My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 25. Meminta Kesempatan



Fou tidak mungkin duduk-duduk saja lalu mencemaskan keadaannya, tapi kenyataannya dia gak bisa membendung aliran sungai deras pergibahan. Sebenarnya dia bisa tetap bersikap tidak peduli tentang semua cerita miring yang sudah sangat jauh berkembang ke tingkat penyimpangan seluruhnya. Tapi dia makhluk sosial dan situasi di sekelilingnya sedikit banyak membuat dia gak nyaman, terutama karena mamanya yang menjadi sensitif dan cenderung murung sejak papanya pergi lagi, mama begitu terpengaruh dengan cerita tentang dirinya.


Fou bisa mengelak dari realita bahwa ada banyak rumors dan cerita negatif menyangkut dirinya, karena untuk membuktikan sebuah kebenaran butuh waktu. Dia hanya perlu diam gak menanggapi, lama kelamaan orang bosan untuk menceritakan tentang dirinya. Dia hanya perlu menjaga supaya tidak berinteraksi dengan dua orang itu saja, Jerol dan Petra.


Tetapi ada hal-hal di luar dirinya yang tidak bisa dia kendalikan, termasuk peristiwa hari ini…


“Kak Fou… tolong pegang Elsie sebentar… di rumah ada situasi darurat.”


Jill muncul dengan si bayi dan langsung menyerahkan bayi enam bulan itu ke tangan Fou, lantas pergi lagi.


“Eh? Jill kamu mau ke mana?” Fou berteriak lalu mengikuti Jill sambil mengendong Elsie.


“Aku mau les, udah terlambat.” Jill langsung naik ke mobil online yang sudah menunggu.


“Jill, susternya mana?” Fou teriak sambil mengejar Jilly.


“Susternya minta berhenti, dimarahin kak Je…” Jilly menjawab dari jendela mobil sambil melambaikan tangannya.


“Mamamu? Mbak kalian banyak, Jill!”


Pertanyaan terakhir Fou tidak dijawab Jill karena mobil sudah jauh. Astaga si Jilly, dia juga mau berangkat memberikan les. Fou terpaksa membawa Elsie masuk ke dalam rumah Jerol.


Di dalam halaman rumah ada dokter Petra yang baru akan naik mobilnya, melihat Fou mengendong bayi milik Jerol, dan sempat melihat si Jilly tadi keluar, mendengarkan beberapa teriakan Fou, sedikitnya dia tahu situasi yang terjadi.


“Ra…” Petra mendekati Fou. Setelah satu bulan berlalu Fou terus menghindari dirinya, ini kesempatan untuk mendekati. Fou hanya melihat sepintas lalu bergegas masuk. Petra mengikuti, di gak ingin melepaskan Fou, entah Fou akan konsisten menolak dan tidak menanggapi.


Di dalam rumah Jerol ada tamu, Fou gak bisa menghindar karena sudah terlanjur dilihat.


“Tante Anet, ini Elsienya, aku mau keluar… si Jill udah pergi.” Fou mengatakan tujuannya masuk ke sini.


Saat memperhatikan ternyata ini pertemuan keluarga mungkin? Ada Vinzy dan orang tuanya, ada Jerol juga. Semua orang yang duduk berwajah tegang terlebih Jerol. Pantas si Jill mengatakan tadi ada situasi darurat, entah apa, Fou tidak ingin tahu, dia hanya mengembalikan bayi Elsie. Tante Anet segera berdiri datang pada Fou.


“Dia penyebabnya, bu guru itu yang selingkuh dengan kak Je, dia mantannya kak Je. Mereka yang selingkuh duluan depan mataku.” Vinzy tiba-tiba teriak dan menunjuk ke arah Fou.


Fou kaget. Ini apa lagi? Belum cukup orang-orang di lorong ini mengatakannya, dia udah cukup sakit mendengar tuduhan mereka.


“Jaga mulutmu, Vinzy… jangan menuduh orang, dia wanita baik-baik gak seperti kamu!” Jerol berkata dengan marah.


“Kan, kak Je membela dia, sekarang, anakku kenapa ada di tangan bu guru itu, kalau mereka gak punya hubungan gak mungkin anakku dibawa ke sana.” Vinzy masih ngotot.


“Jerol, mama gak belain Vinzy ya, tapi gelagatmu sejak awal nikah kami perhatikan, gak menuduh tapi mama juga mencurigai kalian.” Mamanya Vinzy berkata dengan nada keras juga.


Fou akan membantah jika itu orang yang dia kenal, ini orang luar sekalipun pernah bertemu tapi dia gak mau berdebat dengan orang luar. Fou mencoba bersabar, menunggu tante Anet datang mengambil Elsie, si tante sempat terhenti langkahnya saat mendengar teriakan Vinzy. Mamanya Vinzy datang mendekati Foura dengan cepat.


“Kamu profesinya guru bukan? Seharusnya kamu menjaga kelakuanmu. Kenapa kamu tidak menjauhi Jerol? Sekali pun tetangga tapi kamu sangat tahu Jerol punya istri kenapa tidak menjaga batasmu? Jangan gunakan anak ini untuk merusak rumah tangga orang, jangan-jangan memang benar kamu pelakor.” Suara mamanya Vinzy begitu tajam, dengan tangan yang menunjuk-nunjuk pada Fou.


Deggg… sakit di hati Fou. Fou segera menyerahkan Elsie ke tangan tante Anet, tapi sebelum pergi Fou bicara…


“Maaf, saya tidak pernah melakukan seperti yang kalian tuduhkan, sejak awal saya sudah menjaga batas saya, silahkan tanya pada om Herry dan tante Anet kalau ibu gak percaya.” Suara Fou bergetar.


“Alaa bu guru… mana ada maling mau ngaku… kata orang-orang di sini mereka sering ngeliat kalian… banyak yang jadi saksi kok kalian emang selingkuh.” Vinzy kembali berkoar.


“Vinzy! Jangan keterlaluan ya? Om… tante… gak ada gunanya membawa Vinzy ke sini, aku udah gak sudi menjadi suaminya,” ucap Jerol tegas.


“Lihat sendiri kan ma, pa… gimana kak Je, itu gara-gara dia!” Vinzy kembali menunjuk Fou.


Kenapa dia harus ada di sini di saat yang tidak tepat? Fou menahan perasaan marah dan tersinggung yang hendak meluap, jika ini orang kampung di sini dia gak masalah untuk menyanggah, ini dia masih menjaga etikanya di hadapan orang lain.


Sebuah rangkulan dia rasakan di pundaknya. Fou mendongak, ternyata Petra.


“Bapak, ibu… Foura wanita baik-baik. Untuk apa dia jadi pelakor jika dia punya pasangan… saya pacarnya Foura, dan saya jamin bahwa pacar saya ini tidak pernah mendekati Jerol, hubungan mereka sebatas tetangga saja, kebetulan saya kost di sini, jadi setiap hari saya ada di sini… dan tuduhan tadi sama sekali tidak benar… mari… kami permisi.” Petra berdiri di samping Fou dan menjadi pembela sore ini.


Fou membiarkan Petra tetap merangkulnya dan membawa tubuhnya keluar dari sini. Semua emosi sekarang sudah naik ke wajah Fou.


“Ga papa tante, tapi tolong… aku minta Elsie jangan dibawa-bawa ke rumah, aku senang bermain dengannya, tetapi ada mulut orang yang suka jahat, aku gak ingin terlibat lebih jauh dengan masalah Jerol.” tegas Fou.


“Iya… iya… tante udah denger cerita mereka… maaf ya Fou…” Tante Anet menepuk sebentar lengan Fou.


“Permisi tante…” Fou berjalan lagi.


Fou seperti melupakan bahwa Petra sedang merangkulnya hingga ke halaman rumahnya. Saat menyadari hal itu Fou segera menjauh.


“Ra…” Petra memanggil dengan suara khasnya, berdiri di samping Fou yang sudah naik di motornya, sekarang sedang mengenakan helmnya.


Foura ingat sesuatu, saat selesai memakai helm…


“Terima kasih sudah membantuku tadi, tapi mengenai pacaran, kita gak punya hubungan seperti itu lagi. Dan… berhenti mengirim sesuatu untukku.” Fou berkata dengan intonasi tegas.


Fou menghidupkan motornya dan Petra segera menahannya.


“Foura… aku ingin meminta kesempatan kedua dan aku bersungguh-sungguh dengan niatku.”


Dokter Petra menatap netra Fou. Sejak pertama kali dia berpacaran belum pernah dia sebegitu ngototnya mendapatkan seorang gadis. Biasanya hanya dengan sekali lirik, sekali tebar pesona, cewek akan berbalik mengejar. Karena itu pak dokter Petra menjadi begitu tertantang dengan Fou. Terlalu banyak yang selalu memandangnya dengan kagum, mencari perhatian padanya, dengan berbagai cara mendekatinya. Dan Fou tidak termasuk di dalamnya.


Fou menunjukkan rasa sukanya tanpa sungkan hanya setelah dia nembak Fou tapi mendadak ekspresi itu tidak ada lagi di wajah Fou, bahkan mengatakan putus dengan gampang.


“Bukankah sudah jelas pak dokter? Gak ada kesempatan kedua, aku bukan cewek semacam itu.” Fou juga menatap Petra dengan sorot mata tajamnya


“Ra… aku mendengar dari cerita orang… kamu berkali-kali memberi Jerol kesempatan… makanya aku meminta kesempatan juga… gak berkali-kali Ra, hanya sekali, dan aku akan membuktikan kesungguhanku padamu.” Petra mengatakan permintaannya dengan yakin.


Mereka berdua bertatapan…


“Gak… dokter. Tolong lepaskan tangan anda.” Fou berkata sambil memandang tangan Petra.


“Kenapa gak bisa, Ra? Apa alasannya? Kenapa Jerol bisa dan aku gak bisa?” Petra belum mau melepaskan tangan dari motor Fou.


“Kenapa membandingkan? itu situasi saat aku masih anak-anak yang naif. Sudahlah, pak dokter jangan memperpanjang hal ini, kita sudah berakhir.” Wajah gusar dan marah karena peristiwa di rumah Jerol dan karena Petra jelas sekarang di wajah Fou.


“Justru itu Ra, karena kamu udah dewasa sekarang makanya aku minta kesempatan… jangan salah mengerti ya, aku sama sekali gak bermaksud mengatakan kamu gak berpikir dewasa saat memutuskan aku. Tapi tolong pikirkan kembali, kita baru mulai kan Ra, kita baru sedang mencari tahu karakter masing-masing… apa yang kamu gak suka aku belum tahu, demikian juga sebaliknya…”


Fou terdiam menyimak perkataan Jerol. Bukankah memang terlalu naif ketika menemukan satu kekurangan dokter Petra lalu segera memutuskan hubungan. Fou tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini.


Mama berulang-kali mengeluhkan sikapnya dan dia tahu keadaannya menjadi beban buat sang mama, padahal mama juga punya beban yang berat karena si papa. Fou menjadi tertekan sekarang dengan situasi Jerol yang berdampak padanya, dan tertekan karena Petra gak menyerah hingga sekarang begitu gigih meminta kesempatan.


“Ra… aku ingin memperbaiki cara aku memperlakukan pasanganku… aku gak mau mulai dengan yang lain untuk hubungan seperti ini… aku hanya ingin meneruskan denganmu, Ra…”


Petra melanjutkan…


“Jika kita gagal saling memahami dan saling menerima setelah kita jalan bersama beberapa waktu, maka aku gak akan meminta lagi… hanya ini terlalu cepat untuk menyerah, kita belum saling terbuka. Aku harus jujur waktu yang lalu aku lupa kalau kita punya hubungan, aku belum terbiasa dengan kehadiranmu, Ra… makanya aku minta maaf sekali karena mengabaikanmu dan aku gak akan mengulangi lagi…”


Foura gak tahu harus menyanggah seperti apa, semua penjelasan Petra masuk dalam logikanya.


“Ra… please, pertimbangkan lagi diriku… aku ingin jalani hubungan kita dengan cara yang berbeda dari sebelumnya," bujuk Petra.


“Aku butuh waktu berpikir pak dokter… maaf aku harus pergi sekarang.” Akhirnya Fou menjawab sambil mulai memutar handle gas perlahan, hingga tangan Petra terlepas.


“Oke… Ra, aku menunggu keputusannya.” Petra senyum untuk Fou, meskipun belum menerima, dia gak akan memaksa sekarang, setidaknya Fou mau membuka pintu interaksi dengannya, tidak lagi menolak seperti waktu-waktu yang lalu.


"Hati-hari ya, Ra..." Petra melambai sekalipun Fou tidak melihatnya lagi.


.


.