
Sekarang Fou harus menghindari Jerol setiap bertemu, walau ada Sisie yang menggemaskan. Dia sedih melakukan ini, sebab setiap menanyakan hatinya sendiri ternyata dia menginginkan Jerol juga. Hatinya berbeda saat dia mengenali lagi rasa yang tumbuh kembali untuk Jerol. Dengan Petra, dia tidak pernah merasakan kerinduan untuk bertemu dan tidak pernah merasa sakit seperti ini saat harus menghindar.
Ketika hatinya menolak Petra, rasa kagum pun sirna dan beberapa waktu terakhir melewati kebersamaan dengan Petra dia gak merasakan kedekatan lagi, hatinya hambar sekalipun dia membiarkan Petra melakukan skinship padanya, mungkin itu juga nasib bersama Bryan atau Randy sebelum ini, sebuah perjalanan cinta yang hambar.
Tapi, dia merasa tidak punya hak untuk memilih, menolak Petra bisa dia lakukan setiap waktu sekarang, jika mama sudah lebih sehat mama pasti dapat menerima itu. Karena intinya untuk mama Fou harus menikah, dia mungkin bisa menjanjikan itu untuk mama agar bisa tenang, mungkin dia bisa memberi peluang kepada beberapa pria yang masih mengisyaratkan itu, misalnya salah satu dari rekan gurunya.
Dan memilih Jerol bisa menghancurkan banyak hal, kesehatan mama dan mungkin kesehatan papanya Jerol, juga bisa membuat hubungan Jerol dengan orang tuanya tidak harmonis. Lagi pula Jerol masih terikat dalam pernikahan.
Fou meletakkan laptop dan tas kerjanya di meja kerja miliknya di sudut kamar. Saat berputar hendak ke kamar mandi Fou kaget, ada Jerol sedang duduk di lantai tepat di bawah jendela.
“Erol??” Fou hampir berteriak.
Fou segera menuju pintu kamar dan menguncinya. Cowok ini, entah berapa banyak kali masuk ke kamarnya tanpa izin.
“Kenapa masuk ke sini?” Fou berkata pelan sambil mengunci jendela dan menggeser tirai. Dia menghidupkan ac juga.
“Kenapa kamu menghindariku, Ra? Kamu cuekin aku sekarang.” Jerol bangkit dari lantai dan duduk di tempat tidur.
“Pelankan suaramu, ya ampun Rol, kenapa masuk kamarku sih?” Fou terpaksa duduk di samping Jerol supaya suara mereka bercakap gak sampai ke luar kamar.
Giliran Jerol yang meraih remote dan menghidupkan TV memperbesar volume suara.
“Ra…” Jerol meraih tangan Fou dan menggenggam lembut, mengusap dengan tangannya yang lain.
“Aku, sedang berjuang untuk kita, aku udah dapet pengacara, setelah lepas dari Vincy aku bebas dan kita bisa…”
“Erol…” Fou memotong. Mereka bertatapan sekarang. Fou bisa melihat gejolak emosi di wajah Jerol.
Sekalipun gak peduli soal Jerol selama belasan tahun, tapi Fou tahu cowok ini berhati lembut, sangat sayang keluarga dan gak pernah melawan orang tuanya. Om Herry begitu dominan dan punya aturan yang ketat soal nilai dan norma. Jika sekarang ini dia menerobos aturan papanya demi supaya bersama Fou, hati Fou teriris, karena melihat sendiri di raut wajah Jerol konflik batin cowok itu. Bukan hal yang mudah tentu untuk Jerol keluar dari nilai yang sudah ditanamkan padanya sejak kecil.
“Aku tahu mama melarangmu bersamaku, tapi aku gak akan menyerah… aku udah membeli rumah untuk kita nanti, sementara renovasi sekarang, jadi Ra… tunggu aku ya dan… lepasin Petra. Boleh Ra?”
Fou tergugu, ternyata tekad Jerol begitu besar sekarang. Jerol yang biasanya segera mundur dan mengambil jalan aman gak ingin berkonflik atau membuat masalah, sekarang telah menyusun sebuah rencana untuk mereka berdua.
“Ra… mungkin kita gak akan menikah secara besar-besaran, kita nikah di capil aja dulu boleh? Setelah orang tuaku setuju baru kita buat pesta, gimana?”
Fou menunduk, rencana Jerol mengusik emosinya. Dia jarang mengeluarkan airmata, menangis pun amat jarang. Hatinya yang penuh luka sejak papanya pergi membuat dia seperti itu. Tapi kali ini entah kenapa airmata dengan lancar keluar dari sudut matanya.
Jerol segera merengkuh Fou masuk dalam pelukannya. Jerol memang gak pernah bertanya apa Fou menerimanya lagi, dia paham saat dia mengungkapkan cintanya dan Fou tidak menolak, itu pertanda Fou mengijinkan dia. Dalam hati kecilnya dia merasa bahwa Fou sebenarnya masih menyimpan cinta masa lalu mereka.
“Ra… kenapa menangis, maaf aku membuatmu sedih…” Jerol mengusap sayang kepala Fou dan batinnya pun tersayat karena tahu baik dirinya maupun Fou tidak mudah untuk mewujudkan keinginan masa depan mereka berdua.
Fou semakin terisak, baru sekarang dia menangis lagi karena cinta, dulu Jerol berkali-kali membuatnya menangisi cinta remaja miliknya dan sekarang terjadi lagi dan lagi-lagi itu Jerol. Jerol ikut menangis bersama Fou, bibirnya beberapa kali menciumi dahi Fou dengan sayang.
“Ra… kenapa aku terlambat datang ya? Kenapa aku justru seberani ini saat udah banyak rintangan antara kita… harusnya aku memberanikan diri sejak lama, mungkin kita udah bahagia berdua jika aku gak sebodoh ini…” Jerol mengatakan dengan suara yang menahan tangisannya.
Beberapa menit akhirnya Jerol hanya mengetatkan pelukan dan terus menghujani Fou dengan semua cinta yang selama ini begitu besar di dadanya.
“Ra… aku sayang, aku cinta kamu selalu…” Jerol kembali mengatakan dengan lembut di telinga Fou. Perasaan bahagia dan perasaan sakit datang bersamaan di dada Fou.
Lalu Fou melepas pelukan Jerol.
“Rol… aku ingin sekali bersamamu, gak pernah ada keinginan seperti ini dengan cowok lain… dengan Petra pun sama… entah, aku jujur tertarik dan menyukai Petra saat memulai hubungan. Tapi aku gak pernah punya keinginan ini... hanya kamu Rol yang membuatku menginginkan lagi pernikahan. Tapi… tapi… aku gak bisa Rol. Aku… harus memikirkan mamaku, aku juga gak mau kamu berontak pada orang tuamu… permintaan tante Anet jelas, Rol… aku gak ingin jadi sumber masalah untuk keluargamu…”
Meski terbata-bata Fou akhirnya bisa bicara dengan emosi yang terjaga. Dia gak berani melawan tatapan Jerol.
"Ra... Kenapa jadi serumit ini sih... Aku yang bodoh Ra, mengenai Vinzy, mengenai kita... ini karena aku bodoh." Sekarang Jerol yang menangis.
Fou merasa de ja vu. Jika di masa lalu dia gak akan mengacuhkan bahkan mengejek sikap lemah Jerol, tapi sekarang dia melihatnya sebagai wujud kekuatan cinta Jerol untuk dirinya. Hatinya seolah melihat ketulusan cinta Jerol buat dirinya.
Fou menarik tubuh Jerol yang tertunduk, memeluk Jerol dan segera Fou menyadari perasaanya yang sebenarnya untuk Jerol... perasaan yang terlupakan kini memenuhi seluruh relung hati.
Tapi... mereka gak boleh bersama... Gak mungkin.
.
.
Terima kasih selalu mendukungku...
.