My Love My Enemy

My Love My Enemy
BAB 6 PROM NIGHT INSIDEN



Bella dan teman-temannya squadnya sibuk berbelanja di mall P. Ia sibuk memilah dress yang akan dikenakannya di pesta perpisahan malam ini. Sebuah gaun model one shoulder dress menjadi pilihan Bella.


Gaun berbahan sutra berwarna peach itu tampak sangat menyatu dengan kulit putih bersihnya. Bagian bawah gaun terbelah sampai ke atas lutut.


"Kamu pasti jadi ratu malam ini, Bel. Apalagi Hafiz juga keren," ujar Amber ketika Bella meminta pendapat tentang gaun itu.


"Fix, aku pilih gaun yang ini!" Bella memberikan gaun pilihannya ke pramuniaga butik.


Olive memilih strapless dress hitam, Amber dan Nadia memilih chiffon midi dress yang agak tertutup. Hanya tinggal Cherry yang belum menentukan pilihannya, ia tampak sibuk memotret beberapa lembar gaun dan entah dikirim untuk siapa.


"Lama banget lu milih gaun!" tegur Olive.


"Cowok gue ribet orangnya," ucap Cherry santai.


Mereka berempat saling bertukar pandang, lalu menatap Cherry meminta penjelasan.


"Aku pikir kamu jomblo, Cher," cicit Bella.


"Iya, nih. Lu gak pernah ngomong punya cowok!" imbuh Olive.


Cherry baru sadar kalau dia keceplosan. Ia hanya tersenyum kikuk. "Eh, dress ini bagus gak?" ujarnya mencoba mengalihkan perhatian.


Tapi, keempat temannya masih tidak puas dengan reaksi Cherry. Akhirnya setelah ia memilih mini halter neck dress berwarna mocca, mereka berlima meninggalkan butik itu.


"Cher, serius kamu punya cowok?" desak Nadia dan Bella bersamaan.


"Baru jadian kemarin," jawab Cherry pelan.


"Waaah, lu ga setia kawan! Kita masih pada jomblo, dia udah punya pasangan aja!" protes Olive.


"Cakep gak?" Amber kali ini ikut buka suara.


Cherry mengangguk.


"Nanti malam dia datang?" lanjutnya.


Cherry mengangguk lagi. Mereka berempat penasaran laki-laki seperti apa yang jadian dengan sahabatnya ini. Apalagi Cherry sama seperti Amber, pemilih.


Sebuah restoran all you can eat menjadi tujuan mereka sekarang, sebelum akhirnya mereka akan menata rambut di salon.


Lobby SMA Euclidean, pukul : 18.30


Para siswa sudah berdatangan. Termasuk FCC squad. Tapi...mereka kurang satu orang yaitu Cherry. Bella, Olive, Amber dan Nadia berangkat bersama diantar oleh sopir Bella.


Tadinya Bella ingin Bagas yang mengantar, tapi katanya dia sibuk dan sudah ada janji.


Lobby sekolah ini sekarang seperti ruang tunggu para model yang akan melakukan runway. Semua tampil maksimal.


"Mana cowok kamu?" tanya Damar yang tiba-tiba muncul di belakang Bella.


"Bentar lagi juga sampai," jawabnya tanpa menoleh ke arah Damar.


"Cowok model apa yang biarin ceweknya nunggu?" sindir Damar lagi.


Bella mencibir. "Dia sholat dulu,"


Tak disangka jawaban Bella tadi membuat Damar tertawa terpingkal-pingkal. "Alasan. Bilang aja, kamu gak punya cowok-kan?" Damar terus mengejek Bella.


"Maaf, bikin kamu nunggu,"


Hafiz sudah berdiri di depan Bella. Ia mengenakan jas hitam dan celana chino hitam dengan dalaman kemeja berwarna krem. Mata Hafiz memandang Bella, lalu melepas jasnya.


"Bajumu terlalu terbuka!" tegur Hafiz.


"Cerewet!" bisik Bella.


Damar meninggalkan mereka berdua dengan wajah yang kusut. Bagaimana tidak, ia tidak bisa mengalahkan ketampanan Hafiz.


FCC mendapat kejutan yang tidak terduga. Cherry datang menggandeng seorang laki-laki. Mata mereka terbelalak melihat siapa yang di gandeng si kutu buku itu.


"Kak Bagas???" jerit mereka kompak.


Bagas hanya cengar-cengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kalian hutang penjelasan padaku!" sungut Bella. Ia menarik tangan Hafiz untuk masuk ke aula.


Di dalam aula, acara prom night sudah dimulai. Semua siswa menikmati pesta perpisahan itu.


"Kenapa lu harus pakai dress yang sama dengan gue?" serang Vania tiba-tiba.


"Mana aku tau kita bakalan pakai dress yang sama persis!" sanggah Bella tidak terima karena seolah Vania menuduh dia mengikuti stylenya.


Iris mata Bella memandang Vania dari atas ke bawah. Memang dress mereka berdua sama persis, mulai dari model hingga warnanya.


Vania pun mendengus kesal meninggalkan Bella dan Hafiz. Tiba saatnya acara dansa. Semua orang di dalam aula hanyut dalam alunan musik. Sayangnya Hafiz tidak menerima ajakan Bella untuk berdansa.


"Terus kamu ke sini ngapain?!?" gerutu Bella.


"Aku kan cuma janji nemenin kamu ke pesta. Bukan berarti aku harus menikmati pesta ini. Lagipula aku benci pesta dansa!" tegas Hafiz.


Ia mencari teman gengnya. Ternyata mereka sedang asyik berdansa. Sebelum mencapai tempat Olive dan kawan-kawan, sebuah tangan menariknya.


Damar. Lagi-lagi dia. Ia memaksa Bella untuk berdansa dengannya sebentar. Karena kesal pada Hafiz, akhirnya Bella pun setuju. Tanpa ia sadari sorot mata cemburu memperhatikan mereka berdua dari kejauhan. Vania.


Setelah lelah, Bella bermaksud kembali ke tempat Hafiz. Tapi laki-laki itu tidak ada. Bella celingukan mencarinya. Ia membawa dua gelas mocktail di tangan. Lalu__.


BRUUKK!!!


Seseorang menabraknya. Gaun yang ia kenakan sekarang berubah warna menjadi hijau karena sirup mocktail itu. Bella mendongak menatap sang penabrak. Ternyata Vania.


"Apa-apaan sih lu?!?" teriak Bella.


"Ups, sorry. Gak se...nga...ja..." ejek Vania.


"Tapi warna dress lu jadi keren, kita gak kembaran lagi..." sindirnya lagi.


Bella hilang kesabaran. "Dasar cewek gila!" teriaknya sembari menarik rambut Vania.


Prom night malam itu menjadi kacau balau karena keributan antara Vania dan Bella. Hafiz, Damar dan juga Bagas berusaha melerai mereka. Akhirnya wajah Hafiz sukses terkena tamparan Bella yang sebenarnya ditujukan ke arah Vania.


"STOP!!!" Bagas berteriak di antara kedua gadis bar-bar itu.


"Bella! Kita pulang!" Ia menarik tangan Bella. Bagas tidak sadar jari adiknya itu masih mencengkeram gaun Vania.


Srett...Krek!!!


Gaun yang dikenakan Vania robek. Untung saja bukan pada bagian yang vital. Hanya lengan gaun itu yang robek tertarik oleh Bella yang diseret kakaknya.


Ini menjadi pesta prom night terkacau sepanjang sejarah SMA Euclidean.


Sesampainya di rumah.


"Memamgnya lu preman, Bel?!?" omel Bagas.


"Sumpah lu malu-maluin gue. Gue dulu ketua OSIS di sana!" desisnya.


Bella hanya duduk dengan bibir manyun di sofa. Olive, Amber, Cherry, Nadia dan Hafiz terpaksa mengikuti mereka berdua pulang.


"Bukan salah gue! Vania yang mulai duluan!" protes Bella.


"Vania kenapa? Cuma numpahin minuman di dress lu-kan?!?" cecar Bagas masih emosi. Cherry berusaha menenangkan pacarnya itu.


"Dia sengaja!" rajuk Bella lagi.


"Bisa aja itu kecelakaan!"


Mendengar kakaknya terus membela Vania, Bella akhirnya kesal. Ia masuk ke dalam kamarnya dan menangis. Teman-temannya berusaha membujuk, tapi kalau Bella sudah merajuk, akan susah.


"Lu nginep di sini aja, Fiz. Gue antar mereka pulang dulu," ujar Bagas pada Hafiz.


Sebenarnya ia tahu, Bagas tidak bermaksud membela Vania. Hanya ingin Bella bersikap tenang dan sedikit dewasa.


...----------------...


Keesokan pagi


Seperti biasa, suasana rumah sepi. Hanya ada asisten rumah tangga dan mereka bertiga. Kedua orang tua Bagas dan Bella terlalu sibuk dengan bisnis.


Hafiz baru saja pulang dari jogging bersama Bagas. Mereka menemukan Bella duduk sendirian di ruang keluarga sambil menonton DVD. Melihat dua makhluk itu, Bella mendengus kesal lalu kembali ke kamarnya.


"Ngapain si Hafiz nginep di sini? Coba dia gak ninggalin aku di sana, pasti kejadian semalam gak bakal kayak gitu!" Ia menggerutu sendiri di kamar.


Bella menjatuhkan diri di atas ranjang. Kejadian semalam masih terbayang di ingatannya. Memalukan! Ia baru sadar.


"Aku bersikap kayak gitu di depan Hafiz??? Aaaarghh!!!" teriaknya kesal.


"Tapi apa perdulinya? Memang Hafiz siapa?"


Gadis ini masih saja terus ber-monolog sendiri di kamar.


Drrt. Drrt.


Ponselnya bergetar.


Hafiz : Dasar cewek manja! Sampai kapan mau merajuk?


Pesan singkat itu membuat darah Bella mendidih. Ia bangun dari tempat tidurnya dan mencari Hafiz.


"Hafiz mana?!?" tanya Bella jengkel pada Bagas.


"Baru aja pulang," jawab Bagas pendek.


"Dasar cowok gak bertanggung jawab. Seenaknya ngatain orang terus kabur!"


Bagas geli melihat tingkah adiknya itu. Sepertinya Bella naksir Hafiz. Tapi dia belum sadar.


...****************...