My Love My Enemy

My Love My Enemy
Part 31 mulai tidak peduli



" Keenan, Lo nggak ada niat buat ke kelas sebelah, " tanya Miko yang baru saja memutar tubuhnya, menghadap keenan, sesaat setelah bel istirahat pertama berbunyi


" Buat apa ?" Keenan menyahut ketus. Dia sibuk merapikan buku-bukunya di atas meja


" Lo nggak tahu, apa pura-pura nggak tahu sih, " tanya Satya ikut menyahut Dia mengikuti Miko hingga tubuhnya menghadap Keenan yang duduk di belakang mereka, " Naura Cantik Lo itu lagi Sakit, tuh," lanjutnya


" Kalua sakit, ya jangan masuk," jawab Keenan bernada ketus


Miko Satya, johan yang duduk di sebelah Keenan saling menatap satu sama lain. Respons yang ditunjukkan Keenan sungguh tidak sejalan dengan Pemikiran. mereka biasanya Keenan selalu tertarik akan semua hal yang berkaitan Naura. Namun tidak untuk hari ini.


" Naura dua hari kemarin nggak masuk sekolah, " Satya kembali bersuara, " Hari ini dia masuk, tapi kelihatannya masih lemes gitu, Lo nggak ada niatan gitu mau nengokin ke kelasnya, Tunjukkin Perhatian Lo dong,"


Keenan menghentikan gerakan tangannya yang sedang memasukkan buku-bukunya ke tas. informasi dari Satya barusan membuat Perasaannya sakit bukan main. Rasa sakitnya sama seperti ketika dia menatap Naura yang sedang menangis seorang diri di bawah Payung besar dari kejauhan. Namun, tidak ada yang bisa Keenan lakukan selain menatap Naura dari jauh, mengikuti langkah-langkah lemah cewek dari belakang hingga sosok itu masuk ke rumah.


Keenan menggeleng Pelan. Tidak Dia tidak boleh lunak seperti ini. Dia harus membiasakan diri dengan Perasaan sakit seperti ini ? Agar dia kebal dan tidak lagi merasakan apa pun Tentang semua hal yang berkaitan dengan Naura


" Gue udah nggak Peduli, " Ucap Keenan bangkit berdiri. dia memilih pergi ke luar kelas, menjauh dari teman-temannya yang menurutnya hanya akan mengganggunya


Satya Miko dan Johan menatap kepergian Keenan dengan kening berkerut


" Keenan kenapa sih ? Dia belakangan ini aneh banget, sikapnya yang udah nggak bersahabat kayak dulu, " komentar Miko, menyadari ada hal aneh


" iya, " Satya menyetujui kemudian menuding Johan yang hanya diam, Sejak Lo bolos sama Keenan buat tugas negara itu, dia jadi berubah. Sebenarnya ada apaan sih, " tanyanya Penasaran


" Udah nggak Usah di Peduliin dia kan memang gitu keras kepala, " sahut Johan


Tidak jauh dari Pintu kelasnya, Keenan berpapasan dengan Ethan yang berniat bergabung dengan teman-temannya


" Hei, Keenan mau nengokin Naura ya, " tebak Ethan


" Nggak, !" jawab Keenan tanpa menghentikan langkahnya sama sekali


Keenan berjalan tanpa tujuan yang Pasti. Dia spontan menoleh ketika mendengar suara batuk seseorang dari dalam ruang kelas yang baru saja di lewati Naura. Keenan menatap Naura yang tampak Pucat sekali serta mengenakan jaket yang cukup tebal


" Nih diminum dulu teh hangatnya, " Loli mendekatkan teh hangatnya pada Naura


" Buat Lo aja deh, " sahutnya lemah. Dia kemudian menempelkan pipinya di Pangkuan tangannya di atas meja, kemudian memejamkan matanya. Rasanya dia tidak bersemangat melakukan apa pun dalam keadaan seperti ini saat ini


" Yeah, dia beliin ini Buat Lo Biar Lo Cepat sembuh, Di minum Ra, dia perhatian banget Lo sama Lo, " kata loli lagi. kali ini sambil menggoyangkan tubuh Naura agar duduk tegak kembali


Sialan Keenan memaki dirinya sendiri dalam hati. hatinya sungguh sakit melihat Naura sepucat itu, yang tentu saja semua bermula karena ulahnya membiarkan cewek itu menunggunya lama dalam kedinginan beberapa hari lalu


Entah sampai Kapan Keenan akan bertahan untuk menahan kesakitannya melihat Penderitaan Naura. Yang jelas, bayang-bayang Perginya Moza membuatnya harus bertahan. Apa pun yang terjadi ?


Keenan memutuskan untuk pergi dari sana setelah melihat Arsen sedang berjalan mendekat menuju tempat berdiri Dia menduga Cowok itu pasti berniat menghampiri Naura


Lagi-lagi Keenan berusaha untuk tidak Peduli. Dia akan Tidak peduli lagi dengan semua hal yang berkaitan dengan Naura. Tidak akan !


...•••...


" Aku antar kamu Pulang ya, " tawar Arsen Pada Naura yang sedang berjalan bersisian dengannya menuju gerbang sekolah


" Nggak usah Arsen aku bisa pulang sendiri, " tolak Naura dengan suara lemah, selemah langkahnya


" Tapi, Ra Kamu sakit, Badan kamu Panas Banget, " Arsen yang baru saja mendaratkan Punggungnya tangganya ke dahi Naura, " Aku khawatir sama kamu kalau kamu pulang sendiri dalam keadaan kayak gini, Ayo lebih baik kamu aku anterin kamu Pulang, " Arsen merangkul Naura dengan sedikit memapah cewek itu menuju Parkiran. Kali ini Naura tidak sanggup menolak, dia rasa Arsen benar Dia tidak akan sanggup Pulang sendiri, kepalanya terasa semakin berat


Tanpa disadari keduanya, Keenan Melihat interaksi mereka dengan hati memanas. sekuat apapun dia mencoba untuk mengabaikan Pemandangan di depan matanya itu, nyatanya selalu saja gagal. Dia masih saja tidak suka Naura dekat dengan Arsen


Sampai kapan dia harus menyiksa dirinya seperti ini ?