My Love My Enemy

My Love My Enemy
BAB 5 BELLA DAN HAFIZ



Bella : Guys, kalian tau gak? Hafiz, Hafiz datang ke rumah aku!


Olive : Seriusan, lu? Hafiz yang kemarin ke sekolah itu kan?


Bella : Iya, dia juga guru privat bimbel Cherry.


Nadia : Beneran?!?


Bella : Iya. Songong orangnya. Habis harga diriku dibuatnya.


Amber : OMG


Cherry : Hadeeeh, kalian ngegosipin guru privat gue di depan muridnya :D


Bella : Masa bodo'! Dia ternyata temen Kak Bagas, gila!


Percakapan tentang Hafiz di whatsapp itu berhenti ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya.


"Bel, ini kakak!" suara Bagas terdengar dari luar.


Dengan malas Bella beranjak membukakan pintu. Kali ini wajahnya sudah bersih tanpa masker lagi. Dia memasang muka masam.


"Kenapa?!?" tanya Bella jutek. "Temen lu dah pulang?"


Bagas mengangguk.


"Lu kenal Hafiz?" tanya Bagas masuk ke kamar Bella tanpa dipersilahkan.


"Main masuk aja lu, Kak!" protes Bella jengkel.


"Eleh...biasanya juga lu ngacak-ngacak koleksi DVD gue..." sindir Bagas.


"Lu kenal Hafiz dimana?" Bagas duduk di kursi belajar Bella.


Bella mengikuti sang kakak dan duduk di atas bean bag pinknya.


"Gue kenal Hafiz pas disuruh mama ikut bimbel bareng Cherry...tapi pertama liat dia pas jogging bareng Olive di taman kota, dia jualan bakso di sana," jelas Bella.


"Terus???"


"Terus apa?!? Temen lu songong kak!" gerutu Bella.


"Dih, songong gimane?" tanya Bagas tidak terima.


"Tuh!" Bella menunjuk kertas yang berserakan di atas mejanya.


"Hubungannya sama Hafiz apa?" Bagas semakin tidak mengerti.


Bella pun bercerita panjang lebar dan hanya di tanggapi dengan "O" atau "hmm". Sampai akhirnya dia tertawa lebar sambil mengacak rambut Bella.


"Itu berarti...di mata Hafiz, otak lu pas-pasan..." ejek Bagas disusul dengan lemparan bantal tepat di wajah tampannya.


"Keluar sana! Gue mau belajar! Gue buktiin ke temen songong lu itu, kalo gue bukan sekedar cewek manja!" usir Bella kesal.


Bagas lari sambil menjulurkan lidahnya, meninggalkan Bella yang menghentak-hentakkan kakinya kesal.


...----------------...


"Bel, lusa udah prom night," Amber mengingatkan Bella.


Bella menepuk jidatnya. Ia benar-benar lupa dengan prom night. Padahal.dia sudah berkoar-koar akan membawa pacarnya. Masa iya dia bawa Bagas, mereka kan sudah tahu Bagas itu kakaknya.


"Sial! Gara-gara Hafiz, aku jadi lupa soal prom night!" keluhnya.


"Terus gimana?"


"Nantilah aku pikir," jawab Bella pasrah. Ia lalu mengajak Amber ke kelas Cherry.


"Cher, nanti sore jadi ke tempat Hafiz?" tanya Bella. Cherry mengangguk.


"Udah kelar tugas yang kemarin?" Cherry balik tanya.


Bella mengangguk dengan lesu. Cherry memandang Amber meminta penjelasan.


"Prom night..." bisik Amber. Cherry hanya bisa diam.


Sore ini mereka datang ke rumah Hafiz. Tapi wajah Bella terlihat tidak semangat. Hafiz sedikit heran melihat Bella yang lesu.


...----------------...


Hafiz POV


Kedua gadis SMA ini datang ke rumahku beberapa hari yang lalu untuk menjadi siswa bimbingan belajar. Namanya Cherry dan Bella.Sebenarnya aku benci mengajar anak-anak orang kaya seperti mereka.


Beberapa orang tua kaya akan menyalahkan guru bimbel anak mereka jika anaknya gagal. Padahal itu kesalahan si anak sendiri yang otaknya tidak mampu.


Akan lebih baik jika aku menguji dulu kemampuan mereka dengan memberikan beberapa soal kisi-kisi ujian penerimaan nanti.Gadis bernama Cherry ini sudah pasti mampu. Dia juara satu umum di SMA Euclidean. Aku sudah banyak mencari tahu tentang dia.


Kalau gadis bernama Bella ini, aku tidak menemukan adanya prestasi. Tipikal gadis manja yang hanya datang ke sekolah, belajar, lalu pulang dan shopping menghabiskan uang orang tuanya.


"Hari ini kita mulai dengan menguji kemampuan kalian dulu," kataku sambil menyodorkan beberapa lembar kertas berisi soal.


Kedua gadis itu saling bertukar pandang. Mereka mengambil kertas yang kusodorkan.


"Kalian pikir waktu untuk mengerjakan soal ujian masuk di universitas sama dengan waktu ujian di SMA???" sindirku pedas.


"Jawaban kalian memang sembilan puluh lima persen benar. Tapi, waktu yang kalian gunakan 1 jam lebih lama dari waktu ujian nanti,"


Aku menyuruh mereka pulang dan berlatih mengerjakan soal-soal lagi. Kuberikan setumpuk soal berbeda untuk mereka berdua. Mereka harus menyerahkan padaku pada pertemuan berikutnya.


Soal itu akan menentukan layak atau tidaknya mereka untuk jadi siswi bimbelku. Aku tidak mau disalahkan jika mereka gagal karena ketidakmampuan mereka sendiri.


"Dalam ujian masuk universitas kemungkinan untuk mencontek nyaris tidak ada. Kita berjuang dengan kemampuan masing-masing," Aku mengingatkan mereka lalu menyuruhnya pulang.


Aku tidak pernah menyangka kalau calon murid yang aku remehkan kemarin adalah adik dari sahabatku semasa SMA, Bagas. Tanpa sengaja aku bertemu dia lagi di rumahnya sendiri.


Penilaianku terhadapnya tidak berubah. Tetap sama. Seorang gadis kaya yang manja. Cherry beberapa waktu lalu sempat bilang kalau Bella tersinggung dan tidak mau keluar dari kamarnya.


Akhirnya aku memutuskan untuk membuka mata gadis itu, bahwa dia hanyalah gadis yang akan selalu mengandalkan orang tuanya.


Kutitipkan beberapa lembar soal untuk dikerjakan Bella. Jika dia memang berhasil mengerjakan soal itu dengan sempurna, maka penilaianku akan berubah kepadanya


Di sinilah dia hari ini, dia mampu mengerjakan dengan sempurna tugas dariku. Aku akan mencoba menerima dia menjadi muridku.


"Bella kenapa?" tanyaku penasaran pada Cherry.


Cherry memberi isyarat dengan menempelkan telunjuk di bibir. "Masalah prom night," bisiknya.


Aku menjitak kepala Bella pelan dengan sebuah buku tebal. "Kalau tidak bisa konsentrasi, kamu pulang saja!" tegurku kejam.


Dia menatapku. Entah kenapa aku seperti melihat genangan air mata yang dia tahan.


"Lah, kamu kenapa?" Aku jadi tidak enak hati.


"Kak Hafiz, punya pacar gak?" Bella menodongku dengan pertanyaan tidak masuk akal.


Aku tanpa sadar menggeleng jujur. Tiba-tiba matanya berbinar.


"Kalau begitu tolongin Bella ya...ya,ya,ya!" pintanya


Cherry dan aku saling bertukar pandang.


"Tolongin apa?" tanyaku tidak mengerti.


"Jadi pasangan Bella di prom night!"


"What?!?" Aku dan Cherry sama-sama kaget.


...----------------...


Bella POV


"Udah gila kali aku!!! Masa iya aku ngajak Hafiz ke prom night..." sesalku saat tiba di rumah.


Sore ini aku melakukan hal gila. Aku meminta Hafiz menjadi pasanganku di prom night. Memang dia ganteng, tinggi, keren, tapi dia???


Orang itu bahkan tidak memberi jawaban mau atau tidak. Kalau aku ditolak, habislah sudah wajahku di hadapannya.


Ding!


Ponsel yang kuletakkan di atas nakas, berbunyi. Sebuah pesan dari nomer baru muncul di layar. Aku penasaran. Tidak semua orang mengetahui nomer ponselku.


0895xxxxxxxx : Prom night. Kita ketemu jam berapa? Hafiz.


"What!!!!" teriakku kegirangan.


Kenapa hatiku ini jadi deg-degan ya. Aku harus balas apa ini? Kalau langsung aku balas, apa aku terkesan gampangan?


Me : Cher, Hafiz nerima ajakanku!


Cherry : Serius?


Me : Iya. Ini aku kirim screenshootnya ya.


Cherry : Gila! Ya udah, bilang aja jam 5 sore gitu.


Me : Sekarang?


Cherry : Tahun depan!


Aku segera membalas pesan Hafiz setelah menyimpan nomernya.


Me : Jam 5 sore. Kita ketemu di rumah aja.


Hafiz : Kita ketemu di gerbang sekolah. Acara prom kan jam 7 malam.


Me : Up to you!


Hafiz : Ok. Jam 6.30 di gerbang sekolah, habis aku sholat maghrib baru aku ke sana.


Ada desir aneh di dalam hatiku membaca pesan yang barusan Hafiz kirim. Sudah lama aku tidak mendengar kata-kata ini. Aku pun sudah lama jauh dari Tuhan.


Hafiz, apa aku jatuh cinta pada orang ini?


...****************...