My Love My Enemy

My Love My Enemy
BAB 8 KELULUSAN



Kamar seluas rumah tipe 36 itu sedang ramai dengan suara cekikikan para gadis. Amber, Cherry, Nadia, Olive dan Bella. Mereka sedang berdandan ria di depan cermin. Semasa masih jadi siswi sekolah, mereka hanya boleh menggunakan bedak tipis dan lipgloss saja.


"Mau pake softlens gak? Biar kita kompakan gitu!" usul Bella.


"Softlens? Mata kita di culek-culek gitu? Ogah ah!" tolak Nadia si pembersih.


Bella mencibir dan pipinya menggembung. "Ayolah, Nad...kapan lagi kita bisa eksis di sekolah. Besok kita udah daftar di Universitas masing-masing..." rengek Bella.


Nadia ini sangat lemah dengan rengekan, sehingga ia pun akhirnya menyerah.


"Kalo ada apa-apa sama mataku, kalian tanggung jawab ya!" ancamnya.


"Bella tuh, kok kami!" protes Cherry, Amber dan Olive bersamaan.


Yang ditunjuk hanya memberi sebuah senyuman manis bak malaikat tak berdosa. Dia lalu meminta Nadia duduk dan membuka matanya. Bella memasangkan softlens berwarna biru terang seperti mata boneka Barbie.


"Astaga! Kamu cantik banget, Nad! Kamu harus sering dandan gini!" seru Amber.


"Sumpah, lu kayak boneka, Nad!" timpal Olive. Bella dan Cherry kompak mengangguk setuju.


Akhirnya kehebohan dandan mereka pun selesai juga. Bagas dari tadi sudah menggedor pintu kamar Bella. Kakaknya itu memang pengganggu tingkat dewa.


Begitu pintu kamar itu terbuka, terlihat Bagas sedang berkacak pinggang di depan pintu. Tapi kedua tangannya turun ketika melihat Cherry yang terlihat sangat manis dengan bandana hitam bermotif hati dan softlens berwarna hijau jamrud.


"Eleh, ngeliatinnya gitu amat!" sindir Bella.


"Ha-ah? A-apa?" tanya Bagas tergagap. Mereka berlima kompak menertawai saudara Bella satu-satunya itu.


"Buruan, katanya mau gue anter!" protes Bagas karena sudah menunggu mereka lebih dari sejam. lamanya.


"...dasar! Kalian mau ke sekolah apa mau ke kondangan sih?!?" gerutu Bagas lagi.


"Udah, udah, sana tungguin kita di bawah!" usir Bella. Dia mendorong sang kakak menjauhi kamarnya.


Bagas menuruni tangga dengan bersungut-sungut. Kalau saja bukan karena Cherry juga bersama Bella, dia tidak akan mau mengantar adik perempuannya itu ke sekolah.


FCC pun akhirnya siap untuk berangkat. Mereka turun untuk menemui Bagas yang ternyata tertidur di sofa ruang tamu.


"Bagas!!!" teriak Bella di telinga Bagas.


Pemuda itu terlonjak dan akhirnya jatuh dari sofa. "Sumpah! Dasar adik gak punya hati lu!" ujar Bagas galak sembari mengusap kepalanya yang sakit karena terantuk itu.


Bella hanya cekikikan melihat derita sang kakak. Keempat temannya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat dua bersaudara yang seperti air dan minyak itu.


"Sudah, jangan ribut lagi, ayo berangkat!" ajak Olive.


Bagas masih mendelik kesal kepada Bella yang terus cekikikan. Mereka berjalan keluar sambil saling sikut satu sama lain. Akhirnya Cherry menjadi penengah mereka berdua.


CRV Bagas ternyata sudah siap di halaman rumah. Pemuda itu membuka pintu belakang dan pintu depan.


"Pindah ke belakang, lu!" perintah Bagas ketika. melihat Bella akan duduk di kursi depan.


Bella mencebik. "Dasar mesum! Bilang aja pengen Cherry di depan, biar bisa pegangan tangan. Terus kita yang jomblo gigit jari di belakang!" sindirnya lalu menjulurkan lidah.


Bagas mendelik lagi ke arahnya. Tapi ia melunak karena Cherry menepuk pundaknya sambil tersenyum.


"Udah, gue di belakang aja, Kak," ujar Cherry mengalah. Bella kembali menjulurkan lidah dan disambut dengan cubitan dari Bagas.


Akhirnya setelah pertengkaran kakak-beradik itu, CRV Bagas melaju menuju SMA Internasional Euclidean Manggala. Tidak lama mereka pun tiba di gerbang sekolah elite itu. Bagas pun meninggalkan mereka setelah menurunkan kelima gadis ini.


Mading sekolah sudah dikerumuni oleh siswa-siswi kelas XII SMA Euclidean. Untungnya mereka berlima mendapat jalan untuk mendekat ke papan berukuran cukup besar itu.


Seperti biasa nama Cherry dan Nadia juga Damar selalu berada di urutan teratas. Kemudian diikuti nama Olive, Amber, Vania lalu Bella. Walau tingkah mereka centil dan seperti anak manja, tapi dalam prestasi mereka tidak boleh di remehkan.


Olive yang sering menjuarai balap motor. Amber yang sering juara di kompetisi masak dan balet. Cherry yang selalu berada di peringkat satu umum, juga juara olimpiade matematika. Nadia si ratu debat bahasa Inggris. Sedangkan Bella sendiri juara dalam kompetisi menulis ilmiah dan literasi.


Mereka beringsut meninggalkan kerumunan anak-anak di depan mading itu dan menuju ke arah taman. Setelah mencapai gazebo di pinggiran taman sekolah itu, mereka duduk bersantai di sana.


Bella mengambil sebuah mini tripod dari tas selempang nya. Ia mulai memasang ponselnya di mini tripod itu. Setelah mengatur posisi kamera, dia mengajak keempat temannya untuk berfoto bersama di taman sekolah ini.


"Yuk, bikin foto bareng! Buat kenang-kenangan terakhir di sekolah!" ajak Bella.


Mereka pun kemudian mengambil beberapa foto.


...----------------...


Setelah berbelanja beberapa pasang baju, mereka pun berakhir di sebuah resto korean food. Mereka masih saja cekikikan sembari mengomentari tiap orang yang mereka lihat di mall.


Ponsel Bella tiba-tiba berbunyi. Notifikasi pesan whatsapp muncul dan itu dari Hafiz.


Hafiz : Jadwal bimbel besok diundur lusa. Aku ada seminar di kampus. Tolong sampaikan juga ke Cherry.


"Cher, bimbel besok diundur lusa." ujar Bella.


"Cher!! Cherry! Ya elah ini anak—"


Bella mendengus. Dia lalu menyerahkan ponselnya pada Cherry yang sedari tadi sibuk main mobile legend. Walau kutu buku, gadis yang satu ini adalah gamer sejati. Kalau sudah main game di waktu luangnya, jangan harap suara kita bisa masuk ke dunianya.


Karena tidak digubris, Bella mencubit lengan Cherry.


"Aww! Sakit gila! Lu kenapa sih—yah, yah, gue mati dah! Bella, iihh!!" gerutunya kesal.


"Sukurin! Dari tadi juga aku ngomong ke kamu malah dicuekin," rajuk Bella.


Bella memasang wajah manyun dan memalingkan muka daei Cherry. Melihat calon adik iparnya itu ngambek, Cherry pun meletakkan ponselnya dengan terpaksa.


"Apa Bella sayang? Adik kesayangan pacarku tersayang?" bujuk Cherry.


Mendengar Cherry yang sok lemah lembut seperti itu mereka tertawa terbahak-bahak tanpa terkecuali Bella yang berencana ingin merajuk tadi.


"Udah, udah, gak cocok lu sama intonasi lembut kayak gitu, Cher!" ejek Olive sembari mengibas-ngibaskan tangan.


"I—iya...udah, gaya ngomong seperti itu cocoknya buat Amber atau Nadia..." sela Bella tidak berhenti tertawa.


Cherry membungkus seiris daging dengan daun selada dan memasukkan ke mulut Bella agar dia berhenti tertawa.


"Gila kamu, kalau aku mati tersedak gimana?" gerutu Bella dengan mulut penuh.


"Bawel!"


Gadis itu mencibir sembari mengunyah barbeque yang Cherry suap ke mulutnya tadi.


"Hafiz kenapa?" tanya Cherry akhirnya.


"Bimbel diundur sampai lusa," jawab Bella ditanggapi dengan o—panjang dari Cherry.


Mereka akhirnya selesai makan dan memutuskan untuk pulang ke rumah Bella.


Bella menginjak rem tiba-tiba suara decit rem mobil terdengar bersamaan dengan bunyi keras di luar. Ternyata mobilnya menabrak sebuah mobil yang muncul dari sebuah pertigaan.


Dengan terpaksa gadis itu mematikan mesin mobilnya. Mereka berlima turun. Sebuah mini cooper kuning tampak penyok bumper depannya. Si pengemudi turun dari mobil.


Geng FCC terkesima melihat sang pengemudi mini cooper itu. Seorang gadis yang mungkin seumuran Hafiz dan Bagas. Rambut hitam legamnya diikat ekor kuda. Ia mengenakan kacamata hitam yang membingkai cantik wajah oval-nya. Hidung mungil dan mancung. Gadis itu menaikkan kacamatanya ke atas kepala seperti sebuah bando.


"Aduh...mobil kesayangan gue..." ratapnya dengan suara manja yang dibuat-buat.


Matanya mendelik ke arah Bella dan teman-teman. Dia menunjuk mobilnya yang ringsek di depan.


"Tanggung jawab!" bentaknya.


"Ka—kamu juga salah, belok dari sana gak pakai lampu sein!" balas Bella tidak terima. Gadis itu memang tidak menyalakan lampu seinnya ketika berbelok.


"Enak saja! Mobil gue ringsek tuh!" Gadis itu terus bicara dengan nada suara tinggi.


"Mobilku juga ringsek!" bentak Bella tidak mau kalah.


"Ayo kita ke kantor polisi, lihat siapa yang salah!" tantang Cherry sambil menunjuk kamera cctv di ujung pertigaan itu.


Gadis tadi terdiam. Seseorang keluar dari pintu penumpang mobil itu.


"Kenapa Sil—Bella???" pekik Hafiz terkejut.


Mata Bella membola melihat sosok yang baru saja turun dari mobil itu juga.


"Ha—fiz."


...****************...