My Love My Enemy

My Love My Enemy
Part 30 HURT



Naura sengaja datang terlambat 10 menit dari waktu janjinya dengan Keenan di taman belakang kompleks. Di hanya tidak ingin terlihat seolah tak sabar dan sangat menanti Pertemuannya dengan keenan


Naura bahkan sudah siap sejak 2 jam sebelumnya. Sejak siang tadi dia sibuk memilih Pakaian yang tepat untuk dia kenakan, Akhirnya pilihannya jatuh Pada blus berwarna biru muda yang Panjangnya menutupi lututnya. kemudian. tidak lupa Naura memadukannya kardigan berwarna Putih


Sesampainya di taman, Naura tidak berhasil menemukan Keenan di bangku yang biasa diduduki cowok itu. Dan, ketika dia mengedarkan Pandangannya ke sekitar,dia hanya bisa melihat beberapa anak yang sedang menikmati ayunan dan jungkat-jungkit


Apakah Keenan terlambat ? atau Naura yang datang terlalu cepat


Naura melirik jam yang melingkar tangan kirinya, Waktu menunjukkan pukul tujuh lima sebelas menit. Dan, dia yakin tidak salah dengar bahwa waktu janjinnya dengan keenan adalah Pukul 7.00 malam.


Naura memutuskan menunggu kedatangan Keenan. Dia duduk di bangku itu sambil memperhatikan anak-anak kecil yang tampak asyik sekali bermain bersama teman-temannya


Naura gelisah. Dia ingin sekali mengirim Chat kepada Keenan untuk sekedar mengingatkan janji mereka sore ini, tetapi Naura memutuskan untuk menunggu. Karena dia yakin Keenan tidak akan lupa dengan janji mereka hari ini.


Entah Naura harus bertahan sampai beberapa lama lagi menunggu kedatangan Keenan. Dia mulai tak tenang Satu persatu anak-anak yang tadi asyik bermain di taman sudah menghilang. Mereka mengakhiri Permainan ketika menyadari langit sudah hampir gelap. Dan, selama itu Pula, Naura masih bertahan di Posisinya


...•••...


Keenan memejamkan matanya sambil berbaring di kasurnya Dia berusaha untuk tidak Peduli walau dia yakin Naura Pasti menunggunya di taman. isi diary Moza membuatnya kesulitan dalam mengambil sikap Dia mencoba untuk tidak memercayai tulisan Moza di sana. Lagi pula, masih ada sobekan lembaran yang hilang, yang mungkin saja adalah jawaban atas meninggalnya Moza


Akan tetapi, di mana Keenan bisa menemukan lembaran yang hilang itu ?


Dering Ponsel di atas nakas membuat Keenan mengubah Posisi nya menjadi duduk, kemudian meraih benda itu. Nama Yuda tertera di sana


" Halo ? jawab Keenan tak bersemangat


" Lo yakin Moza meninggal karena bunuh diri ? Bukan di Bunuh seperti dugaan awal Lo, " tanya Yuda lansung di seberang sana. Dia langsung menghubungi Keenan begitu mendapat chat dari keenan berisi dugaannya setelah membaca habis isi diary Moza yang dia temukan


Keenan menghela nafas panjang sebelum menjawab, " Gue belum yakin 100% yakin karena masih ada sobekan lembaran yang hilang setelah curhatan Moza mengenai bunuh diri. Gue yakin. jawaban Sebenarnya ada di sana


" Terus dugaan Lo yang bilang bahwa ada yang Celakain Moza, itu gimana ceritanya,"


" Beberapa hari Moza dimakamkan, gue temuin testpack di kamar Moza. Gue yakin banget bahwa itu punya Moza Yud. Kalua bukan, kenapa dia simpan benda kayak gitu di lacinya,"


Hening. Yuda di seberang sana sampai tak mampu bersuara saking terkejutnya


" Polisi Udah tutup kasus Moza sebelum gue temuin testpack itu Polisi beralasan kemungkinan besar Moza mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri, "


Hening kembali. Yuda yakin, perasaan keenan sedang bergejolak hebat. Dia hanya ingin memberi waktu untuk sahabatnya menenangkan diri


" Nyokap gue bersikeras nggak mau kalau Moza diautopsi. itu yang bikin gue nggak bisa menyakini dugaan gue tentang testpack itu. Dan ada kemungkinan bahwa Moza nggak meninggal karena bunuh diri, tapi di bunuh, " Keenan memejamkan matanya. Kepalanya terasa berat dan penuh, " Gue masih nggak percaya kalau mereka bilang Moza meninggal karena bunuh diri. Gue yakin Pikiran Moza nggak sedangkal itu. Dia cuma emosi waktu nulis diary Moza itu. Dia nggak mungkin sampai bertindak bodoh kayak gini," ucapnya dengan menggebu-gebu


" Jadi Nyokap bokap Lo belum tau tentang testpack itu, " tanya Yuda sehati-hati mungkin


Keenan menggeleng, kemudian bersuara ketika menyadari Yuda tidak bisa melihatnya, " Mereka belum tahu. Gue yakin, Nyokap malah akan semakin terpukul kalua gue Ceritain dugaan gue yang belum terbukti Gue harus benar-benar Punya bukti kuat sebelum Gue cerita ke mereka,"


" Tapi, gimana Caranya ?" tanya Yuda, Dia yang biasanya punya seribu siasat dalam mencari solusi, kini Pikirannya buntu


" Gue harus berhasil nemuin lembaran kertas yang sobek itu !" tegas Keenan


" Nggak semudah itu Keenan, " Yuda memperingatkan, " Lembaran kertas yang sobek itu berarti sesuatu yang udah dianggap nggak berguna. Bisa aja Moza udah buang ke tong sampah, yang mungkin aja sekarang udah bergabung dengan tumpahkan sampah di tempat pembuangan akhir. Atau bisa jadi, Moza udah bakar kertas itu. intinya, Lo yang akan nyusahin diri sendiri buat cari sesuatu yang nggak mungkin Lo temukan,"


Keenan menghela nafas berat. lagi-lagi dia merasa Perkataan Yuda memang benar. Mustahil untuknya menemukan sobekan yang kini entah berada di mana, yang mungkin saja sudah hancur menjadi abu


Tok, Tok, Tok


Keenan menoleh ke arah pintu kamarnya . Suara Mama yang memanggil namanya yang membuat Keenan mengakhiri sambungan teleponnya dengan Yuda. Dia berjalan membuka Pintu kamar dan menyambut mamanya


" Ada, apa Ma ?"


" Kamu tahu Naura ada di mana ? tanya Mama yang bernada cemas


Ekspresi yang ditunjukkan mamanya kini justru membuat Keenan ikut cemas


" Terus Mama jawab apa, "


" Ya, Mama bilang bahwa kamu seharian di rumah, Nggak Pergi ke mana-mana Memangnya kamu ada janji sama Naura buat ketemuan Keenan " tanya mama bernada cemas


Keenan terdiam. Dia masih berusaha untuk tidak Peduli pada Naura. Hari sudah larut malam Mustahil bila Naura masih menunggunya di taman


" Naura Pergi ke mana sampai ya malam-malam begini belum Pulang, " Siska bertanya-tanya sendiri, " Di luar sedang hujan deras,Mama khawatir terjadi apa-apa sama dia, "


Keenan Langsung menoleh ke jendela rumahnya. keadaan di luar sangat gelap apalagi di tambah tiupan angin yang kencang membuat hujan malam ini tampak sangat menakutkan


Keenan bergegas meraih jaketnya di balik pintu kamar dan mengenakannya Dia kemudian melewati mamanya begitu saja menuju Pintu utama. Tak lupa, dia membawa serta Payung untuk membantunya menerjang derasnya air hujan


...•••...


Naura sudah menggigil dalam keadaan setengah basah. Dia sedang berteduh di stand yang pernah menjadi tempat berteduhnya dengan keenan beberapa waktu yang lalu


Naura merapatkan kardigan yang ia kenakan, kemudian memeluk tubuhnya yang gemetar karena kedinginan. Entah sudah berapa lama dia menunggu, Tetapi yang di tunggu tak kunjung datang. Derasnya air hujan pun seolah mendukungnya untuk menunggu lebih lama lagi


Getaran Ponsel di sakunya membuat Naura melepaskan pelukannya kemudian meraih benda itu. Nama Keenan tertera jelas di layar Ponselnya Namun, Naura tidak mengangkat Panggilannya itu. Dia hanya menatap nama itu dan menunggu hingga Panggilan itu berakhir.


...Lain kali, Kalau gue telepon diangkat ya Karena, kalau nggak angkat Panggilan dari gue, gue anggap Lo mau gue samperin Lo...


Naura memejamkan matanya, Please Keenan datang ke sini


Penantian panjang Naura berbuah tidak lama kemudian. Dia tersenyum ketika melihat keenan muncul dan berjalan mendekatinya dengan membawa Payung besar


" Lo Ngapain di sini sampai malam begini,"


Nada suara Keenan yang terdengar tidak bersahabat, di tambah ekspresi wajah cowok itu yang tidak ramah sekali, sukses membuat senyum di wajah Naura hilang seketika.


" Gue nungguin Lo, " kata Naura dengan suara lemah, Tubuhnya sangat kedinginan Dan, dia hampir tidak punya tenaga untuk berteriak


" Kalua gue nggak datang Lo bakal nunggu di sini sampai pagi, " kesal Keenan


" Gue nunggu Karena gue yakin Lo akan datang, " ucap Naura meniru ucapan Keenan beberapa waktu yang lalu


Keenan seolah dihantam batu ribuan ton tepat di dadanya. Ucapan Naura sukses membuatnya merasa bersalah. Namun, dia tidak boleh melunak begitu saja. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak memaafkan siapa pun orang yang sudah mengakibatkan Moza meninggal sekalipun Naura masih dalam batas dugaan


" Lo nggak lupa kalau kita janjian hari ini, kan, " tanya Naura ragu


Keenan membuang Pandangannya sesaat, kemudian kembali menatap Naura, " Gue lupa, " ucapannya berbohong, " Gue ke sini karena Tante Mirna Telepon nyokap gue. Dia cemas karena Lo belum pulang ke rumah sampai jam segini, "


Naura hampir tidak mengenali orang yang kini sedang berbicara dengannya. Orang itu tidak tampak seperti Keenan yang biasanya. Naura tidak mengenali tatapan mata Keenan seperti itu, Keenan yang dia kenal adalah Keenan yang penuh canda dan senyum ketika berbicara dengannya


Tanpa sadar mata Naura mulai berkaca-kaca. Apa arti semua ini ?


" Lo masih belum Pulang juga, " tanya Keenan melihat Naura tak kunjung merespons. Dia kemudian meraih sebelah tangan Naura dan menyerahkan Payung besar di tangannya Pada cewek itu, " Gue nggak Peduli Lo mau sampai kapan di sini Gue Pulang sekarang,"


Setelah mengucapkan kalimat itu dengan Penuh Penekanan, Keenan mengenakan tudung kepala jaketnya, kemudian berbalik dan berlari kencang melawan derasnya air hujan, meninggalkan Naura seseorang diri di sana


Naura menatap tubuh Keenan yang menjauh dengan perasaan hancur luar biasa. Dia sungguh tidak mengerti dengan semua ini. Padahal momennya dengan Keenan sungguh nyata ketika Keenan mengajaknya bertemu di taman. Semuanya sungguh terasa indah bagi Naura, Bahkan untuk Pertama kalinya dia merasakan debaran yang hebat dan hampir tidak bisa tidur karena menanti Pertemuan mereka


Naura berjongkok di tempatnya, Payung besar di genggamannya terasa sangat berat baginya. Namun dia masih berusaha untuk tetap menggenggamnya dengan benar dalam Posisinya kini


Naura memeluk lututnya sendiri. Air matanya mengalir deras tanpa bisa dia cegah. Dia masih belum terbiasa dengan perasaan asing ini Bagaimana bisa Perasaan berbunga bunga yang dia rasakan kini berubah menjadi sangat menyakitkan


Naura menangis sejadi-jadinya. Sekuat apa pun suara yang tangisan yang dia ciptakan, nyatanya suara derasnya hujan masih tetap memang darinya


Apakah ini yang dinamakan patah hati ? Mengapa Tuhan tega sekali padanya Padahal, ? baru saja dia berani mengaku sedang Jatuh Cinta dan belum benar-benar puas merasakan manisnya perasaan berbunga-bunga. Namun Perasaan indah itu, dengan cepat berganti dengan perasaan yang menyakitkan. Begitu menyakitkan hingga tidak ada yang bisa Naura lakukan selain menangis sendirian di taman.