
Toyota 86 hitam itu berhenti di pelataran parkir sekolah SMA Internasional Euclidean Manggala. Hari ini adalah hari terakhir para siswa-siswi kelas XII melaksanakan ujian akhir.
Gadis berambut panjang berombak berwarna kecoklatan tampak turun dari mobil sport seharga 800 juta itu. Siapa lagi kalau buka Bellanca Stella. Anak bungsu dari salah satu sultan pemilik bisnis property di kota Manggala.
"Hai, girls!!!"
Suara centil khas Bellanca menyapa beberapa gadis sebayanya yang sedang duduk di taman dekat pelataran parkir. Mereka tersenyum dan melambaikan tangan.
Bellanca atau yang akrab disapa Bella mendekat ke arah mereka. Hidup gadis ini menjadi impian gadis-gadis sebayanya.
Tinggal di sebuah rumah mewah yang kisaran harganya mungkin tidak habis dimakan tujuh turunan orang biasa. Bahkan kamar Bella setara luasnya dengan rumah tipe 36.
"Brownies?" Bella melirik kotak bekal milik temannya. Nadia mengangguk.
Cherry si kutu buku. Nadia sang ketua kelas. Amber si feminim anak diplomat dari New Zealand. Terakhir Olive yang ayahnya bekerja di perusahaan keluarga Bella sebagai manajer eksekutif.
"Amber yang buat," jawab Cherry tanpa mengalihkan mata dari buku.
Mereka saling bertukar tatap jahil. Buku di tangan Cherry sudah berpindah tangan ke belakang punggung Bella.
"Kamu jangan keseringan belajar. Itu, mata kamu udah kayak panda...rileks dikit lah, beb!" protes Bella.
Cherry mendengus kesal. "Balikin buku gue! Lu enak, nilai merosot pun gak bakal berpengaruh! Lha gue, dituntut jadi pengacara atau jaksa kayak ortu gue!" gerutunya.
Tawa renyah terdengar dari empat temannya yang jahil itu. Bella menyerahkan buku yang dibaca Cherry tadi. Dia mencomot sepotong brownies dari kotak makanan Amber.
"Kamu memang koki kita sweet heart," puji Bella.
Amber memang jago masak. Mungkin itu menurun dari sang ibu yang seorang koki sebelum menikah dengan ayahnya.
"Brownies ini masih kalah sama brownies mahal yang sering kamu makan," ujar Amber merendah.
"By the way...Ini hari terakhir ujian. Gimana kalo sepulang sekolah kita jalan-jalan?" usul Olive disambut anggukan dari Amber dan Bella.
"Kayaknya gue gak bisa ikut guys..." sesal Cherry.
"What?!? Gak bisa gitu dong, kita-kan FCC alias Five Charming Chicks," ujar Nadia protes.
Cherry merogoh tasnya. Sebuah brosur bimbingan belajar ia keluarkan.
"Mamaku udah daftar dari jauh hari. Dan hari ini, hari pertama bimbingan..." keluh Cherry.
"Perintah mama kamu kan???" tanya Bella. Cherry mengangguk. "Oke, wait!"
Bella mengambil ponsel di tasnya. Menekan nomer tante Alisha mama Cherry. Cukup lama sambungan telepon itu baru dijawab.
"Halo, selamat pagi tante...iya, ini Bella tante...
Bella mau ngajak Cherry hari ini ke rumah boleh, Tan...Apa???Oh bimbel,ya? Padahal Bella pengen minta bantuan Cherry untuk ujian masuk universitas nanti...
Beneran bisa diundur dulu bimbel Cherry, Tan? Makasih tante. Bella sayang deh sama tante...iya, nanti Bella sampaikan salam tante untuk mama papa,"
Setelah memutus sambungan telepon, Bella mengedipkan mata nakal pada Cherry. Mereka lalu tertawa gembira.
"Ya udah, gue suruh pak Narto pulang dulu. Kita naik taksi online aja," ujar Bella.
Ia lalu menuju mobil sport yang terparkir tak jauh dari taman dan meminta sopirnya pulang. Bella masih belum memiliki SIM, jadi kemana-mana masih harus pakai sopir.
Bel sekolah berbunyi. Squad gadis-gadis cantik itu pun masuk ke kelas masing-masing.
"Aaaa...finally ujian kelar juga,"
Olive meregangkan otot-otot tangannya di cafetaria sekolah.
"Menu di sini apa hari ini?" tanya Bella.
Olive melirik papan tulis hitam yang terpasang di sisi kanan cafetaria.
"Beef bacon sandwich, chicken steak with mash potato..."
"Aku bosan sama makanan di sini!" potong Bella.
"Terus mau makan di mana?" tanya Olive bingung.
Bella memutar bola matanya. Firasat Olive dan Amber tidak enak jika Bella sudah seperti ini. Pasti bakal ada ide gila yang muncul sebentar lagi.
"Tunggu Cherry sama Nadia. Cherry masih di ruang guru, Nadia masih di lab kimia karena hari ini piketnya, " ucap Bella.
"Gue harap ide lu waras kali ini, Bel..." sindir Olive. Amber tertawa kecil.
"Nah itu dia! Cherry! Nadia!!!" seru Olive.
Kedua gadis manis itu mendekat ke meja sahabatnya.
"Kok belum pada makan?" tanya Nadia heran.
"Bella bosen makanan di sini katanya," cibir Olive.
"Kita makan di luar aja yuk. Lagian ini kan mata ujian yang terakhir. Abis ini juga gak ada pelajaran," usul Bella.
"Ta-tapi..."
"Absensi kan gampang. Ya elah, kamu, Nad. Ini tahun terakhir kamu di SMA...Badung dikit kenapa?!?" Bella memanyunkan bibirnya.
Nadia tertawa tipis. Absensinya sejak SD sampai SMA belum ternoda sedikit pun. Kadang teman-temannya merasa hidup Nadia itu membosankan.
"Ayolah, Nad. Ya ya ya, Cherry juga mau bolos kok, iya kan, Cher???" bujuk Bella lagi.
"Eh, siapa bilang gue mau bolos?!?" protes Cherry.
Nadia dan Cherry adalah satu spesies. Anak penurut. Itulah label mereka. Amber yang kelihatannya tenang, sebenarnya adalah queen of clubbing. Olive adalah pecinta balap liar, dia punya dua koleksi motor sport di rumah. Sedangkan Bella, sudah di pastikan pemberontak kelas kakap.
Bagi Bella, masa muda itu untuk dinikmati. Jangan sampai menyesal di masa tua nanti. Untung saja orang tua Bella adalah orang yang sibuk dan tidak sempat protes dengan kelakuan anaknya.
"Ayolah...please..." pinta Bella.
Kedua gadis lurus ini saling bertukar pandang. Mereka menghela napas bersamaan, lalu mengangguk setuju. Mereka tidak kuasa melihat wajah Bella yang memelas.
"Emang lu mau makan di mana sih? Sampai segitu ngototnya???" tanya Olive heran.
"Aku pesan taksi online dulu," Bella tidak menjawab rasa penasaran Olive.
Tak lama kemudian sebuah taksi online berjenis avanza tiba. Mereka pun segera naik.
Ketika mobil yang mereka tumpangi berhenti, keempat gadis ini bingung. Bella mengajak teman-temannya turun di sebuah taman kota. Tidak ada restoran maupun cafe.
"Lu mau piknik???" protes Olive.
"Tau nih, nyuruh bolos cuma buat ke taman kota!" sahut Cherry tidak kalah kesal.
Bella tersenyum penuh arti. "Sabar...ayo ikut aku!"
Mereka mengikuti langkah Bella sampai tiba ke sebuah gerobak bakso kecil di pinggir taman. Gerobak itu dilengkapi tenda juga bangku dan meja panjang untuk pengunjung.
"Ih, kamu mau makan di tempat ini???" kali ini ratu higienis Amber yang protes.
Nadia dan Cherry pun tidak mau masuk ke dalam tenda. Merek bertiga berdiri mematung melihat Bella dan Olive duduk di bangku panjang itu.
Bagi Amber, Cherry dan Nadia, pinggir jalan sangatlah tidak higienis. Debu. Polusi. Belum lagi peralatan makan yang dipakai.
"Kalo gak masuk kalian bakal kelaparan..." ejek Olive dari dalam.
Tenda itu sudah agak penuh. Mereka harus berhimpitan duduk. Awalnya ketiga gadis itu ragu. Namun, suara cacing di perut mereka mengalahkan segalanya.
"Bang! Pesan bakso cinta lima ya!" teriak Bella pada abang penjualnya.
"Iya neng!" sahut abang bakso itu tanpa menoleh.
Ketiga temannya itu masih sibuk kasak-kusuk dan saling dorong karena bangkunya agak penuh. Seorang bapak yang memakai jaket ojol mendelik ke arah mereka karena terganggu.
"Bisa-bisanya lu ngajak kita ke tempat ini?!?" bisik Cherry kesal pada Bella.
"Dan lu...Olivia Danutirta! Lu tau kalo Bella bakal bawa kita ke sini?!?" tanya Cherry pada Olive kali ini. Dia benar-benar kesal.
"Ini langganan gue sama Bella kalo hari Minggu. Baksonya enak dan__,"
"Ini pesanannya, Neng!"
Serempak mata ketiga gadis yang sok jaim tadi melotot ke arah si abang penjual bakso. Mata mereka sama sekali tidak bisa berkedip dan seperti tersihir.
"Sumpah demi apa...gila! Itu bukan abang bakso! Arya Saloka aja kalah..." gumam Nadia.
"Iya...ca...kep...banget..." sambung Cherry.
Amber lebih aneh lagi reaksinya. Kuah baksonya sekarang semerah darah karena saos cabai. Bella dan Olive hanya tertawa kecil sambil menikmati bakso mereka.
...****************...