
Petra gencar mengirim sesuatu, mulai dari makanan hingga bunga. Fou hanya melihat itu dengan sinis, tak ada kesan lagi, hanya pernah menyukai, hanya sebatas itu. Ketika menerima makanan, Fou memberikan pada beberapa anak kost yang langsung menyambut gembira.
Hari ini Fou menerima sebuah buket bunga lagi. Menerima bunga seperti ini bukan sesuatu yang istimewa terlebih dari orang yang sudah dia singkirkan dari hati. Waktu hendak menyingkirkan buket bunga, mama Silvia melarang…
“Sini, buat mama aja… kenapa sih kelakuanmu jadi kayak dulu?” Mama mengambil buket bunga segar kiriman Petra dari tangan Fou yang baru saja mau membawanya ke tempat sampah.
Mama melepaskan pita serta kertas pembungkus lalu menata bunga itu di sebuah vas bunga kristal tinggi dan meletakkannya di atas meja bulat yang ada di ruang depan. Fou membiarkan akhirnya, terserah mamanya. Beberapa waktu ini Petra selalu datang ke rumah dan sikapm Fou masih sama tidak ingin melayani lagi, mama Silvia yang menggantikannya. Dan rupanya sang dokter belum kapok berusaha untuk kembali pada Fou.
“Apa dokter Petra langsung minta menikahimu? Kenapa menolak lagi sih? Apa yang salah denganmu Fou?” Mama memberondong Fou dengan pertanyaan.
Mama masuk ke kamar Fou dan duduk di atas tempat tidur, Fou sedang memeriksa hasil UTS murid dari beberapa kelas.
“Jangan gangguin ma, aku lagi periksa ujian anak-anak…”
“Kenapa kamu takut menikah Fou? Mungkin setelah doktek Petra gak ada yang akan melamarmu..”
“Ma… siapa yang takut menikah? Gak ada dan gak usah bicara soal dokter itu.” Fou berusaha supaya intonasi suaranya tidak terdengar kasar, walau hatinya dongkol terhadap perkataan sang mama.
“Dokter Petra bilang dia serius sama kamu, dia hanya belum bisa memenej waktu katanya, dia akan berusaha untuk meluangkan waktu untukmu,” si mama Silvia mengulangi apa yang dikatakan dokter Petra padanya.
Fou berusaha menenangkan dirinya sehingga bisa fokus memeriksa tumpukan kertas-kertas di mejanya. Dia memang sudah gak ingin lanjut dengan Petra, sepertinya itu hanya untuk membujukkan supaya mau balikan, jika mendengar mamanya saja dia abaikan, mungkin setelah mendapatkan Fou lagi dia akan kembali sama.
“Fou, gak semua pria seperti papa, ada banyak pria yang juga bertanggung jawab penuh pada keluarga dan menjaga hati menjauhi godaan selingkuh… contohnya om Herry, om Pala, banyak Fou… om Handry yang anggota dewan juga sama,” hati-hati mama berbicara.
“Ma… jangan ganggu aku, aku butuh ketenangan biar bisa selesaikan ini, aku harus segera masukin nilai UTS murid-muridku…” Fou malas membahas menyangkut sang papa.
Mama masih melanjutkan, ingin anaknya gak mengambil keputusan yang salah mengenai Petra...
“Jangan berpikiran buruk soal pernikahan… cobalah kembali menjalin hubungan dengan Petra, dari semua pacarmu dia yang hidupnya begitu baik Fou… masa depanmu kayaknya akan lebih baik dengannya.”
“Mama!” Fou akhirnya gak bisa menahan kegusaran hatinya, dia juga ingin mama menghargai privasinya, sekalipun itu mama, ada batas yang gak bisa mama masuki.
“Onti…” Pintu terbuka dan Jill bebas masuk ke kamar Fou, udah sering datang main ke sini bersama Elsie.
Fou gak bisa meneruskan kekesalannya pada sang mama. Mata langsung tertuju pada Elsie, seketika kegusaran pun lenyap dari hatinya. Fou segera tersenyum melihat bayi menggemaskan itu yang udah pintar bereaksi saat diajak berinteraksi.
“Sisie… sini onti gendong…” Fou berdiri meninggalkan pekerjaannya, bermain dengan Elsie lebih menarik karena senyum anak itu selalu mendamaikan dunianya.
“Fou? Katanya kamu mau periksa ujian murid-muridmu…” Mama Silvia protes, diajak bicara serius Fou beralasan, sekarang malah bermain dengan anak tetangga.
“Bentar ma… otak udah panas, dengerin mama ngomong tambah panas.” Fou membawa Elsie ke luar kamar.
Mungkin ada dua jam mereka bermain sampai Elsie tertidur di pelukan Fou.
“Kak Fou aja yang bawa pulang… entar dia bangun nangis, suka rewel kalau tidurnya terganggu.” Jill menolak saat Fou memberikan Elsie yang sudah tertidur.
“Sisie gak nyari susu?” Fou bertanya.
“Makanya kak… kalau di rumah dia nangis bisa langsung dikasih dot susunya…”
Ini sudah jam tujuh, mungkin memang udah waktu tidurnya si bayi. Fou kemudian menuju rumah si Jilly diikuti Jilly dari belakang. Di rumah Jerol, Fou masuk langsung ke kamar Elsie tanpa sungkan lagi, lama-kelamaan perasaan itu menghilang, beberapa kali masuk ke sini karena Elsie. Fou disambut si suster yang jagain Elsie.
“Bentar kak… jangan dilepas dulu, aku buatin susu si Dede dulu…” Si suster langsung ke belakang.
Fou mengayun lembut bayi Elsie di tangannya.
“Tante Anet mana?” Fou bertanya pada Jill.
“Mama dan papa ada, kak Jerol masih di tempat kerja…” Jill menjawab pertayaan yang ditanyakan dan yang tidak ditanyakan.
Fou hanya mendelik karena saat menyebut nama Jerol mimik Jill terlihat sekali sengaja mengatakan itu. Si suster masuk, Fou langsung memberikan bayi Elsie di tangannya dan beranjak pulang.
Lalu saat hendak keluar ruangan, suara orang berdebat, itu suara tante Anet dan om Herry ternyata. Fou tergoda untuk mendengarkan…
“Aku gak setuju Anet, kamu tahu prinsipku, Vinzy itu meskipun saudara jauh yang lebih penting adalah hubungan kita dengan orang tuanya baik. Jerol sudah menikahi Vinzy, dia punya kewajiban mendidik istrinya, bukan membiarkan. Aku gak akan setuju dia menceraikan Vinzy, kasih tahu Jerol cari istrinya, dia punya salah juga sehingga Vinzy seperti itu.”
“Her… jangan terlalu keras padanya, kasihan kan, anak kita gak bisa hidup bahagia dengan Vinzy, seandainya pun dia kembali sendiri ke sini, masa masih mau terima menantu yang udah selingkuh… lagipula kamu mau punya menantu gak bermoral? Dia yang ninggalin rumah, Her.” Suara tante Anet menjawab suaminya.
“Jangan mengasihani Jerol Anet, jangan kaburkan aturan kita pada anak-anak hanya karena kasihan, kamu selalu membelanya karena itu dia lembek dan cengeng begitu. Dia anak laki-laki harus tegas dengan hidupnya sendiri termasuk menerima resiko perbuatannya.”
Lalu tidak terdengar suara lagi, Fou langsung kabur meninggalkan rumah Jerol. Om Herry punya jabatan di perkumpulan kerohanian di lingkungan ini, maka gak heran dia strict dengan prinsip yang dia anut.
Di rumah…
Mama ternyata gak beranjak dari kamar Fou, masih duduk di tempat tidur sambil menonton TV.
“Ma… nonton di luar atau di kamar mama aja… aku mau meneruskan kerjaanku…” Fou heran mama masih ada di kamarnya.
“Fou… dengerin mama dulu…” Mama mematikan TV.
Fou duduk di kursinya hanya memandang mama sekilas lalu meneruskan apa yang terinterupsi oleh Elsie dan Jill.
“Kenapa mendengarkan orang lain, udahlah memang udah penyakit ibu-ibu di sini, gak bisa diubah lagi… biarin aja, entar berhenti sendiri.” Fou menjawab sambil mulai melihat satu lembar jawaban muridnya.
“Tapi Fou, mama gak suka dengernya, kata mereka kamu kemaruk masa mau dua-duanya…”
“Ma… mereka gak tau kan kebenarannya, dua-duanya bukan siapa-siapa untukku, udahlah… cuekin aja…”
“Fou… mereka menghubung-hubungkan kelakuanmu dengan kelakuan papamu, kata mereka buah jatuh gak jauh dari pohonnya, katanya kamu ada bibit-bibit tukang selingkuh.”
Fou tergugu. Pacaran aja udah gak sekarang dituduh selingkuh. Fou meradang, tapi siapa yang bisa dia salahkan? Berita itu menjadi begitu bombastis sekarang karena semua menambahkan bumbu masing-masing, jika mau menelusuri cerita itu dari mana serta siapa yang membelokkan mengurangi dan menambahkan, itu gak mungkin.
Fou hanya membanting dua tangannya di atas meja tulis miliknya menyalurkan rasa geramnya.
“Makanya Fou, tentukan sikapmu sekarang, fokus sama Petra aja dan jangan ladeni si Jerol, mama gak suka mereka membawa Elsie ke sini, mama gak suka kamu dekat dengan bayi itu, itu anak mantanmu, Fou… semua orang tahu cerita tentang Jerol yang sedang mengejarmu dan dia belum cerai dari Vinzy. Mama sangat menghormati pernikahan meskipun papamu tidak, tapi mama tegaskan GAK ADA PERCERAIAN dalam keluarga kita Fou, jangan menjadi penyebab Jerol menceraikan istrinya. Perkara Vinzy gak bener itu urusan Jerol… jangan sampai kamu berhubungan dengan Jerol mama tidak suka dan tidak setuju!”
Mama segera meninggalkan kamar Fou selesai mengucapkan kalimat-kalimat panjangnya. Dia tidak ingin berdebat dengan Fou. Dia hanya perlu memberitahu Fou tentang aturannya, Fou sudah dewasa tapi Fou tetap anak yang harus mendengarkannya.
Fou entah harus melampiaskan amarahnya pada siapa. Fou hanya berbalik menutup pintunya lalu memilih menelungkup di atas tempat tidur.
Siapa yang akan kembali pada Jerol? Di hati Fou gak ada niat sedikit pun. Dia hanya menyukai Elsie, perasaan yang hadir begitu saja saat memandang mata polos bayi itu, sama seperti ketika bertemu Nando perasaan sayang lahir begitu aja. Apa mungkin karena ketika dia mendapatkan adik-adiknya dia diajarkan untuk sayang dan peduli pada mereka sehingga menjadi salah satu ciri kepribadiannya?
Siapa pula yang pacaran dengan dokter Petra? Sekarang tinggal mantan yang belum terima diputusin sama Fou. Di mana setiga yang mereka maksud, mereka gak terkait lagi dengan hidupnya.
Hati terasa kosong, dan Fou merasa dadanya nyeri. Sebuah notifikasi pesan masuk, hp ada di atas kepalanya, dia meraih hpnya. Pesan masuk dari Petra, dia gak pedulikan, ada puluhan pesan dari Petra sebelumnya. Fou sudah memblokir nomor hp Petra, rupanya dia memiliki nomor yang lain.
Ada chat Nando yang belum dia baca… Fou berbalik tidur telentang sekarang lalu membuka ruang chat di nomor adik tirinya…
Kakak
Aku lolos lomba matematika, mau ikut ke tingkat nasional, aku mau ke ibukota
Murid kakak ada yang lolos? Aku udah cari tahu pelaksaannya sama-sama, kakak jadi guru pendamping kan?
Aku pengen ke sana bareng kakak.
Adiknya terus mengirim berita walau dia gak pernah membalasnya. Fou tersentuh dengan tekad adiknya gak mau memutus hubungan, tetap menganggapnya kakak. Akhirnya Fou mengetikkan kata ‘iya’ dan sebuah emoticon senyum.
Balasan beruntun berisi banyak emoticon yang menunjukkan rasa senang kemudian diterima Fou. Sesenang itu Nando mendapatkan balasan darinya? Fou mendapatkan sedikit penghiburan malam ini
.
🚥
.
Seperti biasa, aktivitas rutin di pagi hari, Fou keluar dari pagar dan sudah ada Jerol mengendong Elsie di lorong itu… alasan Jerol adalah biar Elsie mendapatkan sinar matahari pagi. Tapi seperti sudah jadi aktivitas rutin juga Fou akan berhenti untuk bermain sejenak dengan Elsie.
Dan pagi ini, bayi kecil itu begitu mengoda, baru saja tertawa-tawa dengan papanya, sehingga spontan Fou menghentikan motornya.
“Hi Sisie sayang… hepi amat pagi-pagi…” Fou berkata sambil meraih tangan Elsie.
Reaksi bayi kecil itu yang tertawa malu begitu menggemaskan sehingga tanpa sadar Fou mendekatkan kepalanya mencium Elsie padahal ada helm di kepala dan Elsie sedang bersandar di dada Jerol. Pipi Jerol kena sundulan helm.
“Aduuh Onti…” Jerol sedikit meringis kaget.
“Haha… sorry Erol… aku gak sengaja, abisnya Sisie menggemaskan…” Tangan Fou spontan mengusap pipi Jerol.
Mungkin untuk Jerol perputaran waktu ingin dia hentikan karena hal ini, sehingga dia menatap Fou dengan sejuta rasa yang segera bergemuruh di dada. Sesaat kemudian Fou tersadar telah melakukan sesuatu yang melanggar garis kesopanan, segera ingat perkataan mama mengenai cerita tetangga. Fou segera menurunkan tangannya. Fou mengamati sekeliling…
Sial…
Ada beberapa ibu tetangga tersayang yang sedang menonton adegan pagi mereka.
Astaga… kenapa aku lupa tentang ini?
Fou segera pergi meninggalkan Jerol. Dia tahu sebentar lagi gosip tentang mereka akan lebih panas. Sepanjang perjalanan Fou menggerutu karena kesalahannya bersikap pada Jerol. Siapa yang akan menerima alasan dan kebenaran di sini? Penjelasan sebaik apapun gak akan diterima, banyak mata yang melihat langsung, tindakannya seperti mengkonfirmasi bahwa memang ada sesuatu antara dirinya dengan Jerol.
Ahh… Fou segera memikirkan untuk mengungsi sejenak dari lorong ini, tapi ke mana? Ke rumah adik-adiknya terlalu jauh untuk datang ke sekolah dengan motor. Fou jadi sakit kepala pagi-pagi, mana sepanjang malam tidak tidur karena menyelesaikan nilai murid-muridnya.
.
.
Jika part FouJerol lebih dulu terbit... Kakak2 yg menunggu JKC Brill, ada dua eps yg msh proses review, biasaaaa... sedikit keselip kalimat, hikss. Setor utk terbit stengah dua belas mlm sampai skrng blm up.
.
.