My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 22. Si Mantan Versus Si Pacar, Mari Bersaing



Tiba di rumah, Jerol melihat Fou masih gak bergerak dari posisi sejak awal, tante Silvia sudah membuka pintu dan turun dari mobil. Jerol segera berputar dan membukakan pintu untuk Fou.


“Kita udah sampai Ra,” jelas Jerol dengan lembut sambil membenahi poni Fou.


Mereka berdua bertatapan, Jerol tahu sekarang sepanjang jalan Fou masih menangis, ini membuat Jerol sesak. Fou yang dia tahu adalah cewek yang kuat, keadaan membuat dia tidak cengeng, baru kali kedua dia melihat Fou yang seperti ini dengan penyebab yang sama.


Dengan lembut Jerol membelai dua pipi Fou, kepalanya miring masih bersandar di jok mobil. Mata Fou mengerjap, menikmati rasa yang hangat yang datang lewat sentuhan Jerol hati yang sakit segera mendapatkan obatnya. Dia juga mendapati bekas tangisan di wajah Jerol, apa tadi Jerol juga menangis untuknya? Dia tahu hati Jerol yang lembut dan penuh sayang, dia seperti terlempar ke masa lalu... di balik sikap narsis Jerol yang tebar pesona ke banyak cewek, sebenarnya yang Fou tahu, Jerol hanya bersikap lembut dan sayang padanya.


Melihat keadaan Fou yang masih sama, Jerol kemudian memutuskan mengendong Fou dengan cara seperti tadi.


Lampu sebuah mobil menyoroti mereka saat Jerol berjalan memasuki halaman rumah Fou, dalam sekali lirik Jerol tahu itu si dokter Petra dan tahu juga mobil dokter itu tidak bisa bergerak maju karena ada dua yang dalam posisi sedang melewati mobil Jerol, jadi si dokter harus menunggu itu.


Jerol bergegas masuk dan membaringkan Fou di kamarnya. Ada tante Silvia yang juga masuk ke kamar.


“Tante akan menemani Fou tidur malam ini?” Jerol bertanya.


“Iya… sampai dia tenang aja, dia tidak suka tidur bareng orang lain sejak SMP…”


“Baik tante, tante kunci pintu kamarnya, aku akan kunci pintu depan… nanti kuncinya aku lemparkan lewat ventilasi.”


“Iya Jerol, boleh… tante juga cape banget…”


Emosi membuat semua kelelahan, termasuk Jerol yang baru merasa dua tangannya pegal karena sempat bergumul dengan kekuatan fantastis seorang Fou yang marah.


Saat keluar dari kamar Fou, ada dokter Petra muncul di ruang depan. Jerol mengacuhkan dan berjalan melewati dokter itu, lalu menunggu di bagian luar sambil memegang handel pintu.


Si dokter memanggil nama Fou beberapa kali tak ada sahutan, karena itu dia mendekati Jerol dan bertanya…


“Foura kenapa?”


Jerol mengangkat bahu lalu hanya berkata…


“Silahkan keluar, aku akan menutup pintu ini…” Suara Jerol tegas dengan maksud yang jelas. Jerol mengacungkan sebuah kunci di tangannya.


Dokter Petra mengernyitkan dahi tanda heran dengan sikap Jerol yang terdengar mengusirnya. Apa hak orang ini? Dari cerita-cerita orang terutama saat membeli pulsa di kiosnya Febi, si pemilik kios yang suka sekali memberikan informasi baik ditanya maupun tidak, dokter Petra mengetahui bahwa antara Jerol dan Fou punya banyak cerita di masa lalu, dan dia tahu bahwa si Jerol ini masih mengejar-ngejar Fou hingga sekarang.


Dua orang pria bertatapan layaknya musuh di rumah wanita yang sama-sama mereka sukai, dengan status yang mereka sandang, si mantan dan si pacar.


Jerol sengaja meminta tante Anet mengunci pintu kamar dan lebih perhatian pada Fou, sengaja pula dia menawarkan bantuan terakhir malam ini untuk mengunci pintu, karena dia sudah menduga si dokter akan datang. Dalam hatinya dia tidak ingin Fou mendapatkan penghiburan lain dari pacarnya, dia ingin malam ini Fou tertidur nyenyak dengan membawa kesan manis hanya tentang dirinya.


“Aku nanya, Foura kenapa? Dia sakit? Aku pacarnya, aku harus tahu.”


“Pacarnya? Bukannya aneh dengan statusmu kamu bertanya padaku? Kamu tidak tahu apa-apa?” Jerol membalas sinis.


Bibir Petra keluh tapi dia masih menatap tak suka pada Jerol. Spontan tangannya meraih hpnya, membukanya tapi dia tidak menemukan chat Fou, dia salah mengambil hp. Dia menukar hpnya dengan hp yang lain, lalu membuka nama Fou di kontaknya, ada banyak chat Fou yang belum dibacanya. Dia melihat itu satu demi satu.


“Keluar! Aku gak mungkin nungguin kamu, silahkan!”


Suara Jerol lebih keras dan itu memaksa Petra untuk keluar akhirnya. Jerol segera menutup pintu lalu melemparkan kunci itu dari ventilasi di atas pintu yang terbuka. Dia beberapa kali melakukannya di masa yang lalu, dia sangat hafal rumah ini. Petra mengawasi apa yang dilakukan Jerol, dua rahangnya terlihat mengetat, menahan gejolak hatinya di sana.


“Reifa…” Jerol meneriakkan nama seseorang yang menjadi penghuni kost terlama di rumah kost milik Fou, udah kenal karena pernah kerja jadi admin di percetakan miliknya.


“Iya boss…” Seorang gadis muncul di mulut kamarnya yang memang sedang terbuka.


“Kunci pintu pagar, entar ada motor yang hilang lagi…” Jerol memberi perintah.


“Siyap boss… tapi aku boleh gak kerja lagi? Boleh ya boss?” Suara Reifa merayu boss yang ganteng dan baik ini.


“Gak… kamu keluar masuk terus, males…” Jerol menjawab dengan mengangkat tangan menegaskan kalimatnya.


Jerol berjalan meninggalkan Petra yang masih mengawasinya dengan jengkel.


“Kali ini gak boss, gaji di tempat boss paling gede, boss juga yang paling baik hati… ya boss, please, entar aku gak bisa bayar kostan ke kak Foura…” Mantan karyawan yang kurang ajar, menggunakan nama cewek yang dia tahu banget sangat disayang si boss.


“Iya… iya, kesempatan terakhir ya? Jam masuk kamu jam tujuh, bersiin kantor dulu…” Jerol akhirnya mengiyakan permintaan si Reifa.


“Ya boss kan ada cleaning service…” Reifa bersuara manja.


“Kalau gak mau ya udah…” Jerol melangkah gak berbalik lagi.


“Iya… iya.” Reifa menyerah akhirnya karena gak ingin kehilangan kesempatan.


Tapi dalam hati, Jerol mensyukuri kejadian malam ini, dia merasa bahagia berada di tempat dan saat yang tepat sehingga bisa menolong Fou melewati hal berat dalam hidupnya. Jerol begitu puas, dia bisa menunjukkan kepedulian dan sayangnya pada Fou, terutama dia puas karena bisa membuat si dokter tidak dapat melakukan hal yang sama, dan bisa membuat si dokter menjadi kesal karena tindakannya.


Aku harus berusaha mendapatkan apa yang seharusnya telah menjadi milikku, aku sayang Fou, aku tidak ingin Fou jadi milik orang. Tekad Jerol semakin kuat.


Mari bersaing pak dokter… Jerol tersenyum.


Dokter Petra terpaksa keluar dari halaman karena jengah dengan tatapan manis manja yang dilayangkan si Reifa padanya. Masih berdiri di depan pagar rumah Fou pak dokter menghubungi hp Fou berkali-kali. Sepuluh panggilannya tidak dijawab dan di panggilan terakhir sebuah bunyi menandakan hp Fou sudah dimatikan. Dia menjadi kesal sendiri, lebih kesal lagi karena tadi melihat bagaimana Jerol memeluk Fou dengan cara yang begitu intim, sempat juga melihat si Jerol mencium kepala pacarnya, hati si dokter terbakar.


Beberapa menit kemudian, hp di sakunya bergetar, setelah Petra melihat ID pemanggil dia segera bergegas kembali ke kamar kostnya, tidak mungkin menjawab panggilan itu di sini.


Saat dokter itu kembali setengah jam kemudian, pintu pagar sudah terbuka lebar, beberapa mobil dan motor sudah keluar termasuk motor Fou. Petra menghubungi nomor hp Fou tapi di luar jangkauan.


.


🧊


.


Setelah beberapa hari dalam kesunyian, antara Fou dan mama tidak ada percakapan yang berarti. Si mama hafal karakter Fou, dia akan diam dan murung cenderung menutup diri selama beberapa hari, lalu secara berangsur akan kembali lagi seperti biasa.


Hari ini Fou sudah duduk di meja makan menikmati sarapan pagi. Ini hari Jumat, ada kegiatan olahraga dan seni di sekolah sejak kemarin, mood Fou belum sepenuhnya kembali, karenanya dia telah mengirimkan ijin sakit toch tidak ada jam mengajar.


“Fou, papa mengirimkan pesan panjang untukmu di hp mama… mau membacanya?” Mama berkata hati-hati dan Fou mengatupkan dua rahangnya, terlihat riak emosi di wajah cantiknya.


Mama akhirnya diam, urung untuk mengatakan pesan pria yang hingga detik ini masih resmi sebagai suaminya. Dia lebih mementingkan perasaan anaknya ketimbang isi pesan mengharu biru seorang papa untuk anaknya. Ruang dapur itu menjadi sunyi kembali, mama dan anak tertuanya duduk terpekur.


“Jangan melayani dia lagi, ma…” Tiba-tiba Fou bicara setelah kebisuan panjang beberapa menit ini.


“Fou… papa meminta waktu pada mama, kata papa dia sedang melakukan sesuatu jadi dia tidak boleh meninggalkan mereka untuk saat ini… lagian dia sudah seminggu sakit katanya…” Suara mama melemah saat mengatakan itu.


“Alasan! Jangan percaya! Dia mau memanipulasi mama supaya gak ketahuan bohongnya. Aku minta ma… lepaskan papa saja sekarang!”


Mama menghela napas dan menghembuskan dengan cara yang begitu berat. Hati mama Silvia perih, dia tertawan antara luka hati dan prinsipnya untuk bertahan sebagai istri yang telah mengikat janji, hanya maut yang memisahkan.


“Mungkin benar alasan papamu itu Fou, saat papa menelpon mama mendengar si Dianita teriak-teriak pada papa juga pada Nando… kamu tahu mama mengenal papamu, dia gak suka jika ada persoalan kemudian suami istri harus berantem saling teriak… kamu gak pernah melihat atau pernah dengar kan mama dan papa marahan seperti itu.”


“Ma, berhenti mengatakan mama mengenal dia, dia tidak ada bersama mama tiga belas tahun bahkan dia sudah selingkuh jauh sebelum mama tahu.”


“Tapi mama lebih lama hidup dengan papa Fou, mama tahu karakter papamu.”


“Sudah lama mama tidak tahu hidupnya seperti apa, jangan berpikir mama masih mengenal dia, dia bukan pria yang sama, mama jangan tertipu, suami yang selingkuh punya banyak cara untuk menipu dan membodohi baik istri maupun selingkuhannya.” Fou enggan untuk memanggil papa lagi.


Mama diam mencerna perkataan Fou, sejujurnya dia bimbang, ingin percaya lagi tapi hati terlalu sakit, ingin menolak suami tapi hati terlalu cinta.


“Papamu minta tolong untuk menjaga Nando, dia terus merengek untuk datang ke sini katanya, Nando juga mengirim banyak chat minta datang ke sini… papa bilang kalian saling sayang jadi dia ingin kita memperhatikan Nando selama dia mengurus beberapa hal, setelah itu dia dan Nando akan tinggal bersama kita. ”


Fou kembali meradang mendengar itu.


“Mama, itu salah satu sikap manipulatifnya, memanfaatkan rasa sayangku pada Nando? Aku gak sudi ma, gak! Jangan ijinkan dia membawa Nando ke sini…”


“Fou… kasihan Nando.”


“Gak, aku gak akan memberi kesempatan dia mendapatkan keuntungan lagi. Rumah ini milikku, meskipun itu dia yang berikan, itu kewajibannya pada anaknya. Tapi aku gak akan memberi dia kesempatan lagi, gak!” Fou gak menanggapi soal Nando.


Di hpnya juga banyak chat Nando yang membuatnya menangis saat membacanya. Mungkin anak itu juga menderita dengan kondisi ini? Fou belum siap untuk melihat Nando walau hatinya juga merasa kasihan, anak itu adalah kesalahan jelas sang papa, dan hatinya sedang penuh dengan amarah untuk sang papa.


Fou berdiri meninggalkan mamanya, pagi-pagi emosi sudah menguasai, Fou jadi menyesali kenapa dia gak ke sekolah aja tadi. Fou ke kamarnya.


Belum sempat masuk kamar Jerol muncul dengan mengendong Elsie. Ingin mengacuhkan saja, tapi suara Elsie menghalangi langkahnya, berdiri diam sambil memandang bayi perempuan yang menggemaskan, sudah empat bulan, sudah lincah bergerak dalam pelukan Jerol.


Jerol mendekati Fou...


"Selamat pagi aunty cantik..." Jerol mengucapkan dengan suara anak kecil.


Mata bulat si bayi menatap Fou. Tatapan polos ini begitu indah dan itu sedikit membuat Fou teralih dari kekesalannya. Tak ada senyum tapi tangannya spontan terulur memegang tangan Elsie, dan anak itu bereaksi seperti malu tapi mau karena tetap memandang Fou tapi kepalanya segera bersandar di dada Jerol. Fou merasakan sesuatu menghampiri hatinya, sebuah rasa damai karena Elsie terlebih sekarang jari telunjukknya sudah digenggam kuat oleh semua jemari mungil Elsie.


Fou kemudian mengambil Elsie dari tangan Jerol, mengendong sambil menahan bagian belakang tubuh imut Elsie, bayi kecil itu menatap langsung di matanya lalu melebarkan dua sudut bibirnya, senyum untuk Fou kemudian bersandar pada dada Fou. Fou akhirnya tersenyum lalu menggoyang-goyang badannya, seperti hendak memberikan kenyamanan untuk bayi mungil milik Jerol.


"Aku pikir kamu di sekolah, Ra..."


Fou hanya menatap Jerol sebentar, pria itu sedang tersenyum padanya. Jerol sedang hepi, dia mengamati Fou selalu bertindak lembut pada bayinya.


"Tadinya aku mau minta tolong tante Silvia menemaniku ke puskes, hari ini jadwal Elsie imunisasi polio. Mama lagi sakit, tiga mbak dan suster minta mudik..."


Fou masih diam dan masih begitu asyik menimang Elsie.


"Kamu aja yang menemaiku, Ra? Aku gak paham soal prosedur ini di puskes kayak apa..."


Fou masih diam, Jerol menunggu dalam debar berharap Fou mau. Lalu tiba-tiba Fou memberikan Elsie ke tangan Jerol dan bergerak menuju kamarnya. Jerol menghembuskan satu napas kecewa tapi dia gak mau memaksa, karena dia gak ingin ada kesan buruk lagi di mata Fou tentang dirinya.


Sebelum menghilang di balik pintu Fou berkata, "bentar aku ganti baju dulu..."


Pintu tertutup tapi hati Jerol seperti punya jendela yang terbuka lebar dan ada banyak angin menyejukkan yang menyerbu masuk. Jerol tertawa senang sambil mencium gemas putrinya. Anak ini jadi semcam salah satu kunci untuk mendekati Fou.


.