keluarganya, tapi kali ini dia terusik dan tiba-tiba merasa harus bicara. Fou berbalik.
“Tante-tante… kalian punya kebiasaan buruk, selalu membicarakan orang lain. Kalau ceritanya bener… tapi kebanyakan cerita kalian itu menjurus ke fitnah… banyak hal lain yang lebih berfaedah dari pada membicarakan kekurangan orang lain.” Fou berbicara tanpa menyembunyikan kekesalannya.
“Ehh Fou… ada apa? Kenapa marah-marah? Siapa yang memfitnah? Jangan sembarangan menuduh orang!” Tante Tuti pemilik gerobak gorengan gak terima perkataan Fou, dia menjulurkan kepala dari balik gerobak.
“Aku gak marah, aku gak asal menuduh, tapi aku cukup tahu kalian kalau udah ngumpul seperti ini pasti kerjaannya gibahin orang. Kalian juga punya masalah sendiri jadi jangan urusin masalah orang, stop omongin tentang keluargaku,” Fou menjawab masih bernada jengkel.
“Hehe… kamu tersinggung ya? Apa yang kita omongin tentang kamu dan tentang papamu bener kok, di mana fitnahnya?” Tante Tuti menjadi wakil ibu-ibu di situ menantang Fou, gorengannya dia tinggalkan, sekarang berdiri gak jauh dari Fou.
“Semua cerita kalian lebih banyak fitnahnya, udah sering aku denger ya, gak usah berkilah tante…” Fou mulai merasa wajahnya panas.
“Papamu beneran selingkuh buktinya udah jelas, kamu masih mau menyangkal? Kamu putus dari dokter Petra, itu juga ada buktinya, mamamu sendiri yang cerita… jangan sembarangan mengatai orang memfitnah Fou!” Tante Tuti berkata dengan berang.
“Aku gak menyangkali itu tante, tapi banyak cerita kalian mengenai hal itu yang gak benar!”
“Gak benar apanya? Gak usah membela diri, Fou..!” Sergah tante Tuti.
“Udah… udah Tuti, Fou… jangan berantem, kita ini udah sejak lama tetanggaan, harus jaga hubungan dengan baik… jangan perbesar masalahnya ya…” Tante Monik segera datang berusaha mendamaikan melihat gelagat Fou dan temannya si pengusaha gorengan sama-sama udah naik tensi.
“Cara menjaga hubungan supaya tetap baik jangan membicarakan tetangga kalian di belakang mereka…” Fou masih belum bisa ditenangkan.
“Fou… jangan salah sangka ya, kami bicara karena kami peduli padamu, coba kamu ingat-ingat lagi apa yang kami bicarakan tadi, itu bukan untuk menjatuhkanmu kan, kami kasian dengan hidup kalian… itu aja… jadi jangan perbesar ya Fou… biasa aja kan kalau kita membahas kehidupan tetangga kita… sekali lagi itu karena kami peduli…” Tante Moonik berusaha bijak.
Fou hanya menggeleng beberapa kali, gak terima tapi merasa sia-sia untuk mengatakan keluhannya yang tidak suka keluarganya dijadikan bahan pergunjingan, juga menyesal mengapa kali ini dia tidak dapat menahan diri, karena biasanya dia bersikap masa bodoh terhadap kebiasaan ibu-ibu ini.
Fou akhirnya masuk ke dalam toko tanpa menyanggah perkataan tante Moonik.
“Udah masuk kategori perawan tua, jadi udah emosian, udah sensi aja…” Sebuah kalimat yang disambut cekikikan beberapa ibu.
Entah siapa yang mengatakannya, telinga Fou bisa menangkap suara itu sebelum dia benar-benar menghilang di balik pintu kaca.
Itu kata mereka tentang kepedulian? Terlalu peduli atau mengobral kepedulian? Ini sih sikap terlalu kepo terhadap kehidupan orang lain dan itu salah satu keanehan mental. Fou mulai ada rasa jenuh dengan keadaan yang hanya berputar-putar pada hal yang sama, entah apa yang salah dengan hidupnya. Fou melepas nafas getirnya, menatap dengan sedih dari balik kaca para ibu-ibu yang meneruskan ‘diskusi’ mereka.
.
Tiba di rumah… Fou baru selesai mandi dan naik ke tempat tidur untuk meluruskan badannya, melepas pegal di kaki karena seharian saat mengajar dia lebih banyak berdiri, mama Silvia masuk.
“Besok kita ke kebun kita… ikut ya Fou?”
“Aku males ma…” Fou menjawab pertanyaan sang mama, tanpa memandang sang mama, dia tahu ada acara oma, pernah mendengar papanya mengatakan itu.
“Semua ikut, oma mau ulang tahun ke tujuh puluh lima, acaranya di kebun kita… nanti kalau oma menanyakanmu, mama harus bilang apa? Kamu cucu tertua oma…”
“Ada banyak keluarga yang datang kan? Aku gak suka ma…”
Sehabis mandi baru aja kepalanya menjadi dingin setelah kejadian di depan Indo maret, ajakan mama membuat kepalanya kembali panas, seolah aliran oksigen ke otaknya terhenti karena mendadak kepalanya terasa berat.
“Kenapa?”
“Aku gak suka dijodoh-jodohkan ma… aku gak suka orang mengusik hidupku, kenapa mereka gak terima aja dan gak usah memusingkan aku menikah atau tidak…” Fou berkata tanpa menyembunyikan emosinya di hadapan mamanya, menjawab dengan suara kesal.
Fou mulai malas mengikuti acara keluarga karena pertanyaan orang-orang tentang statusnya gak pernah berubah. Dia gak suka juga banyak di antara keluarga papanya yang suka menjodoh-jodohkan dirinya. Ini adalah kehidupannya, dia memegang peran utama, seharusnya pilihan hidupnya atau apapun yang dijalaninya tidak perlu dipusingkan orang lain.
“Mereka seperti itu karena peduli, Fou…”
“Heh… tante-tante geng mama juga bilangnya seperti itu, mereka gibahin kita dengan alasan peduli, itu aneh Ma… dan sebaiknya mama gak usah deket-deket mereka lagi, terutama tante Tuti dan temen-temennya. Kayak tante Anet aja ma, dia gak terlalu deket kan sama mereka… gak sehat mama bergaul dengan mereka…” Fou mengeluhkan para tetangganya sekarang.
Mama Silvia akhirnya duduk di tempat tidur, ingin mengobrol sejenak dengan putrinya. Belakangan anaknya terlihat gak bahagia dan menjadi lebih sensitif.
“Biasanya kamu suka menasehati mama untuk gak mengambil pusing dengan perkataan orang lain. Kamu sering mengatakan... mereka akan berhenti sendiri saat kita gak menanggapi… lupa?”
Fou gak menanggapi hanya menatap mamanya sekilas, dia sendiri heran dengan sikapnya tadi saat menghadapi ibu-ibu, biasanya dia akan membiarkan saja atau menghindari mereka gak membiarkan telinganya menjadi tercemar.
Hening sesaat, mama Silvia mengikuti Fou membaringkan tubuh di tempat tidur itu.
“Ikut aja Fou, oma baru sembuh, acara ini sekalian ucapan syukur, ini momen berharga untuk papa juga… soal saudara-saudara papa yang mengusikmu, biasanya kamu cuek dijodoh-jodohin kan… kembali bersikap seperti itu aja…” Mama kembali bersuara.
Fou masih diam, hanya mengulurkan tangan memijit betisnya sendiri sambil memikirkan perkataan mama dan mulai membenarkan bahwa hatinya tidak selapang biasanya dengan keadaannya.
Mama Silvia berdiri dari tempat tidur, berniat meninggalkan kamar, tepat di saat yang sama hpnya berdering. Mama mengambil hp dari saku daster, melihat id pemanggil, tidak menjawab tetapi kembali duduk di ujung tempat tidur. Mama Silvia jadi ingat alasan yang lain yang membawa dia datang ke kamar putrinya, suaminya meminta dia menceritakan tentang Petra selain acara besok.
“Mmm… Rara… mama harus kasih tahu kamu sesuatu…” Mama Silvia menahan tatapan pada putrinya, walau ragu tapi dia gak ingin menyimpan ini dari putrinya.
“Petra…”
“Mama!” Fou memotong kalimat sang mama, di tidak ingin mendengar apapun.
“Tapi Rara… mama harus katakan ini padamu… Petra sering menghubungi mama sejak kalian putus, sering mengirim chat dan menelpon, walau mama gak pernah menjawab telponnya, tapi dia gak berhenti mengirimkan chat dan isi chatnya panjang-panjang mengakui kesalahannya.”
“Udahlah ma… tolong berhenti…”
“Tapi ini udah hampir setahun, Rara… mama pikir kalau mama gak menggubrisnya dia akan berhenti… tapi minggu kemaren mama gak sengaja menjawab panggilan karena nomor baru… mama sempat ngobrol… dia mengatakan sampai sekarang dia gak bisa melupakanmu, dia masih begitu mencintaimu dan gak akan menyerah sama kamu… makanya mama… mama jatuh kasian.”
“Ma… apapun alasannya, mama gak boleh meladeni dia, tegaskan itu dan akhiri sampai di situ. Terlalu aneh kenapa dia menghubungi mama.”
Fou ingin menangis sekarang, hidupnya semenyedihkan ini. Jerol pernah intens menghubungi dirinya, walau ingin sekali menyambut Jerol tapi resiko hubungan mereka terlalu besar, maka dengan berat hati dia kembali menegaskan penolakannya lalu memblokir nomor Jerol. Dan sekarang seseorang yang paling dia benci, tidak menghubungi dirinya tetapi mengganggu mamanya.
Keanehan apa lagi yang harus dia hadapi? Kenapa dua nama ini menjadi lingkaran setan dalam hidupnya? Mengapa mereka menahan kakinya untuk menuju kebahagiaannya sendiri? Teringat sebuah kalimat di drakor yang dia tonton, mungkinkah dia di kehidupan sebelumnya punya salah pada dua orang itu, sehingga di masa kini mereka begitu mengganggunya? Tapi dia tidak percaya tentang adanya inkarnasi manusia.
“Petra mengatakan bahwa dia dan Olivia sudah berakhir. Rara… mama rasa dia sungguh-sungguh… dia mengatakan bahwa jika dia sudah cukup percaya diri dia akan menemuimu. Apa… apa kamu tidak mau memberi kesempatan… mempertimbangkan Petra sekali lagi? Mungkin dia memang berjodoh denganmu…” Mama masih melanjutkan.
“Ma??? Jangan terharu dengannya lagi dan jangan mudah percaya. Gak ada kesempatan ma… bahkan Jerol yang aku sayang gak aku kasih kesempatan apalagi dia? Tolong mama mengerti bahwa aku gak ingin berhubungan dengan dia lagi, jadi jangan bicarakan soal dia lagi.”
Kali ini setitik airmata menyertai kalimat yang Fou utarakan, dia ingin keluar dan terbebas dari dua nama ini dan semesta benar-benar menguji hatinya dengan semua keadaan yang dia harus terima sebagai dampak dari keterkaitannya dengan mereka.
Mama Silvia tergores hatinya memandang wajah sedih putrinya.
“Mama minta maaf, Rara… mama melihatmu murung dan sedih berbulan-bulan dan mama tidak bisa menghiburmu… mama gak mau menyimpan cerita tentang Petra karena mama gak ingin kamu berpikir lain bila kamu tahu… mama bukannya gak ngerti perasaanmu tentang dia, maaf ya mama hanya berpikiran sempit tentang Petra dan kamu…”
Mama berkata juga dengan airmata, kesedihan bertambah karena melihat airmata Fou. Putrinya ini hanya akan menangis bila tekanan dia gak bisa pikul lagi. Anaknya begitu tegar di saat dia terpuruk dan menjadi putri yang kuat untuknya sehingga dia mampu menghadapi lukanya di masa lalu.
Tangan mama Silvia spontan terulur mengusap kepala anaknya. Dalam hati berdoa supaya anaknya bisa bertemu dengan jalan hidup yang lebih baik setelah ini.
“Mama gak akan memaksa kamu ikut besok, dan mama pikir papa juga paham… jangan lupa makan sebelum tidur, gak usah menunggu papa… papa ada acara di kantor gubernur…”
Mama Silvia beranjak keluar kamar. Tapi di depan pintu…
“Kapan kamu libur?” Mama bertanya.
“Minggu depan, ma…”
“Kamu anterin Nando aja, dia pengen liburan ke tempat Marvin lagi… kamu dan Nando duluan aja ke sana…”
“Nanti aja ma, sekalian pas hari H aja, nikahannya Gallen tanggal enam belas kan? Itu masih sebulan lagi…”
“Tanggal 6… mama salah ternyata… kamu jalan-jalan aja dulu, healing sana, sekalian bawa Nando… dia udah gak sabar menunggu untuk naik pesawat lagi… ke Bali dulu atau ke mana, ke luar negeri juga boleh… mama gak pengen lihat kamu sedih terus.”
Mama menutup pintu dari luar. Fou menatap langit-langit kamarnya, apa benar dia terlihat sedih? Apa sejelas itu ekspresinya? Memang seperti ada yang masih kosong di dadanya, tapi dia bukan sedang patah hati kan? Dia bukan seseorang dalam posisi diputuskan oleh kekasih, dia justru yang memutuskan hubungan dan menolak dua pria yang menginginkan dirinya.
Tapi dia harus mengakui, setelah episode dengan dua pria itu hidupnya tidak sama lagi. Waktu tidak menolongnya untuk kembali menjadi Fou yang percaya diri dan selalu bersikap tegar, semua kesibukannya pun tidak dapat mengalihkan hatinya terhadap hidup yang menjemukan ini. Fou paham bahwa kadang seperti ini, beberapa hal baik datang tetapi ada juga beberapa hal buruk yang menghampiri, hidup sebenarnya selalu bergulir seperti itu.
Tapi kali ini satu bagian dari episode kehidupannya membekas dalam, dan ditambah dengan tekanan atmosfir dan kultur di sekitarnya tentang status singlenya, jiwanya sedang mencari gerbang untuk keluar dari tekanan batin, dan kemudian mencari gerbang yang lain yang di dalamnya dia dapat menemukan yang namanya bahagia.
Fou membuang napas berat dengan sebuah suara mengikuti, lalu pikirannya kemudian memutuskan untuk jalan-jalan memanfaatkan waktu liburan, saran sang mama mungkin adalah gerbang yang dia butuhkan, hatinya butuh pelepasan karena terlalu sesak dan dan sempit sekarang.
.
Hi semua... Lama aku menghilang dgn kesibukan yang aku pernah sebutkan. Maafkan ya...
Oh ya... sedikit mengingatkan, merokok itu tidak baik, saudara aku kena cancer paru udah stadium akhir baru ketahuan. Sedih, tapi yg aku mau bilang kasihan penderitanya dan kasihan juga semua keluarga, pengen nolong meringankan penderitaan tapi gak bisa.
Tetap jaga kesehatan semuanya...
.
.