My Hot Lawyer

My Hot Lawyer
MHL Bab 36



Cukup lama Dexter terbawa oleh mimpinya, pria itu masih terpejam dengan posisi yang tidak nyaman. Celana panjang bahan yang menjadi saksi bisu bangunnya sang Serigala Gurun masih melekat di tubuhnya hingga mengering.


Kopi yang sudah Luciana persiapkan dingin begitu saja teronggok diatas meja. Wanita itu bergegas masuk kedalam kamar setelah melihat sesuatu yang mampu membuat wajahnya memerah dan malu sendiri.


Terlebih namanya di sebut disetiap hentakan yang Dexter lakukan. Luciana bukan wanita polos, dia tahu apa yang sedang dimimpikan oleh sang pengacara.


Pria itu pasti memimpikan hal mesum, dan dirinya adalah objek utamanya.


Didalam kamar Luciana tengah sibuk memikirkan hal itu, sebagai wanita normal ada rasa bergelayar yang mulai merasuki hatinya. Rasa malu, terkejut, dan masih banyak lagi rasa yang sedang dia rasakan saat ini.


Jujur dirinya sampai tidak dapat memejamkan kedua mata sekarang, padahal waktu sudah menunjukan pukul 9 malam lebih beberapa belas menit. Bukan hanya kejadian itu yang membuatnya tidak bisa tidur, tapi juga perkataan yang dilontarkan Dexter didalam ketidaksadarannya.


Aku menyukaimu, Luciana!


Tiga kalimat itu membuat jantung Luciana berdetak tidak karuan. Wanita itu mati matian menyeret kedua kakinya kedalam kamar setelah meletakan kopi yang akan dia berikan pada Dexter.


Dia tidak menyangka kalau pria yang membantunya mengucapkan sebuah kalimat yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Apa lagi Dexter memanggil serta menyatakan hal mengejutkan itu ketika dalam tidak keadaan sadar dan bermimpi mesum.


Apakah dirinya hanya menjadi pelampiasan?


Kalau memang seperti itu sungguh miris dan menjijikan sekali bukan. Luciana merasa seperti seorang ja*lang yang menjadi objek naf*su seorang pria. Karena dia yakin kalau Dexter pasti membayangkan hal hal yang tidak senonoh tentangnya.


Kenapa rasanya sakit sekali?


Luciana meremas dadanya, dia menenggelamkan wajahnya di bantal. Menyembunyikan tubuhnya di balik selimut tebal yang membungkus tubuhnya sejak tadi. Dia berusaha memejamkan kedua matanya, berharap agar dunia mimpi segera menghampirinya dan melupakan kejadian memalukan tadi.


Disisi lain, Dexter terlihat menggeliat- pria itu merasakan sakit dan pegal diarea pinggang, punggung serta lehernya. Dahinya berkerut, perlahan kedua matanya terbuka, sedikit menyipit untuk menghalau cahaya yang masuk.


Tenggorokannya terasa kering, kepalanya sedikit berat hingga membuatnya masih diambang kesadaran. Dexter perlahan menegakan tubuhnya, kedua bola mata tajamnya terarah pada cangkir kopi yang tersedia di atas meja.


Kopi?


Seketika otak cerdiknya berputar cepat, Dexter terperanjat bangun, pria itu mengumpat kasar kala teringat sesuatu yang dia lakukan tadi. Ternyata semua yang dialaminya hanyalah mimpi? dan kopi itu?


"Fuc*k!" umpatnya.


Dexter meraup wajahnya frustasi, dia terlihat seperti orang bingung dan khawatir. Kedua kakinya terlihat maju mundur saat hendak melangkah, dalam hatinya memerintahkan dia untuk segera bergegas menemui wanita yang dia tiduri di alam mimpinya tadi, tapi otaknya memilih untuk diam.


Dexter yakin kalau Luciana melihat apa yang sedang dia alami tadi, terlebih dia merasa kalau area bawah tubuhnya terasa lembab.


"Sialan! kau menjijikan Antonio!" umpatnya lagi.


Tapi sepertinya rasa khawatir Dexter akan menjadi kenyataan setelah rekaman CCTV itu di putar.


🐺


🐺


🐺


Pagi menyingsing, Dexter menggeliat pelan diatas peraduannya. Setelah semalaman dia terus saja mengerutuki dirinya sendiri setelah melihat rekaman CCTV pria itu sedikit menegak vodkanya, agar dirinya bisa tertidur.


Dan sekarang kepalanya terasa berat, mulurnya pahit, tenggorokannya terasa kering dan juga tubuhnya tidak sebugar biasanya.


Dexter meringis, dia berusaha bangkit walaupun pagi ini tubuhnya terasa tidak baik baik saja. Dia berjalan tertatih menuju kamar mandi, dalam keadaan setengah telanjang.


Cukup beberapa menit Dexter akhirnya keluar, dia terlihat lebih segar walaupun kedua matanya terlihat sayu. Dexter segera memakai kaos tanpa lengan miliknya dan bergegas keluar. Pagi ini dia harus menemui Luciana dan membicarakan hal memalukan yang sudah terjadi.


Kedua mata Dexter mengedar, dia mencari seseorang yang ingin ditemuinya saat ini. Helaan napasnya terdengar saat Dexter melihat siluet seseorang dari arah dapur, senyuman Dexter terbit- kedua kakinya melangkah lebar mendekat ke arah dapur.


"Anna, aku ingin berbicara dengan-,"


"Tuan Dexter! selama pagi, Tuan!"


Ucapan Dexter terhenti saat kedua matanya melihat seseorang yang sudah lama tidak datang ke apartemen ini. Seorang wanita paruh baya yang dulu menjadi tukang kebersihan di tempat ini.


"Dimana Luciana?" tanya Dexter datar.


Pria itu terlihat tidak senang, wajahnya mendatar dan terlihat dingin. Dia menatap ke arah wanita bertubuh tambun yang terlihat menunduk setelah menyelesaikan tugasnya memasak.


"Nona cantik itu pamit untuk kelu- TUAN ANDA MAU KEMANA?!"


Wanita itu memekik keras saat melihat Dexter pergi begitu saja tanpa berbicara apa pun. Wajahnya tidak bersahabat sama sekali, Dexter terlihat berjalan cepat menuju lift dan segera menekan tombol lantai dasar.


"Apa kau diam diam pergi tanpa berpamitan padaku setelah kejadian semalam, Anna?" gumamnya.



PANIK GAK? PANIK GAK?