My Love My Enemy

My Love My Enemy
Part 47 TEMPAT PULANG



Merasakan tarikan tangan seseorang ketika dia berada di depan restoran. Keenan menahan Kepergiannya dan memaksanya Untuk kembali berhadapan


Naura mengingat kembali sikap Ethan Padanya selama ini


membuka matanya perlahan, kepalanya masih Pusing akibat benturan tadi


" Hai, "


mengerjapkan matanya sesekali. Dia melihat seorang Cowok yang tersenyum Padanya lega sambil menatapnya yang berbaring di kasur. Naura mengenali Cowok itu adalah satu temen sekelasnya, Namanya Ethan, yang dia tahu selalu duduk Paling belakang


bergerak, mengubah Posisinya menjadi duduk, Ethan dengan cepat meletakkan bantal di balik punggung Naura sebelum cewek itu bersandar di kepala ranjang


mengedarkan pandangannya


" Gimana keadaan Lo, "


Perhatian kembali pada satu-satunya orang yang berada di ruang UKS bersamanya


" Gue .. "


" kebentur bola basket kan "


masih terlalu Pusing untuk menanggapi candaan Ethan, " Lo yang nolongin gue, "


" Menurut Lo, " Dia bertanya balik


" kenapa Lo ada di sini ? ini kan masih jam Pelajaran, kan "


" Lo keasyikan tidur kayaknya sampai nggak kenal waktu, kelas udah bubar dari sejam lalu, "


mengulurkan tas ransel milik Naura yang sejak tadi di Pangku kepada Pemiliknya sementara Naura baru menyadari Ethan sudah mengenakan tas ransel sejak tadi


" Lo udah nggak Pusing lagi kan ?" tanyanya dengan kedua alis yang terangkat, " apa Pelu gue gendong, "


salah berkata seperti itu. Karena Naura seolah menemukan kekuatannya lagi dan langsung turun dari ranjang dengan usahanya


Ethan semakin lebar. Bahkan hingga keduanya berjalan bersisian


" Nama gue "


menoleh dengan heran


" Gue Udah tahu "


" Oh, ya, " Ethan sungguh tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya


" Masa iya kita nggak Pernah ngobrol,"


menyudahi Usahanya mengingat-ingat,


" BTW, thanks ya Lo udah baik banget mau nolongin gue, "


menoleh kembali pada Ethan


menggeleng, kemudian berjalan lebih dahulu untuk mengeluarkan motornya dari Parkiran


mengantarnya Pulang saat itu


saja ingatannya tiba-tiba terlintas dalam kepalanya saat ini. juga teringat saat kejadian upacara bendera pertama mereka saat penerimaan siswa-siswi


menunduk dalam hampir setengah jam tetapi Pembina upacara masih belum menyelesaikan Pidatonya Panjangnya. Kening Naura mulai berkeringat, seragam barunya yang masih kaku membuatnya semakin kepanasan. Dia belum sarapan Pagi ini khawatir terlambat mengikuti


sudah membungkuk dengan kedua l


menoleh ke arah samping kanan dan mendapati berdiri di sana dengan posisi sedikit serong ke arahnya. Tubuh tinggi cowok itu berhasil menghalau sinar matahari yang menyengat sejak tadi


memperhatikan barisan yang merupakan barisan murid Namun, dia tidak punya cukup tenaga untuk menegur, lagi Pula dia memang butuh untuk menghalau sinar matahari agar dia tidak sampai


Tersenyum ketika menyadari terus memperhatikannya, "


mengapa mulai terisak lagi. Dia sungguh tidak menyadari Perhatian Perhatian itu rupanya bermakna lebih sekedar teman


bersusah payah mengingat Perhatian-perhatian terdahulu langsung teringat kejadian beberapa bulan lalu ketika dia sakit karena kehujanan. orang pertama yang mengiriminya chat untuk menanyakan keadaannya


Baru ketika memaksa masuk ke sekolah setelah dua hari izin. Ethan memberinya minuman Teh hangat untuk mengurangi Dingin di tubuhnya


Akan tetapi, bagaimanapun Naura tidak bisa membohongi Perasaannya sendiri. Dia hanya menganggap Ethan sebagai sebatas teman. Sedangkan dia harap bisa lebih sekadar teman justru dengan kejam menghancurkan hatinya


Setibanya di rumah langsung menuju kamarnya. Tidak seperti biasanya, dia berjalan melewati bundanya begitu saja, Naura menghempaskan dirinya ke tempat tidurnya dengan Posisi tengkurap Wajahnya dia benamkan di atas bantal, tidak memerdulikan bantalnya basah karena air matanya


" Sayang kenapa kamu pulang pulang nangis kayak gitu,"


Tangisan Naura malah semakin nyaring. Dia mengangkat kepalanya kemudian memeluk perut bundanya erat-erat, " Bunda, ... "


" iya sayang ? Bunda mengusap lembut kepala Naura yang menempel di Perutnya


" Rasanya ... sakit, " Naura mulai sesenggukan Dia enggan melepaskan pelukannya walua bundanya berusaha ingin melihat wajahnya


" Bagian mana yang sakit, "