
berjalan bersisian dengan Naura menuju gedung olahraura melirik gantungan kunci itu cukup lama, tanpa berniat untuk menyambutnya. Langkahnya makin melemah. Lagi-lagi Keenan yang ada dipikirannya setiap kali Naura melihat benda itu. Naura sungguh kesal pada dirinya sendiri. mengapa dia belum bisa menyingkirkan Keenan dari Pikirannya dan hatinya Sudah jelas-jelas Keenan hanya berniat Permainkan PerasaaArsen menyadarkan lamunan Nau
...•••...
nggak seribet gini, kalua dua-duanya saling ngalah gitu, gue malah takutnya Naura disambar duluan sama Arsen, nggak rela gue, "
" Sama, " Satya ikut berpendapat dengan Miko, " Gue juga nggak rela lahir batin Udah Cukup Ethan ngalah dari X sama Arsen. salah Arsen sendiri kenapa lama banget nembak Naura, "
" Gue Punya ide, "
Satya dan Johan sama-sama Terkejut Karena suara nyaring Miko yang tiba-tiba. Bahkan Miko kini sudah mengubah Posisinya menjadi duduk kemudian memandang kedua temannya dengan tatapan menyakinkan
" ide apaan, " tanya Johan, tampak menarik
" Gue Punya rencana buat situasi yang mengharuskan Naura memilih satu di antara Ethan atau Keenan, " Kali ini Miko menyunggingkan senyum yang tampak menyebalkan di mata Satya
" Gimana caranya, " tanya Johan kemudian
" Kok, Gue Curiga ya sama rencana Lo Miko " Satya memandang Miko curiga Berbeda dengan Johan yang tampak mengantisipasi rencana yang akan dilontarkan Miko sebentar lagi
...•••...
" Ethan Gerald, " ibu Endang menghela nafas setelah menyebut nama itu. Dia menatap prihatin kolom Presensi dan nilai ulangan yang bolong-bolong nama itu.
" iya, Bu, " Ethan menyahut dari bangkunya sambil menggaruk bagian kepalanya dengan salah tingkah. Dia tahu betul apa yang membuat wali kelasnya memasang ekspresi seperti itu
" Kamu tertinggal banyak sekali materi Pelajaran sejak kamu dirawat rumah sakit. Guru-guru yang lain banyak mengeluh Pada ibu, "
" Mau bagaimana lagi, Bu, " Sebulan Penuh Ethan di rawat rumah sakit selama itu Pula dia tidak masuk sekolah.
" Ujian Nasional tinggal dua minggu lagi, ibu tidak mau kamu sampai gagal, " ibu Endang kembali mengingatkan, " ibu nggak mau kamu ketertinggalan kamu. Kerjakan semua yang kamu lewatkan, dan kamu Naura, " lanjutnya menatap Naura di bangkunya," ibu minta kamu jadi tutor Ethan selama mengerjakan tugas-tugas dari semua mata Pelajaran yang dilewatkannya selama sebulan ini,"
"Naura hanya mampu tertegun mendengar perintah wali kelasnya sedang Ethan menatapnya tak enak hati
" ibu Percaya sama kamu, " lanjut Bu Endang, " Kamu pasti bisa jadi tutor yang baik buat Ethan. kamu juga Pasti mau kan lulus bareng teman sekelasmu"
Naura tersenyum sambil mengangguk Pelan. Diliriknya Ethan yang menatapnya dengan tatapan bersalah. Namun, senyuman Naura mengartikan bahwa Naura tidak keberatan sama sekali
" Kalian bisa mulai bekerja sama hari ini. Dan ibu mau kalian laporkan hasil Perkembangan belajar kalian setiap hari"
ibu Endang mulai memeluk buku-bukunya, kemudian bersiap meninggalkan kelas karena baru saja bel pulang tanda Pulang sekolah berbunyi
" Oh, iya, " ibu Endang berbalik ketika hampir sampai di Pintu kelas, " Kalian tidak hanya berdua. ibu sudah minta tolong Keenan juga ikut bergabung dengan kalian. Prestasinya cukup memuaskan, dan ibu rasa keenan memang Perlu membantu Ethan untuk menebus kesalahannya"
Naura tercengang di tempatnya. sedangkan Ethan justru merasa ini lebih baik di banding dia hanya berdua dengan Naura. selain karena dia Pasti akan kesulitan mengendalikan Perasaannya pada Naura bila hanya berdua, dia juga khawatir Keenan akan salah Paham Padanya.
Ethan sama sekali tidak menyesal wali kelasnya melibatkan Keenan. untuk membantunya mengejar Pelajaran. semua guru dan teman sekelasnya tahu pasti bahwa Peristiwa yang menimpanya beberapa waktu lalu, yang mengharuskannya di rawat di rumah sakit, adalah akibat Keenan. Namun, tentu saja Ethan tidak menceritakan alasan yang sebenarnya kabar yang dia sebarkan Keenan yaitu Keenan sengaja mendorongnya ketika bermain bola sehingga membuat Ethan terjatuh dengan bagian kepala membentur batu dengan sangat keras
Ethan yang memaksa Keenan untuk berkata seperti itu Pada sekolah, ia khawatir Keenan akan dikeluarkan dari sekolah apabila mengatakan hal yang sebenarnya, bahwa Keenan mencoba membunuh Ethan dengan tangannya sendiri
" Sorry ya Ra, Gue nyusahin lo, " kata Ethan di samping meja Naura. Teman teman sekelasnya sudah berhamburan keluar menyusul Bu Endang yang sudah dahulu meninggalkan kelas
Naura mengangkat kepalanya setelah selesai memasukkan buku-bukunya, ke tas, " Nggak apa-apa kok. sepertinya yang Bu Endang bilang, tadi gue mau lo lulus bareng, " Jawabnya sambil tersenyum
Naura bangkit berdiri, kemudian membalas sapaan Loli dan Santi yang Pamit terlebih dahulu
" Jadi, kita mulai hari ini, "
" Kalau gitu, Kita belajar di rumah Lo aja, gimana, " tawar Ethan
" Oke kalau gitu, "
Di luar kelas, Naura dan Ethan bertemu dengan Keenan, lengkap bersama Satya, Miko dan Johan
" Hei Than, " sapa Satya yang langsung merangkul bahu Ethan, " Ciye sekarang Punya tutor, Nggak jadi tinggal kelas, deh,"
Ethan sudah menduga Teman-temannya sudah mengetahui hal ini Dia Kemudian memanggil Keenan yang Tampak terburu-buru berjalan di depannya
" Keenan, "
Keenan menoleh. Dia hanya menatap Ethan tanpa suara.
Ethan melepas rangkulan Satya, kemudian berjalan cepat menyusul Keenan, " Kita mulai bimbingan hari ini"
Keenan mengerutkan keningnya. Diliriknya Naura yang berjalan Pelan di belakang Ethan. ibu Endang memang memintanya untuk bergabung bersama Naura dalam memberikan bimbingan belajar untuk Ethan. Keenan menyetujuinya, Namun sesungguhnya Keenan berniat membiarkan Naura saja yang memberikan Ethan bimbingan. Dia tidak ingin merusak kesempatan Ethan bisa berdua dengan Naura
" kita mulai bimbingan hari ini,. " ulang Ethan
" Kalian aja, Gue nggak ikut, " Keenan kembali mempercepat langkahnya menuju Parkiran motor. Dia tidak lupa bahwa dia harus memainkan Perannya sebagai iblis
" Nggak bisa gitu, Lo harus ikut Kami berdua !" Ethan menahan bahu Keenan tepat ketika Keenan hendak menyentuh motornya," Jadi Lo mau gue nggak lulus tahun ini Nasib kelulusan gue sekarang, sekarang ada di tangan Lo "
" Lebay banget, Lo, " Keenan menepis tangan Ethan. Di bahunya Dia kemudian melirik Naura yang baru saja berhenti tepat di belakang Ethan itu " Lo, Udah Punya tutor yang jauh lebih Pintar dari gue, jadi ada atau nggak ada gue, nggak ada Pengaruhnya "
Lagi-lagi Ethan menahan Keenan untuk menyentuh motornya, " Bu Endang minta dikirimin foto wefie kita bertiga tiap kali bimbingan, " Ethan mendengus geli, " Posesif banget nggak sih tuh wali kelas "
Keenan hendak menolak, tetapi Ethan tidak memberinya kesempatan
" Gue sebenernya nggak mau ungkit ungkit kesalahan Lo Tapi, kalau sikap Lo kayak gini, malah anggap Lo sama sekali nggak menyesal dan nggak bertanggung jawab sama kelulusan gue, Lo beneran mau lihat gue nggak lulus"
Keenan berdecak kesal. Siapa bilang dia tidak menyesal ? Dia malah merasa kesalahannya tidak Pantas di ampuni walau dia berlutut memohon ampun Pada Ethan
" Kita mulai bimbingan dia mana, " kata Keenan akhirnya
Ethan Tersenyum lebar, " Di rumah Naura"
Keenan tertegun, tetapi sebisa mungkin menguasai diri
Ethan menepuk bahu Keenan, kemudian berjalan sambil lalu menuju motornya yang terparkir tidak jauh dari motor keenan, " Lo, boncengin Naura ya "
Keenan langsung menoleh Pada Naura yang sepertinya juga terkejut keenan menarik Ethan untuk tetap di tempat
" Lo, aja yang boncengin dia, "
" Kenapa ? Lo masih marahan sama Naura," tanya Ethan heran
" Nggak. Gue mau Lo yang boncengin dia," jawab Keenan menegaskan
" Gue Pulang sendiri aja, Kita bisa ketemu di sana, " Naura yang kesal mencoba menengahi
" Jangan Ra, Lo Pulang bareng Keenan aja," kata Ethan
" Nggak, Lo bareng sama Ethan aja biar aman, " Keenan buru-buru menimpali