
"Hasil tugas ini menentukan layak apa tidaknya kalian menjadi siswi bimbel saya,"
Hafiz mengambil kertas tugas yang ia berikan beberapa hari lalu pada Cherry dan Bella. Sejurus kemudian dia sudah sibuk memeriksa hasil pekerjaan mereka berdua.
"Besok kamu datang ke sini jam setengah empat sore, kita mulai bimbelnya," kata Hafiz kepada Cherry sambil menyerahkan kembali kertas tugas itu.
"Dan...kamu, maaf kamu cari guru lain saja, kamu tidak akan bisa mengikuti target saya,"
Bella mendelik kesal. Bagaimana mungkin ada seseorang bisa menolaknya jadi murid? Di luaran sana, banyak guru privat yang ingin dia jadi muridnya.
"Bayarannya kurang?!?" sindir Bella.
Kali ini raut wajah Hafiz berubah marah. Ia tersinggung dengan sindiran Bella.
"Kamu pikir ilmu bisa dibeli dengan uang?!? Coba kamu bayangkan seorang dokter yang berhasil lulus hanya karena uang, lalu menghadapi pasien gawat darurat...karena ilmunya kurang, dia salah penanganan, itu yang menyebabkan mal praktik!"
"Ilmu itu bergantung pada kemauan belajar, kerja keras dan semangat dari orang yang menuntutnya. BUKAN KARENA UANG, PAHAM?!?"
Nada suara Hafiz bergetar karena marah. Ia memang sangat membenci kalangan atas yang selalu berpikir bisa membeli segalanya dengan uang. Uang, uang dan uang.
Tidak pernah dibentak sedemikian rupa, mata Bella berkaca-kaca. Dia marah. Tersinggung. Sedih. Dirinya merasa kalau dia berusaha dengan keras belajar. Menjadi anak keluarga konglomerat bukanlah keinginannya.
Karena kesal ia pun pergi meninggalkan rumah Hafiz tanpa pamit. Bella tidak memperdulikan teriakan Cherry. Sebelum pergi, ia sempat menatap laki-laki itu dengan tatapan menantang.
"Aku akan buktikan, kalau aku bisa! Dan tidak mengandalkan kekayaan orang tuaku!"
...----------------...
Peristiwa beberapa hari lalu, membuat mood Bella berantakan. Sudah berhari-hari dia hanya mengurung diri di kamar. Beberapa asisten rumah tangganya berusaha membujuk Bella untuk makan dan keluar. Namun gagal.
Drrt. Drrt.
Ponselnya sengaja ia nyalakan dalam mode getar. Ia benar-benar tidak ingin diganggu. Sebuah notifikasi whatsapp muncul di layar ponselnya.
Cherry : Bel, lu masih bete gara-gara Kak Hafiz?
Bella tidak mengacuhkan pesan dari Cherry itu.
Lagi-lagi ponselnya bergetar.
Cherry : Lu marah juga ke gue?
Kali ini Bella menyerah. Ia menekan tombol dial dan menghubungi Cherry.
"Halo, aku gak marah sama kamu, kok. Cuma bete aja sama omongan sengak Hafiz..." lirih Bella.
"Gue ke rumah lu, ya..." pinta Cherry.
"Iya,"
Setelah itu Bella memutus sambungan telepon mereka dan kembali menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal.
'Apa salah jadi anak orang kaya? Apa semua anak orang kaya hanya mengandalkan uang orang tua mereka?!? '
Bella menggerutu sendiri dalam hati.
Tidak lama kemudian Cherry sudah ada di kamar Bella. Dia melempar Bella dengan boneka teddy bear yang duduk manis di rak boneka milik gadis itu.
Biasanya Bella akan membalas karena kaget. Tapi kali ini dia hanya diam. Bella sama sekali tidak beranjak dari posisi tidurnya.
"Lu beneran badmood ya?" tanya Cherry prihatin.
"Kemarin, kak Hafiz kasih ini ke gue. Katanya kalo.lu bisa dapat nilai sempurna di tugas kak Hafiz ini, dia bakal nerima lu jadi murid bimbelnya,"
Setumpuk kertas ia serahkan kepada Bella.
"Dasar mahasiswa psikopat! Gila aja nyuruh aku ngerjain tugas segini banyak! Aku bilang ke papa juga pasti aku lolos di Euclidean University!"
"Berarti lu kalah dong sama Hafiz. Dia yang benar. Anak-anak kayak kita ini cuma bisa mengandalkan kekayaan dan koneksi orang tua..." ujar Cherry kecewa mendengar reaksi Bella.
Gadis yang masih berbalut piyama itu tersentak. Setelah dipikir-pikir, ucapan Cherry barusan benar. Berarti Hafiz menang. Dia tidak salah jika menyinggung harga diri Bella.
Bella mengambil setumpuk kertas itu dengan perasaan sebal.
"Bilang ke si sombong Hafiz untuk siapkan jadwal bimbel minggu ini buat Bellanca Stella Aryadwipa Rajasa!"
Cherry tersenyum gembira melihat semangat Bella.
Setelah sahabatnya itu pulang, Bella benar-benar bangun dari tempat tidurnya. Ia masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Ia menjepit poninya dan menggelung rambut panjangnya.
"Bibiii!!! Bi Naaahhh!!!" teriak Bella dari depan pintu kamar.
"I-iya, Non!" Seorang wanita berusia 50 tahunan tampak tergopoh-gopoh cemas. Dia mengira terjadi sesuatu dengan anak majikannya itu.
"Bikinin Bella susu coklat hangat, cemilan, sama pesankan pizza. Kalau sudah ada semua bawa ke kamar Bella! Dan jangan ada yang ganggu Bella!" perintahnya pada wanita tua yang dipanggil dengan sebutan Bi Nah itu.
"Baik, Non," ujar Bi Nah tersenyum.
Bella kembali menutup pintu kamar dan mulai mengerjakan soal-soal yang Hafiz berikan. Ia berkonsentrasi penuh dengan kertas soal itu.
Suara ketukan pintu mengagetkan dirinya. Ia bangkit dari kursi dan membuka pintu, ternyata Bi Nah dengan semua pesanan Bella tadi.
"Makasih, Bi. Tolong bilang yang lain agar jangan ganggu Bella. Termasuk Kak Bagas. Dia suka iseng..." keluh Bella tentang kakak laki-laki semata wayangnya itu.
"Baik, Non,"
Di sebuah kamar, Bagas Adhitama Aryadwipa Rajasa asyik bermain PS 5 limited edition yang berlapis emas 24 karat, ketika ponselnya berbunyi nyaring. Tanpa melihat nama penelepon dia menjawabnya.
"Oi, Bro! Gue di rumah kok...oki doki, gue tunggu. Lu tau alamat gue kan??? Siip lah. Bawain gue makanan yee, kayak biasa. Ntar gue ganti duit lu!"
Ia melempar ponselnya ke atas ranjang lalu kembali fokus dengan game-nya.
Tok...tok...tok
Satu jam kemudian, suara ketukan pintu terdengar dari luar.
"Den Bagas, ada temannya di bawah," Ternyata Bi Nah yang memberitahu ada tamu untuk Bagas.
"Suruh naik ke kamar aja, Bi. O iya, Bella mana? Katanya lagi ngambek?" tanya Bagas penasaran.
"Non Bella lagi belajar, nda mau diganggu katanya, Den,"
Jawaban Bi Nah itu membuat Bagas tertawa keras. "Ya sudah, Bi. Bibi suruh temen Bagas ke sini ya, bawain mangkok sama air dingin nanti ya, Bi," pinta Bagas.
Tak lama kemudian. "Hafiz, apa kabar lu? Mentang-mentang udah gak satu sekolah, lu lupa sama gue,"
Ternyata teman yang ditunggu Bagas adalah Hafiz. Mereka dulu dari SMA Internasional Euclidean juga. Namun, Hafiz jarang bergaul karena dia hanya siswa yang masuk dengan beasiswa. Hanya Bagas yang mau berteman dengannya di sekolah.
"Rumah lu gede banget ternyata, bisa dipake main bola," gurau Hafiz.
Ini kali pertama ia menginjak rumah sahabatnya itu. Kalau bukan karena ingin meminjam diktat ekonomi milik Bagas, dia tidak akan ke sini.
"Pesanan gue mana?"
Hafiz mengacungkan kantong kresek berisi bakso jualannya. Bagas sudah menyukai bakso buatan almarhum ayahnya itu sejak masih sekolah. Sekarang mereka sudah hampir memasuki tingkat lima perguruan tinggi. Ayah Hafiz meninggal dua tahun yang lalu.
"Gue pernah ke ruko bokap lu, tapi sekarang jualan soto di sana," ujar Bagas sambil menyendok kuah baksonya.
"Iya, kontrak ruko itu terlalu besar. Gue kan masih sibuk sama kuliah semester pertama dulu...jadi...ya gitu deh,"
"Terus lu jualan lagi?"
Hafiz mengangguk. Dia kagum dengan Bagas, selama ini dia tidak pernah mengira keluarga Bagas sekaya ini. Bagas ke sekolah hanya naik bus trans.
Sebuah bingkai foto menarik perhatiannya. Foto Bagas dengan seorang gadis yang sepertinya ia kenal.
"Ini..."
"Oh...itu adik gue. Dia sekolah di SMA Euclidean juga. Kemarin habis ujian akhir dia,"
"Namanya Bella bukan?" tanya Hafiz
Bagas heran. "Kok lu bisa tau?"
Hafiz hanya tertawa kecut. Ternyata gadis itu adalah adik sahabatnya. Dunia begitu kecil.
"Fiz, gue bisa minta tolong gak? Lu bisa turun ke dapur buat minta camilan sama Bi Nah? Si Bella lagi belajar katanya, kalo gue teriak-teriak...dia bisa ngamuk,"
"Dapur lu dimana? Rumah segede ini, gue bisa nyasar. Kamar lu aja segede rumah gue, Gas,"
"Lu turun tangga terus belok kiri, lu ikutin aja lorong itu, nanti dapurnya di ujung lorong itu," jelas Bagas.
Hafiz keluar dari kamar Bagas dan berjalan menuju arah yang ditunjukkan. Tepat di ujung lorong, tampak sebuah pintu yang sedikit terbuka.
"Permi..." Hafiz tidak meneruskan ucapannya melihat hanya ada seorang gadis dengan masker hitam di wajahnya.
"Aaaaa...ngapain kamu di sini?!? Tolong!!! Ada penguntit!!!" teriak gadis itu.
Semua penghuni rumah tersebut sontak menuju ke arah asal teriakan tadi. Ternyata kesalahpahaman antara Hafiz dan Bella.
"Lu ngapain teriak-teriak?!?" tanya Bagas kesal. Melihat Bella di dapur dengan penampilan seperti boneka dakocan itu.
"Ini ada penguntit! Kenapa dia bisa tau tempat tinggal gue, Kak???" rajuk Bella manja.
"Penguntit? Siapa? Hafiz? Dia temen gue, dasar cewek aneh! Gue pikir lu lagi belajar, jadi gue minta Hafiz ngasih tau Bi Nah supaya bawain gue camilan!"
Mulut Bella ternganga mendengar penjelasan sang kakak. Hafiz dan Bagas berteman? Tanpa banyak bicara, ia lari ke kamarnya karena malu diikuti dengan tatapan heran dari kedua laki-laki itu.
...****************...