
Luciana mengeratkan sweater tebal yang membalut tubuhnya, saat ini dia sudah terlihat lebih baik dari pada sebelumnya. Bajunya yang koyak sudah berganti dengan pakaian tebal yang diberikan oleh Dexter, dia tidak tahu pria itu mendapatkannya dari mana- yang jelas Lucina tahu itu adalah pakaian wanita.
Mungkin milik kekasih Sang Pengacara?
Hanya itu yang ada di dalam pikiran Luciana saat ini, dan entah kenapa rasa tidak enak tiba tiba menghampiri hatinya. Bagaimana kalau kekasih Sang Pengacara datang dan salah paham pada mereka berdua? Luciana juga merasa bersalah karena sudah memeluk Dexter tadi.
"Makanlah! aku yakin kau lapar,"
Luciana tersentak, lamunannya pecah saat mendengar suara Dexter dari belakang tubuhnya. Wanita itu menoleh, matanya tertuju pada nampan yang di bawa oleh Sang Pengacara.
"Terimakasih, tapi sungguh aku tidak lapar. Kau saja yang memakannya, aku hanya sedikit pusing," Luciana memijat dahinya.
Kedua matanya terpejam saat merasakan denyutan di kepalanya. Perlahan Luciana menyandarkan tubuhnya di sofa, berusaha membuat dirinya nyaman.
Rasa sakit di tubuhnya belum sepenuhnya pulih, bahkan rasa perih bekas cambukan gesper yang dilayangkan Marcho masih terasa. Mungkin besok pagi akan lebih parah lagi, dia berusaha menutupinya agar sampai tidak terlihat.
Tapi nyatanya sekarang-
"Eh!" Luciana tersentak kala merasakan tarikan dan sentuhan di area kakinya yang terkena cambukan.
Kedua matanya reflek terbuka dan Luciana berusaha menarik kakinya, namun ada tangan besar yang menahannya dan mengoleskan sesuatu disana.
"Tuan Dex-,"
"Diamlah! kau tidak pandai menyembunyikannya dari ku," tekannya.
Dexter menatap lekat pada Luciana, lalu kembali beralih pada luka memanjang dan merah yang ada di kaki dan juga paha Luciana. Tanpa ragu Dexter mengoleskan sesuatu disana dengan hati hati, seperti sudah terbiasa melakukan hal manis seperti ini pada wanita.
Dexter tidak membiarkan Luciana bergerak dan menghindar. Pria itu menahan kaki jenjang wanita itu dengan salah satu tangannya.
"Bukankah sudah aku katakan, apa pun yang terjadi padamu kau harus mengatakannya padaku. Sekarang aku adalah pengacara mu, penanggung jawab mu, jadi apa pun yang terjadi padamu adalah tanggung jawabku, apa ku paham?!"
Tatapan keduanya bertemu, Luciana masih terdiam kala melihat Dexter terus saja menatapnya lekat dan penuh dengan arti. Tatapan yang terlihat penuh bara dan ambisi, entah apa yang tengah pria itu pikirkan saat ini- yang jelas Luciana berharap Dexter bisa secepatnya melepaskan dirinya dari jeratan Marcho.
"Itu sudah menjadi tugasku. Sekarang kau makanlah, setelah itu kau bisa beristirahat. Kamarnya ada di sebelah sana, didekat kamarmu ada kamarku, jadi kalau ada apa apa kau bisa-,"
"Sekali lagi terimakasih. Akan aku usahakan aku tidak akan mengganggu tidurmu malam ini, Tuan Dexter. Aku yakin kau sangat lelah setelah bekerja seharian, aku hanya ingin mengucapkan selamat malam. Apa aku boleh membawa makanan ku ke dalam kamar?"
Dexter menelan salivanya, pria itu terlihat menghela napas pelan sembari membasahi bibir sexynya yang sedikit kering.
"Tentu, buatlah dirimu senyaman mungkin. Aku sudah mengoleskan salep di luka mu, aku harap besok kau akan merasa lebih baik."
Dexter bangkit, dia mengulurkan satu tangannya untuk membantu Luciana berdiri. Tangan besarnya meraih jari jemari lentik dan terawat milik kliennya, Dexter masih melebarkan senyumannya hingga Luciana berlalu menjauh darinya.
Helaan napas kasarnya berhembus kencang kala Luciana tidak lagi terlihat, Dexter menghempaskan tubuhnya di sofa, kedua tangan besarnya menyugar rambutnya bahkan sedikit menjambaknya.
"Dia bisa mati secara perlahan kalau sampai aku tidak bisa melepaskannya dari pria gila itu." gumamnya.
Kedua mata Dexter terpejam, pria itu menyandarkan tubuhnya di sofa. Mulutnya berdesis pelan saat merasakan sesuatu yang tidak nyaman dari arah tubuh bagian bawahnya. Nafsu yang tadi belum tertuntaskan masih membuat kepalanya berdenyut, bukan hanya kepala bagian atasnya saja tapi juga kepala Serigala Gurun nya juga ikut mengaum hebat.
"Sial! ini tidak akan berhasil dengan hanya mandi air dingin. Aku butuh sesuatu yang lebih!" desisnya pelan.
Dexter bangkit, dia berjalan menuju arah balkon sembari membawa satu botol minuman beralkohol rendah yang tidak akan memabukkannya. Dia butuh pelampiasan, bukan hanya sekedar servis dari para wanita tapi juga ketenangan hatinya.
"Aku tidak sabar untuk melihat wajah mu, Tuan Simoncelli. Sampai jumpa di ruang sidang beberapa hari lagi." gumam Dexter sembari menegak minumannya tanpa ragu.
SI SERIGALA GURUN NGAJAK BOBOK MULU DAH😂
YAKIN SI SERIGALA GURUN GAK KEJET KEJET LIATNYA
HARI INI OTHOR AGAK GAK ENAK BADAN, PILEK DARI PAGI, BINDENG, ENGAP, JADI MON MAAP KALO CERITANYA GAK NGEFELL 🙏🙏 DOAIN CEPET SEHAT LAGI YA😘😘😘