
Fou menerima job MC di sebuah pernikahan. Fou ada di Salon Mega untuk mendapatkan penampilan yang lebih sesuai dengan tuntutan konsep pesta kali ini. Tidak seperti biasa, kali ini dia kesusahan menulis narasi yang pas. Biasanya dia akan segera mendapatkan ide saat membaca beberapa detail mengenai pasangan pengantin yang dikirimkan padanya. Dia tidak suka menggunakan teks acara yang sama di setiap jobnya. Pada gladi resik kemarin hari, dia merasa teks yang digunakan terlalu biasa dan terasa terlalu basi.
"Fou, pilih aja mau menggunakan gaun yang mana..."
Dinda, salah satu orang salon langganan Fou datang menginterupsi dengan dua gaun warna merah maroon di tangannya, warna sesuai request-an keluarga. Fou menyewa gaun kali ini karena belum sempat menjahit yang baru.
Fou meletakkan tabnya menghentikan kegiatan mengetik konsep acara, dia masih berusaha menyusun kata demi kata setelah Mega selesai merias dirinya.
"Bagusan model yang ini sih, cocok buat kamu..." Dinda memberi penawaran.
"Yang terbaru mana, Din..."
"Yang ini, makanya aku tawarin yang ini, belum ada yang nyewa..."
"Ya udah... aku pilih yang ini aja." Fou mengambil gaun pilihannya lalu masuk ke bilik ganti yang disediakan di situ.
Sesaat kemudian Fou keluar dari bilik ganti, Mega segera memperbaiki beberapa bagian gaun yang terlihat sedikit longgar di tubuh Fou.
“Kamu collab sama Valentino kan…” Ujar Mega.
“Iya kak Meg… aku lebih nyaman duet ngemsi dengan Valen dibanding yang lain… spontanitasnya yang aku suka. Valen juga tahu porsi masing-masing dan bisa saling ngisi…” Fou berkata sambil mencermati dirinya di cermin.
“Sam juga bagus loh…” Mega menyambung lagi.
“Tapi dia cocoknya ngemsi sendiri, kak Meg… suka gak kontrol dirinya keasyikan ngomong sampai lupa kalau ada bagian aku juga untuk ngomong… padahal udah jelas di script mana bagian dia dan mana bagian aku…” Fou berkata sambil tersenyum, dia puas dengan penampilannya. Secara, job kali ini dia dibayar lumayan, yang punya hajatan memakai standar ibukota untuk membayar MC, karena konon kabarnya memakai WO dari ibukota.
“Kamu diapain aja sangat cantik Fou…” Mega memberi sentuhan terakhir di bagian pinggang, juga di bagian rambut.
“Makasih kak Meg, ini sih karena tangan kak Meg yang punya magic, bisa membuat siapa saja jadi flawless, sempurna. Tapi aku kok berbeda kali ini ya…” Fou mengamati wajahnya.
“Biar cocok sama konsep pestanya yang glamour, make upnya harus yang bold, sayangku… nah coba berputar Fou…” Mega memegang satu tangan Fou di atas kepala lalu memutar tubuh langsing Fou. Fou tertawa melakukan itu, seperti seorang putri yang sedang diajarkan dansa saja.
Fou akhirnya berangkat menuju gedung termahal di kota ini tempat jobnya kali ini. Dia harus datang lebih awal karena ingin menyesuaikan sebagian narasi yang akhirnya berhasil dibuatnya dengan konsep yang dibuat Valentino.
Di sisi kanan puade, Fou berdiskusi dengan Valentino.
“Keluarga pengantin pria minta acaranya gak terlalu formil, Fou… mereka bilang kemaren gak suka dengan narasi kita, terlalu puitis…” Valen berujar.
“Oh gitu, aku juga ngerasa kurang pas sih sebenernya, apalagi aku lihat papanya penganten pria agak kocak orangnya… saat prosesi masuk terutama dia gak suka kayaknya berjalan kaku diiringi lagu…” Fou menimpali.
“Iya… makanya semalam aku nyari referensi nonton beberapa resepsi nikah artis, menurutku kita spontan aja…”
“Ah itu, aku bergantung padamu kalau gitu, Valen… kamu jagonya…”
“Iya, tetep kita pegang aja teks kita… kita ngikutin rundown acara yang dikasih WO, kita tinggal improvisasis lah… gampang… kamu juga jago kok Fou tapi harus dipancing dulu baru keluar kata-kata indahmu…” Valen berkata dengan senyum.
“Ini ada banyak sesi foto diselipin di tengah acara ya…” Fou memperhatikan rundown yang diberikan pada mereka.
“Iya… ini kayaknya acara untuk para dokter deh, yang nikah dokter, orangtuanya dokter, teman-temannya dokter semua…”
“Iya ya… memang ada yang seperti itu, beberapa waktu lalu aku ngemsi di acara nikahan seorang tentara, keluarganya tentara semua…” Fou menjawab.
“Aku denger gosip nih… pacarmu dokter juga kan?” Valentino bertanya dengan muka senyum.
“Denger dari mana?” Fou berusaha mengelak, segera rasa gak nyaman muncul membicarakan tentang hal-hal pribadi.
“Asistenku si Ray pernah liat kamu sarapan di pinggiran pantai dengan seorang cowok menggunakan baju dokter…”
“Oh itu, temen aja, Valen…” Fou gak suka mengakui Petra pacarnya, hatinya gak merasakan tentang itu.
“Jangan bohong ahh… Eh… menarik deh kisah awal pertemuan pasangan penganten ini, terjadi di IGD katanya… dokter Aril dan dokter Stella sama-sama sedang ambil spesialisasi Anak…”
Dan dari informasi Valentino barusan segera beberapa pertanyaan muncul di otaknya… jangan-jangan ketemu Petra di sini? Apa yang nikah ini teman-teman Petra? Atau mungkin saling kenal? Jika teman Petra seharusnya sebagai pacar dia kenal juga kan. Fou kemudian sadar, hubungan mereka berdua tidak sedekat yang seharusnya, ternyata memang tidak ada teman Petra yang dia kenal, dan lebih jauh lagi tidak banyak hal yang dia ketahui dari Petra.
Fou membuang napas seolah membuang Petra dari pikirannya, dia gak ingin jobnya terganggu dengan kecamuk mengenai Petra.
Acara kemudian berlangsung dengan apik dan Fou akhirnya bisa mengimbangi Valentino mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya. Yang dia suka dari Valentino adalah caranya yang brilliant bermain kata, begitu fasih mengembangkan kalimatnya dan begitu baik berimprovisasi dan melibatkan Fou, menghasilkan kolaborasi yang manis.
Di sesi foto khusus untuk teman-teman pasangan berbahagia ini, saatnya teman-teman dokter Aril diundang ke panggung.
Valentino: “Teman-temannya dokter Aril yang hadir, semua diundang untuk foto bersama pasangan penganten yang berbahagia… silahkan naik ke panggung…”
Foura: “Pastinya dokter semua, ya gak Valentino…” Foura menatap beberapa pria dan wanita yang yang menggunakan stelan jas warna hitam dan gaun mewah bernuansa merah maroon sekarang sedang menuju panggung.
Valentino: “Bener banget… mereka cantik dan ganteng gak kalah sama pasangan penganten, aku selalu terpesona melihat dokter dengan jas putih mereka, kali ini mereka dengan stelan resmi, begitu luar biasa… aku jadi ingat sebuah drakor deh, kayaknya aku bisa membayangkan di kepalaku kisah pertemuan romantis dokter Aril dan dokter Stella…”
Foura: “Kisah romantis mereka berhubungan dengan jarum suntik, stetoskop, dan selang infus… hehe, tapi begitulah jalan bertemu dengan jodoh itu unik ya Val… nah sekarang teman-teman pak dokter Aril semuanya sudah siap di foto…”
Maka para fotografer mengambil-alih mengarahkan. Valentino kemudian dipanggil mendekat oleh mamanya dokter Aril, membisikkan sesuatu lalu Valentino mencatat sesuau. Saat kembali berdiri di samping Fou Valentino bicara…
Valentino: “Aku dapat bocoran nih… salah satu teman dekat dokter Aril siap untuk menyusul pasangan berbahagia ini… dalam waktu dekat akan merit juga… dokter Jentezen Petra dan Olivia… mereka sahabatnya dokter Aril…”
Foura: “Ow… apakah akan menikah di kota ini juga, haha… kita siap loh bila diminta ngemsi."
Valentino: "Haha... bener banget... dan dokter Jenzen dan Olivia yang mana sih... setelah ini diminta tetap tinggal di atas panggung ya, untuk khusus berfoto dengan pasangan penganten..."
Fou mendadak terhenti dan terpaku, tidak menimpali Valentino karena yang tertinggal di panggung dan sedang menggandeng mesra seorang gadis adalah sosok yang dikenalnya sebagai pacarnya.
Valentino menyodorkan sepotong kertas yang berisi sedikit catatan. Fou masih diam otaknya telah memastikan bahwa pria yang sangat berbeda penampilannya karena stelan resmi di tubuhnya adalah orang yang sama yang semalam baru aja mengucapkan kata manis padanya.
Fou merasa dadanya perih, bukan tentang sakit karena cinta dikhianati karena dia tidak punya cinta untuk Petra, tetapi tentang Petra yang berani menyinggung tentang pernikahan padanya dan ternyata punya rencana yang sama drngan wanita lain? Dia marah karena Petra membawa masuk orang ketiga dalam hubungan ini. Gigi Fou gemeretak bersama rasa marah yang naik menguasainya.
Valentino menyenggol Fou. Fou tersadar karena dia gak boleh diam, dia dibayar untuk menghidupkan acara dan membuat acara ini berjalan indah. Dengan rasa marah yang nyata tapi mencoba mengontrol diri sendiri karena dia sedang bekerja, Fou berjalan lebih mendekati Petra yang masih berdiri sedang diarahkan untuk berfoto, Fou membaca nama di kertas, ini benar ternyata dia menggunakan nama keduanya dengan Fou.
Foura: "Ehm... Eh Dokter Jenzen ini eh... ternyata bersahabat dengan dokter Aril sejak SMP ya... persahabatan sejati memang langgeng..." Suara Fou sedikit bergetar, Fou berusaha mengatur emosinya untuk tidak tertekan dengan kenyataan yang dilihatnya.
Saat dekat dengan posisi Petra, Fou semakin yakin, ini bukan ilusi. Fou membuang napas. Petra dan Olivia selesai berfoto dan Petra sama sekali gak memandang padanya, melangkah turun sambil membantu Olivia. Fou yang memandangi itu dan tiba-tiba nyeletuk...
Foura:"Pak dokter Petra, semoga langgeng sampai nikah ya, menyusul dokter Aril... tau gak Valen... dokter Petra ternyata aku kenal loh, tetangga depan rumahku..."
Suara Fou meskipun dia coba mengatakan dengan intonasi terjaga tapi ada getaran yang bertambah di sana.
Valentino: "Dokter Jenzen, Fou..." Valentino mengoreksi.
Foura: "Aku taunya Petra, Valen... oke... kita tinggalkan pak dokter itu ya... sekarang kita ke acara berikutnya..."
Valentino dan Foura masih meneruskan tugasnya, Fou limbung di sini dan dengan bahasa isyarat dia meminta Valentino lebih banyak bicara, dia butuh waktu agar dia bisa berbicara normal. Sementara tatapan marahnya mengarah pada Petra.
Sementara Petra sempat berbalik sejenak ketika mendengarkan beberapa kalimat terakhir dari MC wanita, dan belum terlalu jauh dari panggung, dia menemukan tatapan MC wanita itu seperti menikam dirinya, sebelum tubuhnya ditarik lembut Olivia ke kursi mereka Petra segera sadar, bahwa MC wanita itu adalah Foura, walaupun dia pangling dengan penampilan Fou tapi suara itu tidak asing buatnya. Dan segera dia mengerti ternyata inilah yang dilakukan Fou jika Foh dilihatnya berdandan cantik dan pulang larut malam.
Dunia seolah runtuh untuk Petra.
.
Maaf terlalu lama gak update. Aku terhutang utk nulis bab baru hingga hari ini aku usahakan nulis bab. Salah satu kerabat masuk RS, aku termasuk yg menjaga beliau, di samping pekerjaanku yg jg gak bisa ditinggalkan. Yakin gak yakin sih ttg isi part ini.
.
.