My Love My Enemy

My Love My Enemy
BAB 7 BIMBINGAN BELAJAR



Setelah kekacauan di prom night, Bella terpaksa menahan malu bertemu dengan Hafiz. Hari ini adalah hari pertama dia resmi jadi siswi bimbel pemuda itu.


Bella menendang pelan kaki Cherry. "Aku malu ketemu Hafiz," bisiknya.


Cherry tersenyum geli.


"Jangan bisik-bisik! Kalau tidak serius belajar silahkan pulang!" tegas Hafiz.


Bella dan Cherry kembali konsentrasi pada pelajaran mereka. Sebulan lagi pendaftaran ke universitas akan terbuka. Mereka harus mempersiapkan diri. Terutama Bella yang ingin membuktikan dirinya pada Hafiz.


...----------------...


Bela POV


Aku melirik diam-diam mahasiswa tingkat lima yang ada di depan kami. Aura Hafiz begitu berbeda ketika dia sedang mengajar. Pasti banyak perempuan yang mengejar dia di kampus.


"Soal persamaan matematika ini kalian sudah paham?" tanya Hafiz membuyarkan lamunanku.


"Pa-paham!" jawabku gugup. Cherry malah tertawa kecil.


"Paham apa? Yang saya jelaskan di atas sini adalah soal Fisika, bukan matematika..." sindir Hafiz.


Kurasakan wajahku memanas. Sial! Dia mengerjaiku rupanya.


Orang ini sama sekali tidak punya perasaan. Setelah mempermalukanku, sekarang dia mengerjaiku. Lalu kembali mengajar kami seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


Hafiz menunjuk ke arahku. "Coba kerjakan ini!" perintahnya.


Bibirku sukses manyun dibuatnya. Dengan enggan aku melaksanakan perintahnya. Soal-soal Fisika di white board itu aku kerjakan dengan baik.


Di luar dugaan, Hafiz tersenyum. Ia mengacungkan jempol dan mengacak rambutku pelan.


"Hmm...hmmm..." Cherry berdeham pelan.


Wajahku tertunduk malu. Kurasakan panas di sekitar pipiku. Mungkin sekarang sudah semerah tomat. Aku kembali duduk di samping Cherry, sebelum duduk aku melotot dan menyenggol pelan kakinya.


Kami bertiga kembali serius dengan materi.


Tidak terasa tiga jam sudah berlalu. Baru kali ini aku mengikuti les privat yang tidak membosankan. Hafiz memang galak, tapi dia mampu menjelaskan tiap materi dengan cara santai dan mudah dimengerti. Mungkin inilah alasannya dia bisa menjadi mahasiswa yang berprestasi di kampusnya.


"Lu, mau masuk universitas mana?" tanya Cherry padaku dalam perjalanan pulang.


"Mama sama papa ingin aku masuk ke universitas yang sama dengan kamu. Tapi..." aku menggantung ucapanku.


"Tapi...tapi lu mau sekampus sama Hafiz? Ngaku aja dah lu!" serang Cherry.


Aku hanya menanggapinya dengan cengiran lebar.


......................


Hafiz POV


Mereka berdua sudah pulang. Aku memandangi punggung kedua gadis itu. Entah kenapa aku merasa Bella sedang tidak berkonsentrasi sejak tadi. Apa karena insiden prom night itu?


Aku membereskan peralatan yang tadi aku gunakan untuk mengajar. Sebenarnya aku kepikiran dengan tingkah Bella tadi. Setelah merapikan semua, aku meraih ponselku dan mulai mengetik sebuah pesan untuk Bella.


Me : Bel, kamu tadi aneh. Send!


Ponsel itu kembali aku letakkan di atas meja kemudian menghampiri ibuku yang sedang membuat brownies kesukaanku. Meskipun aku sudah melarangnya untuk terlalu banyak beraktivitas, tapi ibu tidak pernah mendengarkan.


Kupeluk wanita yang telah melahirkan aku itu. Bahunya kurasakan sedikit tersentak karena terkejut. Telapak tangan tua itu menepuk lenganku yang melingkar di lehernya.


"Bu, jangan terlalu capek-lah," rengekku.


Tangannya melepaskan rangkulan ku. Ia berbalik dengan kursi rodanya lalu memegang kedua pipiku dengan tangan yang masih ada tepungnya.


"Untuk anak ibu satu-satunya, ibu tidak akan pernah merasa capek," tuturnya lembut. Suara ibu adalah obat paling mujarab ketika perasaanku sedang tidak karuan.


"Gadis-gadis tadi sudah selesai belajar?" tanya beliau kembali melanjutkan pekerjaannya.


Aku mengangguk dan menarik kursi dan duduk di samping ibuku. Tanganku pun mulai sibuk membantunya. Walaupun aku ini seorang laki-laki, tapi ibu selalu mengajarkanku untuk mengerti pekerjaan perempuan. Kenapa? Karena katanya, jika aku berumahtangga, aku tidak menyerahkan segalanya kepada istriku kelak.


"*Kamu harus bisa cuci baju sendiri, Nak. Biasakan dirimu juga bisa membersihkan rumah. Ingat, saat kamu nanti menjadi seorang suami, wanita yang ku pinang jadi istri itu bukanlah pembantu mu.


Dia dirawat dan dibesarkan orang tuanya dengan kasih sayang. Tapi ketika kamu memintanya dari mereka, kamu mau memperlakukan dia dengan seenaknya? Itu salah*!"


Ajaran ibu selalu terngiang di kepala dan telingaku. Selama mendiang ayah masih hidup, aku tidak pernah melihat mereka sedikitpun ribut. Entah itu masalah kecil atau bahkan masalah besar tentang ekonomi kami yang tiba-tiba anjlok karena ayah tertipu.


"Malah ngelamun! Sini coklatnya!" tegur ibu.


Aku hanya tersenyum simpul dan menyerahkan coklat bubuk yang baru selesai aku ayak itu.


"Ibu lihat, gadis bernama Bella itu sering memperhatikanmu," sindir ibu. Aku terperangah dan salah tingkah.


"Mana mungkin, Bu. Ibu ada-ada saja," bantahku, "Bella itu anak dari keluarga kaya raya. Sultan properti di Manggala ini."


"Ya..."


"Ya...kamu merasa tidak pantas?" potong ibu.


Aku tidak menjawab dan hanya diam.


"Berarti benar dugaan ibu, kamu naksir sama gadis yang bernama Bella itu kan?" ibu malah terus meledekku.


"Ibu...apaan sih ibu ini..." rengek ku manja.


Untung saja, pembicaraan itu terhenti karena suara ponselku. Aku berjalan ke ruang tamu, meninggalkan ibu yang terlihat senyum-senyum sendiri.


Sebuah notifikasi whatsapp masuk. Ada beberapa pesan yang masuk dan aku melihat nama Bella ada di salah satu notifikasi itu.


Bella : Aneh gmn, ya, k? ๐Ÿ˜…


Jelas-jelas dia aneh sejak pertama datang sampai selesai belajar. "Dasar gadis angkuh!" batinku. Aku kemudian membalas pesannya.


Me : Gak konsen belajar, msh marah sama kejadian malam itu? Send!


Bella : Oh, Bella udah lupa kak.


Jawaban singkat itu membuatku bertanya-tanya, ia benar-benar melupakan insiden prom night itu, ataukah dia tidak mau membicarakannya? Aku merasa sedikit bersalah karena meninggalkan tempat dudukku tanpa memberitahunya.


Padahal, aku sendiri yang meng-iya-kan permintaannya untuk datang ke pesta perpisahan itu. Lalu aku membuat dia dipermalukan oleh temannya.


Me : Ya sudah, istirahat deh kamu. See you the day after tomorrow. Send!


Aku memandangi layar benda pipih di tanganku ini. Cukup lama aku menunggu tapi tidak ada balasan lagi. Jadi, aku memutuskan untuk kembali membantu ibuku.


...----------------...


Kamar Bella


Gadis ini melempar ponselnya. Ke atas ranjang. Ia baru saja tiba di rumahnya ketika sebuah pesan dari Hafiz masuk. Pemuda itu bertanya apakah dia masih marah dengan kejadian prom night kemarin.


Apa Hafiz tidak sadar kalau dia sudah sangat dipermalukan oleh Vania. Lantas dia hanya mengirimkan pesan seperti itu?


Bella mengganti bajunya dengan kimono mandi dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Ia membiarkan sekujur tubuhnya di sirami air hangat dari shower. Sebenarnya dia ingin berendam. air hangat di bath up. Tapi ia terlalu lelah menunggu air tertampung di sana.


Setelah selesai mandi, Bella mengambil sebuah buku diary.


Bayanganmu selalu mengusik ku, kenapa Tuhan menciptakan makhluk sesempurna dirimu


Aku ingin meraih mu, memelukmu, dan menggenggam tanganmu


Namun kau seperti bulan di malam hari, indah namun terlalu jauh untuk digapai


Seperti matahari yang menyinari hari, tapi terlalu terang untuk ditatap dengan mata ini


Ini tak adil Tuhan...


Rasaku padanya bagai labirin yang menyesatkan


Ia mengambil ponselnya yang sedari tadi tergeletak tak berdaya di atas ranjang. Jari lentiknya mengusap layar ponsel dan mengetuk aplikasi whatsapp.


Bella : Cher, tau gak tadi Hafiz chat aku.


Cherry : Terus?


Bella : Dia cuma nanya apa aku masih marah sama kejadian prom night itu.


CUniversitas Putra Bangsaherry : Hmm, terus, terus?


Bella : Aku bilang udah lupa sama kejadian itu.


Cherry : Terus, terus.


Mata Bella memicing kesal menatap layar ponsel. Dia berdecak membaca pesan Cherry.


Bella : Dari tadi kamu bilang terus, terus, mau jadi tukang parkir kamu?


Cherry : ๐Ÿ˜‚sorry, gue lagi sama abang lu di teras rumah. Abang lu dateng ke sini.


Bella : Astaga, kalian gak berbuat hal-hal yang gak senonoh kan?


Cherry : Dasar emang lu pikir gue sama abang lu ini apa? Abang lu mau gue nemenin dia ke toko buku.


Bella : Tau lah! Kamu, Bagas sama Haofiz sama aja!


Dengan jengkel, Bella kembali melempar ponselnya ke atas ranjang. Karena tidak tahu apa yang akan dia lakukan Bella menjatuhkan diri juga di ranjang. Lalu mencoba untuk tidur.


...****************...