
Fou pagi-pagi keluar dari kamarnya, ini hari sabtu seharusnya dia bisa lebih lama di tempat tidurnya, tapi Fou teringat sampah dua hari ini sudah menumpuk. Saat ke area dapur, Fou mencari sampah sudah gak ada, demikian juga di luar di sekitar pintu pagar, sampah milik anak kost juga sudah gak ada.
Siapa yang sudah membereskan sampah pagi-pagi? Gak mungkin mama apalagi anak kost, salah satu service yang disediakan untuk kostan ini adalah sampah menjadi tanggung-jawab Fou. Fou masuk lagi ke dalam rumah, apa sih Nando? Fou mengecek kamar di sebelahnya kamar yang dulunya milik dua adik perempuannya, mendorong pintu dan menemukan anak itu masih terlelap meringkuk di dalam selimut.
Fou akhirnya ke dapur niatnya mau membereskan rumah saja, mengepel dan membersih debu hanya bisa dia lakukan di hari sabtu, setelah itu baru menggosok pakaiannya dan milik si mama, sekarang bertambah milik si Nando, dalam seminggu anak itu lebih banyak di sini sekarang.
Kelihatannya mama memang mengijinkan itu, Fou sebenarnya tidak bisa memahami apakah hal ini membuat mamanya bahagia dan tidak terganggu, atau hanya sebuah ilusi positif, sebuah pengingkaran terhadap rasa sakit dengan membodohi diri sendiri karena berpikir dengan cara ini hidup mama lebih bahagia, yaitu menerima hasil perselingkuhan sang papa bahkan mengijinkan anak itu memanggil mama.
Yang jelas sekarang, pagi-pagi mama punya kesibukan baru, mengurusi anak si papa untuk berangkat sekolah bahkan mengantarkan ke sekolah. Mungkin itu deal-dealan dengan papa, karena salah satu mobil papa sekarang digunakan mama.
Hidup yang jauh dari apa yang dia impikan kelak saat dia menikah, dia tidak ingin hidup seperti sang mama, dia ingin hidup selamanya bersama suaminya dan tidak menginginkan suaminya selingkuh, tapi tentu dia tidak bisa memprediksi atau bisa menentukan masa depannya bersama suaminya kelak. Itulah mengapa ketika Randy atau kemudian Bryan meminta dia menikah dia segera mundur dari hubungan itu.
Fou terkejut saat di ruang makan, melihat papanya keluar dari kamar mama, kamar mereka dulu, tapi sekarang statusnya lain, dan papa keluar dengan celana tidur yang pendek dan hanya mengenakan singlet, Fou tidak lupa tampilan papanya saat di rumah.
Papa dan mama semakin jauh? Papa mulai nginap sekarang? Batin Fou meradang.
“Pagi Nonie…” Sapa papa Emil dengan suara khasnya, alunan suara dan timbre seperti milik dokter Petra. Hah… pantas dia langsung jatuh cinta dengan suara sang dokter, itu peralihan otaknya dari suara papa ternyata.
Fou hanya menatap marah pada papanya, lalu melengos dan meneruskan niatnya ke dapur.
“Sampah sudah papa buang…”
Suara papanya terdengar tapi justru membuat kemarahannya naik beberapa derajat. Itu memang kebiasaan papanya dulu, tapi Fou tidak menyukai itu sekarang. Fou mulai menyapu seluruh rumah, saat melewati papa yang sedang menyiapkan sendiri minum paginya Fou tak acuh.
“Nonie… minum yang hangat dulu pagi-pagi... baru lanjut kerja lagi…”
Batin Fou terusik, papa yang seperti ini, yang perhatian pada anak-anaknya bahkan yang memanjakan mama dan mereka bertiga sudah Fou kubur tiga belas tahun yang lalu.
“Nie… nanti coklatmu keburu dingin…”
Suara papa dari ruang makan. Fou hanya mendengar dan tidak sudi minum coklat panas buatan si papa. Tak lama terdengar suara mama yang bercakap dengan papa. Fou hanya membuang napas. Dia tahu dia tak bisa mengatur mamanya. Suara tawa dari ruang makan itu mengiris batin Fou, apakah mereka bisa berbahagia sekarang dengan keadaan mereka? Ini terlalu berlebihan untuk Fou.
Fou kemudian mengurung diri di kamarnya, menggosok pakaian di kamarnya saja. Menjelang makan siang pintu kamarnya dibuka sang mama. Mama sudah berpakaian rapih dan cantik seperti biasanya, dan rasanya kecantikan mama lebih menonjol sekarang.
“Fou… mau ikut mama sama papa? Kita makan di luar…”
Walaupun sia-sia, si mama masih mengajak putri tertuanya ini. Fou dengan wajah datarnya hanya mengerling dan tidak menjawab. Dan dari belakang mama yang berdiri di ambang pintu si Nando menerobos masuk.
“Kakak ikut?”
“Gak.” Fou menjawab pendek pertanyaan anak itu.
“Mama, aku gak ikut, aku tinggal aja temenin kakak di sini…” Suara kecil Nando terdengar kemudian lalu dengan santai dia naik dan berselonjor di tempat tidur Fou kemudian memainkan hpnya.
Fou hanya menatap heran anak remaja itu, benar-benar telah memposisikan Fou sebagai kakak di hatinya. Mama Silvia hanya tersenyum lalu menutup kembali pintunya.
“Kenapa gak ikut sih?” Fou bicara sambil berusaha mengatur intonasinya supaya gak terkesan memarahi Nando, karena rasa itu masih menguasai hatinya.
“Gak usah, biar aja mama papa jalan berdua, udah lama kan mama gak melakukan itu dengan papa.”
Nando menjawab santai dengan mata tertuju di hpnya. Fou mengernyitkan dahi, anak ini paham sampai ke hal ini? Apa dia gak terlalu cepat untuk berpikir dewasa?
“Terus kamu mau makan apa? Mama pasti gak masak kalau udah planning mau makan di luar.”
Akhirnya beberapa saat kemudian Fou bisa mengendalikan rasa marahnya, kehadiran Nando di sini seperti obat untuk hatinya.
“Gampang kakak, kita go*food aja nanti ya? Atau aku beli ke warung makan depan?”
Fou diam. Tak lama kemudian Nando melakukan sesuatu, tumpukan pakaian di atas tempat tidur yang sudah terlipat rapih tapi masih disusun secara acak oleh Fou mulai dipisah-pisah si remaja kecil itu menurut jenisnya dan menurut kepemilikan. Demikian juga pakaian di hanger yang digantung asal oleh Fou di banyak tempat segera dirapihkan si bocah, bahkan yang dia tahu milik Fou segera dia masukkan ke dalam lemari. Anak ini benar-benar otaknya suka sesuatu yang terorganisir dengan baik. Dari semua hal, ini yang membedakan mereka berdua. Fou akhirnya bisa senyum siang ini setelah sejak pagi dia membiarkan emosi negatif menguasainya.
Sejam kemudian dengan dibantu si bocah mereka selesai membereskan pakaian ke dalam lemari masing-masing, bahkan pakaian bocah ini semakin banyak ternyata di rumah ini.
“Kita makan di luar aja Nando… makan KF C aja, udah lama kakak gak makan itu…”
Fou mengajak Nando setelah dia mandi dan berganti baju.
“Mmmh, boleh gak makan di Bur*gerKing…”
“Mmh… baiklah, ayo pakai jaketmu, kita ke sana dengan motor.”
Tanpa dua kali diperintah Nando masuk ke kamarnya mengambil jaket. Saat mereka berdua sedang memakai sneakers di teras samping rumah, si dokter Petra datang.
“Ra… mau pergi ya?”
“Eh? Hai pak dokter… iya…”
Fou meneruskan memakai sepatu lalu mengambil helm dan menyodorkan satu pada Nando.
“Bareng aku aja ya, Ra… aku juga mau nyari makan siang di luar… bentar ya aku keluarin mobil.”
Si dokter selesai berkata langsung ngeloyor pergi dengan cepat.
“Ehhh pak dokter, kita mau pergi berdua aja!”
Teriakan Fou tidak digubris Petra, justru dia berlari sekarang. Fou menimbang-nimbang sejenak apakah akan menerima ajakan si pak dokter. Lama tak bersua dengan si pak dokter ini, sepertinya selalu saja dokter ini menghilang lama dan tiba-tiba muncul lagi seperti siang ini.
“Ayo Nando, pakai helmu, kita pergi sekarang.”
“Kakak yang tadi ngajak kita bareng kan?” Jawab si Nando dan belum menggunakan helm.
“Gak usah… kita berdua aja.”
Akhirnya keduanya duduk nyaman di atas motor tapi baru akan keluar halaman mobil Petra sudah menghalangi pintu.
“Pak dokter… minggir.”
Fou bersuara keras ditambah isyarat dagunya.
“Turun, Ra… naik mobilku…”
Si dokter malah turun dari sisi sopir lalu mendekati Fou.
“Kayaknya ajakanku tadi jelas deh… kita makan sama-sama…” Si dokter melempar senyum magnetisnya. Fou dasarnya memang suka senyum itu sempat terpukau sesaat dan melihat beberapa detik menikmati senyum Petra.
“Kalian mau makan di mana, dek?” Petra bertanya pada Nando.
“Bur*gerKing.” Jawab Nando.
“Ya udah kita ke sana, ayo Ra… jangan menolak, udah lama loh kita gak jalan bareng…”
Si Petra kemudian meraih tangan Nando menarik untuk turun, Nando mengikuti bahkan saat Petra mendorong lembut tubuh remaja itu sampai ke depan pintu deret dua city car miliknya. Nando patuh aja bahkan naik sendiri.
“Ra??” Suara lembut si dokter dengan suku kata kesukaannya saat menyebut nama Fou, panggilan yang suka membingungkan Fou kenapa ada dua pria yang memanggilnya dengan cara yang sama.
Karena Petra menatap dengan tatapan memohon disertai senyum menawannya, akhirnya Fou memutar motornya balik ke tempat parkir, memilih menyambut saja ajakan si Petra. Fou kemudian mendekati mobil Petra.
“Helmnya Ra…” Petra berkata diakhiri tawa indahnya.
Fou meringis membuka helm lalu mengulurkan tangan meminta helm yang dipakai Nando yang sudah duduk nyaman di balik pintu mobil yang kacanya sudah diturunkan.
Di resto yang dipilih Nando, Petra bertindak mengantri memesankan makanan dan meminta Fou dan Nando untuk mencari tempat duduk saja. Ini akhir pekan, di dalam ruangan lantai satu penuh orang.
“Do kasih tahu kak Petra kita duduk di lantai atas, di sini gak ada tempat…”
Fou berkata lalu meninggalkan Nando langsung naik mencari tempat. Di atas hanya ada dua meja yang terisi, Fou memilih tempat yang dekat dengan jendela besar yang menghadap pantai, resto ini ada di kawasan bisnis yang ada di sepanjang garis pantai kota ini.
Nando muncul lama setelah itu ternyata menunggui Petra, mereka berdua masing-masing membawa nampan, pesanan si Petra banyak sekali untuk ukuran Fou. Nando duduk di sisinya dan Petra memilih berhadapan langsung dengan Fou. Beberapa percakapan ringan terjalin sementara mereka makan.
Selesai acara makan yang lumayan panjang, Fou tertawa melihat tampang kekeyangan si Nando. Fou mengeringkan keringat Nando di jidatnya juga membersihkan mulut Nando dengan tissue.
“Makannya banyak amat, baru sekarang kakak lihat…” Fou masih merasa geli.
“Baru sekarang aku ke sini, mama papa selalu sibuk…” Nando menjawab dan terlihat puas karena keinginannya terealiasi. Fou hanya menyugar rambut adiknya.
“Adikmu Ra?” Petra bertanya.
“Iya…” Fou menjawab singkat.
Dalam hati sebersit rasa hangat muncul rasa yang merupakan teka-teki untuknya kenapa bisa tumbuh di hati di tengah kemarahan panjangnya pada si papa. Nando memang adiknya dan ternyata dia sayang anak ini.
“Wajah kalian mirip banget…” Petra menilai. Fou hanya tertawa menimpali.
“Kita ke mall ya, si Nando pengen main ke time*zone.” Petra berdiri menuju wastafel setelah mengucapkan itu.
Fou memandang adiknya, “kamu meminta itu?”
“Gak kok, kak Petra yang mengajak kok…” Nando menjawab dengan suara membulat mungkin ingin menegaskan kalimatnya pada Fou.
Fou mencoba menikmati saja hari ini, gak rugi juga jalan bareng si Petra, banyak mata yang selalu mencuri pandang. Melihat penampilan Petra memang bukan lagi seperti pria awal dua puluhan, secara keseluruhan Petra terlihat matang walaupun Fou memperkirakan usianya di angka tiga puluhan, tapi wajahnya memang terlihat awet.
Fou memandang dengan sejuta rasa saat berjalan mengikuti dua pria ini, Petra tanpa canggung merangkul Nando dengan tangan kirinya. Lalu saat ada di space yang lebih luas tiba-tiba Petra menarik tangannya...
"Jangan berjalan di belakang kita Ra..." Petra berkata dalam senyum paten yang menyilaukan mata Fou.
Cara halus Petra mendekatkan diri dengan beberapa tindakannya tak bisa ditolak Fou. Tanpa sadar Fou membiarkan tangannya dalam genggaman Petra. Dalam berbagai rasa yang segera menghampiri Fou memandang tangannya bergantian dengan memandang wajah Petra, seperti digenggam seorang kekadih saja.
Selanjutnya Fou duduk di bagian luar tempat bermain itu, terlalu bising di dalam, dia melihat Petra berancang-acang menemani, maka dia membiarkan Nando setelah menyisipkan dua lembar uang seratus ribu di tangan Nando.
Ada beberapa permainan yang dimainkan berpasangan keduanya, Fou hanya mengamati saja dan merasa aneh sendiri, ini seperti family time di akhir minggu.
Lalu Petra datang dan tanpa sungkan duduk tanpa jarak di samping Fou, ingin bergeser tapi posisinya di bagian ujung. Ada desir-desir tak beraturan saat kulit lengan saling bersentuhan, dan Fou gak bisa menghindari itu.
"Ini udah sore Ra, kita di sini sampai malam aja ya, sekalian makan malam baru pulang."
Fou hanya mengangguk, daya tarik si Petra sementara memenjarakan Fou sehingga logika dan akalnya tak menolak bekerjasama dengan perasaan nyaman menikmati kedekatan ini.
Tangan dokter Petra entah sengaja atau tidak nangkring di lutut Fou, bertahan lama di sana, Fou jadi seperti remaja lagi yang tak tahu bagaimana merespon tindakan itu, yang jelas dia membiarkan saja sambil mulai menerjemahkan ini sebagai tindakan maju si dokter dalam melakukan pdkt, mulai berani menyentuh bukankah biasanya para pria seperti itu?
.
Happy weekend semuanya...
.