My Love My Enemy

My Love My Enemy
Part 36 TENTANG KEBAHAGIAAN



" Gimana, keadaan Ethan, "


" Jauh lebih baik. Minggu depan dia udah bisa masuk sekolah, " jawab Naura


Arsen menggaguk Paham di sebelah Naura. Keduanya berjalan bersisian menuju gerbang sepulang sekolah


" Kamu kayaknya khawatir sama dia Hampir tiap hari kamu ke rumah sakit,"


Naura menoleh akibat nada curiga Pada Arsen," Ya jelas aku khawatir Ethan itu teman sekelas aku, Dia juga teman sekelas kamu waktu kelas X kamu nggak mau jenguk dia"


Arsen tidak menjawab. Hal ini membuat Naura kesal sendiri


" Ya Udah, aku ke rumah sakit sendiri aja !" Naura mempercepat langkahnya, Namun belum seberapa jauh, suara Panggilan Arsen membuatnya menoleh kembali


Arsen mendekat sambil meneliti tas ransel yang di Pakai Naura itu " Gantungan kunci yang aku kasih ke kamu ke mana Kok udah nggak di Pakai lagi,"


Naura memutar bola matanya. Dia Pikir tujuan Arsen memanggilnya karena cowok itu berubah pikiran dan akan ikut menjenguk Ethan hari ini


" Udah Putus, " jawab Naura asal Padahal sejak insiden di depan lemari pendingin es krim bersama Keenan di kantin beberapa waktu lalu, Naura sudah tidak ada lagi menyematkan gantungan kunci itu di rislesting tasnya. Alasannya sederhana. Karena Wajah Keenan selalu memenuhi kepalanya ketika dia melihat


gantungan kelinci itu.


" Kalua gitu, nanti aku beliin lagi,"


" Nggak usah, " Naura menyahut cepat," Kamu Nggak usah beliin apapun buat aku, " tegasnya kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya


...•••...


" Gimana keadaaan Lo ,"


Ethan membuang Pandangannya ke arah lain, mencoba tak menghiraukan Keenan yang sedang mengupas jeruk di sampingnya. Keadaan Ethan berkembang sangat Pesat. Sudah tiga minggu dia rawat dan kini sudah bisa duduk tegak. Walua kepalanya masih diPerban dan harus rutin dicek


" Lo lagi, Lo lagi, " keluh Ethan sambil berpangku tangan. Tubuhnya bersandar di kepala kasur dengan sandaran bantal, Bosen gue lihat Lo melulu di sini"


Keenan tersenyum kecil, Dia tahu Ethan Pura-pura marah padanya. Temannya itu terlalu baik untuk membencinya


" Makanya cepat sembuh biar gue nggak harus temenin Lo tiap hari, "


Ethan menoleh, " Gue nggak minta Lo temenin gue tiap hari, "


Keenan meletakkan jeruk dikupasnya di Piring, kemudian balas menatap Ethan," Gue minta maaf Than, Gue nggak seharusnya bertindak gegabah waktu itu Gue terlalu emosi, "


Ethan berdecak tiap kali Keenan mengucap kalimat yang sama, " ini udah 265 kali Lo minta maaf sama gue. Bosen gue dengerin nya, " keluhnya, " Ganti dong, "


Keenan langsung tersenyum semakin lebar," Sekarang gue ngerti Kenapa Moza suka sama Lo. Karena Lo baik banget,"


Ethan mendadak merinding, " Please, stop ! katanya sambil mengangkat tangan ke arah Keenan, " Gue berharap cewek yang ngomong gitu ke gue, bukan Lo "


Keenan terbahak, begitu Pun Keenan Mereka tertawa ceria seolah di antara mereka tidak Pernah terjadi Perselisihan


Ethan yang lebih dahulu meredakan tawanya, " jadi ,gimana Yuda ? Polisi Udah berhasil tangkap dia, "


Sebuah nama disebutkan Ethan sukses membuat tawa Keenan benar-benar hilang. Dia mengangkat kepala, memperhatikan warna tembok ruangan yang Putih Pucat itu


" Belum, "


Ethan, ikut menghela nafas kemudian berseru setelah mengingat sesuatu, " Ah, gue baru ingat, "


Keenan langsung menoleh Penasaran, " inget, apaan "


" Waktu Lo kenalin Yuda sama kita-kita pas pertandingan futsal di sekolah kita. Gue ngerasa pernah ketemu dia sebelumnya, wajahnya nggak asing"


...Wajah Lo kayak familier banget, komentar Ethan ketika menjabat tangan Yuda...


...Oh iya ? Emang, sih banyak yang bilang gue mirip sama Al-Ghazali Mungkin itu yang sebut Lo familier, " jawab Yuda percaya diri...


" Gue yakin sekarang, Gue sering lihat di nongkrong di area SMP ANGKASA, Pantes aja dia tahu soto Babe yang terkenal enak di kantin SMP, tenyata tujuannya buat deketin Moza, "


" Kenapa Lo baru nyadar sekarang ?" kesal Keenan, " Kalua Lo kasih tahu gue, kejadiannya nggak akan sekacau ini, "


Keenan tidak benar-benar menyalahkan Ethan. Dia yang salah. Salah karena bisa sampai tidak menyadari ada sesuatu antara Moza dan Yuda. karena setiap Yuda main ke rumahnya, Keenan hampir tidak pernah melihat keduanya berinteraksi intens. keduanya justru cenderung menyapa seperlunya kita berpapasan


Akan tetapi, tetap saja, Keenan lalai sebagai seorang Kakak


" Than, "


Panggilan lemah Keenan berhasil mendapat perhatian penuh Ethan


" Emangnya Lo nggak tahu Moza suka sama Lo "


Hening yang Panjang menyakinkan Keenan bahwa jawabannya adalah, " tahu,"


" Gue tahu Keenan, Gue tahu Moza suka sama gue Dan, gue juga tahu rencana dia yang mau kasih surat cinta lewat Naura," Ethan berucap dengan Tatapan menerawang, " Tapi, gue sebisa mungkin. menghindar karena gue, nggak mau nolak dia secara langsung, Sorry,"


Keenan menggeleng. Ethan tidak seharusnya minta maaf. ini bukan kesalahannya. Dia kemudian tersenyum Pilu


" Jadi sebenernya, lo bukannya belum pernah di tembak cewek, " kata Keenan mengingat obrolannya dengan Ethan di acara ulang tahun Santi beberapa waktu yang lalu, " Tapi, Lo yang selalu berusaha menghindari kemungkinan itu, Dan Lo juga nggak pernah punya keberanian buat nembak cewek Lo suka, kan" lanjutnya


Keenan dapat melihat ekspresi yang ditunjukkan Ethan saat ini


Ethan sudah tahu semuanya, Tentang Keenan Kakaknya Moza. tentang alasan mengapa Keenan tiba-tiba menghajarnya seperti orang kesetanan


Tentang kesalahpahaman yang muncul akibat kesimpulan yang Keenan ambil sendiri dari buku diary Moza, juga tentang Yuda yang membuat Moza.


pergi untuk selama-lamanya


Semua sudah Keenan Ceritakan kecuali satu Hal .... "


Suara ketukan Pintu membuat Ethan dan Keenan menoleh kompak Naura muncul dari balik Pintu itu. Matanya bertemu dengan sepasang mata Keenan, tetapi hanya dua detik. Detik selanjutnya, Naura menatap Ethan sambil tersenyum


" Hei Ra sini masuk, " sapa Ethan penuh antusias


Naura berjalan masuk, bersamaan dengan Keenan yang meletakkan piring berisi kupasan jeruk di atas nakas di samping kasur


" Gue ke toilet sebentar, ya, " Pamit Keenan. Dia segera berbalik tanpa perlu persetujuan Ethan, Bisa dia rasakan waktu rasanya berhenti berputar ketika dia dan Naura saling melewati dari arah yang berlawanan.


Hal ini justru menambah kepedihan di hati masing-masing ketika menyadari keduanya bahkan tidak saling menyapa


Sudah biasa. sudah tiga minggu Keenan menemani Ethan di rumah sakit. Dan hampir setiap hari Pula Naura datang menjenguk Ethan Pertemuannya dengan Naura selalu sama. Tidak lagi sapaan, Tidak lagi komunikasi. hanya tatapan terbaca yang dilemparkan satu sama lain


Keenan menoleh sekali lagi sebelum menutup pintu. Tawa lepas Ethan juga senyum manis Naura. Bukankan itu kelihatannya indah sekali ? Ya, sungguh indah. Keenan hanya butuh waktu untuk mengganti rasa sakit hati di dadanya saat ini dengan perasaan yang menyenangkan


Mereka memang Pasangan yang serasi. Keenan harus mengakui itu. ?


...•••...


Seperti hari-hari yang lalu Ketika Naura datang menjenguk Ethan. Keenan selalu menghabiskan waktunya di sini di balkon rumah sakit, Dan Johan satu-satunya yang tahu kebiasaan itu


" Lo yakin sama keputusan Lo, "


Keenan menyadari kehadiran Johan sejak beberapa menit yang lalu waluapun dia tidak menoleh. Keenan menunduk, memperhatikan keberadaan di bawah gedung dengan Pandangan kosong


" Apa, " sahut Keenan tanpa menoleh


Seberapa keras apa pun Keenan mencoba menutupi, nyatanya Johan tetap bisa membaca sikap menjauh Keenan


" Lo bakal sakit hati, Keenan "


" Lebih sakit siapa ? Gue atau Ethan, Johan " keenan melirik Johan sekilas, kemudian menatap ke bawah gedung, " Gue kenal Naura belum ada setahun. Sedangkan Ethan udah hampir 6 tahun, "


Johan membuang nafas berat, kemudian mengikuti arah Pandang Keenan, " Tapi, perasaan nggak bisa diukur dari beberapa lama Lo kenal dia Gue yakin, Lo bukan cuma suka sama Naura. Tapi Lo udah jatuh cinta sama dia, "


Keenan menggaguk kuat-kuat dalam hati. Johan tidak salah sama sekali. Keenan sudah telanjur menyayangi Naura. Dia menyukai Cewek itu Teramat mencintainya sungguh


" Gue yakin Ethan jauh lebih baik daripada gue, " yakin Keenan. Dia berharap kali ini keputusannya tidak salah. Ethan berhak bahagia begitu juga Naura


Lalu Siapa, yang akan memikirkan kebahagiaan Keenan ?