
Naura mengusap-usap selembar kertas di atas meja belajarnya. Seolah kertas yang kusut itu akan kembali mulus seperti sebelum dia meremasnya kuat-kuat beberapa waktu yang lalu.
Sudah Puluhan bahkan ratusan kali Naura membaca tulisan tangan seseorang di kertas itu. Namun sebanyak apapun dia membacanya, dia masih aja belum mengerti dengan keadaan ini
...Sampai sekarang, gue masih nggak ngerti apa yang di ada di pikiran Lo, Ucap Naura dalam hati pada selembar kertas lurus di tangannya...
...Lo pernah ngejar-ngejar gue dengan nggak tahu malunya, sampai gue kesel setengah mati...
...Kemudian, Lo bisa bersikap seolah-olah gue udah nggak berarti lagi buat Lo, seperti mainan yang Lo buang gitu aja ketika udah bosan...
...jadi, apa arti semua tulisan Lo di kertas ini ?...
Naura hampir ingin meremas kembali kertas itu ketika Keenan memintanya untuk membaca halaman terakhir buku catatannya
...Lo bilang, Lo adalah yang paling tersakiti dan nggak bisa jauh gue Tapi, kenapa cuma Lo yang kelihatan baik-baik aja ketika kita bahkan nggak saling sapa berbulan-bulan ?...
...Gue benar-benar nggak ngerti sama Lo, Keenan. Harusnya gue tahu omongan Lo nggak bisa di percaya....
...Nyatanya, gue yang paling tersakiti di sini. Gue bodoh karena selalu berharap Lo bakal datang dan yakini gue sekali lagi bahwa Lo serius sama gue, Walau pada akhirnya, gue lagi yang akan tersakiti...
Naura sekuat tenaga menahan perih di hatinya. Matanya mulai berkaca-kaca Rasanya sungguh menyakitkan. Kali pertama Naura mencoba Percaya pada seseorang Pada saat itu juga dia membiarkan hatinya dihancurkan oleh orang yang sama
Naura yakin, Keenan berhak atas Perhargaan Cowok playboy yang Paling sadis mempermainkan Perasaan Perempuan. seandainya saja perhargaan semacam itu ada
...•••...
Naura yakin, baru semalam dia meluapkan emosinya pada selembar kertas kusut yang masih ia simpan baik-baik di laci meja belajarnya. baru semalam Pula dia meratapi kebodohannya sendiri karena terjerat dalam Permainan hati seorang Keenan
Akan tetapi, sebuah chat yang baru saja diterimanya sungguh membuat penuh Pikirannya
Bagaimana bisa Cowok itu mengirimkannya chat seolah-olah semuanya baik-baik saja ?
...Keenan...
...Naura, Lo ada waktu siang ini ? Gue mau ajak Lo ke suatu tempat...
Naura bingung harus menanggapi seperti apa situasi seperti ini ?
Lo bener-bener bikin gue bingung, Keenan
...••••...
Pada awalnya Naura memilih untuk tidak Peduli. Namun, ketika keenan mengatakan bahwa ini berkaitan dengan Moza yang sudah Naura anggap adik sendiri hal itu membuat Penasaran
" Moza ada di mana ,"
" Lo kenal sama Moza "
" Sebenarnya kita mau ke mana "
Rentetan Pertanyaan Naura, tidak ada satu pun yang di tanggapi Keenan Cowok di sebelahnya sejak tadi hanya Fokus melajukan mobil yang mulai melewati kawasan sepi yang mencekam
Naura seperti berbicara dengan orang bisu. Dia benar-benar tidak mengerti apa maksud Keenan Sebenarnya
Naura semakin bingung ketika menyadari mobil memasuki kawasan Pemakaman umum. Keenan menepikan mobilnya di bawah Pohon rindang
" Kita udah sampai, "
ini adalah kalimat pertama yang didengar Naura dari keenan hari ini. Keenan turun terlebih dahulu, Naura tidak ada Pilihan lain selain menyusul
Naura berjalan Pelan di belakang Keenan sambil memeluk tubuhnya sendiri. Cuaca yang panas tetap saja membuat bulu-bulu halus ditubuhnya berdiri ketika memperhatikan keadaan di sekitarnya yang diPenuhi makam
" Mas Keenan tumben sekarang datangnya nggak sendiri, " sapa Pria tua yang sedang membersihkan tanaman-tanaman liar yang menjalar di salah satu makam
" iya, Pak, Permisi, " Keenan menjawab santun, kemudian berjalan melewati Pria itu
Naura mulai dapat menebak Keenan sering datang ke tempat ini untuk mengunjungi makam seseorang. Siapa lagi kalau bukan Moza, adiknya
Naura juga baru menyadari Keenan menggunakan Pakaian serba hitam menambah kesan misterius cowok saat ini, Naura, Beruntung mengenakan kaus berwarna gelap, Sehingga tidak salah untuk mengunjungi tempat ini
Keenan berhenti di dekat salah satu makam yang sudah dirapikan dengan keramik, Dia menyingkirkan setangkai bunga mawar Putih yang sudah layu, kemudian menggantinya dengan bungan serupa yang masih segar Naura sampai tidak menyadari keenan membawa setangkai bunga mawar Putih sejak tadi
" Di sini tempat peristirahatan terakhir, Moza, Ra, "Ucap Keenan dengan suara Pilu Dia meraba ukiran nama adiknya di sana, seolah bisa merasakan keberadaan Moza ada didekatnya, " Adik yang Paling gue, sayang, " tambahnya
Naura berjalan mendekat sambil mengernyit. Dia bingung harus merespons seperti apa
" Makasih karena udah jadi tempat curhat Moza selama ini, Makasih udah anggap Moza seperti adik Lo sendiri,"
Naura hampir tidak Percaya dengan Ucapan Keenan. Dia semakin mendekat dan mengikuti Keenan berlutut di sebelah makam itu. Tangannya langsung bergerak menyentuh ukiran nama Moza Larasati di sana.
Naura menggeleng Kuat-kuat. Dia hampir tidak memercayai ini semua Tidak mungkin Moza yang sudah dia anggap adiknya itu sama dengan adiknya Keenan. Namun, dia harus bisa menerima kenyataan ketika memastikan tanggal lahir yang terukir di makam itu sama Persis dengan tanggal ulang tahun Moza
" ini Nggak, mungkin, Moza " Ucap lirih Naura," Moza nggak mungkin meninggal , " Naura masih sangat sulit menerima kenyataan mengejutkan ini. Dia kemudian menoleh Pada keenan, " jadi, Moza itu adik Lo ? Lo bercanda kan "
Keenan menyadari Naura sangat terpukul, sama seperti dirinya
Naura mulai terisak, kemudian memukul Keenan dengan sebelah tangannya," kenapa Lo nggak Cerita sama gue ? Lo jahat banget, Gue belum minta maaf sama dia, Gue belum tebus kesalahan gue"
Keenan menahan tangan Naura agar berhenti memukulinya, " Ra, gue nyesel juga, asal Lo tahu Seandainya aja gue nggak egois buat cari tahu semuanya sendiri. Gue yakin nggak akan ada yang terluka karena keegoisan gue,"
Naura menunduk beberapa saat, bersamaan Cekalan tangan Keenan yang sudah melemah
Naura kembali menghadap ukiran nama Moza Menyentuhnya dengan Perasaan bersalah, " Maafin Kak Moza, Kakak nggak bisa jadi kakak yang baik buat kamu," Naura menarik nafas dalam-dalam mencoba menahan tangisannya sendiri," Maafin Kakak karena nggak balas Pesan kamu waktu itu, waktu kamu lagi butuh tempat untuk mengadu"
Keenan yang mendengarnya turut merasakan kesedihan Naura. Naura sama terpukulnya seperti Keenan
Tangan Keenan terangkat, melayang Cukup lama di Udara karena ragu sekadar menepuk Pelan bahu Naura yang mulai berguncang karena tangis. Namun, Pada akhirnya tangan itu mendarat di Punggung Naura Menepuknya Pelan, sekadar memberikan sedikit kekuatan untuk Cewek.
" Kenapa Moza bisa meninggal, Keenan kenapa, " tanya Naura yang kini menghadap Keenan, sambil terisak
Keenan menghela nafas berat. Dia tidak sanggup untuk menceritakan kembali kejadian keji yang menimpa Moza, Namun Naura berhak tahu.
Keenan menceritakan semuanya pada Naura, Tentang keadaan terakhir Moza sebelum meninggal, hingga kemungkinan dibunuh oleh sahabatnya sendiri.
Hal ini justru membuat Naura menangis semakin keras. Dia semakin bersalah karena mengabaikan Moza. Naura tak henti-hentinya mengucap maaf sambil memeluk ukiran nama Moza
Entah beberapa lama waktu yang dihabiskan Moza untuk menangis di makam Moza. Dia tidak akan berhenti kalau saja Keenan tidak memaksanya untuk bangkit meninggalkan tempat itu
Naura masih mencoba melawan dan berusaha untuk kembali menyentuh nama Moza di sana. Tangisnya belum juga reda. Hingga Keenan berusaha meredamnya dengan memeluk tubuh rapuh itu
" ini bukan salah Lo, Ra, Tapi ini takdir, Moza " bisik Keenan tepat di telinga Naura
Naura tidak lagi melawan. Entah apa yang salah dengan Pelukan Keenan Naura jutsru menangis semakin keras
Keenan memeluknya semakin erat. Mengusap Pelan punggung Naura hingga guncangannya mulai stabil. Dia tidak menyalakan Naura sama sekali. Keadaan yang berkehendak demikian
...••••...
Naura merasa ini sangat aneh. Keenan kembali menjadi orang asing keesokan harinya di sekolah. Keenan kembali bertingkah seolah mereka tidak saling mengenal
Naura Pusing luar biasa. Keenan benar-benar memainkan Perasaannya
Naura meraih Ponselnya di atas nakas meja belajar. Dia Perlu memastikan sesuatu Tentang sikap Keenan yang sama sekali tidak ia Pahami
Naura membuka ruang obrolannya dengan Keenan di Ponselnya kemudian mengetik sesuatu di sana
Gue butuh Penjelasan Tentang sikap Lo
Sayangnya, Kalimat itu sudah buru-buru dihapus sebelum di kirim Naura mengetik kalimat baru di sana
Kenapa Lo nggak Pernah, negur gue di sekolah
Lagi, Kalimat itu kembali dihapus Naura. Begitu terus, berulang-ulang sampai Naura lelah memikirkan kalimat yang tepat untuk dia kirim
...•••...
" Keenan, Gue Perhatiin Lo udah nggak Pernah deketin Naura, Kenapa ? tanya Ethan langsung ketika sudah berkumpul di kantin bersama yang lainnya
Keenan mendadak menghentikan kunyahan bakso di mulutnya Ketika mendengar Pertanyaan itu. Sementara Satya, Miko dan Johan saling Pandang sejenak, baru kemudian memilih sibuk menyantap makanan masing-masing
" Kalian lagi marahan, " tebak Ethan karena Keenan tak kunjung menjawab
" Nggak, kok Biasa aja, " jawab Keenan singkat menyeruput es teh manisnya dengan rakus
" BTW, UNBK tinggal menghitung minggu ini Habis itu kita bakal lulus, kan " Miko tiba-tiba mengalihkan topik, " Lo udah berencana mau, lanjut kuliah di mana, Jon, " tanyanya pada Johan yang duduk tepat di seberang sana
" Bokap mau gue ambil kuliah bisnis di Singapura, " jawab Johan tanpa minat, " Tapi, lihat nanti gimana,"
Miko mengganguk, kemudian mengajukan Pertanyaan serupa Pada Satya, " kalo Lo gimana, "
" Gue sih maunya di Jakarta, Rencananya mau ambil jurusan seni musik aja sesuai Passion gue. Lo sendiri"
" Kalua gue sih kuliah di Jakarta aja sama seperti Lo "
" ikutin gue aja Lo Emang nggak ada yang lain gitu selain ikuti gue Mulu "
" Nggak ada , " Miko langsung tertawa kecil, kemudian beralih menoleh Pada Ethan yang duduk di sebelahnya itu " kalau Lo, rencananya kuliah di mana, Than"
Ethan pura-pura menghela nafas berat kemudian mulai menjawab, Pertanyaan itu " Seandainya aja Yayasan Angkasa Punya universitas Juga, gue pasti nggak akan Pusing mau nerusin kuliah di mana "
Satya lansung melempar kacang Sukro yang menjadi camilannya ke arah Ethan, " Nggak maju-maju Lo Nggak bosan apa Dari TK di sini mulu"
Ethan tertawa, begitu Pula yang lain
" Kalau Lo, Keenan mau lanjut ke mana"
Keenan terdiam sejenak. Pikirannya langsung teringat pada pembicaraan dengan Papanya via telepon beberapa waktu yang lalu
" Mau lanjut ke mana, Keenan, " Ethan kembali mengulang Pertanyaannya
Keenan tersadar, memaksakan senyumannya, " Belum tahu mau ke mana"
Perhatian mereka Kemudian dengan cepat beralih Pada kerumunan para pedagang Kantin yang sedang mengomentari headline news di televisi milik salah seorang Pedagang
Nama seseorang yang disebutkan salah seorang Pedagang membuat Keenan Penasaran dan menduga berita adalah yang dia tunggu-tunggu selama ini
Keenan buru-buru menghampiri cari tahu. Teman-teman yang lain menyusul dari belakang
" Akhirnya, ketangkap juga ya Pak Herwansyah, " komentar Pak Karni Penjual siomay kantin, " Mau lari ke mana juga pasti akhirnya ketangkap Polisi, "
" Nggak nyangka banget ya Pak Herwansyah udah kaya tujuh turunan masih aja korupsi,"
Keenan memperhatikan berita itu tanpa berkedip. Dia melihat Pak Herwansyah sekeluarga tersorot kamera di dalam kantor Polisi. Keenan dapat mengenali betul Postur Pria muda yang terus-menerus menutupi wajahnya dari sorot kamera
Keenan yakin itu Yuda
Keenan langsung memelesat Keluar kantin, melewati ruang kelasnya sendiri, dan terus berlari menuju gerbang. Teman-temannya terlambat mencegah. Keenan terlalu bersemangat untuk segera mematahkan tulang-tulang Yuda