My Love My Enemy

My Love My Enemy
BAB 2 LOVE AT THE FIRST SIGHT



Setelah kegilaan kemarin, akhirnya mereka berlima dipanggil oleh guru konseling. Tapi, bukan anak sultan kalau tidak bisa lolos dari hukuman. Mereka hanya di nasehati seperti biasa.


"Bella! Bel, Bella!" Suara seorang laki-laki terdengar memanggil-manggil Bella.


Mereka berlima kompak menoleh ke asal suara. Ternyata Damar Digantara, anak walikota baru di kota Manggala. Sudah bukan rahasia umum jika Damar itu mengejar Bella dari sejak kelas IX.


"Kenapa, Dam?" tanya Bella lugu.


"Seminggu lagi prom night, kamu mau gak jadi pasanganku?" Damar balik bertanya tanpa basa-basi.


"Aduh, sorry...aku udah ada pasangan..." sesal Bella.


"Haaah???" Mereka berlima kompak ber-haah kaget.


Bella cepat-cepat menarik tangan Olive dan Cherry. Lalu Amber dan Nadia yang terlambat sadar, berlari mengikuti mereka dari belakang.


"Serius lu punya pasangan prom night???" tanya Cherry penasaran.


"Wah, udah mulai ada rahasia nih!" protes Olive tidak terima.


Amber dan Nadia hanya mengangguk-angguk seperti woody woodpecker.


Bella menghela napas berat. Ia menyesal kenapa harus menolak Damar dengan sebuah kebohongan. Sekarang siapa yang akan menemaninya datang ke prom night seminggu lagi.


"Tau lah! Aku juga gak tau apa yang aku omongin barusan!" ujarnya kesal sendiri.


Ia mengacak-acak rambut panjangnya.


Sebenarnya Damar termasuk laki-laki yang lumayan. Tinggi 170 cm, kulit bersih, dia juga masuk ke ranking lima besar umum sejak kelas X. Banyak gadis yang juga tergila-gila padanya.


Salah satunya adalah Vania, model majalah remaja yang sedang naik daun. Wajah blasteran Jepang-Indonesia. Dengan tinggi dan berat badan proporsional, kecantikannya tidak di ragukan lagi.


"Ditolak lagi sama Bella?" sindir Vania di kantin.


Gadis ini memang selalu menempel pada Damar setiap jam istirahat. Dia menyesap minuman boba-nya. Lalu mencomot sepotong sandwich milik Damar.


"Lu kenapa sih, udah jelas-jelas ada gue yang cantik, oke, otak gue juga gak bego-bego amat. Masih masuk dua puluh besar kok..." gerutu Vania dengan mulut yang penuh dengan sandwich.


"Berisik!" ujar Damar emosi.


Bibir Vania manyun dibentak begitu oleh Damar. Lagi pula dia heran, kok ada cowok yang naksir cewek dari SMP sampai mau lulus SMA. Damar meninggalkan Vania duduk sendiri di kafetaria sekolah.


Jemari lentik Vania sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.


Vania : Damar masih ngejar Bella.


Nadia : Sabar, gue tau. Tadi gue di sana.


Vania : Bilangin temen lu, jangan ngasih harapan.


Nadia : Damar aja yang gak mau nyerah.


Vania meletakkan ponselnya dengan kasar. Ya, Nadia adalah kakak sepupunya. Tapi dia sahabat Bella. Sudah pasti Nadia bakal membela gadis itu.


...----------------...


Kelas IPA 2


Pagi hari di kelas Bella tercipta kegaduhan yang dibuat oleh Cherry. Si kutu buku ini tidak biasanya kepo masalah pribadi orang.


"Bel, gosip lu punya pacar udah tersebar seantero jagad raya!" Cherry heboh.


Bella hanya acuh tak acuh. Dia malah asyik nonton drakor di Iphone 13 promax-nya.


"Sumpah nih bocah! Lu beneran bakal bawa cowok lu ke prom night?!?" cecar Cherry penasaran.


Kali ini Bella berhenti menonton dan meletakkan ponselnya. Di mencubit pipi Cherry. Memang, di antara keempat temannya, Cherry adalah yang terdekat. Karena kedua orang tua mereka bersahabat ketika kuliah.


"Kalo aku punya pacar, pasti kamu yang duluan tahu-lah, Cher," jawab Bella.


"Terus???"


"Terus...tugas kamu cariin aku pacar..." jawab Bella sambil tertawa.


"Sue lu, gue aja jomblo!" protes Cherry sembari meninggalkan kelas Bella.


Bella hanya tertawa geli melihat Cherry keluar kelasnya dengan kesal. Dia melanjutkan aktivitasnya menonton drakor.


Ding…


Ponsel di tangannya berbunyi. Sebuah notifikasi whatsapp muncul di layar pop up.


Nadia : Bel, gue mau ngomong soal Damar.


Bella : Udah sih, ngomong aja.


Nadia : Lu beneran gak punya perasaan sama dia?


Bella : Ya elah, kamu kenal aku berapa tahun, Nad?


Bella : Pasti Vania minta tolong ke kamu-kan?


Nadia : Iya.


Bella : Bilang ke Vania, aku gak punya rasa ke Damar.


Nadia : Oke.


Gadis ini menghela napas panjang. Dia tidak ingin populer. Dia tidak mau jadi incaran teman laki-lakinya. Karena dia tahu, mereka hanya memandang apa yang orang tuanya miliki.


Siapa yang tidak kenal dengan raja properti kota Manggala, Aryadwipa Rajasa. Pengusaha yang memiliki nyaris 80% properti di kota ini. Mulai dari BTN kecil sampai proyek apartment mewah di kawasan jalan Cakrawala.


"Andai, aku lahir di keluarga biasa..." keluh Bella. Ia membenamkan wajahnya di meja dengan sedih.


Ding…


Ponselnya lagi-lagi berbunyi.


Cherry : Semalam nyokap lu telepon nyokap gue. Katanya lu bakal ikut bimbel bareng gue?


Bella : Iya. Mama maksa aku buat ikut bimbel. Biar kita bisa masuk universitas yang sama.


Cherry : Ada-ada aja mereka.


Bella : Kayaknya mereka kena friendship syndrome deh.


Cherry : Ha ha ha...ngakak gue. Ya udah nanti balik sekolah lu ikut gue.


Bella : Yang ada kamu numpang aku, dasar!


Cherry : Iya iya, yang punya setengah Manggala.


Hari ini sampai seminggu ke depan siswa-siswi SMA Internasional Euclidean Manggala hanya hadir untuk melengkapi daftar absensi saja. Tidak ada pelajaran setelah mereka melaksanakan ujian akhir.


Karena bosan, Bella pergi ke kelas Nadia yang notabene sekelas dengan Damar dan Vania. Begitu melihat gadis sultan itu masuk ke kelas mereka, seisi kelas heboh. Mereka pikir Bella akan menerima ajakan Damar.


Dengan percaya diri Damar menghampiri Bella, tanpa memperdulikan Vania yang mendongkol di belakangnya. Tapi Bella malah tidak menggubris Damar, ia terus menuju ke meja Nadia.


"Nad. Ke kafetaria yuk! Aku bosen di kelas..." bujuknya.


Nadia dengan cepat meng-iyakan ajakan Bella. Ia tidak ingin Damar semakin salah paham.


Setibanya di kafetaria, Nadia memesan segelas milkshake coklat untuk dirinya dan segelas Matcha dingin untuk Bella. Mata Bella masih sibuk membaca menu makanan yang ada di black board kafetaria.


"Aku mau french fries sama Chicken pop," Bella memesan camilan berat itu pada pramusaji.


"Saya chicken burger saja," timpal Nadia.


Mereka memilih meja di sudut setelah menerima pesanan mereka. Tempat favorit mereka ber-lima agar jauh dari pandangan penggemar Bella dan Amber.


"Tumben ngajak gue ke kafetaria..." ujar Nadia sambil menggigit burgernya.


"Punya kenalan cowok gak yang bisa aku jadiin pacar bohongan?"


Pertanyaan Bella itu membuatnya tersedak.


"Pelan-pelan kalo makan, Nad..." kata Bella cemas.


"Syok gue denger pertanyaan lu!" gerutu Nadia.


Bella hanya cengar-cengir tak berdosa.


...----------------...


Siang ini, mereka pulang terpisah. Hanya Cherry dan Bella yang pulang bersama. Mereka langsung menuju tempat privat bimbel. Pajero Sport putih itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana.


"Kenapa bukan gurunya yang datang ke rumah kita sih, Cher?" keluh Bella.


"Rumah gini pasti panas...gimana mau konsentrasi belajar?"


Cherry mencubit pinggang Bella. Untung guru privat mereka belum keluar. Mereka dipersilahkan masuk oleh seorang ibu yang sudah agak berumur dan duduk di kursi roda.


"Hafizzz...Hafizzz! Murid kamu sudah datang ini!" teriak ibu itu sambil mengetuk sebuah pintu kamar.


Tidak lama kemudian, suara pintu kamar terdengar dibuka. Dalam benak Bella dan Cherry, pasti guru bimbelnya ini berkacamata tebal, perjaka tua dan penampilannya cupu.


Mereka berdua cekikikan. Sampai__


"Selamat siang adik-adik," sapa sebuah suara.


Bella dan Cherry memandang tidak percaya ke arah guru bimbel mereka. Yang berdiri di hadapannya sosok pemuda tampan, usianya mungkin sekitar 23 tahun. Wajahnya putih bersih kontras dengan rambutnya yang agak acak-acakan.


Dada Bella saat itu berdebar sangat kencang. Apa ini yang dinamakan love at the first sight?


...****************...