My Love My Enemy

My Love My Enemy
BAB 3 ICE MAN



SMA Internasional Euclidean Manggala


Beberapa perwakilan dari universitas ber-akreditasi A mengadakan sosialisasi ke sekolah FCC. Euclidean University, sebuah universitas swasta bergengsi bertaraf internasional. Universitas Negeri Satria Palapa, yang merupakan incaran para calon ahli hukum dan kedokteran. Serta Universitas Putra Bangsa, surganya para calon ahli IT.


Para siswa tidak sabar bertemu dengan mahasiswa berprestasi yang menjadi wakil dari masing-masing universitas. Mulai dari yang bebas tes, hingga yang memperoleh beasiswa di tahun pertamanya.


Aula SMA Internasional Euclidean Manggala ramai dengan hiruk-pikuk para siswa.


"Kalian mau masuk di universitas mana?" tanya Cherry kepo pada teman gengnya.


"Aku tetap di Euclidean," jawab Amber. Kalau dia memang wajar akan tetap di sekolah internasional, mengingat kedudukan papanya yang seorang diplomat.


"Gue di mana aja yang bisa lulus..." Kali ini Olive menjawab sambil tertawa.


"Kalo lu gak usah kuliah! Cuma penuhin bangku aja!" ejek Cherry.


Olive mencibir.


"Kamu sendiri? Pasti di Satria Palapa-kan?" tebak Amber. Cherry mengangguk.


Mereka bertiga kompak memandang Bella dan Nadia yang sedari tadi diam sambil membaca brosur.


"Gimana sama kalian?" tanya Amber.


"Aku belum tahu mau kemana. Tapi orang tuaku sih maunya aku satu kampus sama Cherry...tapi...aku masih bingung," jawab Bella.


"Kalo aku mau coba daftar di Putra Bangsa. Aku pengen belajar graphic design," timpal Nadia.


Suara dengung dari speaker aula membuat para siswa fokus ke arah panggung. Mr.Angelbert sang kepala sekolah sudah naik di podium.


"Selamat pagi, good morning untuk anak-anak bapak tersayang...Hari ini kita kedatangan para mahasiswa berprestasi dari tiga universitas ternama...bla...bla...bla..."


Kata sambutan dari kepala sekolah itu mungkin berlangsung tiga puluh menit, dengan berbagai macam nasihat dan juga arahan yang sama setiap harinya.


Akhirnya, tibalah waktu perkenalan. Yang pertama naik podium adalah seorang mahasiswi dari Universitas Negeri Satria Palapa, setelah menjelaskan tentang universitasnya, ia mengakhiri pidatonya.


Kemudian seorang mahasiswa Universitas Putra Bangsa. Seperti bayangan mereka, mahasiswa berprestasi dari jurusan IT, baju rapi, berkacamata tebal dan juga kikuk.


Terakhir perwakilan dari Euclidean University. Mahasiswa jurusan business management yang menerima beasiswa langsung dari yayasan Euclidean karena nilai-nilainya akan mewakili universitasnya.


"Perwakilan Euclidean University, dipersilahkan naik ke podium..."


Tidak ada respon.


"Sekali lagi perwakilan dari Euclidean University..."


Semenit kemudian seorang pemuda muncul dari balik pintu aula.


"Maaf saya terlambat,"


Semua mata menatap ke arahnya. "Katanya mahasiswa berprestasi, tapi datang terlambat," beberapa siswa kasak-kusuk.


Mata Cherry dan Bella membelalak demi melihat sosok yang sedang berjalan menuju podium dengan langkah percaya diri itu. Meski terlambat, auranya tetap membius seisi aula.


"Ha...fiz..." gumam Bella.


Cherry mencubit lengan Bella sampai meng-aduh kesakitan.


"Sorry...gue kira ini mimpi..." ujarnya cengengesan.


Mata Bella mendelik kesal ke arahnya.


Ya, ternyata dia Hafiz Al-Ghazali, guru privat Bella dan Cherry. Laki-laki yang kaku, dingin dan tegas. Hari pertama mereka bimbel bagai ada di dalam neraka.


"Hari ini kita mulai dengan menguji kemampuan kalian dulu," ujar Hafiz.


Dengan percaya diri, mereka berdua mengerjakan tugas di kertas-kertas itu. Waktu yang mereka butuhkan cukup lama. Itu yang membuat Hafiz mengejek mereka.


"Kalian pikir waktu untuk mengerjakan soal ujian masuk di universitas sama dengan waktu ujian di SMA???" ejeknya tanpa perasaan.


"Jawaban kalian memang sembilan puluh lima persen benar. Tapi, waktu yang kalian gunakan 1 jam lebih lama dari waktu ujian nanti,"


Akhirnya Hafiz memberi setumpuk tugas untuk dikerjakan Bella dan Cherry di rumah. Namun sialnya, ia memberi tugas yang berbeda pada mereka berdua.


"Dalam ujian masuk universitas kemungkinan untuk mencontek nyaris tidak ada. Kita berjuang dengan kemampuan masing-masing," ingat Hafiz lalu menyuruh mereka pulang.


Hafiz berdiri di atas podium. Ia memulai penjelasannya tentang universitas yang masih satu dahan dengan SMA ini. Mulai dari jurusan yang tersedia, jadwal pendaftaran dan juga cara memperoleh beasiswa.


Biaya pendidikan di Euclidean sepuluh kali lipat lebih mahal dari biaya pendidikan di institusi lain. Untuk masuk ke taman kanak-kanaknya saja, harus merogoh kantong hingga puluhan juta. Namun, mereka mendapat fasilitas dan tenaga pengajar yang memang bertaraf internasional.


Ramah tamah hari itu pun selesai. Ketika bubar, Cherry dan Bella langsung mencari Hafiz. Mereka melihat dia dikerumuni siswi-siswi SMA. Dia tersenyum hangat, meladeni pertanyaan mereka.


"Kak Hafiz!!" seru Cherry, Hafiz menoleh ke arahnya.


Mereka berdua menghampiri Hafiz. Kerumunan itu otomatis bubar jalan melihat sang putri sultan berjalan ke arah Hafiz. Laki-laki itu tersenyum kepada Cherry. Tapi wajahnya kembali masam ketika melihat Bella.


Matanya menatap Bella dari ujung rambut hingga kaki dengan tatapan sinis.


"Gimana tugas yang saya beri kemarin?" tanya Hafiz pada Cherry tanpa memandang Bella.


"Kan besok baru disetor, Kak..." jawab Cherry. Gadis ini menatap lekat wajah Hafiz.


"Kenapa lihat-lihat?!?" bentak Hafiz risih.


Cherry kaget. Ia tidak sadar sudah menatap Hafiz seperti itu. "Aku kok kayak gak asing ya sama wajah Kak Hafiz..." gumamnya.


"Oooh, itu..." Hafiz tersenyum geli. Tapi kembali mengulum senyumnya ketika melihat Bella.


"Maksud kamu, wajah saya mirip sama abang bakso di taman kota?" tebak Hafiz.


"Naaahhhhh!!!" teriak Cherry tiba-tiba. "Setelah dipikir-pikir dilihat dari samping, depan dan belakang, kakak mirip dia,"


Hafiz tergelak. Dia menepuk bahu Cherry. "Abang bakso itu memang saya, kok,"


Bella dan Cherry ternganga mendengar jawaban tidak terduga dari Hafiz itu.


"Masa iya? Cuma mirip kali...lagian ngapain kakak jualan bakso, kan dapat beasiswa?" Bella tidak percaya.


"Saya lahir di keluarga sederhana, bukan seperti kalian yang bisa sesuka hati memilih tempat belajar..." sindir Hafiz pada Bella.


Cherry menyikut lengan Bella yang kadang mulutnya terlalu polos.


"Beasiswa hanya membayar biaya pendidikan saja. Bukan berarti biaya diktat, terus kebutuhan kampus lain juga ditanggung," tutur Hafiz dengan nada sinis sembari menatap Bella.


"Tidak semua seberuntung kamu, jadi anak sultan properti..."


Bella tersinggung dengan ucapan Hafiz. Seolah dia tidak bisa apa-apa selain mengandalkan kekayaan keluarganya.


Dengan sigap Cherry menarik lengan Bella. "Kalau begitu sampai ketemu besok, Kak!" pamit Cherry.


Ia menarik Bella menjauh dari Hafiz sebelum.terjadi adu mulut. Cherry tahu ucapan laki-laki itu barusan melukai harga diri Bella.


"Songong banget jadi laki, mentang-mentang mahasiswa berprestasi, punya hak apa dia mandang rendah kita?!?" Bella terus saja mengomel sepanjang jalan.


Cherry hanya tersenyum kecut menanggapinya.


...****************...