My Neighbor, My Ex?

My Neighbor, My Ex?
Part 45. Aku Akan Luluh



Fou bergumul untuk tetap profesional melakukan tugasnya hingga akhir. Setiap memandang ke arah undangan dia akan mendapati tatapan Petra yang tak lepas memandanginya padahal dia duduk di sebelah seorang wanita yang melekat posesif padanya, dan setiap kali, grafik rasa marah semakin naik tajam sehingga Fou gak bisa lagi mempertahankan konsentrasinya, ini mengganggu performanya.


“Val, kayaknya aku gak bisa meneruskan lagi deh… tersisa dua acara aja kan?” Fou berkata di saat duduk di sisi puade karena ada salah seorang kerabat yang sedang menyanyikan sebuah lagu untuk pasangan pengantin.


“Kamu sakit, Fou?” Valentino bertanya tanpa melihat padanya.


“Gak, aku sehat, hanya…” Fou gak bisa menjelaskan penyebab dirinya seperti ini.


“Selesaikan aja, Fou… tanggung kan... Ada apa? Gak biasanya kamu seperti ini… kita harus closing bersama Fou…”


Fou diam, dan otaknya segera mengingatkan dirinya bahwa Petra bukan seseorang yang layak membuat dia jatuh apalagi hancur, untuk apa merasa sakit hati dengan orang seperti Petra? Fou menarik napas dan membuang napas beberapa kali, melakukan teknik menenangkan diri.


Petra bukanlah gangguan berarti, sejak lama untuk Fou semanis apapun Petra padanya dia hanya serangga kecil yang mengitari hatinya, saatnya untuk mengakhiri gangguan dan itu hanya dalam sekali tepuk saja buat Fou, plaaakkk… Fou berdiri lagi dengan percaya diri yang hanya sesaat saja goyah.


Acara selesai dengan manis dan indah, sebelum turun dari panggung seperti biasa Valentino akan mengambil sebuah video dan beberapa foto selfie dengan pasangan pengantin. Valen juga seorang konten kreator, ini juga sebagai salah satu cara mengiklankan diri sendiri dan Fou kecipratan yaitu bertambah banyak job MC juga.


“Terima kasih ya Valentino, Foura… kalian menciptakan momen terbaik kami menjadi begitu berkesan…” Dokter Aril berbasa-basi sambil kedua pengantin berjabat tangan dengan MC yang sudah selesai bertugas.


Fou teringat harus memastikan sesuatu…


“Sama-sama pak dokter, terima kasih. Emm, boleh saya menanyakan sesuatu?” Fou gak sabar karena penasaran.


“Oh boleh aja… Foura kan?”


“Iya… saya Foura…” Fou menarik napas sesaat. “Saya ingin tahu tentang Petra sahabatnya pak dokter…”


“Oh… Petra? Jenzen maksud kamu? Benar dia sahabat saya…”


“Petra atau Jenzen, whatever. Saya hanya ingin tahu apa benar dia akan segera menikah?” Fou tidak bisa menahan getaran suaranya, emosinya tiba-tiba naik lagi saat mengatakan kalimat ini. Ternyata walau hanya gangguan kecil saja, tapi sedikitnya Fou tetap terpengaruh.


“Oh iya, mereka udah tunangan sejak tiga bulan yang lalu… tapi sayang mereka nikahnya di ibukota jadi maaf saya gak bisa merekomendasikan kalian untuk jadi MC resepsi mereka, hehe…”


“Oh gak pak dokter, saya bukan hendak meminta rekomendasi, saya hanya ingin memastikan status Petra. Terima kasih, pak dokter.” Fou menundukkan sedikit kepalanya lalu berbalik dan meninggalkan panggung.


Fou tidak sekepoh itu tentang Petra sebenarnya, dia hanya perlu memastikan posisi dirinya di sini. Dan hatinya mendadak perih lagi, setelah merangkaikan sedikit informasi tentang Petra… jika sejak tiga bulan yang lalu dia tunangan, berarti hubungan mereka telah jauh sebelum itu. Bila menilik Olivia-lah yang dibawa Petra menghadiri pesta pernikahan sahabat baiknya, ini sudah menunjukkan dengan jelas siapa Fou untuk Petra sebenarnya. Dan seingat dirinya baru sejak tiga bulan yang lalu pula Petra begitu ngotot ingin serius dengannya bahkan pernah berucap menginginkan dia jadi istri.


Jadi, di sini… Fou memastikan bahwa dirinyalah yang telah menjadi orang ketiga. Fou memaki dalam hati, pria bajingan itu telah menempatkan dirinya pada sesuatu yang paling dibencinya, menjadi selingkuhan.


“Foura?” Dokter Aril mengejar Fou.


Fou berhenti lalu melihat kepada pengantin pria yang berdiri dua meter darinya.


“Kamu… kamu bu guru itu? Seingatku Jenzen pernah menyebut namamu… kamu bu guru itu?”


Nada bicara dokter Aril menyiratkan dia tahu tentang hubungan Petra dengan Fou. Fou tersenyum getir.


“Apa yang anda tahu tentang saya pak dokter?” Fou bertanya.


“Iya… eh yang saya tahu… Jenzen punya pacar di kota ini, tetangga di tempat kostnya yang berprofesi sebagai guru…”


“Hahh, itu saya. Sahabat anda benar-benar bajingan!!” Fou sedikit meluapkan amarahnya dalam kalimatnya.


Dokter Aril hanya bisa menatap iba, dia bisa melihat riak emosi di wajah perempuan di hadapannya. Dalam hati dia juga ingin Olivia tahu keberadaan Foura, dia bukan ingin mengkhianati Jenzen, tapi dia merasa berhutang pada Olivia, tulus dia hanya ingin Olivia berbahagia jika menikah dengan Jenzen, dan si Jenzen perlu mendapatkan pelajaran hingga tuntas.


“Ehh, maafkan saya pak dokter, saya tidak bermaksud mengganggu suasana bahagia anda malam ini.” Fou sedikit merasa gak enak telah berkata dengan suara keras menyemburkan emosinya pada dokter Aril.


“Oh… dia memang bajingan, walaupun dia sahabat saya. Eh, di satu sisi saya bersyukur dia bertemu perempuan seperti dirimu kali ini yang begitu sukar dia takhlukkan. Tapi, terus terang… menurut penilaian saya, jika dia akan memilih antara kamu dan Olivia… dia akan memilih kamu Foura… cintanya lebih berat padamu sekarang…” Dokter Aril mengatakan yang sebenarnya, di matanya dia bisa melihat sekalipun Jenzen masih melayani Olivia dan masih menunjukkan perhatian, tapi dia tahu keadaan hati sahabatnya ini.


“Hahh… maaf sekali, saya marah karena dia menjadikan saya selingkuhan, pak dokter. Dan apapun alasan cintanya, buatku dia hanya bajingan tengik. Tidak ada kesempatan memilih untuknya, dia sudah berakhir untuk saya. Permisi.” Fou berkata dengan penekanan tambahan di akhir kalimatnya.


Kali ini dia benar-benar menghapus nama Petra, kebencian sekarang menguasai dirinya. Ini bukan cinta yang seketika berubah menjadi benci, ini kebencian yang lahir dari berbagai amarah, karena Petra, karena situasi yang mendorongnya hingga harus terlibat dengan Petra, termasuk karena dia gak mengikuti kata hatinya sendiri yang sejak awal telah menolak Petra.


Di tempatnya, Petra gelisah. Dia terus-menerus mengamati Foura termasuk saat ini saat Fou sedang berbicara dengan Aril. Rahangnya mengeras karena bisa menduga apa yang telah menjadi perbincangan kedua orang itu.


“Jenzen, sayang… mau ke mana? Aku udah mengambil makanan… ayo makan dulu…” Olivia mengejar si Jenzen yang meninggalkan kursi mereka di sekeliling meja bundar tempat mereka duduk sejak tadi.


“Sebentar Olive, aku ada urusan. Kamu makan duluan aja.” Petra berkata cepat lalu dan melangkah sama cepatnya meninggalkan Olivia, matanya menangkap sosok Fou sedang meninggalkan aula megah ini.


Di tempat parkir…


“Ra…” Petra menahan bagian pintu mobil dengan tubuhnya sehingga Fou tidak bisa membuka pintu.


“Minggir!”


Fou berkata dingin. Pandangan tajamnya mengarah tepat di mata Petra. Cowok itu menjadi kecut hatinya, tubuh tingginya itu serasa berubah menjadi jauh lebih kecil dari Fou. Dia kedapatan malam ini, dia gak ingin Fou tahu tentang Olivia, tapi keadaan ternyata tidak berpihak padanya. Padahal seminggu ini dia berhasil menutupi keberadaan Olivia di kota ini dari Fou.


“Ra… aku minta maaf, Ra… aku gak bisa membela diri tentang Olivia, itu benar aku udah tunangan dengannya. Tapi… aku sama sekali gak menginginkan itu, aku terdesak, Ra…”


“Ra, sekarang aku hanya cinta kamu, aku udah memutuskan memilih kamu bukan Olivia, buatku Olivia gak berarti lagi Ra.”


Petra menekukkan lututnya menahan pintu sambil berat tubuhnya mepet ke pintu yang coba dibuka Fou. Dia ingin meminta sampai Fou percaya bahwa dia serius dengan semua keputusannya termasuk soal Olivia.


Fou melepaskan tangannya dari handle pintu dengan gusar lalu mundur beberapa langkah dan memikirkan cara bagaimana menyingkirkan tubuh tinggi kekar Petra dari mobilnya. Baginya sekarang Petra seperti setitik debu yang yang sedang terbang melayang, setitik debu pengganggu yang tidak ada arti yang berhasil dia kebaskan dari hatinya.


“Aku sangat cinta sama kamu Ra, aku berjanji segera memutuskan Olivia, aku hanya menginginkanmu, benar-benar menginginkanmu, Ra… kamu sekarang yang ada di sini, bukan wanita lain…” Petra berkata hampir serak, begitu sungguh-sungguh mengucapkan kalimatnya sambil membawa tangannya sendiri di dadanya, berusaha meyakinkan Fou, karena memang itulah yang dia rasakan sekarang.


Fou memandang sinis juga geram.


“Dengar Petra… kamu bukan siapa-siapa buatku. Paham??”


Satu tangan Fou naik ke pinggangnya dan satu telunjuknya mengarah seperti pisau yang ingin sekali dia tancapkan ke dada cowok brengsek di depannya.


“Ra… please dengarkan penjelasanku.”


“Kamu tidak berhak mengatakan apapun! Aku tidak butuh penjelasan! Minggir!” Gigi-gigi Fou gemerutuk, dia sedang berusah meredam emosinya supaya tangannya tidak segera menarik atau mendorong Petra, logikanya berkata dia kalah tenaga dan dia masih sadar di mana dia berada sekarang.


“Ra… aku pacarmu, dan aku berjanji Ra, aku siap mengorbankan apapun untuk kamu, termasuk rela tinggal di kota ini selamanya… aku udah merencanakan masa depan kita, Ra… please maafkan aku tentang Olivia, seharusnya aku jujur tentang dia, tapi aku takut kehilangan kamu Ra, aku sangat takut…”


“Apa benar yang kamu katakan Jenzen?” Olivia akhirnya bicara, dia sudah menyiapkan hatinya untuk hal ini, salah satu tujuannya datang menghadiri pernikahan Aril adalah untuk melihat seperti apa sosok wanita yang disebutkan Aril telah merampas sebagian cinta Jenzen.


Tadi Olivia mengikuti tunangannya keluar. Nalurinya telah membisikkan sesuatu, saat dia melihat sepanjang acara semenjak MC wanita itu menyebutkan nama Petra, tunangannya tidak mengalihkan mata terus memandangi dengan tatapan yang lain sosok MC wanita yang terlihat energik dan cantik memukau di atas panggung, saat itu pula dia segera tahu itulah gadis yang telah membuat tunangannya beralih hati.


“Liv?? Eh, ka… kamu??” Petra gagap di hadapan dua wanita sekarang.


Dia selalu bermain cantik, belum pernah ada gadis lain yang bertemu langsung dengan Olivia.


“Aku bertanya Jenzen, benar yang aku dengar sejak tadi? Kamu akan memutuskan pertunangan kita dan memilih dia?” Olivia berkata sambil bergantian memandangi tunangannya dan Fou.


Walau berusaha berkata dengan tenang di antara rasa sakit yang telah menyerbu masuk karena mendengarkan sendiri kalimat-kalimat tunangannya, tapi tak urung airmatanya segera mengalir. Sesakit-sakitnya hatinya setiap kali mendengar Jenzen mendua ternyata sakit yang teramat sakit adalah mendengar sendiri bahwa cinta Jenzen bukan lagi untuknya, dia harus jujur bahwa Jenzen telah mengatakan yang sebenarnya, dia terlalu mengenali setiap ekspresi Jenzen.


“Jenzen? Benar aku tidak berarti lagi buatmu? Ahh Jenzen… mengapa setelah kita terikat cincin ini baru kamu mengatakannya?” Olivia sangat terluka dan semakin bercucuran airmata.


Fou spontan melihat jari Petra, hahh ada cincin emas belah rotan di jari manis kiri Petra. Petra yang melihat arah mata Fou segera melepas cincin itu dan memasukkan ke dalam saku jasnya. Airmata Olivia semakin deras mengalir melihat itu.


Situasi menekan Petra alias Jenzen tapi dia gak mungkin bersembunyi lagi, Olivia telah menangkap basah perselingkuhannya dan sialnya Fou juga harus tahu tentang Olivia. Sebagai pria dia harus menetapkan keputusannya.


“Maafkan aku Liv… tapi, aku harus jujur padamu, itu yang kurasakan saat ini, aku mencintai Foura sekarang… aku gak mungkin lagi bersamamu… sekali lagi maafkan aku Liv kita harus udahan dengan cara seperti ini…” Petra berkata sedih.


Hati Petra dilingkupi rasa bersalah yang begitu dalam terlebih saat melihat Olivia menangis kencang sambil menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya. Dia sedih harus memilih dengan cara seperti ini, dia melihat luka yang begitu dalam di mata Olivia tadi, tapi jujur adalah hal yang paling dimungkinkan sekarang bukan? Ahh, Jenzen atau si brengsek Petra seperti sedang menggali lubang yang dalam untuk mengubur diri sendiri saja.


Saat matanya beralih pada Fou, hatinya semakin tertusuk tepat di tengah, dia tidak menemukan pandangan lain selain pandangan sinis juga marah, sama sekali bukan tatapan terharu dan senang karena keputusan berat yang dibuatnya yang telah memilih gadis itu.


Fou pun menjadi tersadar dengan tatapan Petra bahwa di sini dia bukan sedang menonton sinetron kekasih kegep selingkuh seperti kegemaran mamanya. Sayangnya ini kisah nyata dan dia terlibat di dalamnya, dan sialnya dialah orang ketiga dia antara pasangan yang ternyata telah resmi bertunangan.


Tak ada pilihan, dengan mengerahkan segenap tenaga yang dia punya Fou mendorong tubuh Petra lalu membuka pintu. Petra yang gak menduga terjungkal tapi secepat kilat mencoba menahan dengan dua tangannya.


“Ra… tunggu aku menyelesaikan dengan Olive, ya? Kamu dengar sendiri kan aku telah terus terang pada Olive…” suara Petra mengiba.


Fou ingin sekali menendang atau menampar Petra.


“Astaga, Petra?? Kamu pikir kamu bisa melakukan itu padaku? Kamu pikir setelah kamu jujur di hadapan tunanganmu tentang perasaanmu padaku lalu aku akan luluh?? Heiii… Dulu aja aku gak tahu statusmu aku dengan berat hati jadi pacarmu, apalagi sekarang?? Dengar… yang aku paling benci di dunia ini adalah selingkuhan papaku, dan kamu… kamu membuatku jadi seperti dia. Kamu bajingan Petra, kamu hanya bajingan di mataku sekarang!!! JANGAN PERNAH MUNCUL DI HADAPANKU ATAU DI HADAPAN MAMAKU!! PAHAM????”


Petra terhenyak mendengar suara berat penuh tekanan dari Fou, dengan ekspresi yang ada di seluruh gesture Fou Petra tahu ini skakmat dari Fou, dia mati langkah di sini. Dia gak akan mendapatkan Fou sekalipun dengan seluruh cinta dan hidupnya dia persembahkan untuk Fou. Sialnya dia sadar sekarang saat ada di antara Olivia dan Foura hatinya berkata bahwa dia memang telah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada Fou.


Sebelum seluruh tubuh Fou masuk ke dalam mobil…


“Foura…” Suara Olivia menahan Fou.


Fou urung menutup pintu mobil.


“Aku tidak perlu minta maaf padamu, Olivia, aku tidak tahu tentangmu. Dan kamu harus tahu sesuatu… aku hanya terjebak dengan Petra, aku tidak pernah mencintai dia, bahkan menyukaipun tidak pernah, jujur aku hanya tersesat sesaat saja. Dan aku hanya bisa menyesali sekarang karena tidak mengikuti kata hatiku yang sejak awal tidak punya rasa padanya.” Fou memotong Olivia.


Fou mengatakan itu dengan jelas, dia tidak perlu mendengarkan Olivia. Fou menutup pintu lalu pergi meninggalkan Petra dan Olivia. Fou menghembuskan napasnya, setelah mengucapkan perkataan panjangnya pada Petra ada bagian hatinya seperti plong. Dia terlepas dari Petra, kejadian tadi seperti air yang membersihkan dan memurnikan lagi hatinya yang sempat menjadi kacau.


Dia telah membiarkan dirinya ditekan kuat oleh tekanan keadaan yang terjadi sangkut paut dengan Jerol dan orang tuanya serta sangkut paut dengan kesehatan sang mama, semua hal telah memaksa dia untuk tidak berpikir dan bertindak menurut caranya sendiri. Dan sekarang dia lega hubungannya dengan Petra selesai, yang tertinggal hanyalah rasa sakit pernah menyandang status sebagai selingkuhan. Ahh… dia kesal karena dia pernah terlalu menghakimi Dianita yang dianggap sepenuhnya bersalah mengapa papanya selingkuh.


.


.


Makasih ya... Masih tetap di sini 🙏☺️


.